SANG PENERUS.

SANG PENERUS.
AKU AKAN MEMBANTAI SEMUA KELUARGA JATI


Bajingan neh orang,sepertinya ibunya Alvian ikut dalam rencana ini. Ku putuskan untuk menghipnotis saja agar Sebastian mengakuinya.


Ku tatap matanya,lalu ku gunakan ilmu Hipnotisku.


Mata Sebastian sekilas bewarna hijau.


" Apakah ibunya Alvian juga ikut terlibat dalam rencanamu?" ucapku.


" Iya dia ikut terlibat." ucap Sebastian.


" jancook... Ibunya Alvian juga ikut terlibat dalam rencana mereka. Jika ku biarkan dia hidup,maka dia akan menyewa orang untuk membunuh keluargaku. Tapi Alvian bagaimana.? "


" Meskipun dia masih ada hubungan keluarga,dia gak ada berbuat masalah lagi denganku. Dan bila ku tangkap,pasti dia akan marah padaku" ucapku dalam hati.


" Dia terlibat dalam apa?" ucapku.


" Dana,." ucap Sebastian.


" Dana...??? "


" Dia yang membiayai rencanamu?" ucapku.


" Iya.." ucap Sebastian.


Ku berdiri lalu menghampiri Bimo.


" Bim...Aku jaluk rokokmu..."


Bimo mengeluarkan rokok suryanya,lalu di berikan padaku. Ku ambil sebatang,kemudian mengembalikan bungkus rokok ke Bimo.


Ku letakkan rokok di bibir kemudian Ku rapalkan ajian Tapak Geniku dalam hati lalu ku sentuh ujung rokok .


Perlahan bara api terlihat. Ku sedot rokok itu,lalu ku hentikan ajian Tapak Geniku.


Huuufftt.... Asap keluar dari mulut dan hidung.


Pusing kepalaku.memikirkan masalah ini.


Ku berjalan keluar sel tahanan.


" Pak..Tolong buatin aku kopi tanpa gula.Lalu 4 gelas kopi pakai gula." ucapku kepada pengawal.


" Siap pak.." ucap pengawal.


Ku duduk di lantai lalu bersender di tembok.


Teman - temanku keluar sel tahanan,dan mereka menghampiriku.


" Ada apa Bay?" ucap Lukman.


" Ibunya Alvian ikut terlibat dalam rencana mereka.." ucapku.


" Serius Bay..?" ucap Lukman.


" Iya...Sebastian yang mengatakannya.."ucapku lalu memandang pelafon.


Teman - temanku ikut duduk di lantai lalu bersandar. Mereka mengeluarkan rokoknya masing - masing.


" Loh kang..Kowe melu ngerokok? Engko Cintya tahu piye..?" ucap Lukman.


" Sekali - sekali lah Man...Ojo kasih tahu yoo" ucap Paijo.


" Awakmu wes ngebel po durung Bim..?" ucapku.


" Uwes Bay...Tapi bapakku bingung..Duitte songko endi..."


" Terus tak jawab,aku duwe tabungan pak.."


" Terus takon maneh,lapo gak mesisan di ramekke wae.."


" Yo tak jawab,ijab disek pak..Engko wae acarane,ngono Bay.." ucap Bimo.


" Kalau bisa minggu ini aja Bim..Soalle aku akeh acara. Aku arep ngajak dolan bojoku terus mau Survei tanah yang mau ku tempati.Terus aku arep balek nang Sragen,kalau gak bisa juga gakpapa,nanti aku usahakan datang.." ucapku.


Pengawal datang membawa kopi yang ku pesan,lalu diletakkan di depanku.


" Ini pak,yang tidak pakai gula.." ucap pengawal.


" Matur suwun pak..."


Ku ambil gelas berisi minuman kopi,lalu ku baca doa sebelum menyeruput kopi tersebut.


" Kurang kopine Bay.." ucap Daniel.


Ku teguk kopi hitam tersebut.


" Join aja Niel.." ucapku sambil meletakkan gelas.


