
Ku buka maskerku.
" Apa sampeyan masih ingat kepadaku?" ucapku.
" Masih..." ucap Azis.
" Apakah anda pernah mendengar atau di ajak oleh seseorang untuk mencelakai keluargaku? Atau anda mencelakai keluargaku" ucapku.
" Pernah.." ucap Azis.
Akhirnya,dari sekian orang ku tanya,baru ini yang jawab pernah.
" Pernah apa?" ucapku.
" Pernah di ajakin untuk membalas dendam.." ucap Azis.
" Siapa yang mengajakmu" ucapku.
" Sebastian..." ucap Azis.
" Sial...Rupanya dia biang keroknya.." ucapku dalam hati.
Ku ambil ponselku lalu merekam video. Ku ulangi lagi pertanyaanku.
" Apakah anda pernah di ajak atau ikut dalam rencana pembunuhan Putri? " ucapku.
" Pernah.." ucap Azis.
" Pernah apa ?" ucapku.
" Pernah di ajak.." ucap Azis.
" Sama siapa?" ucapku.
" Sebastian..." ucap Azis.
" Apakah kamu ikut dalam pembunuhan Putri?" ucapku.
" Tidak,aku baru bebas 3 bulan yang lalu.." ucap Azis.
" Sebastian mengajak siapa saja?" ucapku.
" Gue gak tahu.." ucap Azis.
" Apakah kamu tahu di mana Sebastian tinggal?" ucapku.
" Gue gak tahu.." ucap Azis.
" Sebastian waktu di penjara,siapa yang sering menjenguknya?" ucapku.
" Ronal " ucap Azis.
" Selain Ronal?" ucapku.
"Ada seorang wanita.Tapi gue gak tahu namanya," ucap Azis.
" Oke...Terima kasih.." ucapku sambil mematikan video,lalu ku pergi dari rumah Azis menuju rumah selanjutnya.
Begitu mau sampai terdengar suara adzan.
Ku putuskan untuk menghubungi anak buahku lebih dulu.
Tuuut...Tuuut....Tuuut...
" Halo bos.." suara pria.
" Shalat dulu,nanti sampeyan lanjut lagi kang.." ucapku.
" Siap bos...Gue otewe ke mesjid.." suara pria.
" Bagus...Itu baru anak buahku..Assalam mu'alaikum.." ucapku.
"Wa'alaikum salam.."suara pria.
Ku lanjutkan lagi perjalananku menuju asal suara adzan.
Dalam pikiranku,bila orang terakhir tidak pernah melakukannya,maka orang yang pernah kubunuh yang ikut dalam rencana Sebastian. Bisa jadi keluarga yang ku bunuh.
Setelah selesai shalat Magrib. Ku lanjut kerumah selanjutnya.
Sesampai di rumah yang ku tuju. Nampak pintu rumah tertutup.
Tok...Tok....Tok...
" Assalam mu'alaikum..." ucapku.
" Wa'alaikum salam..." suara wanita.
Tak lama pintu terbuka.
Seorang wanita muda memakai daster berdiri. Umurnya sekitar 23 tahun lah.
" Maaf bu...Apakah pak Nino ada?" ucapku.
" Ada,lu siapa?"ucap wanita itu.
" Saya temannya bu.." ucapku.
"Paa...Ada yang nyariin tuh.." ucap wanita itu agak nyaring sambil menoleh ke samping.
" Sebentar...Gue lagi bokerr.." suara pria.
Wanita itu kembali melihat ke arahku.
" Silahkan masuk.."
Aku masuk ke dalam.
" Silahkan duduk,maaf gak ada kursi.." ucap wanita itu.
" Ya gakpapa bu.." ucapku.
" Mau kopi apa teh..?" ucap wanita itu.
" Teh saja bu.." ucapku.
Wanita itu masuk ke dalam.
Kulihat foto yang terpajang di tembok,nampak ada foto Azis memakai seragam ormas merangkul seorang bapak - bapak yang memakai baju yang sama,lalu ada foto pernikahan.
Ku ingat - ingat foto yang bersama Azis tersebut,sepertinya aku pernah melihatnya.
Tapi di mana.
Tak lama kemudian muncul wanita membawa segelas teh.
" Silahkan.." ucap wanita itu sambil meletakkan teh lalu duduk 2 meter dariku.
" Terima kasih.." ucapku.
" Apa aku tanya saja ya.." ucapku dalam hati ingin bertanya tentang foto di tembok. Akhirnya aku tanya saja sekalian,daripada penasaran.
" Maaf bu...Itu bang Azis foto sama siapa ya?" ucapku sambil menunjuk.
Wanita itu menoleh ke arah yang ku tunjuk.
" Ooo...Itu.."
