SANG PENERUS.

SANG PENERUS.
MEMBAWA KASUS ITU KEPENGADILAN.


Di dalam Lift.


Pengawal Zhang menekan tombol.


Lalu Lifit itu bergerak keatas.


"Siaalll.... Rasanya seperti terbang saja...


Aku pun berpegangan pada besi di dekatku. Aku baru pertama kali masuk dalam lift,sebelumnya tak pernah.Hanya melihat di tv saja.


Kakek melihatku memegang besi.


"Nanti kamu akan terbiasa Hana..." ucap kakek.


"Iya kek..." ucapku.


"Andai di suruh pilih,antara naik lift dengan tangga,mending aku naik tangga saja..


"Kok lama sekali pintu ini terbuka..."


Pintu Lift terbuka. Nampak ada orang di depan pintu Lift. Mereka melihat kakek,lalu mereka menundukkan kepala.


Aku berjalan untuk keluar.Tapi di tahan oleh kakek.


"Tunggu Hana..Kita belum sampai.." ucap kakek.


pintu Lift tertutup kembali.Lift kembali bergerak naik.


"Lama sekali kek..." ucapku.


"Sabar...Kita akan menuju lantai paling atas Hana..." ucap kakek.


Aku pun kembali memegang besi.


"Lift sialan... Bikin jantungku berdebar - debar..


Tak lama kemudian pintu lift terbuka.


"Mari Hana....Kita sudah sampai..." ucap kakek.


Kakek berjalan keluar lift,aku pun mengikutinya.


Aku lihat interiornya sangat bagus,Bersih dan rapi.Tapi sayang, mengapa aku lihat tak ada yang memakai jilbab ya karyawati di sini.


Kakek berhenti di depan sebuah meja .Nampak seorang wanita memakai pakai kerja agak ketat,rok pendek baju lengan panjang. Rambutnya sepunggung.Memakai kaca mata.


Wanita itu berdiri .


"Selamat pagi pak..." ucap wanita itu.


lalu menundukkan kepala,lalu menegapkan badanya kembali.


"Casandra....." ucap kakek.


"Siap pak." ucap wanita itu ternyata bernama Casandra.


" Ini Hana.. Dia adalah cucu saya. Hana akan bekerja di sini.." ucap kakek.


"Siap pak..." ucap Casandra.


Aku diam saja menyimak.


"Apakah Cheng Fei Li sudah datang?" ucap kakek.


*Cheng Fei Li adalah putra pertama dari Jien Li. Adik sepupu Hana.


"Sudah pak,beliau sudah berada di ruangannya." ucap Casandra.


"Apakah dia ada tamunya?" ucap kakek.


"Tidak ada pak..." ucap Casandra.


"Terima kasih..." ucap kakek.


Kakek kembali berjalan,aku pun mengikutinya.


"Hana...Apa kau masih ingat Cheng Fei Li?" ucap kakek.


"Hem...Kalau gak salah putra pertama paman Jien Li kek..Apa benar?" ucapku.


"Betul sekali...Daya ingatmu tajam juga.." ucap kakek memujiku.


Tok...Tok...Tok... Kakek mengetuk pintu.


"Masuuk.... "suara dari dalam.


Kakek membuka pintu ruangan itu.


"Kakek...Kak Hana...!!!" Seru Cheng Fei Li


"Kejutan...." ucap kakek.


Cheng Fei Li berjalan lalu bersalaman,tak lupa cium tangan.


Cheng Fei Li menyodorkan tangannya padaku,aku hanya menangkupkan tanganku saja.


"Kok tidak bilang kalau kakek mau kesini?" ucap Cheng Fei Li


"Namanya juga kejutan,kalau memberi tahu bukan kejutan lagi..." ucap kakek.


"Mari Kek...Kak Hana...Silahkan duduk..."ucap Cheng Fei Li.


Kakek berjalan ke sofa,aku mengikutinya .


Aku duduk agak jauh dari kakek.


"Kedatangan kakek kemari ingin memperkenalkan bisnis kita ke kakakmu Hana.


"Kamu tahu kan bahwa Bayu akan memimpin keluarga Han..?" ucap kakek.


"Iya saya tahu kek.." ucap Cheng Fei Li.


"Maka dari itu,sebelum Bayu terjun ke dunia bisnis,kakek sengaja membawa Hana kemari.


"Kakek minta padamu... Ajari dia dalam bisnis keluarga kita" ucap kakek.