" Lalu gimana neh kelanjutannya Bay? Kita bawa ke polisi atau di sini aja" ucap Paijo.


" Di sini aja Bay..Mayan buat pelampiasan jika stres mikirin soal pelajaran.." ucap Daniel.


" Mereka gak bakalan ku serahkan ke polisi,jika mereka bebas,maka mereka akan berulah lagi.."


" Oh iya kang..."


" Jujur aku bingung... Jika yang melakukannya orang lain,maka langsung ku suruh pengawal menangkapnya..."


" Ini ibunya Alvian..."


" Pasti Alvian akan marah dan dendam kepadaku,juga keluarga yang lain.." ucapku.


" Iyo juga seh..Apa lagi kalau dia gak tahu apa - apa...Kalau aku jadi kamu ya tak samperin. Lalu ku beritahu semua kubusukan ibunya Alviam di depan suaminya dan juga ke Alvian,bila mereka ada menyentuh atau mendekati keluargakh atau keluarga Han maka ku bantai semua,tanpa terkecuali." ucap Paijo.


Yang di katakan Paijo ada benarnya,tapi yang jadi masalah,ayahku bagaimana? Belum lagi keluarga Jati lainnya. Bagaimanapun mereka bagian dari keluargaku,tapi aku gak terlalu menganggapnya. Sebab mereka telah menelantarkan ibuku dan menghina ibuku. Sampai sekarangpun aku masih gak terima akan hinaan mereka. Di tambah ibunya Alvian telah ikut terlibat dalam pembunuhan Putri,wanita yang aku cintai setelah ibuku.


Ku gak tahu ilmu hipnotisku bertahan berapa lama,jika bertahan selamanya maka aku pasti menghipnotisnya. Jika di penjara,maka otomatis dia akan bisa bebas. Pastinya akan mencelakai keluargaku lagi.


Kuambil hapeku,lalu mencari nama Alvian,semoga saja dia gak ganti nomor pribadinya.


Ku tekan tombol panggil saat menemukan nama Alvian.


" Maaf...Nomor yang anda tuju sudah tidak aktif." suara operator.


" Jancook...Sudah ganti nomornya.." ucapku sambil mematikan panggilan.


Ku sedot lagi rokok yang ku pegang. Rasanya maknyus,memgurangi beban pikiranku. Ku hembuskan nafasku.


Huuuuufft... Asap keluar dari mulut dan hidungku.


Aku berpikir apa ku serahkan saja masalah ini ke mbah buyutku,tapi dia banyak kerjaan dan sudah tua. Masa iya ku limpahkan. Apa aku datangi saja ya kerumahnya. Heemmm...Baiklah,aku akan mendatangi dia saja.


Tiba - tiba hapeku bergetar pendek,lalu ku mengambil hapeku di kantong celana.


Nampak sebuah pesan dari Sulis.


From Sulis istriku.


Mas,jangan pulang larut malam ya.


Ku balas pesan tersebut.


To Sulis istriku.


Iya sayangku.


Ku kirim pesan tersebut lalu mengantongi hapeku.


" Pulang yok..." ucapku.


Ku tarik lagi ilmu hipnotis yang mengenai Sebastian.


" Belum habis kopinya Bay.." ucap Lukman.


" Aku pulang duluan ya..Soalnya dah di tungguin.." ucapku.


Ku ambil gelas,lalu ku habisin kopi tersebut.


Glek...Gleek....Gleeek...


Ku letakkan gelas Kemudian ku berdiri.


Ku lihat teman - temanku juga ikutan berdiri.Ku biarkan saja mereka,ku langkahkan kakiku menuju keluar. Rupanya teman - temanku ikut pulang bersamaku.


" Kirain mau sampe pagi di sini.." ucapku.


" Besok kuliah Bay.." ucap Daniel.


" Oh iya...Kapan sampeyan sidang kang?" ucapku ke Paijo.


" 2 bulan lagi Bay.." ucap Paijo.


" Habis itu?" ucapku.


