
Jakarta.
Kota nomor satu paling padat penduduknya di antara kota - kota lainnya. Kota yang terkenal dengan macetnya jika di jam - jam sibuk.
Banyak orang yang mengadukan nasibnya di ibukota Jakarta,dengan skil seadanya,mereka berangan - angan menjadi orang sukses. Tak banyak dari mereka menjadi orang sukses,ada yang gagal,yang gagal menjadi pengemis,dan tuna wisma. Di tambah bila tak punya kenalan orang dalam,maka akan sangat susah mendapatkan pekerjaan.
Aku yang awalnya orang susah,kini menjadi orang kaya,yaah meskipun kekayaan itu di berikan padaku secara percuma,tapi aku gak mau hanyut dalam kekayaan itu. Toh harta tidak di bawa mati. Tapi harta bisa membuat kita masuk neraka bila tak pandai mengelolanya. Contoh saja zakat. Setiap setahun,sebagai umat muslim,kita wajib membayar zakat harta yang kita miliki,serta mensedekahkan sebagian harta kita. Bagi yang bersyukur,maka Allah akan menambah nikmat itu pada kita,tapi apabila kita kufur,maka Nerakalah tempatnya.
Ku hentikan motorku di stand kaki lima,ada berbagai macam makanan yang di jajakan,ku pesan Martabak dan Sate. Azis menunggu di sepeda motorku. Ku beli tak hanya untuk keluargaku saja,ku belikan juga buat pengawal yang berjaga di gerbang perumahan dan di rumahku.
Berapapun uang yang aku keluarkan untuk sedekah dan berinfak,tak mengurangi uang yang aku punya,malah sekarang tabunganku bertambah,yang dulunya sisa 2 Milyar saja,kini menjadi 12 Milyar lebih. Uang itu di dapat dari hasil penjualan di Cafe Mantan. Diana yang mengelola Cafe itu,meskipun dirinya tak terjun secara langsung,dia selalu mengawasi. Tak ada uang dari keluarga besarku,itu murni dari penghasilan Cafe. Belum lagi uang yang ada di brankas. Hanya aku dan almarhum Putri saja yang tahu kode brankas itu,setelah Putri tak ada,ku beri tahu kepada Ayu dan Diana saja.
Para sahabatku juga merasa senang sekali bekerja di cafe sambil Kuliah. Uang yang mereka dapat bisa mereka kirim untuk orang tuanya,dan sebagian di tabung. Untuk Daniel sendiri,setelah dari China,dia mendapatkan uang dari kakek buyutku . Sebagai imbalan karena telah membantunya dalam misi. Meskipun Daniel memiliki banyak uang,dia tetap seperti dulu,gak berubah menjadi sombong ataupun angkuh.
Setelah pesananku jadi,ku pacu sepeda motorku menuju rumah.
Sesampai di gerbang depan,ku berikan 2 kantong kresek berisi Sate dan martabak.
" Ini pak...Aku ada sedikit rejeki bapak dan teman - teman" ucapku sambil memberikan kantong plastik.
" Terima kasih bos..." ucap pria yang menerima kantong plastik.
Ku jalankan lagi sepeda motorku.
Begitu sampai di depan gerbang pagar rumahku. Pintu pagar terbuka,padahal mau aku klakson.
Ku jalankan lagi motorku,dan berhenti di pos.
" Dia siapa pak?" ucap salah satu pengawal melihat Azis.
" Dia salah satu tersangka pembunuhan Putri"
Para pengawal yang mendengar ucapanku lantas mendatangiku.
" Jangan kalian pukul,oh iya.Ini buat kalian.."
Ku berikan 2 kantong plastik.
" Kang turun.." ucapku.
" Terima kasih bos.." ucap pengawal 1 yang menerima kantong plastik.
Azis turun dari sepeda motor.
" Mana hapemu"
Azis memberikan ponselnya kepadaku
" Borgol dia,dan bawa ke ruang tahanan.." ucapku.
" Siap.." ucap pengawal 2 lalu memborgol Azis.
