SANG PENERUS.

SANG PENERUS.
HANA MENEMUI IDA


Pagi hari di restoran hotel Blue Sky.


Bayu sarapan bersama Yusuf dan juga supir.


Sang suoir merasa senang di ajak makan di restoran oleh Bayu. Sebab jarang - jarang ia makan di restoran.


" Pak...Nanti bapak balik aja duluan..."


" Bawa buah yang ku beli itu ya pak..,aku takut busuk nanti kalau kelamaan... ucap Bayu.


" Iya pak.." ucap Yusuf.


" Nanti saya ganti uang tiket yang hangus itu dan juga saya bayarin tiket pulangnya.." ucap Bayu.


" Itu tidak perlu pak...Sebab sudah di tanggung oleh keluarga bapak.." ucap Yusuf.


" Oooo... Begitu..."


Bayu menoleh ke supir.


" Oh iya,nama bapak siapa?" ucap Bayu.


" Namaku Wardoyo pak bos..Aku belum nikah..Jadi jangan panggil pak." ucap supir.


" Yo wes..."


"Kang Doyok tinggal di mana?" ucap Bayu.


" Aku tinggal di gunung pipa bos.." ucap Wardoyo.


" Gunung pipa? Gunung pipa itu di mana?" ucap Bayu.


" Dekat sini bos..." ucap Wardoyo.


Bayu berpikir bahwa gunung pipa itu pipa yang di susun menjadi sebuah gunung. Lantas di beri nama gunung pipa.


" Mas doyok punya motor apa enggak di rumah?" ucap Bayu .


" Punya bos...." ucap Wardoyo.


" Boleh ku pinjam?" ucap Bayu.


" Ada di kantor montornya..." ucap Wardoyo.


" Hemmmm...."


" Namti setelah ini,kita ke kantormu ambil motor,terus sampeyan pulang aja ke rumah bawa mobilnya.."


" Tenang aja...Sampeyan tetap ku bayar..." ucap Bayu.


" Siap bos..." ucap Wardoyo.


Bayu tahu,bahwa Wardoyo bekerja di bidang jasa travel. Sehingga dia ikut pergi kemana saja oleh tamu yang menggunakan jasanya.


" Berapa nomor hapemu kang?" ucap Bayu.


" 08524****** " ucap Wardoyo.


Bayu mengetik nomor Wardoyoz di ponsel. Lalu mengantongi ponselnya.


" Aku mau beli alat pancing..." ucap Bayu.


" Dekat kantorku itu ada toko pancing bos.." ucap Wardoyo.


" Di mana kang..?" ucap Bayu.


" Di klandasan..Nanti aku kasih tahu tempatnya pas ke kantor.." ucap Wardoyo.


" Oke...." ucap Bayu.


1 Jam kemudian.


Bayu mengendarai sepeda motor milik Wardoyo menuju toko pancing yang di tunjuk oleh Wardoyo saat di dalam mobil.


Setelah sampai,Bayu masuk dalam toko. Melihat - lihat alat pancing yang di jual.


" Mas...Ada reel Shimano enam ribu apa enggak?" ucap Bayu.


" Ada..." ucap pelayan toko lalu mengambil alat pancing tersebut.


Bayu pun menyebut alat pancing,kemudian memilih joran.


Setelah selesai memilih.


" Mas...Bayarnya bisa pakai kartu apa enggak? Soalnya aku gak bawa duit banyak.." ucap Bayu.


" Ada....Mandiri,BCA sama BNI..." ucap pelayan toko.


" BNI aja..."


Bayu mengeluarkan dompetnya.


" Oh iya...Toko hape di mana ya mas..." ucap Bayu.


" Banyak mas toko hape...Klandasan,Mall..Tapi kalau mau cari yang seken ada di Klandasan...." ucap pelayan toko.


" Maaf...Klandasan itu di mana ya...Saya orang baru di sini.." ucap Bayu.