" 1 bulan berikutnya aku berencana menikahi Cintya,lalu tahun depan kang Rahman menikah.." ucap Paijo.


" Ooo...Begitu.." ucapku.


Ku masuk dalam mobil,di ikuti teman - temanku. Tak ada pembicaraan sampai di rumah.


" Assalam mu'alaikum.." ucapku saat melewati pintu.


" Wa'alaikum salam..." suara Sulis.


Sulis muncul,lalu mencium tangan kananku.


" Tadi mas habis menghajar mereka..?" ucap Sulis.


" Iya Lis...".


Ku berjalan bersama Sulis ke kamar.


" Besok aku mau ke kantornya Alvian.." ucapku.


" Mas mau ngapain datangin dia?" ucap Sulis.


" Ibunya terlibat sayang.." ucapku.


" Haah...Apaa?? Terlibat? Serius mas..?" ucap Sulis.


" Iya sayang...Aku serius.." ucapku.


" Apakah Alvian tahu ?" ucap Sulis.


" Hem...Itu aku gak tahu sayang..Soalnya aku gak ku tanyain ke Sebastian apakah Alvian tahu bila ibunya terlibat.." ucapku.


" Mas habis merokok?" ucap Sulis.


" Iya...Pusing aku sayang.." ucapku.


" Jangan sering - sering ya mas.." ucap Sulis.


" Iya...Masa sayang gak tahu aku aja,aku merokok jika pusing dan pengen banget merokok,setelah itu enggak sayang.." ucapku.


Sesampai di kamar tidur,Sulis masuk kamar mandi,begitu selesai aku masuk kamar mandi untuk gosok gigi,cuci muka,tangan dan kaki.


Setelah selesai,ku keluar dari kamar mandi.


Ku lihat Sulis memakai pakaian tidur yang transparan . Aku tahu maksudnya Sulis. Ia ingin bercinta. Sulis duduk di tepi tempat tidur. Ketika melihatku,ia berdiri dan mengampiriku.


" Cantik banget kamu sayang.." ucapku.


" Mas juga ganteng banget..." ucap Sulis.


Kemudiann,Kami pun bercinta,berbagai gaya kami lakukan.


Setelah bercinta ku tarik selimut dan berebah di samping Sulis.


" Mas...." ucap Sulis.


" Iya sayang.." ucapku.


" Apakah semua anak mas akan sama matanya?" ucap Sulis.


" Iya sayang..."ucapku sambil mengusap punggung Sulis.


" Apakah mereka menculik Ayub karena memiliki mata itu?" ucap Sulis.


" Iya sayang..." ucapku.


" Terus Ayub diapakan oleh mereka mas?" ucap Sulis.


" Mereka mengincar mata ini,konon katanya mengandung kekuatan mistis.." ucapku.


" Kekuatan mistis..Seperti apa itu mas? Apakah seperti tangan api itu.?" ucap Sulis.


" Bukan....Seperti memiliki kekuatan melebihi manusia normal,contoh saja manusia normal hanya mampu mengangkat benda seratus lima puluh kilo..Dengan mata itu bisa lebih .." ucapku.


" Ooo...Begitu..." ucap Sulis.


" Yuk tidur..." ucapku.


Akhirnya kamipun tidur dengan cara berpelukan tanpa memakai pakaian sehelai benang pun. Hanya selimut yang melindungi tubuh kita berdua.


-----o.o.o.o.o.o.o----


Ku terbangun dari tidurku,namun yang kulihat bukanlah kamar yang di tempati Sulis.Melainkan sebuah gubuk di area persawahan.


Sepertinya aku pernah kesini,lalu ku ingat - ingat kembali. Karena tempatnya gak asing.


" Oh iya..Ini kan tempatnya mbak Sekar dan paman Jalu.." ucapku.


Ku bangkit lalu duduk dan melihat sekeliling.


Hamparan tanaman padi yang begitu luas. Hanya ada beberapa pepohonan saja.


Benar kan apa yang ku tebak,memang ini tempatnya paman Jalu.


