SANG PENERUS.

SANG PENERUS.
MENCOBA MENYELESAIKAN MASALAH.


Setelah ku beli semua apa yang aku butuhkan. Ku putuskan pulang kerumah.


Di tengah perjalanan,ku berhenti di lampu merah. Tiba - tiba kurasakan ada yang menabrak dari belakang,ku cuekin saja,mungkin yang di belakang gak sengaja.


Kurasakan yang di belakang mendorong lagi,ku tengok di spion,nampak pengendara motor ninja memakai helm full face,jaket warna hitam.


" ******...Sengaja atau apa ini..." ucapku dalam hati.


Lampu bewarna hijau,ku tarik gas perlahan,ku berbelok ke arah kanan.


Ku lihat spion,motor yang sengaja menyenggol motorku dari belakang ada di belakangku.


Kubiarkan saja sambil tetap waspada,


Ku berhenti lagi karena lampu bewarna merah.


Kurasakan kendaraan si belakang menyenggolku,ku lihat kebelakang. Ternyata motor yang sama. Ku turun dari sepeda motor lalu ku hampiri pria tersebut.


" Maksud sampeyan apa?" ucapku.


Pria itu memberi tanda V dengan jarinya.


Asem,kalau dia berulah lagi,ku hajar aja ini orang.


Ku naik sepeda motor,menunggu lampu bewarna hijau.


Begitu lampu bewarna hijau,kujalankan motorku.


Tiba - tiba pengendara motor ninja memberi kode untuk aku menepi.


Oke,Aku ledenin. Ku tepikan kendaraanku.


Pengendara motor ninja turun lalu menghampiriku.


" Turun lu.." suara pria.


Sepertinya aku mengenal suara ini,tapi siapa ya. Ku coba mengingat - ingat.


Ku turun dari sepeda motor.


" Sampeyan mau apa?" ucapku.


" Bajingan... Lu gak kenal gue..?" ucap pria itu.


" Chiko,Nando,Stepen,Jalu,Kuntil anak,genderuwo, Boim,Rio,Kenthir katrok,Aryanto, Suketi,Bokir,,Amien Rais, Leo Ponidi,Lelek bakso,lelek somai, Ariel peterpan,kaka Slank,Ari Lasso,Basuki,Indro,Dono,Kasino, Aming,. Wes emboh...Aku ora eling.." ucapku.


" Bajingaan...."


Pria itu melepas Helmnya.


" Gue Alex begok.." ucap pria itu ternyata Alex.


Ancen ****** i tenan og. Ternyata dia temanku satu kampus,aku benar - benar lupa,karena lama gak kekampus.


"Oooo... Alex begok tukang kredit itu kah? Maaf kang,aku lom bisa bayar kreditanku..Belum gajian.Seminggu lagi ya." ucapku bercanda.


" Anjeeeeng...Waaasssuuu.."


Ku sodorkan tanganku,Alex menyambutnya.


" Kemana aja lu selama ini? Dah setahun lebih lu memghilang tanpa kabar " ucap Alex.


Ku lepas jabatan tanganku.


" Ada perlu aku Lex...Piye kabare.." ucapku.


" Baik.." ucap Alex.


" Kok sampeyan tahu kalau aku di depanmu?" ucapku heran dan penasaran. Sedangkan aku gak tahu jika di belakangku itu adalah Alex.


" Ya tahu lah,kan kita pernah ketemu,lu pakai motor ini,pakai sandal jepit, kaos partai sama maskeran..Cowok tajir tapi gayanya kampungan.." ucap Alex.


" Jangkreeek..." ucapku.


" Kenapa lu gak masuk kuliah lagi?" ucap Alex.


" Pengennya seh aku kuliah lagi Lex..Cuman ada hal yang penting banget,jadi aku berhenti." ucapku.


" Kuliah lagi aj lu. Gak seru gak ada lu di kampus.." ucap Alex.


Alex kok gak nanya tentang Putri ya,apa jangan - jangan berita kematian Putri gak kesebar di kampus. Kalau gak kesebar,bagus lah.


" Nanti aku pikirkan Lex..Ini motor barumu kah?" ucapku.


" Yo'i..."


" Sambo nyariin lu.. " ucap Alex.


" Titip salam aja...Tumben sampeyan sendirian aja,mana pacarmu Lex?.." ucapku.


" Gue dah putus.." ucap Alex.


" Kalau lu masuk kuliah,gue jadiin lu ketua.." ucap Alex.


" Ketua? Ketua apaan? Ketua OSIS" ucapku.


" Kagak...Ya ketua Geng lah.." ucap Alex.


" Asem....Emmooh aku Lex.." ucapku.


