SANG PENERUS.

SANG PENERUS.
KAMI MEMUTUSKAN


Ruang keluarga.


Nampak keluarga Kiyoshi dan Naruto yang semuanya pria dewasa berkumpul. Bayu duduk di antara Kiyoshi dan Naruto.


Mereka sedang meminum Sake untuk merayakan kemenangan Bayu atas keberhasilannya mengalahkan Kakashi. Sedangkan Bayu hanya meminum teh saja.


"#Bayu san...


"# Bagaimana Bayu san tinggal di sini saja.." ucap Kiyoshi.


"Waduuuuh... Kemarin ayah mertua,sekarang kakek mertua..." ucap Bayu dalam hati.


"# Maaf kakek... Bayu tidak bisa tinggal di sini.." ucap Bayu.


"# Kenapa tidak bisa?" ucap Naruto.


"# Karena keluarga dan teman - temanku ada di sana kakek.Dan Bayu belum terbiasa dengan cuaca di sini." ucap Bayu.


"# Oh iya Bayu san...Apakah Bayu san punya kakak atau adik kandung?" ucap Kiyoshi.


"#Tidak punya Kakek.. Bayu anak tunggal..." ucap Bayu.


Sementara ke tiga sahabat Bayu tidak ikut ngumpul,karena mereka sungkan.


Muncul seorang pelayan membawa sebongkah salju,lalu di letakkan di depan Bayu.


"Kok salju di taruh sini sih.." ucap Bayu dalam hati heran. Melihat wadah berisi salju.


Semua orang juga heran,mengapa pelayan itu membawa salju ke dalam rumah kecuali Hiroshi.


Hiroshi sengaja menyuruh pelayan membawakan salju dalam wadah.


"#Bayu san.." ucap Hiroshi.


"# Iya paman.." ucap Bayu.


"# Coba Bayu san tunjukkan lagi kemampuanmu yang lainnya" ucap Hiroshi.


"# Kemampuan apa paman?" ucap Bayu.


"#Mencairkan salju yang ada di depanmu itu.." ucap Hiroshi.


"Diampuut... Rupanya ini to tujuannya... " ucap Bayu dalam hati baru menyadari maksud bongkahan salju yang di letakkam di depannya.


"#Heeeeeh...!!!!..Mereka terkejut dengan ucapan Hiroshi.


"# Bayu san...Apakah Bayu san bisa mencairkan salju?" ucap Kiyoshi.


"Asemmm....Ya bisalah. Masa aku bilang gak bisa.Tapi paman Hiroshi kok tahu ya aku bisa mencairkan salju...


"Eh...Tunggu dulu...


Bayu menyadari sesuatu.


"Jangan - jangan ayah mertua memberi tahu ke paman Hiroshi..." ucap Bayu dalam hati. Sebab ia menunjukkan ajian tapak geninya ke ayah mertuanya saja.


"#Bisa kakek..." ucap Bayu.


"# Coba Bayu san tunjukkan pada kami.." ucap Hiroshi.


"# Baiklah..." ucap Bayu mau gak mau menunjukkan kemampuannya.


Bayu mengambil sebagian salju dengan kedua tangannya,lalu membaca mantra dalam hati.


Semua orang yang ada dalam ruangan itu tertuju pada Bayu yang memegang sebongkah salju.


Tak lama kemudian. Salju yang di pegang Bayu menyusut dan mengeluarkan air.


Kiyoshi mencoba menyentuh telapak tangan Bayu.


"# Jangan sentuh kek..." ucap Bayu melarang kakek Kiyoshi,sebab jika di sentuh takutnya jarinya akan terluka.


Kiyoshi menarik kembali tangannya.


Kemudian Bayu menaruh kedua telapak tangan dalam wadah yang berisi salju.


Kiyoshi diam memperhatikan Bayu beraksi.


Nampak salju dalam wadah mencair. Tak lama kemudian air salju itu mengeluarkan uap,lalu tak lama kemudian air tersebut mendidih.