"Siap kek...Saya akan mengajari kak Hana.." ucap Cheng Fei Li


"Baiklah...Kakek tinggal dulu ya Hana... " ucap kakek.


"Iya kek..." ucapku.


Kakek berdiri,akupun ikut berdiri.Kemudian kakek berjalan,aku mengikutinya dari belakang untuk memgantar kakek sampai di depan.


"Kamu di sini saja Hana..." ucap kakek.


"Hana ingin mengantar kakek sampai di depan.." ucapku.


"Tak perlu... Kamu di sini saja...Dan mulailah belajar bisnis..." ucap kakek.


"Baik kek..." ucapku.


Kakek kemudian keluar dari ruangan,tinggallah aku dan adik sepupuku Chang Fei.


Chang Fei memghampiriku.


"Kak Hana.." ucap Cheng Fei Li


Aku membalikkan badanku ke arah adik sepupuku.


"Iye dek..Ada apa?" ucapku.


"Maaf kak... Sebelumnya kak Hana sudah pernah bekerja di kantoran?" ucap Cheng Fei Li


"Belum dek..." ucapku jujur.


Memang aku belum pernah kerja kantoran,tapi aku sering membaca buku,bahkan buku pelajaran Bayu aku pelajari saat aku menjaga tokoku.termasuk buku tentang komputer,tapi karena tak ada komputer,aku tak bisa mempraktekkannya. Hanya sekedar membaca saja. Aku pun masih mengingatnya.


"Ooo...


"Bisa komputer...?" ucap Cheng fei Li.


Aku menggelengkan kepala.


"Baiklah... Tunggu sebentar ya kak..Aku akan bantu kakak belajar komputer dulu,setelah kakak bisa,aku akan mengajari kak Hana...


"Bagaimana kak?" ucap Cheng Fei bersikap ramah padaku.


"Hem...Boleh tuh dek..." ucapku.


"Bentar aku panggil sekertarisku dulu ya kak.." ucap Cheng Fei Li.


"Iya dek..." ucapku.


Chang Fei berjalan ke meja kerjanya,lalu mengangkat gagang telpon.


"Bakalan pusing aku,tapi demi Bayu... Sepusing apapun tetap aku jalani...


"Ya Allah... Semoga aku bisa menjalani ini semua...Amin..


Aku melihat ada kulkas,lalu aku berjalan ke kulkas tersebut.


"Dek... Apakah ada minuman di kulkas..?" ucapku.


"Ada kak...Kalau kak Hana Mau ambil saja..." ucap Cheng Fei.


Aku membuka kulkas itu,nampak ada minuman beralkohol dan teh kotak.


Aku hanya mengambil teh kotak saja,lalu aku berjalan ke sofa.


Nampak 2 orang masuk keruangan,mereka wanita semua,salah satunya bernama Casandra.Mereka nampak berbicara,Aku hanya diam menyimak sambik menikmati teh kotak.


Kemudian Casandra keluar ruangan.


Chang Fei bersama seorang wanita berjalan ke arahku. Wanita itu juga memakai rok selutut.


Seperti Casandra.


"Kak Hana...Dia bernama Rina..


"Rina akan mengajari Kak Hana belajar komputer.." ucap Cheng Fei.


Aku berdiri lalu menyodorkan tanganku pada Rina.


"Hana..." ucapku.


Rina menyambut tanganku.


"Saya Rina bu.." ucap Rina.


"Rina...Bawalah kakak saya ,dan ajari dia..Pekerjaanmu biar di backup oleh pak Bagas" ucap Cheng Fei.


"Siap pak..


"Mari bu..Ikut saya..." ucap Rina.


"Ku tinggal dulu ya dek.." ucapku.


"Iya kak.." ucap Cheng Fei.


Aku pun mengikuti wanita yang bernama Rina. Sambil memegang teh kotak yang belum habis ku minum.


"Lift lagi Lift lagi...Lama - lama aku hancurkan saja ini Lift..."


Aku paling benci masuk dalam lift,membuat jantungku berdebar debar.


Nampak Rina menekan tombol 21. Gedung ini terdiri dari 30 lantai. Hana berada di lantai 25.


Aku baru menyadari,untuk mengetahui lantai Lift ada di papan layar.


Papan layar menunjukkan lantai 23. Pintu terbuka. Nampak 2 orang masuk dalam lift.


Pintu lift kembali tertutup.


Di layar menunjukkan lantai 21. Lalu pintu terbuka.