" Nomor hapemu berapa?" ucap Alex.


" Buat apaan." ucapku.


" Ya buat perlu kalau gue mau hubungi lu.." ucap Alez.


" 0813********" ucapku.


" Sebentar..Gue gak hapal.."


Alex mengambil ponselnya.


" Berapa tadi?" ucap Alex.


" 0813******* Dah dulu ya Lex...Aku mau pulang dulu.." ucapku.


Ponselku tiba - tiba bergetar panjang.


" Itu nomor gue.." ucap Alex.


" Oke...Aku pulang duluan ya..Assalam mu'alaikum..." ucapku.


" Iya...Hati - hati.." ucap Alex.


Ku jalankan sepeda motorku menuju perumahan Golden Hills.


Di saat ku jalankan sepeda motorku,ku jadi teringat saat mencari pelaku pemukulan Bimo. Seandainya aku masih Kuliah,tentu aku mengadakan sayembara lagi. Tapi berhubung aku gak kuliqh,maka anakku saja yang aku gunakan. Yah meskipun aku bagian pasukan Elit di Militer,ku merasa pusing mencari pelaku bila bekerja sendirian.


Sesampai di rumah.


Ku berikan apa yang aku beli tadi kepada Ayu.


" Aku tidak ulang tahun shujin.." ucap Ayu saat ku berikan bunga mawar putih.


" Aku kan telat memberikannya yomesan, dan juga ku berikan bunga ini sebagai permintaan maafku padamu jika aku ada salah.. "


" Maafin aku ya yomesan..." ucapku.


" Iya..."ucap Ayu.


" Aku shalat dulu,yomesan sudah shalat?" ucapku.


" Sudah..." ucap Ayu.


Setelah selesai shalat, kudatangi Sulis.


Nampak Sulis bersama Melisa ,Bintang dan Diana.


Ku berikan tas belanjaan sesuai kesukaan mereka.


" Apa ini kak?" ucap Melisa.


" Buka saja.." ucapku.


Mereka membuka tas yang ku berikan.


Lalu Melisa memelukku,lalu Sulis dan teriakhir Diana.


" Tumben mas memberi kado,apakah ada maunya?" ucap Sulis.


" Iya.."


" Aku ingin kalian akur,jangan saling bermusuhan" ucapku.


" Siapa yang bermusuhan kak?" ucap Melisa.


Sepertinya Melisa tidak mengetahui perihal Aisyah,apakah mereka sengaja menutupi itu dari Melisa,atau Melisa pura - pura tidak tahu.


" Gakpapa..." ucapku.


"Kak..." ucap Melisa.


" Ya sayang..Ono opo" ucapku.


Melisa mendekatiku.


" Mel keguguran kak.." ucap Melisa.


" Eh....!!!! Serius?" ucapku tak percaya.


" Iya kak,sakit tahu kak.." ucap Melisa.


" Innalilahi..."


Ku peluk Melisa.


" Yang sabar ya Mel.."


Ku usap punggungnya,lalu ku lepas pelukannku.


" Kok bisa keguguran ? Gimana ceritanya?"ucapku.


" Kandungan Mel lemah mas,di buat kerja jadi kaget.. " ucap Sulis.


" Ooo...Begitu..."


" Lain kali,kalau capek,stop aja ya Mel,jangan di paksain.." ucapku.


" Iya kak.." ucap Melisa.


" Oh iya,habis magrib,aku ada perlu.."


" Aku mau menghampiri targetku yang belum ku datangi." ucapku.


" Kenapa abi tidak menyuruh pengawal saja,?" ucap Diana.


" Nanti aku suruh jika sudah menemukan pelakunya" ucapku.


" Bagaimana mas bisa yakin jika yang mas temui itu adalah pelakunya,sedangkan bukti - buktinya tidak ada.." ucap Sulis.


" Dengan hipnotis,seperti saat aku membantai musuh untuk menanyakan keberadaan Ayub." ucapku.


" Apakah mereka memberitahunya mas." ucap Sulis.


" Ada,hanya saja pas ke Villa mereka,kami tak menemukan Ayub,sehingga kami hancurkan saja mereka semua.."


" Oh iya,Aisyah ada di mana?" ucapku tak melihat Aisyah.


" Mungkin di kamarnya bi.." ucap Diana.


" Aku kekamarnya Aisyah dulu ya.." ucapku lalu berjalan menuju lantai dua.


Sesampai di depan pintu kamar Aisyah,ku tekan tuas pintu,


ceklek.... Pintu terkunci.


Lalu ku ketuk pintu.


Tok...Tok...Tok...


" Ya amar...."