"Heeeeeh......!!!!??? Kiyoshi dan yang lainnya terkejut bukan main.


Sebab baru kali ini melhat kejadian tersebut. Dan itu di luar akal sehatnya.


"# Ba...Ba..Bagaimana Bayu san melakukan itu?" ucap Kiyoshi terkejut dan penasaran.


Bayu mengangakat kedua telapak tangannya,lalu menghentikan ajian Tapak Geninya.


"#Di negara kami,ini di sebut ilmu supranatural ...


"# Namanya ilmu tangan api..


Naruto menjulurkan tangan untuk menyentuh air dalam wadah tersebut.


"# Hati - hati kek..Air itu sangat panas.." ucap Bayu mengingatkan.


Naruto menyentuh dengan ujung jarinya,ia merasakan air itu panas.


"#Iya...Panas..." ucap Naruto.


Keluarga yang lain melihat itu juga penasaran ingin mencoba,satu persatu menyentuh air tersebut. Mereka terkejut saat merasakan air itu panas. Bahkan Hiroshi juga turut mencobanya.


"# Apakah Bayu san bisa mengajari kakek..?


"# Kakek ingin sekali bisa melakukan itu.."# ucap Kiyoshi.


"# Bayu san..Kakek juga ingin bisa melakukaknnya...Tolong ajari kakek ilmu tangan apimu itu.." ucap Naruto.


"# Kakek bisa melakukannya,akan tetapi....." ucap Bayu sambil menaruh tangan kanan di dagunya.


Bayu nampak berpikir,apakah akan memberikan ilmunya itu pada keluarga Hinata.


Kiyoshi berpindah duduk,ia duduk di depan Bayu lalu menaruh kepalanya di lantai.


"# Kakek mohon...Ajarkan ilmu tapak apimu Bayu san pada kakek..." ucap Kiyoshi.


Naruto mengikuti Kiyoshi,lalu Hiroshi,akira,Arashi dan yang lainnya.


"Juancook..." ucap Bayu lirih. Ia tak menyangka keluarga istrinya memohon seperti itu. Lalu timbul sebuah ide.


"#Baiklah....Bayu akan mengajari kakek dan paman semuanya...


Mereka yang bersujud lalu duduk tegap.


"#Tapi... Ada syaratnya.." ucap Bayu.


"# Apa itu syaratnya Bayu san..?


"# Apakah Bayu san mau menambah wanita lagi?


"# Kakek siap mencarinya..


"# Mau berapa banyak?" ucap Kiyoshi.


"# Bukan...Bukan itu kakek.." ucap Bayu.


"# Apakah Bayusan ingin uang? Kakek siap memberi berapapun yang Bayu san minta.." ucap Naruto.


"# Bayu tak butuh uang ,wanita ataupun jabatan...


"# Yang Bayu minta itu..


"# Ayah mertua tinggal di indonesia selamanya...Bagaimana?" ucap Bayu.


"Eh..!!!?? Mereka terkejut dengan persyaratan Bayu tersebut,lalu mereka kasak kusuk membicarakan persyaratannya Bayu.


"# Jika tidak mau...Maka Bayu tidak mau mengajari kalian.." ucap Bayu.


Bayu mengambil gelas teh lalu meminumnya.


Gleeek...Gleeek...Gleeek..


Bayu memgambil hapenya sambil menunggu mereka berunding.


Tiba - tiba.


"Kak..." suara Melisa.


Bayu mendongakkan kepala. Ia melihat Melisa berdiri di dekat pintu tak berani masuk,sebab semuanya pria.


Bayu berdiri,lalu berjalan sambil membungkuk,tangan kanan memjulur kebawah


"#Permisi..." ucap Bayu saat akan melewati keluarganya.


"Di panggil sama kak Diana...." ucap Melisa saat Bayu sudah berada di luar ruangan.


"Diananya ada di mana Mel?" ucap Bayu.