"Mari bu..." ucap Rina.


"Iya..." ucap ku.


Aku pun berjalan bersama Rina.Ku lihat beberapa orang nampak sibuk bekerja.


Beberapa orang melihat ke arahku,karena aku memakai Jilbab seorang diri. Lainnya tak ada yang memakai jilbab.Aku terus berjalan hingga Rina membuka pintu untukku.


"Silahkan masuk bu..." ucap Rina.


"Iya terima kasih.." ucapku


Ruangan itu tak sebesar ruangan milik Cheng Fei Li.


Ada meja,sebuah komputer,3 kursi dan 2 lemari.


"Silahkan ibu duduk di sini.." ucap Rina mempersilahkan aku duduk di kursi yang menghadap komputer.


Aku pun duduk di kursi. Lalu Rina mengambil buku tentang komputer.


Aku melihat,komouter itu nampak standby,aku tekan tanda spasi.


Layar komputer itu menunjukkan untuk memasukkan kata sandi.


"Kata sandinya apa mbak?" ucapku.


"Ibu sebelumnya bisa komputer?" ucap Rina.


"Hem...Kalau baca tentang komputer,saya sudah pernah..Hanya saja belum prakteknya.." ucapku.


" Paswodnya R satu N empat semesta bu...huruf kecil semua tanpa spasi.." ucap Rina.


Akupun mengetik paswod itu,lalu aku tekan enter menggunakan 2 jari,sebab aku belum terbiasa menggunakan papan keyboard komputer.


Setelah itu,muncul layar utama komputer.


"Jadi begini layar komputer itu.


Aku mengklik File manager,lalu aku membaca file tersebut. Kemudian aku close,lalu menekan apk Microsft world.


Rina nampak memperhatikanku dalam mengotak - atik komputer tersebut.


Apa yang aku baca memgenai di komputer,kini aku bisa mempraktekkannya mengetik kalimat menggunakan 2 jari sambil menghapal letak - letak hurufnya.


"Ternyata begini...Alhamdulilah aku bisa... Meskipun belum lancar mengetik....


Aku mengetik sebuah cerita pendek.


"Waaah... Ibu cepat bisa..." ucap Rina memuji.


"Ini belajar mbak.. Agar saya tahu tata letak hurufnya...Yang ini untuk ngeprint kan mbak?" ucapku sambil menunjuk layar komputer.


Tak terasa waktu menunjukkan pukul 12.05


"Maaf bu...Boleh saya tinggal istirahat dulu,sebab sudah jam istirahat.." ucap Rina.


"Oh iya..Silahkan mbak..." ucapku.


Rina keluar ruangan.


Aku menggerakkan badanku ke kanan dan kekiri.


Kreteek...kreetek.... Suara persendianku.


"Ternyata begini ya kalau kerja kantoran,kebanyakan duduk di depan komputer. Mending jadi petani. Bisa bergerak dengan leluasa,keringatan,sehat pula..


Aku menyenderkan kepalaku di kursi. Kemudian berdiri,karena aku pengen ngeteh,aku membuat tulisan di kertas,lalu ku letakkan di meja.


Aku tak shalat,karena belum bersih.


Lalu aku berjalan menuju pintu kemudian membukanya,lalu berjalan lagi.


"Tadi rame,sekarang sisa sedikit saja..


"Oh iya..Ini kan jam istirahat..


"Di mana ya letak dapur di sini..Aku tanya sajalah...


Aku berjalan ke sorang pria yang sedang menikmati makan siang di kotak makan.


"Permisi pak..." ucapku.


Pria itu meletakkan sendoknya lalu menelan makanan yang ia kunyah.


"Iya bu.." ucap pria itu.


"Di mana letak dapur berada? Saya ingin membuat teh" ucapku.


"Ibu lurus saja,nanti belok kiri,setelah itu lurus belok kanan.. Nanti ada tulisan Pantry . Nah di situ ibu bisa membuat teh di sana.." ucap pria itu.


"Terima kasih pak..." ucapku.


Aku pun berjalan ke arah yang di beri tahu oleh pria itu.


Ketika sampai di depan Pantry,aku pun masuk.


Kulihat ada 3 orang,2 pria dan 1 wanita. Seragam mereka sama. Memakai pakaian Biru muda,bergaris biru tua duduk di kursi.


Mereka melihat ke arahku.


"Permisi mas...Mbak... Saya ingin membuat teh.." ucapku.


"Silahkan bu..." ucap wanita.


