
Mall.
Aku saat ini berada di salah satu Mall terbesar di ibu kota Jakarta,kota terpadat di indonesia.Ku berjalan sambil memggendong Imam dengan gendongan khusus bayi. Ku memakai tudung jaketku,dan memakai masker. Buat jaga - jaga agar orang tidak mengenaliku.
" Kita kemana dulu neh?" ucapku.
" Beli baju dulu kak..Habis itu kita ke Timezone,lalu makan..." ucap Melisa.
" Ya sudah....Ayoo.." ucapku.
Suasana Mall lumayan ramai, jika mau lebaran. Mall akan sangat ramai sekali. Mesjid - mesjid yang semula ramai menjadi berkurang. Orang sibuk mempersiapkan lebaran.
Nampak SPG wanita cantik menawarkan produknya kendaraan bermotor sambil memberikan brosur. Ku ambil saja kertas itu untuk menghargai usahanya.
Sesampai di stand pakaian wanita,para istriku sibuk memilih. Lalu ku melihat ada stand yang jual jaket. Karena aku hanya punya satu jaket saja,jadi ku berpikir untuk membeli lagi,agar lebih mudah nantinya pas ku pakai. Pernah ku mau pakai jaket ternyata jaketnya di cuci. Mau gak mau aku gak pakai jaket.
" Aku ke situ dulu ya,mau lihat jaket.." ucapku memberi tahu ke istri - istriku agar mereka tak bingung mencariku.
Ku berjalan ke arah stand penjualan Jaket. Kumala Sari mengikutiku.
Sesampai di tempat itu,ku di sambut oleh wanita muda,ku yakini dia adalah karyawan toko jaket.
" Selamat datang pak..Ada yang bisa ku bantu.." ucap wanita itu.
" Aku lihat - lihat dulu mbak..Kalau cocok aku beli.." ucapku.
" Silahkan pak.." ucap wanita itu.
Ku ambil jaket levis yang ada di gantungan.
" Jaket yang bolak - balik ada gak mbak? " ucapku. Jika ku beli jaket biasa,maka warnanya cepat pudar,karena bagian itu saja bang terkena sinar matahari. Jika jaket bolak balik kan enak.Bagian dalam bisa menjadi bagian luar,sehingga warnanya gak cepat pudar.
Wanita itu berjalan lalu mengambil jaket,kemudian menghampiriku lagi.
" Apakah seperti ini pak.." ucap wanita itu sambil memberikan jaket yang ia ambil.
Ku letakkan kembali jaket levis ke tempat semula ,lalu mengambil jaket yang di sodorkan wanita itu.
Ku perhatikan jaket itu lalu ke melihat bagian dalam. Jaket pemberiannya sesuai apa yang ku inginkan.
" Iya mbak.. Ada berapa jaket seperti ini mbak?" ucapku.
" Kurang tahu pak.." ucap wanita itu.
Ku berjalan ke tempat di mana wanita itu mengambil jaket. Setelah sampai,ku lihat ukuran jaket tersebut. Ku ambil 5 jaket,agar setiap kamar istriku ada jaketku,lalu ku bayar jaket tersebut.
Selesai membayar,aku pun kembali ke tempat semula.
Ku lihat istri - istriku masih sibuk memilih.
" Asem...Kirain sudah selesai..Gak tahunya belum"
" Masih cepetan aku membeli jaket,gak sampai 10 menit,selesai dah...." ucapku dalam hati.
Setelah menunggu sekian lama akhirnya selesai juga mereka berbelanja. Lalu berjalan lagi,kemudian berhenti di sebuah stand aksesoris jilbab.
Ku berdiri menunggu mereka berbelanja. Selama satu jam mereka memilih,akhirnya selesai juga. Kemudian lanjut berjalan lagi menuju lantai atas.
Sesampai lantai atas,ada sebuah stand yang menjual alat kosmetik.
Para istriku berjalan menuju stand tersebut.Ku mengawasi sekitar,apakah ada yang mengikuti.
Kumudian ke ambil kertas brosur yang tadi ku ambil. Nampak tulisan harga barang yang di jual,jika ingin kredit pun bisa.