"Ada di kamar bersama ibu..." ucap Melisa.


Bayu masuk kedalam ruangan lalu duduk dekat pintu.


"#Mohon maaf semuanya...


Mereka yang sedang berdiskusi masalah permintaan Bayu berhenti,lalu melihat ke arah Bayu.


"#Istriku memanggilku, Nanti setelah selesai,Bayu akan kembali.." ucap Bayu lalu berdiri dan berjalan bersama Melisa.


---***---


Jakarta.


Ruang Manajer Cafe.


Paijo bersama Fitri( Dwi Fitriana)


Fitri sedang memasukkan data pengeluaran Cafe ke dalam komputer.


Sedangkan Paijo mencatat apa saja yang akan di beli nanti,dirinya baru saja dari dapur untuk mengecek kebutuhan Cafe,apa saja yang perlu di beli.


Paijo berdiri lalu memgambil radio HTnya. Kemudian memindahkan channel khusus ke preman yang stanby di pasar.


Setelah itu Paijo duduk,ia mengetik sms lalu mengirim pesan.


10 menit kemudian,tak ada balasan sms.Lalu menelpon.


Paijo mematikan panggilan telponnya lalu menekan HTnya.


"Kang Jono..Kang Jono Di sini Cafe mantan panggil..." ucap Paijo.


"Masuk..." suara Jono.


"Aku sms sampeyan...Kok gak di balas? di telpon juga gak diangkat " ucap Paijo.


"Maaf kang...Hapeku lagi di cas..." suara Jono.


"Ooo...Begitu.. Tolong di cek sekarang kang. Sebab tadi aku kirim daftar belanjaan..." ucap Paijo.


"Assiyaappp..." suara Jono.


Paijo meletakkan radio HT di meja.


Lalu terdengar suara adzan Dzuhur berkumandang.


"Fit...Ayo kita shalat.." ucap Paijo lalu berdiri,ia mengeluarkan dompet,rokok,dan korek,kemudian di letakkan di meja..


"Sebentar pak... Ini masih input data.." ucap Fitri.


" Utamakan shalat Fit... Itu bisa di lanjut lagi..." ucap Paijo.


"Saya tidak bawa mukena pak..." ucap Fitri.


"Di mushalla ada mukena...Ayoo..." ucap Paijo.


Fitri yang mendengar ucapan bosnya,mau gak mau menurutinya.


Mereka kemudian keluar dari ruangan.


Setelah mereka wudhu,mereka masuk ke dalam mushala.


Sebagian karyawan Cafe sudah berada di mushala,ada pula pengunjung yang ikut shalat di Mushalla tersebut.


Paijo bertindak sebagai imam. Jika shalat Magrib dan isya',dirinya tidak mau jadi imam,karena suaranya jelek.


---***---


Jepang.


Di depan kamar Hana.


Tok....Tok....Took...(Bayu memgetuk pintu kamar)


"Bu...Ini Bayu bu.." ucap Bayu.


"Masuk saja sayang..." suara Hana.


Bayu membuka pintu lalu masuk ke dalam bersama Melisa.


Pintu kamar di tutup oleh Melisa lalu di kunci.


Nampak Hana dan Diana duduk saling berhadapan. Hana tidak memakai jilbabnya.


Bayu duduk di samping Diana.Di susul Melisa duduk di samping Bayu.


"Tadi Mel bilang Bayu di panggil oleh sayang.." ucap Bayu.


"Iya sayang...


"Begini... Besok adalah hari lahirku " ucap Diana.


"Iyakah...Terus..." ucap Bayu baru mengetahuinya,sebab yang ia tahu tanggal lahir di KTP saja.


"Main ice skatingnya di tunda dulu ya.." ucap Diana.


"Iya sayang..." ucap Bayu.


"Sayang..." ucap Hana.


"Iya bu..." ucap Bayu


"Tolong pijatin ibu... Ibu sepertinya masuk angin.." ucap Hana.