Ku hilangkan hipnotisku,Azis nampak terkejut,lalu berontak,pengawal sigap menahannya.
Ku jalankan lagi Supraku menuju teras rumah. Jika aku penjahat lendir, akan aku gunakan ilmu hipnotis itu untuk meniduri para gadis yang aku inginkan,akan tetapi aku mau. Karena itu dosa. Aku gunakan ilmu itu secara bijaksana.
Setelah sampai,ku parkir aja di depan rumah.
" Kang di pos ada makanan.." ucapku pada pengawal yang berjaga di depan pintu.
" Siap pak.." ucap pengawal.
Ku ambil kresek hang tergantung di stang motor lalu berjalan ke pintu. Pengawal membukakan pintu.
" Assalam mu'alaikum..." ucapku agak nyaring.
" Wa'alaikum salam.." suara para istriku dan teman - temanku.
Ku berjalan menuju asal suara.
Nampak Melisa berjalan ke arahku,ia mencium tangan kananku.
" Ini sate sama martabaknya ya kak..?" ucap Melisa.
Melisa masih memanggilku kakak,meskipun sudah menjadi istriku.
" Iya sayang..."
" Ini untuk pembantu kita"
Sengaja ku pisah,agar tidak tercampur.
" Mana yang lainnya Mel?" ucapku.
" Di kamar kak,lama banget kak.." ucap Melisa.
" Ku pesan banyak Mel,gak hanya untuk kita saja,untuk pengawal juga..." ucapku lalu berjalan ke lantai 2 menuju kamar Ayu.
Terdengar suara Paijo tertawa di balkon lantai 2.
Begitu sampai di lantai dua ku hampiri teman ' temanku.
Ku berikan kantong plastik berisi sate dan martabak ke Daniel,sebab Daniel yang dekat.
" Neh buat kalian.." ucapku.
" Opo iki Bay?" ucap Daniel.
" Sate sama martabak.." ucapku.
" Asek....Tahu aja kamu Bay kalau ku pengen mangan martabak.." ucap Bimo.
" Ku tinggal dulu..." ucapku.
" Ape nangdi Bay...Kene loh,mangan bareng.." ucap Paijo.
" Mau manggil istriku kang.." ucapku
" Siapa yang kamu gonceng tadi Bay? " ucap Lukman.
" Salah satu tersangka pembunuh Putri.
Ku lihat teman - temanku terkejut.
" Ayo kita ndelok yuk..Pengen tak kasih bogem.." ucap Bimo.
Mereka segera berdiri.
" Jangan kalian pukulin dia dulu ya..." ucapku.
" Lah piye to,kenapa gak boleh Yu..?" ucap Lukman.
" Kalau sudah terkumpul semua,barulah kita pukulin..Aku mau buat dia sebagai umpan.." ucapku.
" Oke.." ucap Lukman. Mereka pun bergegas menuju pos jaga.
Aku berjalan ke kamar Ayu.
Sesampai di depan pintu,ku buka pintunya,ku lihat gak ada Ayu. Kemana Ayu ya,ku putuskan ke kamar Diana.
Setelah sampai,ku buka pintu kamar,nampak Diana bersama Sulis.
" Ayo turun,satenya sudah ku beli.." ucapku.
" Kok lama bi?" ucap Diana.
Sulis menggendong Bintang. Lalu berjalan ke arahki bersama Diana.
" Tadi aku menemukan salah satu tersangka mi" ucapku.
" Di mana dia bi?" ucap Diana.
" Ada di pos,ku suruh pengawal untuk di taruh di tahanan.." ucapku.
" Aku mau lihat orangnya bi.." ucap Diana.
" Besok aja...Sekarang kita makan. Mana Ayu mi?" ucapku.
" Tadi seh sama Mel bi." ucap Diana.
" Ya sudah..Aku ke kamar Aisyah dulu.." ucapku.
Ku berjalan ke kamar Aisyah. Begitu sampai,ku buka pintu kamar. Namun terkunci.
Asem,padahal sudah ku kasih tahu,jangan di kunci,masih aja di kunci. Ku ketuk pintu kamar.