Tok....Tok...Tok...


" Tolong bukain pintunya dong.." ucapku.


" Tunggu sebentar..." suara Aisyah.


Tak lama kemudian pintu terbuka,


" Boleh aku masuk?" ucapku.


" Boleh..." ucap Aisyah.


Aku masuk kedalam ,lalu kututup kembali.


" Memgapa mengurung diri di dalam kamar?" ucapku.


" Tak apa,saye ingin istirahat ya amar.." ucap Aisyah.


Ku peluk Aisyah.


" Aisyah iatriku, apakah kamu merasa terdzolimi ?" ucapku.


" Tak...Saye pantas mendapatkannya. Karena itu salah saye.." ucap Aisyah.


" Maafkan aku,aku sudah membujuknya,namun gagal.." ucapku.


Aisyah tak menjawab,lalu ku lepas pelukanku.


Ku lihat Aisyah menangis.Ku usap air matanya.


" Aku punya sesuatu untukmu.."


Ku berikan tas belanja ke Aisyah.


" Ini sebagai permintaan maafku.." ucapku.


Aisyah membuka tas tersebut,lalu memelukku,ku balas pelukannya.


Ku pikir,semua istriku akan akur,rupanya tidak. Aku yang melihatnya merasa kasihan. Jika aku bersikap keras,aku takut menyakiti perasaan istriku,jika tidak keras,juga menyakiti istriku,aku bingung harus berbuat apa.


Ku lepas pelukanku.


" Yuk kita ke bawah" ucapku.


" Saye tak ingin.." ucap Aisyah.


" Ayolah sayang... Aku gak mau nanti di akhirat nanti Allah menanyakan perihal masalah ini,plisss" ucapku berusaha membujuk agar Aisyah mau membaur dengan istriku yang lainnya.


" Saye tak mau habib albi." ucap Aisyah.


" Aku Muhammad Bayu Samudra Han sebagai suamimu,memintamu untuk berkumpul dengan istriku yang lain,dan itu tak melanggar agama,aku mohon dengan sangat,jangan menentang perintahku.." ucapku.


Sengaja ku berkata seperti itu,agar Aisyah bisa membaur dengan yang lain.


" Baiklah..." ucap Aisyah.


Sementara keluarga kakek Naruto berada di rumah baru,yang di bangun di tanah kosong. Bangunannya bergaya Jepang,yang bangunanya terbuat dari kayu pada bagian dalam,sedangkan dinding luar dari batu bata.


Sesampai di ruang tamu,Ku lihat sudah ada Ayu bersama Imam.


Ku duduk di samping Diana. Aisyah duduk di sampingku.


" Dengarkan aku.."


" Aku gak mau kalian bertengkar atau apalah,yang mengakibatkan keluarga ini tidak harmonis.."


" Jika ada masalah,bicarakan baik - baik."


" Cari jalan keluarnya.."


" Aku pusing mikirin pelaku pembunuhan Putri,jangan menambah pusing lagi dengan masalah kalian,kalian sudah dewasa."


" Tolong jangan bersikap seperti anak kecil.."


" Diana... Sulis... Tolong maafkan Aisyah.." ucapku.


" Aku sudah memaafkannya sayang.. Tapi hukuman itu tetap berjalan selama 5 tahun,jangan di hilangkan,sebab itu kesepakatan kami bertiga,dan Aisyah mau menerima itu.." ucap Diana.


Kalau ku bilang bahwa itu salahku,pasti Diana seperti tadi malam. Ribet banget punya istri banyak. Gak akur,masa ya harus beda atap.


" Tapi jangan di kucilkan begitu dong sayang..." ucapku.


" Kita gak mengucilkannya sayang,dia sendiri yang gak mau bergabung dengan kita.." ucap Diana.


" Kalian menganggapku kepala rumah tangga kan"


" Sebagai kepala rumah tangga,aku ingin kalian saling bantu membantu, saling tegur,saling sapa,saling menasehati. "


" Jika kalian gak bisa akur.."


" Aku akan pergi berperang di timur tengah.." ucapku.


" Jangan..." ucap Diana ,Ayu dan Sulis.


" Kalau shujin pergi berperang,aku ikut.." ucap Ayu.


" Sama aku juga ikut.." ucap Diana.


"Mel juga ikut kak.." ucap Melisa.


" Aku ikut mas.." ucap Sulis.


" Saye tak punya keahlian bela diri,saye tetap ikut bersamamu habib albi." ucap Aisyah.


" Nah gitu dong kompak..."


" Jangan sendiri - sendiri.."


" Setelah ku menemukan pelakunya,aku bingung,kita tinggal di pacitan atau Jogja.."