Bayu berpindah tempat duduknya ke belakang ibunya.


Setelah itu Bayu memijati ibunya.


"Bu...." ucap Bayu.


"Iya sayang..." Hana.


"Hem... Tadi itu paman Hiroshi menyuruh Bayu untuk melelehkan salju.." ucap Bayu.


Heeeeeek.....(Hana bersendawa)


"Terus..." ucap Hana.


"Ya mau gak mau Bayu lakukan....


"Setelah itu mereka ingin juga belajar seperti Bayu bu...


Heeeeeek....(Hana bersendawa)


"Tapi Bayu memberi syarat.. Jika mau belajar,maka ayahnya Ayu harus tinggal di jakarta..


"Kasihan tahu bu Ayunya jika dia kangen sama ayahnya...." ucap Bayu.


"Hem.... Jika ayahnya Ayu ke jakarta,terus musuhnya tahu gimana sayang?" ucap Hana.


"Ya di perketat saja penjagaanya bu...


"Oh iya..Ibu mau Bayu kerokin" ucap Bayu.


Heeeeek...( Hana bersendawa)


"Gak usah sayang...


"Ibu nanti pulang duluan,sebab di kantor banyak urusan,2 hari lagi ibu akan ke Jakarta" ucap Hana.


"Yaaaaaah...Ibu...Kenapa cepat pulangnya...


"Pekerjaan ibu kan bisa di kerjakan sama orang lain bu.." ucap Bayu.


"Mel...Ambilkan minyak kayu putih di tas kecil ibu..


Melisa berdiri lalu berjalan ke tas kecil.


"Ibu sudah di beri tanggung jawab,masa iya gak bertanggung jawab sayang.." ucap Hana.


Melisa memberikan minyak kayu putih pada Hana.


"Ya sudah... Bayu juga ikut pulang bersama ibu.." ucap Bayu.


Hana membuka resleting bajunya yang berada di belakang.


"Olesin punggung ibu sayang..." ucap Hana sambil memyerahkan minyak kayu putih.


Bayu menerima lalu menuangkan minyak kayu putih di punggung ibunya.


"Eh.....!!!???Bayu terkejut melihat bekas luka di punggung ibunya.


"Kapan ibu mendapatkan luka ini ya...


"Perasaan ibu gak pernah masuk rumah sakit" ucap Bayu dalam hati penasaran,setelah mengolesi,Bayu lanjut memijat lagi.


"Gakpapa... Dari pada kita liburan gak ada ibu di samping Bayu..


"Ya gak Mel.."ucap Bayu.


"Iya kak... Gak seru jika gak ada ibu.." ucap Melisa.


"Ya sudah... Ibu akan menemani kalian.. Nanti ibu akan telpon kakek.." ucap Hana.


---***---


Jakarta


Cafe Mantan.


Setelah selesai shalat,Fitri berjalan ke ruang Manajer,sedangkan Paijo ke arah dapur untuk mengambil makanan dan minum.


Saat Fitri berjalan menuju kursi kerjanya ,ia melihat dompet,rokok,korek dan hape Paijo tergelatak di meja. Nampak duit di dalam dompet itu kelihatan.


Uang yang di beri Paijo tersisa sedikit,muncul setan menggoda Fitri untuk mengambil uang Paijo.


Fitri berjalan mendekati dompet Paijo.Lalu mengambil dompet itu.


Lalu Fitri teringat pesan ibunya,tidak boleh mengambil barang orang lain meskipun kita miskin.


Fitri meletakkan kembali dompet Paijo. Lalu duduk di kursi kerjanya.


Kruucuk...Kruuucuk... ( suara perut Fitri)


Fitri mengambil air minum di dispenser,lalu meminumnya untuk menahan rasa laparnya. Tadi pagi dirinya hanya makan sedikit saja,lalu berangkat kerja berjalan kaki.


Selesai minum,Fitri kembali bekerja. Ia memasukkan biaya pengeluaran Cafe.


