SANG PENERUS.

SANG PENERUS.
MENGUBURKAN JENAZAH WAHID


"Apakah suara itu mirip di mimpi sayang?" ucap Hana penasaran.


"Iya bu...Mirip sekali...Bahkan sama."ucap Bayu.


"Coba sayang duduk.." ucap Hana.


Bayu duduk di kursi di ikuti Hana.


Hana mendekatkan wajahnya ke telinga Bayu,lalu melantunkan ayat - ayat suci Al Qur'an.


"Sebenarnya kita ini berada di dalam darahmu Bayu...Maafkan kami baru bisa muncul...Cukup kamu jawab saja dalam hati..." suara wanita di telinga kanan Bayu.


"Aiiisssh...Kenapa di kasih tahu...Jadi biar orang lain mengira dia itu gila..." suara pria.


"Ooo...Begitu...


"Ya...Ya...Ya... Aku paham...


"Tolong kalian diam ya...." ucap Bayu dalam hati.


"Dah...Ayoo pergi...Jangan ganggu Bayuku...Ku jitak kepalamu nanti..." suara wanita.


"Tarik aja itu buntut pakde Jalu mbak cantik..." ucap Bayu dalam hati.


"Juancoook....Ini pusakaku woiii...Main tarik aja...


"Aaaaaaaaaaaaa......Atiiiiit.....Jangan di tarik" suara Jalu.


Ha....Ha....Ha...Ha...Ha....Bayu tertawa.Karena membayangkan burung si Jalu di tarik wanita itu.


"Kenapa sayang tertawa?" ucap Hana heran melihat Bayu tiba - tiba tertawa.


"Mereka ada di dalam darah Bayu bu...Cukup dalam hati saja menjawab ocehan mereka...Ne Bayu tadi mendengar ocehan mereka..." ucap Bayu.


"Ooo...Begitu...." ucap Hana.


"Ibu mau balikan lagi?" ucap Bayu


"Enggak sayang...." ucap Hana.


"Bayu gak melarang ibu untuk menikah lagi..." ucap Bayu.


"Gak sayang.... Kecuali dulu ada salah satu keluarga mereka membela ibu,mungkin ibu bisa mempertimbangkannya... Kenyataannya,tak satupun dari mereka yang membela ibu..." ucap Hana.


"Iya juga seh...


"Oh iya...Ibu tidur di hotel saja,biar Bayu yang menjaga ibunya Putri.." ucap Bayu.


"Bayu...Sentuh tangan ibumu,bilang padanya suruh menatap matamu..." suara wanita.


"Bu...Cewek itu menyuruh Bayu memegang tangan ibu,lalu ibu menatap mata Bayu.." ucap Bayu.


"Dia bisa bicara pada ibu sayang?" ucap Hana.


"Gak tahu bu..." ucap Bayu lalu memegang kedua tangan ibunya.


Hana menatap mata Bayu.


Awalnya hanya hitam putih. Lalu berubah menjadi hijau semua.


"Eh...!!!!??? Hana tersentak kaget.


"Aku adalah.(Hana terkejut bisa mendengar suara tersebut) keturunan keluarga Jati. Kamu mengenalnya dengan keluarga Mahendra..Aku minta maaf atas perilaku kasar keluargaku kepadamu Hana Aorora Sanjaya..."suara di telinga kanan Hana.


"Sudah kumaafkan mereka,apakah kamu Kumala Sari?" ucap Hana dalam hati mengikuti apa yang di beri tahu oleh Bayu.


"Bukan... Aku bukan makhluk jahat yang menjerumuskan keturunanku...


"Bayu memiliki kekuatan yang tak di miliki keluarga Jati,yaitu mata pelangi. Aku harap...


"Bayu menjaga keluarga Jati..." suara wanita di telinga Hana.


"Tidak... Bayu sudah memiliki keluarga sendiri,yaitu keluarga Han.


"Keluarga yang menerimaku dan juga Bayu apa adanya,tanpa memandang status seperti keluarga Mahendra" ucap Hana dalam hati.


"Baiklah... Sebenarnya aku ingin kamu kembali lagi pada Agus...Karena Agus masih sangat mencintaimu.." suara wanita di telinga Hana.


"Kamu jangan ikut campur masalah pribadiku...Kalau kamu berani,muncullah...Aku akan menghajarmu..." ucap Hana dalam hati.