Tok...Tok...Tok...
" Sayang....Tolong bukain pintunya."
Tok...Tok...Tok...
" Ya amar....Bukain dong.." ucapku.
" Tunggu sekejap.." suara Aisyah.
Tak lama kemudian pintu terbuka.
" Jangan di kunci pintunya sayang.." ucapku.
" Saya takut,teman - teman habib albi masuk ke bilik saye.." ucap Aisyah.
" Mereka tidak akan berani masuk,di dalam rumah ini ada kamera CCTVnya. Lain kali jangan di kunci ya."
" Kecuali kamu bukan istriku,gak masalah di kunci.." ucapku.
" Baiklah..." ucap Aisyah.
" Yok kita makan.." ucapku.
" Saye sudah makan.." ucap Aisyah.
" ku bawa sate dan martabak,kita makan bersama - sama. Aku belum makan,hanya minum saja tadi.." ucapku.
" Baiklah.." ucap Aisyah.
Aisyah menutup pintu,lalu kami berjalan menuju lantai bawah.
Sesampai di lantai bawah,ku lihat Diana,SulisMelisa dan Ayu berada di ruang keluarga duduk meljngkar di lantai beralaskan karpet,di depannya makanan yang aku bawa.
Ku duduk di samping Ayu,lalu Aisyah duduk di samping Melisa.
"Berapa tersangka yang abi bawa?" ucap Ayu.
" Hanya 1,besok ku berencana memancing mereka. "
" Dalangnya Sebastian. Yuk kita makan dulu.."
" Bismillah Alhumma bariklana fiima razaktana waqina adzabannar..Amin.Selamat makan.." ucapku.
Ku ambil satu tusuk sate lalu memakan.
"Sebastian itu siapa kak?" ucap Melisa.
" Dulu dia yang menyuruh seseoramg untuk membuat onar di Cafe,memakai ormas..Masih keluarga Alvin.." ucapku.
" Alvin mantan kak Sulis?" ucap Melisa.
" He eh...Dah makan dulu..." ucapku.
Sepertinya ada yang ku lupa,lalu ku ingat - ingat,apa yang ku lupakan.
Astaga,ibu. Iya ibuku. .asa ku gak ngajak ibuku. Aseem..
Ku berdiri hendak ke kamar ibuku.
" Mau kemana bi?" ucap Diana.
" Ibu...Ku mau manggil ibu.." ucapku.
Ku Lihat ibuku berjalan menuju ke arahku.
" Sudah ku ajakin tadi bi.." ucap Ayu.
" Gitu ya...Sayang makan gak panggil - panggil " ucap ibuku sambil berjalan.
" Hehehehehe...Bayu lupa bu..." ucapku lalu duduk kembali.
Ibuku duduk di samping Aisyah,lalu mengambil martabak telur.
" Oh iya bu,aku memutuskan untuk tinggal di Pacitan saja bu.." ucapku.
" Kenapa gak di Jogja saja sayang.." ucap ibuku.
" Rumah ibu jangan di bongkar,biar begitu saja buat kenang - kenangan bu,terus jika Bayu tinggal di Jogja. Nanti orang cina mencari Bayu bu.." ucapku.
" Ya sudah...Tapi ingat pesan ibu ya sayang.." ucap ibuku.
" Tentulah bu..Bayu akan memasukkan cucu ibu ke pondok pesantren,sebab di sana juga dekat dengan pondok pesantren bu.." ucapku.
" Syukurlah.." ucap ibuku.
" Bu...Pelakunya sudah tertangkap bu.." ucap Melisa.
" Pelaku apa Mel?" ucap ibuku.
" Di mana dia sekarang?" ucap ibuku.
" Kata mas Bayu di pos depan bu.." ucap Sulis.
" Berapa orang tersangkanya sayang?" ucap Ibuku.
" Enam orang bu,mereka di pimpin oleh Sebastian." ucapku.
" Sebastian sodara iparnya Alvin?" ucap ibuku.
" Iya bu.."