" Dekat aja di sini...Masnya muter di lampu merah..Teris aja...Nanti ada gedung bank BRI. Nah depannya itu Klandasan.." ucap pelayan toko.


" Oooo...Di situ..."


Pembayaran pun selesai.


" Suwun mas..." ucap Bayu.


" Sama - sama..Terima kasih telah bekunjung dan berbelanja di sini..." ucap kasir.


" Sama - sama..." ucap Bayu lalu pergi.


Di saat Bayu mengendarai sepeda motor,ia memperhatikan bangunan dan jalan raya.


" Gedung bank BRI..."


Bayu melihat sebuah bangunan besar setelah melewati kantor Walikota Balikpapan.


" Nah itu bank BRI...Berarti depannya Klandasan.." ucap Bayu dalam hati.


Setelah sampai di dalam pasar Klandasan.


Bayu melihat banyak penjual ponsel,bahkan ada yang menjual ponsel tanpa etalase,hanya menggunakan meja kecil,lalu di susun rapi.


Bayu mendatangi salah satu toko ponsel,lalu melihat ponsel yang di pajang.


" Cari hape apa mas..?" ucap seorang wanita yang menjual ponsel.


" Ini berapa harganya mbak?" ucap Bayu sambil menunjuk ponsel nokia yang berkamera.


" Itu dua juta enam ratus...Masih baru itu mas" ucap wanita itu.


" Masih mahal ya..." ucap Bayu dalam hati.


Bayu bingung..Mau belikan hape kamera apa yang biasa saja.


Alhirnya Bayu memilih hape yang berkamera,agar Ida bisa berfoto. Lalu membeli kartu perdana,juga mengisikan pulsa ke nomor ibunya Ida.


Setslah bertransaksi,Bayu memutuskan kembali ke hotel. Karena hari ini hari jum'at.


Di saat perjalanan menuju hotel,Bayu merasakan hapenya bergetar,ia pun berhenti di pinggir jalan. Lalu mengambil ponselnya.


Nampak panggilan dari Ayu.


" Assalam mu'alaikum Yomesan.." ucap Bayu.


" Wa'alaikum salam shujin..."


" Shujin lagi di mana?" suara Ayu.


" Di jalan mau ke hotel..Ada apa Yomesan.." ucap Bayu.


" Kita mau menyusul shujin ke Kalimantan,ingin melihat cewek yang mirip kak Putri..." suara Ayu.


" Hemmm...Jangan dulu ya yomesan.."


" Jika kalian datang..Nanti rencanaku berantakan..." ucap Bayu.


" Aku pengen banget ketemu dia sayang..." suara Diana.


" Iya...Aku tahu itu..."


" Setelah rencanaku berhasil..Kalian bisa bertemu dengan Ida...Jadi aku mohon ke kalian,jangan ke sini dulu ya..." ucap Bayu.


" Iyaaa.." suara Diana dan Ayu.


" Nanti aku kabari jika sudah selesai urusannya.." ucap Bayu.


" Iya sayang..." suara Diana.


" Assalam mu'alaikum..." ucap Bayu.


" Wa'alaikum salam..." suara Ayu dan Diana serempak.


Bayu mematikan panggilan lalu mengantongi ponselnya.


Sesampai di hotel,Bayu segera mandi,karena sejam lagi shalat Jum'at.Ia meletakkan peralatan pancing di lantai lalu mandi.


Selesai mandi dan berpakaian,Bayu membungkus kotak berisi ponsel baru memakai kertas kado. Nanti malam ia berencana untuk mendatangi rumah Ida lagi. Selesai membungkus,Bayu segera keluar kamar hotel menuju mesjid. Sementara Yusuf telah kembali ke Jakarta.


2 jam kemudian.


Bayu berada di dalam kamar hotel.Ia mempersiapkan alat pancingnya untuk besok.


Di saat sedang asik mempersiapkan alat pancing,terdengar suara nada pesan di hapenya.


