
Hari ini rencananya Fardhan akan memastikan kalau Kirana sudah pulang kembali ke rumah orang tuanya. Lagi pula Fardhan tudak menginginkan Kirana berada di dekatnya, jika mengharuskan ia menjadi partner bisnisnya itu oke oke saja. Tapi jika diluar urusan bisnis, Fardhan tidak mau menerimanya. Fardhan juga merasa kesal dengan mamanya yang selalu saja berusaha membuatnya dekat dengan Kirana.
Cukup sudah Fardhan merasa sabar dengan semua tingkah ibunya yang selalu menjodohkan dirinya dengan wanita hanya karena ambisinya ingin memiliki seorang cucu.
" sayang, hari ini mas akan pulang dulu ke rumah. Mas mau .emastikan kalau wanita itu sudah pergi dati rumah kita " kata Fardhan
" ya " jawab Maira singkat
" mas mau besok kita pulang ke rumah kita ya, mas mau kita hidup seperti biasa lagi. Kalau disini kan gak enak sama bang Azka, lagi pula rumah kita gak ada yang nempatin "kata Fardan memberi pengertian
" terserah " jawab Maira
Fardhan hanya bisa mendesah pelan saat mendengar respon Maira. Ia juga tahu kalau Maira masih butuh waktu untuk kembali menata hatinya.
" boleh mas tanya ?" tanya Fardhan
" apa ?" jawab maira kembali bertanya
" siapa lelaki yang bersamamu saat kita bertemu di rumah sakit itu ?" tanya Fardhan dengan hati hati
" bukankah saat itu aku sudah menjawabnya ? lalu untuk apa aku harus menjawabnya kembali sedangkan kau sudah tentu tahu jawabannya " jawab Maira dengan tenang
" aku hanya ingin memastikan saja apa yang aku pihat itu salah, dan apa yang aku dengar darimu itu benar adanya " kata Fardhan
" mau peecaya silahkan, mau tidak juga terserah. Tapi jika kamu ingin lebih tahu tanyakan saja pada Zahra, dia lebih tahu aku " kata Maira
" maaf, bukannya aku menuduhmu. Tapi aku hanya ingin memastikannya saja, lagi pula aku juga tidak mau milikku diambil orang lain " kata Fardhan
" jika tidak ingin, maka jagalah milikmu dengan benar " kata Maira
Setelah Maira pergi meninggalkannya, Fardhan pun bergegas pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah ia melihat mamanya yang sedang duduk di sofa sambil menonton tv sendiri.
" assalamualaikum " ucap Fardhan
" waalaikumsalaam, baru pulang Dhan " kata mama melirik sekilas pada Fardhan kemudian fokus kembali pada acara yang di tontonnya
" apa dia sudah kembali ke tempatnya ?" tanya Fardhan
" siapa ?" tanya mama sambil mengernyitkan dahinya
" wanita yang mama bawa " jawab Fardhan
" dia Kirana, namanya Kirana ! kamu jangan lupa Dhan, dia pernah mengisi hatimu dulu. Tapi kenapa kamu begitu padanya ? padahal niatnya baik " kata mama mengeluarkan unek uneknya
" kamu terlalu berani sekarang. Mama tidak mengenalimu lagi sekarang Dhan, pasti wanita itu sudah merubahmu " kata mama
" Fardhan begini untuk melindungi rumah tangga Fardhan ma. Dan untuk kebenaran, Fardhan tidak akan pernah pandang bulu. Jika salah ya salah, jika benar ya benar. Tidak ada yang namanya saudara atau orang tua jika sudah menyangkut kebenaran, walaupun kenyataannya Fardhan harus melawan mama sekalipun. Maaf ma, Fardhan harus tegas dengan mama. Mama juga harus menyadari apa yang mama lakukan itu salah, mama salah jika ingin menjodohkan aku tanpa seizin dariku dan istriku. " kata Fardhan lalu pergi ke kamarnya
Ya, Fardhan harus bersikap tegas pada mamanya. Jika terus dibiarkan mamanya pasti akan terlalu jauh ikut andil dalam irusan rumah tangga. Membangun rumah tangga memang memerlukan saran dari orang lain termasuk orang tua utamanya. Tapi jika orang tua terlalu jauh ikut campur dalam masalah rumah tangga seorang, maka bukan ketentraman yang tercipta, bukan solusi yang di dapat tapi malah masalah baru yang akan timbul.
Bukan orang tua tidak boleh ikut campur masalah rumah tangga anaknya, boleh boleh saja asalkan dalam kadar sewajarnya. Dalam artian tidak terlalu jauh, karena jika terlalu jauh maka akan ada salah satu dari dari keduanya entah si istri ataupun suami yang akan merasa tidak nyaman hingga hal tersebut akan memicu masalah baru. (kalian yang sudah berumah tangga pasti mengerti ya😁)
" aku akan membawa Maira kembali kemari nanti sore, aku harap mama bisa bersikap baik padamya " kata Fardhan
" aku pergi, assalamualaikum " ucqp Fardhan lalu kembali pergi meninggalkan sang mama yang masih emosi karena perkataan Fardhan tadi padanya
Fardhan kembali melajukan kendaraannya ke rumah orang tua Maira, Fardhan ingin kembali mendekatkan diri dengan Maira. Fardhan merasa Maira telah memberi jarak dengan dirinya.
Sebenarnya itu bukan salah Maira seutuhnya, tapi ada andil Fardhan juga didalamnya. Ya, Fardhan terlalu cepat menyimpulkan apa yang ia lihat tanpa mencari tahu krlebenaran yang terjadi. Dan itu sudah berulang kali terjadi, hal itulah yang membuat Maira selalu merasa jengah saat mendengar tuduhan yang Fardhan lontarkan padanya.
Jika berfikir pendek dan egois tentu saja Maira akan meninggalkan Fardhan yang selalu saja menuduhnya berselingkuh tanpa mencari tahu masalah yang sebenarnya terjadi. Tapi Fikiran Mqira terlalu luas, hatinya terlalu lapang walau kadang ia juga merasa lelah berada di situasi itu. Tapi jiwa kemanusiaannya dan hati nuraninya selalu berfikir jernih.
Jika biasanya wanita akan bertindak dengan emosinya dan mengesampingkan akal, tapi hal itu tidak berlaku bagi Maira. Maira selalu mengedepankan akal, berfikir lebih jauh sebab dan akibat yang akan ia tanggung atas apa yang ia lakukan saat ini. Walaupun ia harus mengorbankan nyawanya sekalipun.
.
.
.
.
.
TBC
Happy rading😊
jangan lupa tinggalkan jejak ya...
Kritik dan sarannya selalu Rose tunggu ya🙏🏻
thank you my reders..