" Besok Bayu mau memancing mereka bu..Siapa tahu berhasil."
" Tadi seh mau Bayu samperin pelaku yang lainnya,tapi di telpon minta sate sama martabak.." ucapku.
" Kenapa mas gak bilang kalau sudah dapat pelakunya,mita bisa minta tolong ke Bimo atau gak Lukman untuk beli.." ucap Sulis.
" Gakpapa Lis..."
" Masih ada waktu kok,yang penting aku sudah mendapatkan salah satu tersangkanya..." ucapku.
" Kalau mereka sudah di tangkap,berarti kita bisa bebas dong mas?" ucap Diana.
" Kalau berkeliaran di Jakarta,jangan. Kalian belum bebas,terutama untukmu Lis,dan juga Aisyah."
" Aku takut nanti anak buah Xiang melihat kalian bagaimana?" ucapku.
" Iya juga seh..." ucap Sulis.
" Bosen di rumah terus kak,kita mau jalan - jalan.." ucap Melisa.
" Ya sabar Mel sayang...Kita jalan - jalan di Sragen atau Pacitan saja..."ucapku.
****
Pagi hari di Markas pengawal keluarga besar Han.
Aku bersama istri - istri menyambangi Azis yang di tahan di penjara.
Azis kaget melihatku,lalu berdiri.
" Kenapa gue ada di sini? Lepasin gue.." ucap Azis.
" Aku akan melepas sampeyan bila sampeyan mau di ajak bekerja sama,panggil semua teman ' temanmu yang berkomplot untuk membunuh istriku.." ucapku.
Kakek buyutku datang bersama yang lain.
" Gue gak kenal lu,bagaimana bisa gue membunuh istri lu.." ucap Azis.
Ku tatap mata Azis,lalu ku hipnotis dia secara penuh.
" Ayo antar aku ke tempat Codet dan yang lainnya.."
Ku menoleh pengawal yang berdiri tak jauh dariku.
" Kang,tolong buka pintunya.." ucapku.
" Siap pak.." ucap pengawal,lalu membuka pintu sel penjara.
" Siapa dalangnya Bay?" ucap kakek buyutku.
" Sebastian mbah... Sampe sekarang dia belum di temukan,bahkan Laura saja belum kembali mencari Sebastian." ucapku.
" Laura hantu cewek kah Bay?" ucap ayah mertuaku (Jien Lie)
"Iya pah...Bayu tugaskan mencari Sebastian dan Hendri" ucapku.
" Kok dia menurut kak,tadi enggak" ucap Melisa.
" Ku hipnotis Mel..."
" Bayu pergi dulu ya,mau menjemput tersangka yang lainnya.."
Ku berikan masker kepada Azis.
" Pakai masker ini"
Azis memakai masker yang ku berikan
" Bawa dia kang.."ucapku.
Ku berjalan bersama Azis dan pengawal menuju rumah tersangka lainnya.
40 menit kemudian.
Mobil yang ku tumpangi berhenti,lalu ku turun dari mobil bersama yang lain.
" Mana rumahnya" ucapku.
" Di sana..." ucap Azis menunjuk sebuah gang yang bisa di lewati motor saja,mobil gak bisa masuk.
Ku berjalan,dj sampingku Azis,di belakangku 8 pengawal.
Kumlewati beberapa rumah yang berjejer saling berhimpitan.
Ada anak - anak kecil bermain.
" Jangan tunjuk orangnya,sekarang di mana Codet.." ucapku.
" Yang barusan keluar pintu.." ucap Azis.
Ku lihat seorang pria barusan keluar dari pintu.
" Tangkap dia " ucapku.
Pengawalku langsung berlari ke arah pria yang bernama Codet.
Para pengawal sigap menangkap Codet.
Aksi pengkapan Codet memancing warga sekitar untuk melihat,karena mereka penasaran.
Pria yang bernama Codet di borgol lalu di bawa ke mobil.
Sekarang pergi menuju tempat yang bernama Bongek.
Jaraknya tak seberapa jauh dari tempat Codet.