" Itu foto almarhum mertua gue,jangan panggil gue ibu.. Apa gue sudah tua?" ucap wanita itu.
" Enggak...Maaf." ucapku.
Berarti itu foto ayahnya Azis,lalu. Apakah ayahnya salah satu korban yang tewas saat perkelahianku di Cafe waktu itu ya,akh jadi penasaran,karena aku benar - benar tak mengingatnya. Sebab kejadian itu terjadi begitu cepat. Ku ayunkan tanganku menebas semua orang yang ada di dekatku,tak peduli dia tua atau muda,yang penting aku harus melindungi anak buahku.
Ku buka maskerku,lalu ku seruput teh. Sebelum ku seruput,ku baca do'a dulu seperti biasanya.
Ku lirik wanita yang duduk di dekatku,ia menatapku.
" Lu anak mana?" ucap wanita itu.
Ku letakkan gelas.
" Aku anak Menteng mbak..." ucapku.
" Ooo..Menteng."
" Lu orang cina ya..?" ucap wanita itu.
" Bukan mbak,aku orang jawa." ucapku.
" Tampang lu seperti orang china" ucap wanita itu.
" Kakekku yang china mbak.." ucapku.
" Ooo..Pantas..Wajah dan kulit lu putih,seperti orang cina.."
" Tapi kok lu seperti artis...Aaaa..Artis Korea.."
" Iya...Lu seperti artis Korea.." ucap wanita itu.
" Masa seh mbak...Padahal aku ini wong ndeso loh.." ucapku.
Ku lihat Azis muncul,ekspresinya terkejut saat melihatku,lalu bersikap tenang.
" Lu siapa?" ucap Azis.
" Sepertinya dia pura - pura tidak mengenalku.." ucapku dalam hati.
" Masa sampeyan lupa kang...Aku ini Bayu,"
Azis duduk menghadapku.Wanita yang duduk didekatku masuk ke dalam. Kutatap matanya untuk menghipnotis,namun dia menghalihkan pandangannya sambil merogoh sesuatu di kantong jaket yang tergelatak di lantai.
Rupanya Azis mengambil rokok dan korek,lalu menyalakan rokoknya. San tak mengenalku,apa dia pura - pura gak kenal ya,tadi ku lihat ekspresinya terkejut.
"Sial...Jika dia tak menatap mataku,aku gak bisa menghipnotisnya.." ucapku dalam hati melihat Azis tak melihat ke arahku.
" Aku ada perlu sama sampeyan..." ucapku.
" Ada perlu ape lu?" ucap Azis.
" Begini bang... "
Wanita itu muncul membawa kopi lalu di letakkan di depan Azis.
" Aku minta tolong sama sampeyan"ucapku.
Azis menatapku.
" Minta tolong apa" ucap Azis lalu menghisap rokoknya sambil menatapku.
Kugunakan kesempatan itu untuk menghipnotisnya. Sekilas matanya bewarna hijau.
" Yess berhasil.." ucapku dalam hati kesenangan.
Ku keluarkan kertas bergambar Sebastian.
" Apa sampeyan kenal orang ini..?" ucapku.
Azis melihat kertas yang aku tunjukkan.
" Iya kenal.." ucap Azis.
" Ada di mana dia bang?" ucapku.
" Gue gak tahu.." ucap Azis.
" Apa sampeyan pernah bertemu dengan Sebastian?" ucapku.
" Pernah.." ucap Azis.
" Kapan dan di mana?" ucapku.
" Lima bulan yang lalu di Depok." ucap Azis.
" Depok?"
Ku lihat wanita itu masih di samping Azis.
" Mbak,bisa minta tolong" ucapku.
" Minta tolong apa?" ucap wanita itu.
Ku keluarkan dompetku. Lalu mengeluarkan uang 200 ribu.
" Belikan rokok surya 16,teh kotak 1 sama korek,dan rokok buat bang Azis,uang kembaliannya mbak ambil" ucapku.
Kulakukan itu untuk membicarakan tengang pembunuhan Putri,agar istrinya tak mendengarkan pembicaraanku.
Wanita itu mengambil uang di tanganku,lalu pergi.
Setelah wanita itu pergi. Aku bebas menanyakan tentang Sebastian.
" Apakah kamu dan Sebastian merencanakan pembunuhan istriku?" ucapku.
" Iya.." ucap Azis.
Deeg... Aku tersentak kaget,ingin rasanya ku pukul dan ku siksa orang di depanku,tapi ku tahan.
" Sama siapa kamu melakukanya?" ucapku.
" Sama Tohir,Sebastian,Erwin,Codet dan Bongek.." ucap Azis.
" Apa kamu tahu di mana mereka tinggal?" ucapku.
" Untuk Codet,Bongek dan Tohir gue tahu. "ucap Azis.