Kemudian meraba tubuhku,karena aku ingat semalam habis bercinta dengan Sulis dan tak memakai pakaian. Begitu meraba dan melihat ternyata aku memakai pakaian tradisional jawa. Syukurlah,ku pikir aku gak pakai pakaian,lalu ku panggil Jalu.


"Pakde Jalu.."


Tak ada jawaban.


" Mbak Sekar..." ucapku memanggil ke dua makhluk yang bersemayam dalam diriku.


Namun mereka tak muncul - muncul. Ku putuskan berjalan. Aku penasaran,mengapa aku di bawa kemari dan juga aku penasaran sampai mana batas wilayah ini.


Ku cabut salah satu tangkai daun padi,lalu ku gigit. Di mulut ku merasakan seperti menggigit daun padi,karena aku sering mengambil daun padi lalu ku gigit ketika di sawah.


Ku lihat hanya sawah dan swah lalu ku berpikir Ini padi kapan panennya,masa hijau terus. Apakah bisa panen. Lantas hasilnya bagaimana? Apakah bisa di bawa keluar dunia alam nyata.


Setelah berjalan sejauh kurang lebih 900 meter,ku melihat ada sebuah rumah,namun jaraknya masih jauh.


" Kok ada rumah ya..?? Tapi itu rumah siapa?"


" Datangin...Enggak...Datangin..Enggak..Datangin aja deh..Daripada aku penasaran.." ucapku.


Ku langkahkan kakiku menuju rumah tersebut.


Setelah berjalan cukup lama,akhirnya rumah itu terlihat jelas. Rumah itu terbuat dari papan kayu. Hanya 1 rumah saja ada di sana.


Ku merasakan ada seseorang di belakangku.


" Jangan salahkan aku jika ku reflek yo pakde.." ucapku.


" Jancook..Weruuh wae.." suara Jalu.


Ku lihat Jalu di sampingku.


" Kenapa aku di sini pakde ?" ucapku.


" Embooh... Kowe teko dewe kok malah takon karo aku.." ucap Jalu.( Gak tahu..Kamu datang sendiri kok malah tanya ke aku).


" Bayu..." suara wanita yang ku kenal. Iya..Dia adalah Sekar.


Ku menoleh ke asal suara tersebut.


Namoak Sekar ada di teras rumah,tapi suaranya malah ada di sampingku. Kemudian gadis yang tadi menyapu halaman sudah tidak ada lagi.


" Kemarilah Bayu.." suara Sekar.


Ku langkahkan kaki menuju rumah tersebut.


Setelah sampai,nampak Sekar duduk di ranjang tempat tidur yang terbuat dari bambu. Sekar memakai pakaian kebaya.


" Duduklah di sini.." ucap Sekar.


Ku hampiri Sekar lalu duduk.


" Mbak manggil Bayu?" ucapku.


" Iya..." ucap Sekar.


"Ada apa mbak?" ucapku.


" Apakah kamu berniat menghabisi keluarga Jati?" ucap Sekar.


" Tergantung mbak...."


" Mereka telah membunuh Putri,wanita yang aku cintai setelah ibuku.." ucapku.


" Jangan hanya 1 orang,lalu kamu membantai semuanya Bayu... Belum tentu mereka semua bersalah.." ucap Sekar.


" Maaf mbak...Ini menyangkut keluargaku dan juga keluarga Han. Siapa yang berani mengusiknya..Maka kematianlah yang akan menghampirinya. Aku akan mencabutnya hingga ke akar - akarnya.."


" Aku tak peduli,jika ayahku menghalangiku.Aku akan membunuhnya.Aku ingin membunuh ibunya Alvian." ucapku marah.


Ku lihat mata Sekar bewarna hijau.


Rasa amarahku berangsur hilang,kini hanyalah kedamaian di hatiku.


" Bicarakan ini dengan ayahmu. Nanti dia yang akan mengurusnya." ucap Sekar.


" Tidak...Aku gak mau menghubungi dia.." ucapku.


" Ayahmu sangat mencemaskanmu Bayu..." ucap Sekar.