Aku berjalan ke arah tempat gelas.


"Ada pengajian kah di kantor ini?..


"Mana gue tahu..


Aku mendengar percakapan mereka sambil membuat teh.


"Kok gak tahu...


"Iya... Gue gak tahu.


Selesai membuat teh,aku berjalan ke kursi yang kosong.


"Boleh saya duduk di sini?" ucapku.


"Silahkan bu.." ucap mereka.


Aku pun duduk di kursi yang kosong itu.


"Kalian sudah lama kerja di sini?" ucapku.


"Saya baru 8 bulan bu.." ucap Pria 1.


"Kalau gue 2 tahun di sini bu.." ucap pria 2.


"kalau saya baru 1 tahun bu.." ucap wanita.


" Lama juga ya... Kalian di sini sebagai apa?" ucapku.


"Jadi CS bu..." ucap ke dua pria.


"Jadi OB bu.." ucap wanita.


"Maaf bu..Apakah di kantor ini akan ada pengajian?" ucap pria 1.


"Saya tidak tahu...Sebab saya ke sini untuk bekerja.." ucapku.


"Ooo..Begitu...


"Ibu kerja di bagian apa?" ucap Pria 1.


"Saya juga tak tahu..Soalnya masih belajar.." ucapku.


Aku menyeruput teh.


"Oh iya...Kalian tidak shalat?" ucapku.


"Gue jarang shalat bu..Jika lagi pengen saja. Baru deh shalat" ucap pria 2.


"Kalau saya nunggu lebaran,baru saya shalat bu..." ucap pria 1.


"Saya lagi dapet bu.." ucap wanita.


"Jika seandainya perusahaan ini mewajibkan shalat bagi beragama islam,apakah kalian akan mematuhinya?" ucapku.


"Itu sangat mustahil bu...Sebab pemimpin perusahaan ini orang china bu.." ucap pria 1.


"Benar sekali bu... Memakai jilbab saja tidak di perbolehkan..." ucap wanita.


"Siapa yang tidak memperbolehkan?" ucapku.


"Orang HRD bu..." ucap wanita.


"Jika di perbolehkan..Apa mbak akan memakai jilbab?" ucapku.


"Tentu saja bu..Sebab jika di lingkungan di rumah saya ,saya memakai jilbab bu.." ucap wanita.


"Hem...Aku akan merubah peraturan itu,jika aku menjadi pemimpin di sini" ucapku dalam hati.


"Kalian tidak makan siang?" ucapku.


"Lagi bokek saya bu.." ucap pria 2.


"Sudah bu..Tadi makan mie.." ucap pria 1 dan wanita.


Aku mengambil uang di dalam dompet,lalu mengeluarkan uang 300 ribu. kemudian memberikan kepada mereka.


"Ini saya ada sedikit rejeki buat kalian." ucapku


"Terima kasih bu..." ucap mereka kesenangan.


"Iya..." ucapku.


Tiba - tiba Cheng Fei muncul.


3 orang itu lantas berdiri dari kursinya lalu menundukkan kepala.


Chang Fei berjalan menghampiriku.


"Rupanya kakak di sini...Aku cari di ruang Rina tak ada,untung ada staf yang mengetahui kakak di sini.." ucap Chang Fei.


3 orang tadi berjalan keluar dari ruang pantry.


"Iya dek..Kakak pengen ngeteh.." ucapku.


"Kak Hana sudah makan apa belum? Kalau belum mau aku ajak makan.." ucap Cheng Fei Li.


"Belum...Mau makan di mana dek?" ucapku.


"Di restoran dekat sini kak.." ucap Cheng Fei Li.


"Kakak gak terbiasa makan di restoran...Bagaimana kalau warung biasa saja.." ucapku mencoba menawar.


"Hem....Kalau tempatnya bersih aku mau kak.." ucap Cheng Fei Li.


Aku pun berdiri.


"Yuuk dek.. Sebelum jam istirahat habis.." ucapku.


"Santai saja kak..." ucap Cheng Fei Li.


Setelah Hana dan Cheng Fei Li pergi,3 orang yang keluar masuk kembali ke dalam pantry.


"Gilaaaa....Aku benar - benar tak menyangka itu tadi kakaknya Bos," ucap pria 1.


"Sama...Gue juga gak menyangka...Kalau gue tahu..Gue langsung keluar dari pantry dan tak berani menatapnya." ucap pria 2.