Jika di hitung - hitung belj barang kredit,jatuhnya lebih mahal daripada Cash. Namun kebanyakan orang gengsi. Lebih baik kredit,adapula yang memang gak mampu dan harus memiliki barang tersebut karena kebutuhan. Kalau aku seh mending beli seken,yang penting barangnya masih bagus dan mulus.
Lama menunggu akhirnya mereka selesai membeli alat kosmetik. Ku lihat jam tanganku,30 menit lagi Dzuhur.
" Setengah jam lagi Dzuhur...Ayoo kita cari mushalla dulu.Habis itu lanjut lagi" ucapku.
" Iya mas.." ucap Sulis.
Kami pun berjalan mencari mushalla. Lalu ada security Mall. Ku hampiri saja security tersebut,karena dia hapal daerah Mall.
" Permisi..Mushalla ada di mana ya?" ucapku.
" Ada di lantai 2 pak.." ucap Security.
" Terima kasih pak.." ucapku.
Lalu kami berjalan le lantai dua. Saat ini kami berada di lantai 3.
Setelah selesai shalat Dzuhur,ku hampiri istriku yang berada di shaf bagian wanita.
" Kita makan dulu atau lanjut?" ucapku.
" Makan dulu bi.Tapi sebentar ya bi..Bintang masih nyusu.." ucap Diana.
" Iya..." ucapku.
1 jam kemudian.
Kami berada di stand makanan. Ku pesan juga untuk Kumala Sari,berhubung 1 meja kursinya sedikit,jadi kami bagi dua. Aku satu meja dengan Ayu,Kumala Sari, dan Melisa.
Makanan pun datang,lalu di letakkan di meja.
" Itu buat siapa kak..?" ucap Melisa melihat makanan di kursi kosong,padahal Kumala Sari duduk di kursi itu.Namun Melisa tak dapat melihatnya.
" Untuk kanjeng ratu.." ucapku pelan.
Kumala Sari segera menyerap sari pati makanan tersebut.
Kupikir makhluk halus seperti dia gak makan,ternyata makan juga. Tapi hanya sari patinya saja.
Di saat makan,para istriku membuka cadarnya,sehingga nampak wajah cantik di balik cadar.
Di meja sebelah di tempati 3 orang pemuda. Mereka menatap istriku yang sedang makan.
Aku gak mempermasalahkan,yang penting tidak mengganggu.
Selesai makan,kami istirahat sebentar,agar makanan yang kami makan turun. Setelah itu kami lanjut lagi menuju wahana bermain.
Lalu lanjut ke wahana bermain. Barang belanjaan di titipkan ke pengawal.
Melisa menghampiriku setelah membeli koin permainan.
" Kak...Main capit yook.." ucap Melisa.
" Hemmm...Sebentar..."
" Cantik..Bisa gak,cantik bantu istriku bermain,dia ingin mengambil hadiah permainan itu..?" ucapku.
" Bisa suamiku.." ucap Kumala Sari.
" Mel...Kamu di temani sama kanjeng ratu ya.." ucapku pelan.
" Emangnya kanjeng ratu paham permainan itu kak.." ucap Melisa pelan.
" Ayoo kita coba dulu.."
Ku berjalan salah satu permaian capit,Melisa masukkan koin lalu menggerakkan tuas ,lalu menekan tombol. Tuas jepit itu pun turun.
" Sayang tahan benda yang di capit itu.."
Kumala Sari menuruti ucapanku.
Capit itu naik ke atas menahan sebuah boneka.Lalu bergerak ke arah semula.
" Sekarang lepaskan.." ucapku pelan.
Kumala Sari melepaskan boneka tersebut.
" Terima kasih kanjeng ratu" ucap Melisa pelan.
Setelah puas bermain mesin jepit,Melisa kini bermain permainan ngedance.
Nampak Melisa meliuk - liukkan tubuhnya sambil menginjak papan tombol bergambar anak panah.