"Tidak...Aku tidak berani,kuakui kamu lebih hebat dariku...Kamu wanita yang tangguh,tak segan - segan membunuh,bahkan ke seorang wanita tak bersalah juga kamu bunuh..Anak kecil juga kamu bunuh." suara wanita di telinga Hana.


"Asal kamu tahu...Aku tak sembarangan membunuh. Ku harap kalian tidak macam - macam terhadap Bayuku...Jika macam - macam,maka aku akan mencari cara untuk membunuhmu..." ucap Hana dalam hati.


"Tenanglah...Aku tidak akan macam - macam pada Bayu,karena Bayu orang yang sangat spesial di dalam keturunan keluarga Jati...Aku bersyukur di dalam keluarga Jati memiliki seorang pria seperti Bayu... Ganteng..Gagah...,pintar mengaji dan berbakti pada ibunya...Itu saja yang mau kukatakan padamu Hana...


"Kalau aku jadi kamu..Aku akan menerima Agus kembali... Dari pada punya goa di anggurin gitu...." suara wanita di telinga Hana.


Mata Bayu kembali normal kembali.


"Bangsaaat...Keluar kamu,hadapi aku.." ucap Hana dalam hati emosi. Ia tak terima ucapan terakhir wanita itu.


"Aku sudah selesai mengobrol dengan ibumu sayang...Matur suwun ya..." suara wanita di telinga kanan Bayu.


"Iya mbak..." ucap Bayu dalam hati.


"Bu...Dia sudah pergi..." ucap Bayu.


"Kurang ajar dia sayang...Masa kata dia go..


"Gak jadi.." ucap Hana hampir keceplosan.


"Dia bilang apa bu...?" ucap Bayu.


"Gakpapa...Sayang tidur saja di dalam,ibu mau cari penginapan di dekat sini.." ucap Hana.


"Iya bu..." ucap Bayu lalu memberikan kunci mobil pada ibunya.


Hana menerima kunci mobil lalu berjalan menuju parkiran mobil.


Bayu berdiri,lalu berjalan menuju ke ruang inap tempat di mana bu Intan di rawat.


Setelah sampai di dekat ruang inap,


ada 2 orang yang berdiri di depan pintu tersebut,mereka adalah pengawal Bayu.


Bayu masuk ke dalam ruang inap VIP,lalu duduk di kursi sofa panjang,kemudian berebah.


Nampak bu Intan terbaring lemah,ada beberapa bagian tubuh di perban. Sebab saat Bayu dan Hana menemukan bu Intan sudah dalam ke adaan terluka. Hana dan Bayu membunuh semua orang yang ada markas tersebut,markas itu berada di dekat pantai. Anak kecil berusia 7 tahun juga di bunuh.


Bayu memejamkan matanya,tak lama kemudian tertidur.


2Jam kemudian.


Bayu merasakan wajahnya di sentuh seseorang. Perlahan ia membuka matanya.


"Yomesan....!!" ucap Bayu melihat Hinata di dekatnya.


Kemudian Bayu duduk.Ia melihat Khalisa sedang di samping ibunya bersama Diana dan Melisa.


"Ku pikir besok kalian akan datang ke sini..." ucap Bayu.


Hinata tak menjawab,ia memeluk Bayu.


Bayu mengusap punggung Hinata.


Khalisa berjalan ke arah Bayu lalu duduk di sampingnya.


"Mas..." ucap Khalisa.


"Iya dek..." ucap Bayu.


"Wahid mas.... Hiks...Hiks...Hiks.." ucap Khalisa lalu menangis.


Hinata melepaskan pelukanannya,kemudian Bayu merangkul Khalisa.


"Ikhlaskan ya sayang... Biarkan Wahid tenang di alam sana..." ucap Bayu.


****


Pagi harinya.


Mereka berangkat menuju Lampung untuk menguburkan jenasah Wahid. Bu Intan duduk di kursi roda. Mereka pergi ke Lampung menggunakan pesawat,agar lebih cepat sampai. Sementara Hana memakai mobil Ferarinya.


Setelah menempuh perjalanan,akhirnya mereka sampai di rumah bu Intan. Hana lebih dulu sampai di sana.


Bendera duka berkibar di depan rumah.


Satu persatu warga berdatangan.


Tak lama kemudian,mobil jenasah tiba.Petugas mengeluarkan peti jenasah,lalu di bawa masuk ke dalam rumah.


Tangisan bu Intan dan Khalisa pecah saat melihat jenasah Wahid terbujur kaku di peti mati yang terbuka.