" Aku gak peduli... Berapapun uang yang di berikan kepadaku. Tak bisa menggantikan setetes keringat ibuku yang telah membesarkanku dalam hidup kesusahan." ucapku.


Lalu melihat ke arah lain.


" Jadi..."


" Apakah kamu tetap membantai keluarga Jati?" ucap Sekar.


" Iya...Aku akan membantai semua keluarga Jati.." ucapku.Rasa amaraj dalam diriku muncul kembali.


 ------...------


Sementara di tempat lain.


Kamar Rahman berada.


Sejak Rahman berhasil memperawanin Zahra,dirinya menjadi kecanduan. Berbekal film biru dan obat kuat. Rahman sengaja melakukan itu kepada Zahra,ia pikir Zahra sering berhubungan badan dengan pacarnya. Namun ternyata tidak.


Rahman mengetik pesan ke Zahra.


To Zahra.


Besok pulang jam berapa?.


Tak lama kemudian Zahra membalas.


From Zahra.


Jam 2 bang. Kenapa bang..?


Rahman segera menelpon.


Tuuut...Tuuut...


" Halo..." suara Zahra.


" Ya hallo juga cantik.."


" Hemmm...Besok mau gak abang jemputin?" ucap Rahman.


" Boleh..." suara Zahra.


" Aku kangen sama kamu Ra..?" ucap Rahman.


"Aku juga kangen bang.. Terus kak Annisa gimana bang..?" suara Zahra.


" Kakakmu nomor dua..Kamu yang pertama sayang.." ucap Rahman.


" Bang..." suara Zahra.


" Iya Ra.." ucap Rahman.


" Heem...Cowokku juga mau jemputin bang.." suara Zahra.


" Bilang aja gak usah..Sudah di jemputin oleh abang " ucap Rahman.


" Iya bang..."


" Bang..." suara Zahra.


" Iya cantik..." ucap Rahman sambil berebah di tempat tidur.


" Hemmm..." suara Zahra.


" Oh iya Ra...


" Besok gimana kalau kita lanjut lagi..?" ucap Rahman.


" Lanjut ngapain bang..?" suara Zahra.


" Seperti waktu di hotel waktu itu sayang.... Mau gak?" ucap Rahman.


" Besok aku sekolah bang.."suara Zahra.


" Iya juga seh.."


Rahman muncul ide.Lalu bangkit.


" Bagaimana jika kamu besok bolos aja Ra.?." ucap Rahman.


" Bolos..?" suara Zahra.


" Iya... Jadi kita bisa sampai puas bermainnya.." ucap Rahman.


" Iya bang...Tapi jangan lama - lama ya jemputnya bang.." suara Zahra.


" Iya...Sampai ketemu besok sayang.." ucap Rahman.


" Iya abangku sayang...Emmuaach.." suara Zahra.


" Emmuaachh... " ucap Rahman.


Esok paginya.


Rahman dengan semangat pergi menjemput Zahra adik tunangannya,baru saja hendak membuka pintu kamar,ponselnya berdering nada pesan.


Buru - buru Rahman membukan pesan itu,oa berharap bahwa Zahra yang kirim pesan. Begitu di buka,rupanya Annisa.


Froom Calon istriku.


Bang....Nanti malam datang kerumah ya. Aku kangen.


Rahman segera membalas pesan tersebut.


To Calon istriku.


Iya sayang.


Rahman segera mengirim pesan tersebut. Di tas kerjaanya sudah terdapat suplemen agar dirinya bisa lama - lama menggenjot Zahra.


Saat berduaan dengan Annisa. Dirinya tak bisa ngapa - ngapain,mencium pipi saja tak di bolehin oleh Annisa. Apalagi menjamah,Rahman bersyukur bisa menikmati tubuh seorang gadis. Dan sekarang dirinya akan segera menikmati lagi.


Rahman berjalan ke meja makan untuk sarapan. Ia sarapan roti dan segelas susu saja.


" Kak..." ucap Cintya.


" Opoo.." ucap Rahman.