Tak lama kemudian Paijo masuk ke dalam ruangan sambil membawa makanan dan minuman,lalu meletakkan di meja.


Paijo melihat dompetnya telah berubah tempatnya,lalu melihat ke Fitri.


"Apakah dia mengambil uangku?" ucap Paijo dalam hati sambil berpikir.


Tak lama kemudian,Paijo memutuskan untuk melihat rekaman CCTV saja, sebab di dalam ruangannya ada CCTV. Ia tak berani langsung menuduh tanpa adanya bukti.


"Fit..." ucap Paijo.


"Iya pak..." ucap Fitri.


"Ayoo kita dulu..


"Ini sudah jam istirahat.." ucap Paijo.


" Baik pak..." ucap Fitri.


Fitri berdiri lalu berjalan ke kursi tamu


Paijo dan Fitri makan bersama.


"Bagaimana keadaan ibumu Fit?" ucap Paijo.


" Sudah baikan pak..." ucap Fitri.


" Sakit apa ibumu?" ucap Paijo.


Fitri memgunyah makanannya kemudian menelan.


" Demam saja pak..." ucap Fitri.


"Ooo...Demam...


Paijo menyendok makanannya.


" Ayahmu..?" ucap Paijo lalu memasukkan makanan ke dalam mulut.


" Ayahku pergi meninggalkan ibu..." ucap Fitri.


"Kasihan...." ucap Paijo dalam hati.


" Sudah 1 tahun lebih pergi, kerja di kalimantan..


"Hanya berjalan 3 bulan saja memberi kabar dan mengirim uang, setelah itu tak ada kabarnya lagi." ucap Fitri.


"Hem... Apakah punya kenalan,maksudku teman ayahmu yang pergi bersama.. Siapa tahu


ayahmu terjadi sesuatu saat merantau.." ucap Paijo.


"Gak ada pak... bulan ke 4 awalnya bisa di hubungi.. Lalu tiba - tiba tak bisa di hubungi,kirim uang pun tidak ada.." ucap Fitri.


"Berpikir positif saja,kemungkinan di sana tidak ada sinyal...Oh iya...


"Kamu berapa saudara Fit?" ucap Paijo.


"Tiga pak..." ucap Fitri.


"Apa aku tanya aja langsung ya....


Nampak Paijo berpikir soal dompetnya.


"Hem...Lebih baik aku tanya langsung saja,aku pengen tahu... Dia jujur apa enggak.." ucap Paijo dalam hati mengenai dompetnya yang berpindah letak posisinya.


"Fit...


"Tadi aku taruh dompetku,kenapa posisinya berubah ketika mau aku kembali?" ucap Paijo lalu menyantap makanannya.


"Eh....!!!??? Fitri terkejut. Dirinya tak menyangka jika bosnya hapal dengan posisi dompetnya. Ia meletakkan sendok.


Paijo melihat ke arah Fitri.


"Apa yang harus aku katakan...." ucap Fitri dalam hati nampak bingung.


"Apakah tadi ada orang lain masuk ke dalam ruangan ini selain kamu?" ucap Paijo.


Fitri lantas teringat ucapan ibunya" Berkatalah yang jujur,meskipun itu menyakitkan dirimu. Ibu tidak ingin punya anak yang pandai berbohong".


"Ma...Maaf pak..Tadi saya pegang dompet bapak lalu meletakkan kembali... " ucap Fitri sambil menundukkan kepalanya.


"Hem...Jadi dia yang menggeser.." ucap Paijo dalam hati.


"Kenapa tadi kamu pegang dompetku?"


Fitri nampak gelisah sambil memainkan jari tangannya,nampak keringat keluar dari wajah karena takut di pecat.


"Jawab yang jujur...


" Apakah kamu mengambil uangku?" ucap Paijo santai sambil menyantap makanan.


"Ti...Ti..Tidak pak..Saya tidak memgambil uang bapak..." ucap Fitri.