Tak lama kemudian


Mereka melaksanakan shalat jenazah,Bayu bertindak sebagai imam.


Sejam kemudian,jenasah wahid di masukkan ke dalam mobil jenasah.Bayu ikut menggotong peti mati tersebut.


Lalu Bayu ikut dalam mobil jenasah.


Suara sirine di nyalakan,lalu mobil jenasah meninggalkan rumah bu Intan di ikuti rombongan keluarga Bayu dan warga yang ikut mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhir.


Bayu melihat makhluk astral di dalam mobil ambulan,ada wanita dan pria wajahnya hancur,


"Jancook...Di dalam mobil ini ada demitnya.." ucap Bayu dalam hati.


Setelah menempuh perjalanan,akhirnya mereka sampai.


Bayu dan yang lainnya menggotong peti jenasah ke liang kubur yang sudah di gali di samping kuburan pak Hendra,ayah Khalisa.


Setelah sampai,peti jenasah di buka lalu jenasah Wahid di angkat oleh Bayu menuju liang kubur. Sebelum itu,ia membawanya ke hadapan ibu mertuanya,untuk melihat terakhir kali wajah putranya.


Bu Intan tak kuasa menahan tangis,ia mencium wajah putranya itu untuk terakhir kalinya.


"Anakku....Hu....Hu....." ucap bu Intan sambil menangis.


Lalu Khalisa mencium pipi adiknya itu. Ia ikut menangis melihat adiknya sudah terbungkus kain kafan.


Bayu berjalan ke liang lahat untuk meletakkan jenasah adik iparnya di tanah.


Setelah di dalam luang kubur,Bayu meletakkan jenasah adik iparnya di tanah menghadap kiblat.Tali pengikat kain kafan di buka. Lalu Bayu mengumandangkan adzan. Setelah itu menutup dengan papan.


Bayu naik ke atas,setelah itu menimbun liang kubur itu dengan tanah di bantu para pengawal.


Selesai menimbun,Bayu meletakkan papan di atas gundukan tanah.


Bu Intan menaburkan bunga bersama Khalisa di atas pusara.


Bayu duduk jongkok di depan pusara untuk membacakan do'a untuk adik iparnya.


Selesai membaca do'a.


"Kakak baru saja mengenalmu...


"Mendengar suaramu,ocehanmu..


"Semoga saja Allah mempertemukan kita di sana ya dik..." ucap Bayu sambil menitikkan air mata.


Bayu memegang pundak Khalisa lalu berdiri.


"Mbak akan merindukanmu dek..." ucap Khalisa,pipinya basah karena air matanya masih mengalir.


Satu persatu meninggalkan pusara Wahid.


Bayu mendorong kursi roda bu Intan menuju mobil.


Bayu bersama bu Intan,Hinata,dan Khalisa pergi menuju rumah bu Intan di kawal para penjaga.


Setelah sampai di rumah,mereka turun dari mobil,


Siang harinya.


Bayu menghampiri ibu mertuanya.


"Bu...Tinggal bersama Bayu ya.." ucap Bayu.


"Asem...Gak mau lagi...Kalau ku tinggal....kasian..Gak tinggal bagaimana kuliahku dan teman - temanku..." ucap Bayu dalam hati galau.


Tiba - tiba Bayu memiliki sebuah ide.Agar ibu mertuanya ada yang menjaga.


Bayu berjalan ke kamar untuk menemui Khalisa.


Nampak khalisa tak memakai jilbab duduk bersama Hinata juga tak memakai jilbab di tepi ranjang,Khalisa memegang foto adiknya.


"Kalau bilang sekarang,nanti dia gak mau lagi..Mending nanti sajalah..." ucap Bayu dalam hati.


Bayu duduk di samping Khalisa.Kemudian mengusap rambutnya.


"Mas....Kenapa seh,mereka begitu tega membunuh adikku?


"Adikku salah apa...?" ucap Khalisa.


"Mereka sengaja mengadu domba sayang,mas saja sempat terpancing....


"Mas bunuh para pengawal keluarga Mahendra,karena mas mendapat pesan. Bilangnya mau menuntut balas kematian ibunya." ucap Bayu.


"Apakah mereka yang membunuh adikku sudah di tangkap?" ucap Khalisa.


"Mas bunuh mereka...Kalau di tangkap polisi,mereka bisa bebas...Untung saja saat kita menemukan ibu adek,ibu hanya luka ringan dan kita datang belum terlambat.