"Tapi jika di lihat - lihat,baru kali ini aku melihat Kakaknya Bos memakai pakaian muslim.." ucap pria 1.


"Husst...Jangan bicara aneh - aneh..Nanti ada yang dengar kalian bisa di pecat loh.." ucap Wanita.


----***----


Di rumah Bayu.


pukul 14.40.


Gazebo


Bayu duduk di kursi bersama yang lain.


"Bay... Kenapa Fisikku tambah kuat ya setelah 12 hari puasa?" ucap Bimo heran.


"Itu karena kamu gak merokok Mo..." ucap Bayu.


"Hem....Gitu..." ucap Bimo.


"Berat badanmu turun berapa kilo Bo?" ucap Daniel.


"Akeh niel... ada 10 kg..." ucap Bimo.


"Wuidihhh....


"Pantesan bajumu kelihatan longgar begitu,biasanya ketat.." ucap Lukman.


"Malam ke 21 kalian harus betah melek ya...Soalnya itu syarat terakhir.." ucap Bayu.


"Diampuut...Kenapa baru bilang kamu Bay.." ucap Lukman.


"Hehehehehehe...Lali bin lupa aku..." ucap Bayu.


"Juancooooook....." ucap Lukman,Daniel dan Bimo.


"Tenang....Tenang....Nanti aku temanin melek sambil minum kopi..." ucap Bayu.


"Emangnya boleh... Kita minum kopi Bay?" ucap Daniel.


"Enggak...Itu khusus aku saja...Kan aku gak puasa mutih.." ucap Bayu.


"JANCOOOOOK....."ucap Daniel dan Lukman.


"Jika kalian menyerah,lambaikan tangan ke atas...Di sana kameranya.." ucap Bayu asal menunjuk.


"Ogaaah Bay... Dah sejauh ini kok nyerah... Tak ada kamusku untuk menyerah..." ucap Daniel.


"Betul itu Niel.." ucap Lukman.


"Tumben kamu diam Bo?" ucap Bayu.


"Aku mikir Yu.." ucap Bimo.


"Mikir opo?" ucap Lukman.


"Celana dan bajuku pada longgar,aku beli baru lagi apa enggak ya..." ucap Bimo bingung.


"Tenang....Bajunya Bibi Mei kan ada banyak tuh... Kamu pakai bajunya bibiku aja ya.Bo." ucap Bayu.


"Jancook....Aku lanang cook Uduk wedok..Wooooo Wedhuuus..." ucap Bimo.


Ha....Ha...Ha...Ha....Ha...Ha...Ha... Mereka tertawa.


"Seng penting kan muat Bo..." ucap Bayu.


"He eh muat,tapi mosok aku jalannya sambil melambai...


Bimo berdiri dari kursi.


"Hai cowok...Temenin eke donk..." ucap Bimo menirukan Bancii sambil melambaikan tangannya.


"Buahahahahahahahahahaha..... Mereka kembali tertawa.


"Sakit perutku Bay....Ha.....Ha...Ha....Ha..." ucap Mei Lien tertawa mendengar celotehan teman - teman Bayu.


Mei Lien yang awalnya tidak paham bahasa jawa,semenjak tinggal bersama Bayu. Ia paham bahasa jawa,meskipun tak semuanya.Begitu pula dengan Hinata dan Melisa.


---***---


Di rumah Sakit.


Salah satu ruang inap VIP.


Nampak seorang wanita terbaring,dengan wajah separuh terluka.Nampak selang infus tepasang. Luka wanita itu tak kunjung mengering,meskipun di beri obat yang mahal sekalipun.


Dan ada 5 orang di ruangan itu. Salah satunya bernama Johan dan Alvin.


Luka bakar di tangan Johan sudah mulai mengering.


Wanita yang terluka adalah istrinya Johan.3 orang lagi keluarga dari istrinya Johan.


"Papa akan membawa masalah ini ke pengadilan,karena telah melukai Anita (Istri Johan).." ucap pria tua tak terima perlakuan Bayu terhadap putri tercintanya.


"Betul itu ayah...Vino sangat setuju... " ucap seorang pria yang berdiri di samping pria tua.


"Vino...Segera hubungi pengacara kita..." ucap pria tua.


"Siap Ayah..." ucap Vino.


Vino kemudian menghubungi pengacaranya,untuk membawa kasus itu ke pengadilan.


"Dasar orang miskin,bisa - bisanya melukai kakakku,aku akan membunuhnya" ucap seorang pria disebalah Vino.