"Lantas... Kenapa kamu pegang dompetku?" ucap Paijo sambil melihat ekspresi Fitri.


"Maafkan saya pak..." ucap Fitri.


"Ya sudah kalau gak mau jujur..." ucap Paijo lalu berdiri,hendak keluar dari ruangan mau merokok.


"Tadi saya sempat berpikiran untuk mengambil uang milik bapak..


Paijo baru saja melangkahkan kakinya,kemudian menghentikan langkah. Ia menoleh ke Fitri.


"Tapi...Saya tidak jadi melakukannya..." ucap Fitri dengan wajah menunduk.


"Kenapa sempat terpikir untuk mengambil uang di dalam dompetku?" ucap Paijo.


"Itu karena uang yang bapak kasih sisanya bayar rumah sewa saya belikan beras dan beli buku sekolah adik saya pak..Sekarang hanya tersisa sedikit saja" ucap Fitri.


"Ooo...Begitu...


"Ya sudah...Aku mau merokok dulu.." ucap Paijo.


Fitri melihat ke Paijo.


"Apakah bapak akan memecat saya?" ucap Fitri ketakutan.


"Kan aku sudah bilang sebelumnya..Aku lebih suka orang yang jujur... Dari pada orang yang di depan baik,tapi di belakang menusuk...


"Lanjutkan saja pekerjaanmu aku mau merokok..." ucap Paijo kemudian berjalan keluar.


Paijo berjalan ke Gazebo. Setelah sampai ia duduk dan membakar rokoknya.


Huuuffft..... Asap keluar dari mulut dan hidung.


"Itu anak jujur... Tapi sifatnya bikin aku was - was...


"Jika ku berhentikan aku kasihan sama dia..


Meskipun Paijo memegang keuangan Cafe,dirinya tidak mau mengambil sepeserpun uang hasil penjualan untuk keperluan pribadinya. Ia akan izin dahulu ke Bayu jika uang yang di milikinya sisa sedikit.


Paijo melihat seorang pemuda menghampiri dirinya.ia tak kenal siapa pemuda itu,tapi pernah melihat pemuda tersebut.


Pemuda itu adalah Sandi. Sandi Purnama Irawan saudara tiri Bayu.


"Permisi..." ucap Sandi.


"Iya,ada yang bisa saya bantu pak..." ucap Paijo.


"Saya Sandi...Saudara tiri Bayu...


Sandi menyodorkan tangannya. Paijo menyambut tangan Sandi.


"Apakah Bayunya ada.." ucap Sandi.


"Ooo... Saudara tiri..Saya Paijo,teman Bayu...


Mereka melepaskan jabatan tangannya.


"Saat ini Bayu sedang ke Jepang..." ucap Paijo.


"Ooo...Ke Jepang ya... Kapan kira - kira baliknya pak?" ucap Sandi.


"Kurang tahu...


"Oh iya silahkan duduk pak.." ucap Paijo.


Sandi duduk di Gazebo.


"Panggil nama aja kang....." ucap Sandi berusaha akrab dengan Paijo.


"Iyoo...


" Sama siapa kamu kesininya San?" ucap Paijo.


"Sama teman - teman kang..." ucap Sandi.


"Mana teman - temanmu..?" ucap Paijo.


"Itu di meja nomor 12 kang..." ucap Sandi.


Paijo melihat ke arah meja 12. Nampak beberapa pria,salah satunya ada seorang bule.


----***----


Jepang.


Kamar Hana.


Bayu menarik resleting baju ibunya setelah selesai memijat.


" Nanti sayang tidur sama ibu kah?" ucap Bayu.


"Iya sayang...Kalau tidur sama mereka nanti mereka penasaran dengan mataku.." ucap Diana.


"Ya sudah...


Bayu melihat jam tangannya.


"Yuk kita shalat..Putri sama Ayu dimana?" ucap Bayu.


"Gak tahu aku yank..." ucap Diana.