" Jika di Pacitan,lokasinya dekat pantai tapi jauh dengan pondok pesantren yang dulu ku tempati.."


" Di pondok itu,keluarga kyai tahu tiap hari kelahiranku,selalu badanku lemas,tapi masih berjalan"


" Setiap hari kelahiran,ibu selalu datang menemuiku dan menemaniku di rumah pak Kyai."


" Jika di Jogja,cepat atau lambat,musuh akan tahu keberadaanku. Karena rata - rata sudah tahu kalau aku ini orang Jogja.."


" Di Jogja aku jadi petani,lahan 1 Hektar ku buat rumah kita,karena rumah ibu biar tetap begitu sebagai kenang - kenanganku saat aku masih kecil.."


" Jadi menurut kalian enaknya tinggal di mana?" ucapku.


" Di pacitan itu dekat dengan pondok pesantren apa enggak bi?" ucap Diana.


" Kata ayahnya Sulis dekat.." ucapku.


" Tinggal di Pacitan saja shujin.." ucap Ayu.


" Setuju.." ucap Diana.


" Mel terserah kakak saja.." ucap Melisa.


" Bagaimana jika tinggal di malaysa?" ucap Aisyah.


" Enggak setuju.." ucap Diana dan Ayu hampir berbarengan.


" Di Pacitan aja mas.." ucap Sulis.


" Maaf ya Aisyah..."


" Ini namanya Musyawarah... Suara terbanyak yang akan di ambil."


" Jika di Malaysa,kita sulit bergerak,belum lagi sangat susah menjadi warga negara Malaysa. "


" Jadi kita tinggal di Pacitan saja.."


" Nanti aku desain rumah itu seperti rumahnya Ayu.. Bagaimana?" ucapku.


" Bagus juga itu sayang..Aku suka gaya rumahnya kak Ayu.." ucap Diana.


" Nanti ku bangun 6 bangunan,5 rumah,dan 1 bangunan untuk ruang serba guna,bisa buat lauihan,atau pertemuan keluarga. Bangunan itu ada penghubungnya..." ucapku.


" Setuju kak.." ucap Melisa.


" Baiklah..Nanti akan bicarakan hal ini kepada ayahnya Sulis dan kakek Zhang..." ucapku.


" Kalau bisa di tanami bunga Sakura sayang.." ucap Diana.


" Boleh.." ucapku.


" Tambahin 2 bangunan lagi shujin,untuk keluarga kita menginap.." ucap Ayu.


" Oke..."


" Jadi lahan perumahan itu,kita pakai semua aja,sehingga menjadi luas halamannya,kalian bisa bebas .."


" Aisyah.."


" Tolong ajarin Melisa mengaji,apakah kamu bisa?" ucapku.


" Bisa " ucap Aisyah.


Kulihat jam tangan.


" Sudah Ashar,yok kita shalat.." ucapku.


" Kak..." ucap Melisa.


" Ya Mel..Ada apa?" ucapku.


" Tommy ingin menemuiku,dia gak mau dan gak terima bila Mel sudah nikah.." ucap Melisa.


" Ganti nomor hapemu ya sayang..Biar dia gak bisa hubungi sayang lagi.." ucapku.


" Iya kak.." ucap Melisa.


***


Malam hari.


Sesuai jadwalku,ku hampiri orang - orang yang ada dalam daftar.


Laura dan para prajuritku belum ada menemuiku,aku menduga bahwa Sebastian tinggal di luar Jakarta. Dan tak terlibat dalam pembunuhan Putri.


Ku kendarai sepeda motor Supraku,maunya seh motor Legenda,tapi motor Legenda ada di Sragen.


Sebelum pergi,aku hubungi Didin lebih dahulu. Lalu meminta nomor anak buah yang sedang memantau.


Ku hentikan sepeda motorku di pinggir jalan untuk menghubungi anak buahku.


Tuuut...Tuuut....Tuuut...


" Ya hallo bos.." suara pria.


" Sampeyan di mana kang?" ucapku.


" Gue lagi di jalan Anggrek bos,dekat dengan pos ormas.Target berada dalam pos ormas" suara pria.


" Oke..Ini aku di depan jalan Anggrek.." ucapku.


" Bos lurus aja terus...Nanti ketemu,gue berdiri di pinggir jalan dekat tiang telkom.." suara pria.


" Oke..Otewe.." ucapku lalu mematikan panggilan.


Ku jalankan lagi sepeda motorku.


Tak lama kemudian aku sampai 10 meter dari pos Ormas,ku menepi,lalu berjalan ke pos ormas tersebut.


Nampak 4 orang sedang dalam pos tersebut.