Hanya 600 meter. Karena akses jalan yang sempit,jadi kita berjalan kaki. Sementar Codet di bawa ke mobil,agar tersangka lainnya tak melihat Codet.
Setelah menempuh dengan berjalan kaki,akhirnya sampai di depan pintu rumah kontrakan.
Salah satu pengawal mengetuk pintu.
Tok....Tok...Tok...
" Permisi..." ucap pengawal.
Tok...Tok....Tok....
Pintu terbula,nampal seorang pria umurnya sekitar 30 an tahun,memakai saring,baju kaos,rambut kucel. Seperti bangun tidur.
" Apakah dia.." ucapku.
" Iya " ucap Azis.
Pengawal sigap memborgol.
Pria bernama Bongek terkejut,lalu hendak melawan.
" Jangan melawan,atau kami tembak.." ucap pengawal.
" Kalian siapa.." ucap Bongek.
" Bawa dia..." icapku.
" Siap pak..." ucap pengawal.
Sekarang kita berpindah ke rumah Tohir,menurut informasi dari Azis,rumah Tohir lumayan agak jauh.
Setelah menempuh perjalanan,akhirnya kita sampai di depan pintu rumah Tohir.
Salah satu pengawalengetuk pintuk,sementara yang lain berjaga dan waspada.
Tok....Tok....Tok..
" Permisi..." ucap pengawal.
Tok....Tok....Tok....
Tak ada jawaban dari dalam rumah kkntrakan tersebut,lalu pengawal memgintip dari jendela. Tak ada siapa - siapa.
" Permisi....Pak..." ucap pengawal.
" Di mana Tohir? Apa benar Tohir tinggal di sini.?" ucapku.
" Benar,2 bulan yang lalu,gue ke sini" ucap Azis.
Tok....Tok....Tok....
" Permisi..." ucap pengawal.
Seorang gadis keluar dari pintu sebelah.
" Maaf mbak permisi.." ucapku.
Gadis itu melihatku.
" Ya.." ucap gadis itu.
" Mbak kenal sama tetangga mbak yang bernama Tohir.." ucapku.
" Iya kenal..Ada apa?" ucap gadis itu.
" Kemana dia ya mbak" ucapku.
" Mana gue tahu.." ucap gadis itu.
" Mbak punya hape gak?" ucapku.
" Punya.." ucap gadis itu.
Ku dekati gadis itu.
Ku keluarkan uang 100 rb.
" Ini uang 100ribu,Jika melihat kang Tohir di rumah,beri tahu aku,nanti aku kasih uang lagi. Tapi jangan sampai orang lain tahu terutama Tohir,apa mbak bisa.." ucapku.
" Bisa.." ucap gadis itu.
Kuberikan uang 100 ribu pada gadis itu. Lalu kukeluarkan ponsel nokiaku.
" Berapa nomornya mbak?" ucapku.
" 0856********* " ucap gadis itu.
Ku tekan nomor tersebut.
" Mbak namanya siapa?" ucapku.
" Siska...." ucap gadis itu.
" Aku Ahmad.." ucapku lalu menekan panggilan.
Terdengar suara nada dering di saku celana Siska,lalu Siska mengambil ponselnya.
" Itu nomorku mbak Siska..." ucapku.
" Oke.." ucap Siska.
" Jika kang Tohir pulang,beri tahu aku.." ucapku.
" Siap bang...Mayan bisa buat beli pulsa sama jajan.." ucap Siska.
" Nanti ku kasih 500 ribu jika menghubungiku melihat kang Tohir di rumah.." ucapku.
" Serius bang..?" ucap Siska.
" Iya..Aku serius..." ucapku.
"Tambahin dong bang.." ucap Siska.
" Mau gak? Kalau gak mau aku akan menyuruh orang lain" ucapku.
" Mau...Mau bang.." ucap Siska.
" Nah gitu song..Aku permisi dulu. Assalam mu'alaikum..." ucapku.
" Wa'alaikum salam..." ucap Siska.
Aku bersama yang lainnya memutuskan kembali ke markas.