Bayu memejamkan mata,ia lalu menggunakan ajian Rogoh Sukmonya untuk mencari keberadaan kedua istrinya.


Nampak sukma Bayu keluar dari raganya lalu keluar kamar.


Hana melihat sukma Bayu keluar diam saja,tak bicara.


"Sayang... Musim semi nanti kita kesini lagi ya...Aku pengen lihat bunga Sakura.." ucap Diana.


Diana melihat Bayu diam saja,tak menjawab ucapannya.


"Bayu sedang menggunakan ajiannya,jadi dia tak bisa menjawab pertanyaanmu Diana..." ucap Hana.


"Pantesan dia diam saja tak menjawab ucapanku.


"Ooo...Begitu..." ucap Diana.


Tak lama kemudian sukma Bayu kembali. Lalu masuk ke dalam raganya.


Bayu membuka matanya.


"Bentar...Aku mau manggil Ayu dan Putri dulu.." ucap Bayu lalu berdiri dan berjalan menuju tempat Ayu dan Putri berada.


Bayu berjalan menuruni tangga. Ia berpas - pasan dengan gadis salah satu anggota keluarga Hinata yang masih remaja.


"# Maaf... Apakah anda tahu di mana Hinata berada?" ucap Bayu.


"#Iya...Saya tahu.. Mari ikut saya..." ucap gadis itu.


Gadis itu parasnya sungguh cantik,kulit putih,langsing ,rambut sepunggung.


Bayu belum mengetahui nama gadis tersebut,sebab saat berkenalan dengan keluarga ayah mertuanya,gadis itu tidak ada.


Mereka berjalan menuju rumah di sebelah rumah Kiyoshi.


"Diampuuut...Adem tenan rek...." ucap Bayu dalam hati tak memakai mantel.


Bayu melihat gadis di depannya tak menunjukkan ia menggigil.


"Gendeng.. Dia gak kedinginan apa..


Gadis itu menoleh ke Bayu lalu melihat ke depan lagi.


Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah ruangan.


Nampak Hinata dan Putri sedang bersama 2 gadis . 2 gadis itu saudara sepupu Hinata. Mereka sedang bermain catur sambil mengobrol.


"Oalah...Nang kene to.." ucap Bayu. Padahal dirinya sudah tahu keberadaan istrinya,tapi ia tak berani masuk ke dalam rumah tersebut sendirian.


Khalisa dan Hinata menoleh ke arah Bayu.


"Sini mas..." ucap Khalisa.


"Kalian gak shalat?" ucap Bayu.


Khalisa dan Hinata melihat jam tangannya.


"Shalat mas..." ucap Khalisa.


Mereka berdiri lalu memghampiri Bayu.


"#Shujin kenalin saudaraku.


"#Ini Haruka..(Hinata menunjuk salah satu gadis)


Bayu menangkupkan tangannya ke arah gadis bernama Haruka.


"#Ini Sayuri...


"#Dan di belakang shujin namanya Sakura..." ucap Hinata.


"# Salam kenal semua..Nama saya Bayu..." ucap Bayu.


"#Kami tinggal dulu...Nanti kita sambung lagi.." ucap Hinata.


Mereka berjalan kerumah Kiyoshi.


30 menit kemudian,Bayu kembali keruang keluarga.


Nampak hanya ada Kiyoshi dan Naruto saja.


"#Maaf kakek...Bayu baru muncul kembali.." ucap Bayu.


"# Duduklah di dekat kakek.." ucap Naruto.


Bayu berjalan lalu duduk di dekat Naruto.


Kiyoshi lantas berbicara mengenai hasil musyawarah. Sempat mereka debat,karena jika Kakashi tinggal di jakarta,maka musuhya akan mengikuti ke Jakarta lagi seperti waktu itu.


"# Setelah kami berdiskusi...


"# Kami memutuskan bahwa putraku (Kakashi) ...


"Semoga saja mereka mau...Amin ya Allah.." ucap Bayu dalam hati.


.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.