Bayu meraih ponsel ia letakkan di lantai.


From Ibunya Ida.


Asslkm kak.. Lagi apa? Td kakak y yg isikan pulsa.Blz.


To Ibunya Ida.


Wa'alaikum salam. Lagi ngerakit pancing dek. Iya tadi kakak yang isikan pulsa. Kalau boleh tahu,kapan ya adek Ida ulang tahun.


From Ibunya Ida.


Sdh lewat kak aii..Makacih pulsanya..Kak Ahmad baek banget.


To ibunya Ida.


Kan kakak sudah janji mau isikan pulsa. Kirain bulan ini ulang tahunnya. Oh iya,Insya Allah nanti kakak mau maen kerumah lagi.Boleh apa enggak?


From Ibuny Ida.


Boleh. Kapan kakak ke sini?


Bayu tak membalas,ia pun menelpon Ida.


Tuuut...Tuuut...Tuuut...


" Haloo.." suara Ida.


" Assalam mu'alaikum..." ucap Bayu.


" Wa'alaikum salam kak..." suara Ida.


" Lagi apa?" ucap Bayu.


" Lagi beguring kak..." suara Ida.


" Beguring...Goreng apa?" ucap Bayu.


" Berebahan kak aii..Mana ada begoreng.." suara Ida.


" Ya maaf..Aku gak paham..Ku pikir goreng gitu.." ucap Bayu.


" Kalau kakak ke sini kalau bisa belikan terang bulan dong kak.." suara Ida.


" Terang bulan..? Emang ada jual terang bulan?" ucap Bayu.


" Ada ...Banyak tuh lah di pinggir jalan...Di pasar juga ada tuh yang jual " suara Ida.


" Terang bulan itu makanan atau bukan..?" ucap Bayu.


" Makanan kak.."


Bayu menggaruk - garukkan kepalanya,sebab baru kali ini mendengar makanan Terang bulan.


" Haloo.." suara Ida.


" Iya haloo..." ucap Bayu.


" Kirain mati...." suara Ida.


" Enggak..Ku cuman bingung,terang bulan itu makanannya seperti apa.." ucap Bayu.


" Bentuknya tuh setengah lingkaran,terus isinya macam-macam kak.."


" Ada ketan,kacang, coklat,keju.." suar Ida.


" Martabak manis..." ucap Bayu baru paham.


" Martabak manis?bukan kak..Martabak sama terang bulan mah beda jauh.." suara Ida.


" Iya...Di tempatku namanya martabak manis,jika yang pakai telur terus campurannya daun bawang itu martabak telur.." ucap Bayu.


" Ooo..Begitu ya..." suara Ida.


" Iya...Ngomong - ngomong sudah shalat apa belum?" ucap Bayu.


" Sudah lah..." suara Ida.


" Pintar...." ucap Bayu.


" Neh di rumah ada sanggar...Kakak mau apa enggak?" suara Ida.


" Enggak...." ucap Bayu.


" Ngapain nawarin aku sanggar...Masa iya aku di minta kursus menari" ucap Bayu dalam hati.


Bayu mengira Sanggar yang di maksud Ida adalah tempat untuk latihan seni. Padahal yang di maksud Ida adalah pisang goreng memakai tepung.


" Kada mau ya udah...Adek makan sendiri.." suara Ida.


" Sanggar itu apa ya.." ucap Bayu.


" Pisang goreng kak.." suara Ida.


" Oalah...Pisang goreng to...Kirain sanggar seni tari gitu..." ucap Bayu baru paham.


" Hari minggu kakak kemana?" suara Ida.


" Mancing " ucap Bayu.


" Sama siapa kak?" suara Ida.


" Sudah dulu ya...Ada tamu....Assalam mu'alaikum..." ucap Bayu.


" Wa'alaikum salam..." suara Ida.


" Sayang...Ini ibu nak.." suara Hana.