"Sebab ada orang yang terlambat mas selamatkan.." ucap Bayu.


"Siapa itu mas..?" ucap Khalisa.


"Adiknya Sandi...


"Apaaa....!!!?? " ucap Khalisa terkejut.


"Mas melihatnya sudah tewas,jika saja mas gak terlambat menyelamatkannya,maka dia gak akan tewas dek.." ucap Bayu.


Terdengar suara adzan Dzuhur.


"Yomeshan...Yuk kita shalat.." ucap Bayu.


"Hai..." ucap Hinata.


Bayu dan Hinata Shalat di ruang keluarga.


Selesai shalat,Bayu dan Hinata ke dapur untuk memasak.


"Masak apa neh yomesan..?" ucap Bayu bingung mau masak apa.


Hinata membuka kulkas,lalu mengambil telur dan sosis.


"Masak ini saja shujin.." ucap Hinata.


"Baiklah..." ucap Bayu.


Bayu mencuci beras,sementara Hinata memggoreng telur dan sosis.


Khalisa datang menghampiri mereka,lalu membantu masak.


"Put..." suara bu Intan di ruang tamu.


"Iya bu..." ucap Khalisa lalu berjalan menghampiri ibunya.


Bayu melanjutkan pekerjaan Khalisa yang di tinggal pergi menemui ibunya.


"Shujin bisa masak?" ucap Hinata.


"Bisa...Waktu di kossan,kita belajar masak bersama - sama.." ucap Bayu sambil memasukkan bumbu ke dalam wajan,setelah itu memasukkan sayuran ke dalam wajan.


Khalisa datang menghampiri Bayu yang sedang mengaduk masakan.


"Mas bisa masak?" ucap Khalisa.


"Bisa dong dek...Ini hasil kita belajar masak waktu di kossan..


Khalisa mencicipi kuah sayur.


"Gimana dek? asin apa enggak?" ucap Bayu.


"Pas mas ....Mas hebat...


"Siapa yang ngajarin mas masak?" ucap Khalisa.


"Dari buku dek..Sulis beli buku resep makanan,lalu kita praktekkan saat di kossan.." ucap Bayu.


"Sulis ya..." ucap Khalisa seperti cemburu.


"Kalau gak beli buku,yang ada kita semua bisa darah tinggi dek.." ucap Bayu.


"Kok bisa darah tinggi mas..Emang dia masak ke asinan kah?" ucap Khalisa.


"Iya... Lebih enak masakannya adek.." ucap Bayu.


Khalisa menyenggol Bayu,karena di puji masakannya lebih enak daripada Sulis.


"Mas bisa aja,waktu itu kan adek juga belajar masak mas.." ucap Khalisa.


Setelah selesai memasak,Khalisa memanggil ibunya untuk makan siang.Bayu dan Hinata duduk di kursi meja makan.


Khalisa datang sendiri tanpa ibunya.


"Mana ibu dek...?" ucap Bayu.


"Lagi gak mau makan mas..." ucap Khalisa.


"Ya sudah...Kita makan dulu..." ucap Bayu.


Mereka kemudian makan bersama.


Selesai makan,Bayu mengambil makanan untuk ibu mertuanya.


Bayu berjalan ke arah kamar bu Intan.


Tok...Tok....Tok....


"Bu...." ucap Bayu.


"Masuk nak..." suara bu Intan.


Bayu membuka pintu lalu masuk ke dalam menghampiri bu Intan yang duduk menyender di tempat tidur.


"Makan dulu bu..." ucap Bayu.


"Ibu gak lapar nak..." ucap bu Intan.


"Bu...Nanti ibu sakit jika gak makan... Dan Wahid akan merasa sedih melihat ibu tidak makan


Bayu menyendok nasi.


"Makan ya bu..." ucap Bayu sambil menyodorkan makanan ke mulut bu Intan.


Mulut bu Intan terbuka,Bayu memasukkan makanannya.


"Belum genap setahun kepergian orang yang ibu sayang... Kini...


"Ibu kehilangan buah hati ibu...Warisan dari orang yang ku sayang..." ucap bu Intan.


"Yang sabar bu...Ini adalah ujian.." ucap Bayu.


"Assalam mu'alaikum...." suara pak Arif.


"Wa'alaikum salam " ucap Bayu.


Bayu menyuapi bu Intan lagi.