" Dari mana kalian bisa tahu kalau istriku akan pergi ke Lampung? Ceritakan padaku" ucapku.
" Gue pergi ke Cafe tempat Istri - istri lu biasa nongkrong,lalu gue dengar salah satunya akan pergi ke Lampung,lalu gue memberitahukan ke Sebastian. Kemudian Sebastian menyusun rencana,"
Azis menceritakan hingga mengejar mobil rombongan Putri.
Muncul istri Azis membawa 2 kantong plastik. Satu kantjng plastik di berikan kepadaku.
" Codet mengejar itu mobil.." ucap Azis.
" Stop bang.." ucapku,karena istrinya ada di samping Azis.
Ku ambil rokok dan korek,lalu membuka bungkus rokok,kemudian mengambil sebatang rokok ,ku selipkan di bibir.
Ku nyakakan korek untuk membakar ujung rokok.
Huuuuffftt....Asap keluar dari mulutku.
Akhirnya aku temukan juga salah satu pelaku,namun aku belum menemukan Sebastian. Bahkan pasukan Kumala Sari yang aku kerahkan mencari Sebastian belum muncul.
Ponselku bergetar panjang,ku ambil ponselku dan melihat siapa yang menelpon.
Nampak panggilan dari Diana.
" Maaf aku terima telpon dulu.."
Ku berdiri lalu keluar rumah.
" Assalam mua'alaikum.."
" Wa'alaikum salam..Abi pulang jam berapa?" suara Diana.
" Hemm...Mungkin 2 jam lagi Umi. Ada apa?" ucapku.
" Yaa....Aku pengen makan sate..Laper.." suara Diana.
" Ya sudah.. Ini aku pulang...Sate sama apa?" ucapku.
" Sebentar bi.."
" Martabak telur bi,yang pakai telur bebek,sama martabak manis pakai keju.." suara Diana.
" Oke sayang..." ucapku.
" Assalam mu'alaikum.." suara Diana.
" Wa'alaikum salam.." ucapku,lalu mematikan panggilan.
Ku masuk ke dalam rumah
" Ayo bang ikut aku.." ucapku.
" Kalian mau kemana?" ucap wanita itu.
" Aku ada perlu mbak..Tak pinjam dulu ya suami mbak.." ucapku.
" Ya sudah..." ucap wanita itu.
Lalu kami pun keluar rumah,Azis masih dalam pengaruh hipnotisku menurut saja.
" Assalam mu'alaikum.." ucapku.
" Wa'alaikum salam.." ucap wanita itu.
Ku berjalan ke sepeda motor supra,lalu memakai helm dan naik sepeda motor.
" Pakai helmnya bang...Nanti di tangkap polisi.." ucap wanita itu.
" Pakai helmnya kang.." ucapku.
Azis mengambil helm lalu naik sepeda motorku.
Ku nyalakan sepeda motor lalu menjalankannya.
Aku akan membawa Azis ke tempat markas pengawal keluargaku,untuk di tahan sementara.Guna penyelidikan lebih lanjut.
---***----
Non Pov.
China.
Mayjen Tang Shin membentuk Tim untuk memeriksa rekaman CCTV yang ada di bandara. Sebab identitas Jiang/Bayu tak di temukan. Sehingga mereka menjadi penasaran dan curiga.
Nampak 6 orang berada di ruang control CCTV. 3 orang melihat turis dari korea selatan,3 orang melihat rekaman CCTV dari Indonesia. Mereka memeriksa rekaman sebelum kejadian pembunuhan misterius,di mana korban mengalami muntah darah,kesakitan lalu meninggal di tempat sebelum di tangani pihak medis.
Setiap kedatangan pesawat yang berasal dari Korea Selatan dan Indonesia di amati secara seksama,begitu gak ada wajah Bayu,mereka lanjut ke rekaman hari berikutnya.
Nampak di layar seorang pemuda memakai masker,lalu membuka masker. Karena setiap pemeriksaan paspor,setiap turis wajib membuka penutup wajah.
" Jiang...." ucap pria 1 yang memakai pakaian Militer terkejut saat melihat wajah Bayu di pemeriksaan paspor.
Ke lima rekannya melihat ke layar yang memperlihatkan wajah Bayu.
Pria 2 lantas mengambil ponselnya untuk menghubungi Mayjen Tang Shin melaporkan bahwa telah menemukan orang yang mirip dengan Bayu.
Tuuuut...Tuuut...Tuut...
" Ya ada apa,? Apa kalian telah menemukan Jiang?" suara Mayjen Tang Shin.
" Siap,kita telah menemukannya pak. Wajahnya sangat mirip" ucap pria 2.
" Dia datang dari mana?" suara Mayjen Tang Shin.
" Siap..Indonesia pak.." ucap pria 2.