Bayu berdiri lalu berjalan ke pintu.


Ceklek...Ceklek...Kriiiieeet...


Nampak Hana berdiri di depan pintu.


" Ibu sama siapa " ucap Bayu bersalaman tak lupa cium tangan.


Hana masuk ke dalam kamar,lalu Bagu menutup pintu dan mengunci pintu.


" Ibu sendirian saja sayang..." ucap Hana lalu duduk di tepi tempat tidur.


Bayu berjalan ke arah ibu lalu duduk di samping Hana kemudian memeluk Hana.


" Apakah ibu ingin melihat Ida bu..?" ucap Bayu.


" Iya...Ibu penasaran dengan ucapan sayang..Makanya ke sini..."


Hana membuka tas kecilnya,lalu menyerahkan kotak kecil ke Bayu.


" Ini cincin yang sayang minta..." ucap Hana.


Bayu menerima lalu menegapkan tubuhnya. Ia membuka kotak tersebut.


Nampak cincin bermahkotakan batu warna merah seperti cincin Bayu.


" Terima kasih bu..." ucap Bayu sambil memeluk Hana kembali.


"Iya..."


" Kapan sayang menemui Ida?" ucap Hana.


" Hemm..Habis magrib bu...Tapi Bayu mampir dulu beli martabak manis.."


" Di sini aneh loh bu.." ucap Bayu.


" Aneh apanya sayang?" ucap Hana.


Bayu menegapkan badannya.


" Ibu tahu Terang bulan...?" ucap Bayu.


" Ya tahu lah...Setiap bulan purnama,kan terang bulan..." ucap Hana.


" Lain bu....Meskipun bulan gak muncul,tetap terang bulan.." ucap Bayu.


" Tetap terang bulan?maksud sayang apa?" ucap Hana.


" Makanan terang bulan bu...Apakah ibu tahu makanan itu?" ucap Bayu.


" Tahu...Itu martabak manis " ucap Hana.


" Kok ibu bisa tahu..?" ucap Bayu.


" Ibu kan pernah ke sini sayang...Jadi ibu tahu.." ucap Hana.


" Hemmm...Jika ibu ke sana,jangan singgung istri Bayu ya bu..." ucap Bayu.


" Iya sayang...Nanti sayang ke sana naik apa?" ucap Hana.


" Motor bu.." ucap Bayu.


" Sayang beli?" ucap Hana.


" Enggak bu...Bayu pinjam sama kang Wardoyo.." ucap Bayu.


" Helmnya 1 atau 2?" ucap Hana.


" Satu aja bu...Kalau ibu mau ikut sama Bayu ya Bayu beli helm baru nanti.." ucap Bayu.


***


Sore harinya.


Bayu keluar untuk membeli helm,setelah mendapatkan helm,Bayu kembali lagi ke Hotel.


Sebelum shalat Magrib,Bayu pergi ke rumah Ida bersama ibunya naik sepeda motor,sebelum itu mereka mampir membeli martabak manis dan juga sate untuk keluarga. Di saat pesanan mereka selesai,terdengar adzan. Mereka segera ke mesjid.


" Sayang aja masuk..Ibu lagi halangan.." ucap Hana.


" Iya bu..." ucap Bayu ketika sampai di mesjid.


Setelah selesai shalat magrib. Mereka segera menuju rumah Ida.


Hana sangat penasaran sekali dengan gadis yang Bayu bilang mirip dengan Putri.Sehingga dirinya pergi ke Balikpapan sekaligus mengantar pesanan Bayu.


Bayu sampai di depan rumah Ida. Lalu Hana dan Bayu turun dari sepeda motor.


Bayu melihat Ida duduk di teras bersama seorang temannya yang tadi malam meminjam buku.


Bayu dan Hana berjalan ke rumah Ida.


" Assalam mu'alaikum..." ucap Bayu.


" Wa'alaikum salam...." ucap Ida dan temannya.