" Assalam mu'laikum permisi.." ucapku.


" Wa'alaikum salam... " ucap mereka.


" Maaf mengganggu pak,apakah ada yang bernama pak Bekti..?" ucapku.Padahal aku sudah tahu mana yang bernama Bekti,sebab aku melihat di foto.


" Ya.. Ada apa lu cari gue.." ucap Bekti.


" Saya ada perlu sebentar pak.."ucapku.


" Ngomong aja langsung.." ucap Bekti.


" Maaf pak,ini ownting,dan gak boleh ada orang lain yang mendengarkan."


Bekti berdiri lalu menghampiriku.


Ku tatap matanya sambil ku gunakan ilmu hipnotisku.


Bekti menatap mataku,sekilas ada cahaya hijau di matanya. Kubawa agak menjauh.


" Maaf,apakah bapak pernah mendengar atau pernah di ajak seseorang untuk membunuh keluarga Bayu. ?" ucapku langsung ke intinya.


" Tidak pernah " ucap Bekti.


" Oke suwun.." ucapku lalu pergi meninggalkan Bekti.


Tak terasa sudah 4 orang yang aku temui,namun jawabannya sama.


" Kini kumenuju target kelima yang berada di rumah kontrakan. Menurut laporan ,target yang ku datangi itu baru 2 bukan pindah rumah


Tok...Tok...Tok...


" Assalam mu'alaikum...Permisi.." ucapku.


Tok...Tok...Tok...


" Sebentar.." suara pria.


Pintu terbuka.


Ku libat sekilas ada seseorang berjalan, rambutnya sepundak.


" Permisi bang.."


Ku berkata sambil menatap matanya. Nampak sekilas cahaya hijau.


" Tadi yang lewat itu siapa?" ucapku.


" Pacar gue.." ucap pria.


" Bukannya di bwrkas dia sudah menikah ya..Kok dia bilang pacar" ucapku dalam hati heran.


" Apakah dia selingkuhanmu?" ucapku.


" Iye.." ucap pria itu.


" Apakah kamu pernah mendengar atau di ajak untuk balas dendam kepada Bayu?" ucapku.


" Tidak pernah.." ucap pria itu.


" Ya sudah kalau begitu.." ucapku lalu meninggalkan rumah kontrakan tersebut.


Ku ambil ponsel Nokiaku,lalu menghubungi Didin


Tuuut...Tuuuut...Tuuut....Tuuuut...


" Assalam mu'alaikum bos.." suara Didin.


" Wa'alaikum salam..Kang" ucapku.


" Iya bos.." suara Didin.


" Besok jam sembilanan lah aku lanjut lagi,jika malam hanya sedikit saja yang ku datangi. Ini baru 5 orang yang aku samperin" ucapku.


" Oke... Jadi ini yang selanjutnya di tarik dulu bos.? " suara Didin.


" Iya kang..Besok lagi ya.." ucapku.


" Siap bos.." suara Didin.


" Assalam mu'alaikum.." ucapku.


" Wa'alaikum salam.." suara Didin.


***


Esok paginya.


Ku samperin lagi target berikutnya,baik itu di rumah target,maupun di luar rumah target,sebab anak buahku mengikuti target yang aku temui.


Namun sayang,target yang aku temui tak mengatakan apa yang aku harapkan. Sisa 2 orang lagi yang belum ku datangi.


Terbesit dalam pikiranku bahwa bisa saja korban yang meninggal,kemudian keluarganya tak terima. Lalu aku akan minta daftar siapa saja yang tewas terbunuh saat perkelahianku dengan ormas tersebut.


Ku lanjutkan ke target selanjutnya yang bernama Azis. Orang yang di minta tolong oleh Sebastian untuk mempengaruhi orang - orang ormas.


Tok...Tok...Tok...


"Assalam mu'alaikum.."


Tok...Tok...Tok..


" Permisi..." ucapku.


" Wa'alaikum salam..." suara pria.


Ceklek...Kriiiieeeet... Pimtu terbuka.


Rupanya Azis sendiri yang membuka pintu.


" Cari siapa?" ucap Azis melihat wajahku yang memakai masker.


Ku gunakan ilmu menghipnotis,sekilas mata Azis bewarna hijau. Warna itu,hanya aku sendiri yang bisa melihat,orang lain tak dapat melihatnya.


Ku buka maskerku.


" Apa sampeyan masih ingat kepadaku?" ucapmu.


" Masih..." ucap Azis.


" Apakah anda pernah mendengar atau di ajak oleh seseorang untuk mencelakai keluargaku? Atau anda mencelekai keluargaku" ucapku