Tak lama kemudian istri pak Arif masuk dalam kamar bersama Cintya.


Bu Intan dan istri pak Arif cipika cipiki,lalu Cintya mencium tangan bu Intan.


Cintya memandang Bayu.Di dalam hatinya ada rasa rindu,karena beberapa hari tak bertemu.


Khalisa masuk dalam kamar,kemudian menggantikan Bayu menyuapi ibunya.


Bayu berjalan keluar kamar menemui pak Arif.


Setelah sampai,Bayu bersalaman tak lupa cium tangan ke pak Arif,lalu bersalaman ke Rahman.Setelah itu duduk.


"Bay...Apa yang sebenarnya terjadi... Aku hanya dapat kabar dari ibumu bahwa adiknya Lisa meninggal dunia,dan ibunya Lisa masuk rumah sakit" ucap pak Arif.


Bayu menceritakan apa yang terjadi,karena Bayu mengganggap Keluarga pak Arif sudah berjasa pada dirinya,yang memberi tahu keberadaan Putri yang selama ini ia rindukan. Kecuali ibunya,Bayu bercerita membunuh yang mengusik keluarganya bersama para pengawal.


Pak Arif dan Rahman terkejut mendengar cerita Bayu.


"Serius kamu bunuh mereka dan polisi itu Bay?" ucap Rahman.


"Iya kang...Aku serius... Sebab mereka telah berani mengusik keluargaku...


"Aku ingin butuh ketenangan dan kedamaian menjalani kehidupanku...


"Aku tak peduli jika yang mengusikku adalah kerabat keluargaku bahkan ayah kandungku...Maka kubunuh dia..." ucap Bayu.


Hinata datang membawa minuman teh.


"Sadis banget Bayu ini... Di balik sifatnya yang ramah,ternyata dia bisa sadis,bahkan ayah kandungnya juga ingin di bunuh..." ucap Rahman dalam hati.


"Oh iya... Bagaimana kabarnya Annisa kang?" ucap Bayu.


"Hem....Baik...Kenapa kamu tanya dia Bay?" ucap Rahman.


"Katanya suka sama Annisa...Piye too...Sudah berhasil apa belum mendapatkan hatinya.." ucap Bayu sambil memainkan mata.


"Jangkreek....


"Susaah Bay..." ucap Rahman.


"Bayu...Ajarin dia ilmumu...Biar cewek itu bertekuk lutut padanya" suara wanita di telinga kanan Bayu.


"Aku gak ada pake ilmu apapun mbak yu..." ucap Bayu dalam hati.


"Gampang itu...Samperin aja terus kerumahnya kang...Siapa tahu dia mau denganmu.Jangan lupa bawa martabak telur buat ayahnya.Kalau Annisa itu Martabak ketan." ucap Bayu.


"Kenapa baru kamu kasih tahu Bay.... Pantesan aja aku bawakan Pizza dia gak mau makan.." ucap Rahman.


"Paling kang Ahmad sama Zahra yang makan tuh Pizza.." ucap Bayu.


"Iya...Mereka aja yang Pizza...Kok kamu tahu banget tentang mereka Bay?" ucap Rahman heran.


"Ya tahu lah kang...Aku kan sering kesana...Malah sempat aku di kerjai sama kakaknya,dia bilang pacarnya Annisa.. Ya aku iyakan saja...Toh aku gak ada perasaan apa - apa sama Annisa. Dan sempat kubilang dia itu pembantunya" ucap Bayu.


Ha....Ha...Ha...Ha...Ha... Rahman tertawa.


"Assalam mu'alaikum..." ucap Hana muncul di pintu.


"Wa'alaikum salam..." ucap mereka.


Hana menangkupkan tangan ke arah pak Arif dan Rahman kemudian duduk di samping Bayu.


"Kapan datangnya kang?"ucap Hana pada pak Arif.


"Baru saja mbak.." ucap pak Arif.


"Ibu dari mana ?" ucap Bayu.


"Dari rumah Agus sayang...Ibu kesana untuk melayat..." ucap Hana.


"Ooo....Apa dia berbuat macam - macam pada ibu?" ucap Bayu.


"Enggak sayang..." ucap Hana.


Istri pak Arif dan Cintya muncul,mereka kemudian cipika cipiki. Cintya mencium tangan Hana.


"Oh iya...Saya pamit pulang dulu mbak.." ucap pak Arif.


"Kenapa buru - buru.." ucap Hana.


"Aku ada janji mbak..