Hana melihat ke arah Ida.Ia pun terkejut melihat Ida. Apa yang di katakan Bayu memang benar. Ida mirip sekali dengan Putri bagaikan pinang di belah menjadi dua.


" Benar - benar mirip dengan Putri" ucap Hana dalam hati.


" Ini ibuku Da..." ucap Bayu memperkenalkan ibunya.


Ida bersalaman ke Hana.


"Masuk kak..Tante..." ucap Ida.


Ida masuk lebih dahulu,kemudian Bayu dan Hana.


" Silahkan duduk,sebentar ku panggil bapak sama mamak dulu.." ucap Ida.


" Sebentar Da...Ini buatmu.." ucap Bayu memberikan 2 kantong plastik ke Ida.


Ida menerima lalu masuk ke dalam.


Tak lama kemudian muncul ke dua orang tua Ida bersama Ida.


Bayu dan Hana berdiri.


Bayu bersalaman ke ayahnya Ida lalu menangkupkan tangan ke ibunya Ida. Begitu juga sebaliknya Hana.


Setelah bersalaman,mereka pun duduk.


" Maaf kedatangan kami kemari mengganggu bapak dan ibu.." ucap Hana.


" Tidak bu...Ibu tidak mengganggu. Malah kita senang..." ucap ayahnya Ida.


" Saya ibunya Ahmad. Datang kemari karena mendengar ucapan anak saya Ahmad bahwa melihat seorang gadis yang mirip sekali dengan almarhum Putri."


" Dan ternyata setelah saya melihat..Masya Allah... Benar - benar mirip..." ucap Hana.


Bayu melihat Fuad mengintip di balik kain korden sebagai penutup jalan penghubung.


" Iya ...Saya pun juga terkejut bu,saat Ahmad menunjukkan foto itu..." ucap ayahnya Ida.


" Putri itu saya anggap sebagai anak saya sendiri sejak SMP...."


" Namun..Setahun yang lalu dia kecelakaan.Nyawa Putri tak dapat di selamatkan.." ucap Hana.


Ibunya Ida berbisik ke Ida. Ida masuk ke dalam.


" Namanya juga takdir...Kadada yang tahu lah bu.." ucap ayahnya Ida.


" Betul itu pak..." ucap Hana.


" Maaf.. Kalau boleh tahu nama ibu siapa ya.." ucap ayahnya Ida.


" Saya Hana...." ucap Hana.


" Saya Anwar..Dan ini bini saya bernama Khadijah.." ucap ayahnya Ida.


" Oalah...Namanya Anwar to.." ucap Bayu dalam hati.


" Mau melamar kah Bay....Aku siap jadi saksinya.." suara Jalu.


" Enggak pakde...." ucap Bayu dalam hati.


" Kirain mau melamar...Eh..Mending langsung kamu kelonin aja ..Pasti dia mau.." suara Jalu.


" Diampuut..." ucap Bayu dalam hati.


Tak lama kemudian muncul Ida membawa nampan berisi teh,laluadiknya Ida membawa piring berisi martabak manis.


Pak Anwar mengeluarkan rokoknya,lalu meletakkan di bibir hendak merokok.


" Mohon maaf pak Anwar...Saya batuk menghirup asap rokok,dan membuat asma saya kambuh.." ucap Hana sopan. Ia sebenarnya tidak batuk,hanya saja tidak suka dengan bau asap rokok.


" Maaf...Saya tidak tahu..." ucap Anwar sambil meletakkan kembali rokoknya.


" Silahkan di minum dan di makan" ucap Hadijah.


" Iya bu.." ucap Bayu.


Ida berbisik kepada ibunya.


" Maaf saya tinggal dulu ke belakang.." ucap Hadijah lalu masuk ke dalam. Ida dan adiknya mengikuti ibunya.


" Besok jadilah mancing..?" ucap Anwar.


" Insya Allah jadi pak..."


" Oh iya..."