" Nanti siang temenin ya kak.." ucap Cintya.


" Wadduh...Aku sibuk eee dek.."ucap Rahman. Ia tak mau acara berduaan dengan Zahra terganggu.


" Sebentar aja nah kak.." ucap Cintya.


" Kenapa gak minta tolong ke Paijo aja dek.." ucap Rahman.


" Dia sibuk..." ucap Cintya.


" Besok aja ku temanin..."


Rahman berdiri sambil memegang roti yang belnm selesai di makan.


" Aku ada perlu banget Dek..."


" Paah...Mah...Aku berangkat dulu. Assalam mu'alaikum.." ucap Rahman.


" Wa' alaikum salam.." ucap ke dua orang tua Rahman.


Sesampai Rahman di sekolahnya Zahra,Rahman celingukan mencari Zahra.


Rahman mengambil hapenya,lalu. Menelpon Zahra.


Tuuut....Tuuuut....Tuuut...


" Ya halo bang..." suara Zahra.


" Kamu di mana sayang...? Kok gak ada di depan sekolahan.." ucap Rahman.


" Aku di penjual bubur bang...Abang terus lagi.."


" Cepetan bang.." suara Zahra.


" Iya..."


Rahman menjalankan mobilnya ,tak lama kemudian melihat Zahra di pinggir jalan.


Mobil Rahman berhenti,lalu Zahra masuk ke mobil..


" Sudah lama menunggunya?" ucap Rahman.


" Enggak..Baru 15 menit bang..." ucap Zahra.


" Pakai sabuknya Ra.." ucap Rahman.


Zahra memakai sabuk pengaman. Rahman menjalankan mobilnya.


" Kita kemana bang..?" ucap Zahra.


" Ke hotelku aja Ra.." ucap Rahman.


" Nanti kita ketahuan bang..." ucap Zahra.


" Enggak...Kalau sering nanti mereka akan curiga..." ucap Rahman.


Sesampai di hotel,mereka segera berjalan masuk ke dalam.


Rahman membawa Zahra ke ruang kerjanya,sebab di ruang kerjanya juga ada tempat tidur.


Sesampai di ruang kerja,Rahman mengunci pintu. Lalu berjalan memghampiri Zahra yang duduk di kursi sofa yang memanjang.


" Sudah sarapan apa belum...?" ucap Rahman lalu duduk di samping Zahra.Ia meletakkan tasnya di meja,saat dalam perjalanan Rahman telah meminum obat suplemen.


" Sudah bang.." ucap Zahra.


" Kamu cantik banget Ra..." ucap Rahman lalu merangkul Zahra.


Zahra diam saja.


Rahman mendekatkan wajahnya ke wajah Zahra,entah siapa yang lebih dulu memulai,kini lidah mereka saling menari.


Tangan kanan Rahman melepas kancing baju Zahra.


Hingga akhirnya Rahman menggenjot Zahra yang duduk di Sofa. Zahra masih mengenakan jilbabnya,sementara baju dan roknya telah terlepas.


Berbagai gaya mereka lakukan.


Di saat Rahman merasa mau keluar,Zahra berada di atas,menggerakkan pinggulnya.


Kurang lebih 40 menit mereka bercinta.


Nampak mereka duduk di kursi sofa,nafasnya ngos - ngossan seperti habis berlari marathon.


" Ra..." ucap Rahman.


" Iya bang.." ucap Zahra.


" Kamu putusin aja pacarmu..." ucap Rahman.


" Maunya seh begitu bang..." ucap Zahra.


" Aku takut kamu di manfaatin sama dia..." ucap Rahman.


Zahra memungut pakaiannya.


" Kamar mandi di mana bang..?" ucap Zahra.


Rahman menunjuk sebuah pintu yang tertutup.


Zahra berjalan ke arah pintu yang di tunjuk eh Rahman.


Rahman memakai pakaiannya.


" Jika dia menuruti apa yang ku ucapkan,maka aku akan bisa menikmati tubuhnya.." ucap Rahman dalam hati.