Bayu mengeluarkan kotak kecil berisi cincin,lalu memberikan ke Anwar.


" Ini pak...Cincin yang kemarin saya janjikan,Alhamdulilah ketemu.." ucap Bayu.


" Uma aiii...aku tuh hanya becanda saja..." ucap Anwar.


" Gakpapa pak...Ini cincin gak ku pakai.." ucap Bayu.


Anwar menerima kotak kecil itu lalu membukanya.


" Bagus banar cincinnya.."


Lantas Anwar melepas cincin yang ia pakai,lalu memakai cincin pemberian Bayu.


" Pas kalok di jari ...Ini kalau gak salah batu jenis Ruby..?" ucap Anwar.


" Iya..Itu batu Ruby..." ucap Hana.


Terdengar adzan Isya.


" Sudah adzan... Ayo lah ambil air wudhu.." ucap Anwar.


Anwar segera masuk ke dalam.


" Ternyata penampilan itu bisa mengecoh ya..." ucap Bayu dalam hati. Ia mengira ayahnya Ida gak rajin shalat. Ternyata salah.


" Siapa Bay.." suara Jalu.


" Itu bapaknya Ida..."


" Penampilanya seperti preman. Rupanya ia juga shalat.." ucap Bayu dalam hati.


" Bagus itu Bay...Dari pada dia..." suara Sekar.


Fuad muncul membawa sajadah dan mukena. Sajadah ia letakkan di lantai lalu di susun. Kemudian menghampiri Hana untuk memberikan mukena.


" Siapa mbak?" ucap Bayu dalam hati.


" Maaf saya sedang tak bisa shalat.." ucap Hana.


" Siapa lagi kalau bukan Jalu...Penampilan bagus tapi.." suara Sekar.


" Iya tante...Bay..Kalau mau wudhu..Di belakang..." ucap Fuad.


" Bajingan gitu ya mbak.." ucap Bayu dalam hati.


" Aku sudah wudhu kang di mesjid..Dan belum batal.." ucap Bayu.


" Ooo...Begitu..." ucap Fuad.


" Jangkreeek...." suara Jalu.


Tak lama kemudian muncul Anwar bersama Ida dan adiknya yang telah memakai mukena .


" Sudah wudhu...?" ucap Anwar.


" Sudah pak...Tapi ibu saya gak bisa ikut.." ucap Bayu.


" Ooo...Begitu....Ayo lah kita mulai." ucap Anwar.


Bayu berdiri di atas sajadah lalu Iqomat.


Anwar yang mendengar suara Bayu sedang Iqomat merasa takjub,lalu melihat ke belakang.


"Ikam saja yang jadi imam...Suara ikam lebih bagus daripada ulun." ucap Anwar,ia ingin mengetes,apakah Bayu bisa memimpin shalat dan juga ia ingin dengar Bayu melantunkan ayat - ayat Al Qur'an.


Muncul Hadijah yang telah memakai mukena lalu berdiri di samping Ida.


" Suara saya jelek pak.."ucap Bayu.


Anwar menarik Bayu ke depan.


" Asem...." ucap Bayu dalam hati.


Mau gak mau Bayu jadi imam.


Hana diam sambil memperhatikan mereka shalat.


Setelah mereka shalat,mereka kembali duduk kecuali ibunya Ida bersama ke dua putrinya.


" Ikam pernah mondok lah?" ucap Anwar.


" Pernah pak..." ucap Bayu.


" Pantesan pang...Suaranya bagus banar.."


" Dulu juga ulun pernah ngaji tuh..Tapi di Banjar..." ucap Anwar.


" Bapak orang Banjar..?" ucap Bayu.


" I ih ..Ulun mah orang banjar...Martapura.." ucap Anwar.


Bayu merasa pendekatan ayahnya Ida berhasil. Lalu selanjutnya Bayu akan meminta bantuan,agar masalah lahan itu cepat di selesaikan dan segera kembali ke Jakarta.