Ayu melihat Melisa menari juga gak mau kalah,Ayu memasukkan koin,lalu ia pun bergerak sesuai gambar anak panah yang muncul di layar.
Pengunjung yang dekat dengan permainan itu lantas melihat Melisa dan Ayu saling menunjukkan kebolehannya. Untungnya mereka memakai celana panjang,sehingga mereka bebas bergerak.
" Jika gak pakai jilbab,pasti banyak pemuda yang melihatnya bisa jadi meraka naksir lalu mendekati istriku." ucapku dalam hati.
Setelah musiknya berhenti,mereka berhenti bermain.
" Kak Ayu jago juga ya.." ucap Melisa.
" Dulu aku sering bermain saat di jepang.." ucap Ayu lalu mengambil minuman,setelah itu hendak minum.
" Yomesan..Kalau minum duduk ya sayang.." ucapku saat melihat Ayu hendak minum.
" Lupa shujin.." ucap Ayu.Lalu duduk jongkok,kemudian minum.
Tak lama kemudian kami memutuskan untuk pulang.
Di saat berjalan Diana berkata" Bi...Mau beli hape apa enggak?"
" Hapeku masih bagus mi.."ucapku.
" Pakai BB aja bi...Biar enak kalau kirim pesan.." ucap Diana.
" Gak usah mi..."
Ku keluarkan hape Nokiaku.
" Ini saja sudah cukup.." ucapku. Lalu mengantongi lagi.
Aku masih setia dengan ponselku ini,di samping masih berfungsi semua,kameranya jernih,terus jika mendengarkan musik pakai headset suaranya ngebas.
" Oh iya...Nanti aku mau ke rumah orang tua Laura.." ucapku.
" Laura itu siapa mas?" ucap Sulis.
" Nanti di rumah ku kasih tahu Lis..Siapa itu Laura.." ucap Diana.
Setelah sampai di rumah.
Kami pun bersiap - siap untuk shalat Ashar.
Selesai Shalat Ashar,aku hendak pergi kerumah orang tua Laura memakai sepeda motor. Sebab aku sudah janji untuk memberikan uang. Ku pakai jaket yang ku beli dari Mall. Saat ini aku berada di dalam kamar Sulis.
" Kenapa gak besok saja mas..?" ucap Sulis.
" Aku sudah janji,aku gak mau menunda janjiku sayang.. "
" Besok kan rencananya kita pergi ke pantai,besok lagi aku pergi ke Sragen..Takut gak sempat dan lupa.."
" Jika lupa,aku takut nanti di akhirat di tagih sama Laura" ucapku.
" Nah...Laura itu siapa mas?" ucap Sulis.
" Laura itu hantu yang ku temui di rumah sakit.." ucapku.
" Hantu??" ucap Sulis.
" Iya..Ya sudah..Aku berangkat dulu ya sayang,biar cepat pulangnya.." ucapku.
" Iya mas..." ucap Sulis.
Ku sodorkan tanganku,Sulis menyambut tanganku,ia mencium punggung tanganku. Lalu ku cium kening Sulis.
" Ku berangkat dulu..Assalam mu' alaikum.." ucapku.
" Wa'alaikum salam.." ucap Sulis.
Ku berjalan menuju garasi kendaraan. Setelah sampai aku bingung mau pilih yang mana,pakai mobil takut terjebak macet,lalu ku lihat sepeda motor. Ada Harley Davidson,Supra,RX King.
Motor RX King indentik dengan tindak kriminal yaitu jambret,sebab saat beraksi bisa berakselerasi sangat cepat,tak ada tandingannya pada saat zaman itu. Namun,berkembangnya teknologi,kini ada yang bisa menyamai kendaraan RX King, bahkan RX King saja kalah.
Ku putuskan untuk mengendarai motor RX King,karena aku penasaran,bagaimana rasanya mengendarai motor tersebut.
Ku ambil kunci,lalu ku periksa BBMnya. Ternyata masih full,ku nyalakan saja sepeda motor itu. Saat ku lihat spedometernya. Woow, Ternyata gak sampai seratus kilometer. Berati motor ini jarang di pakai semenjak di beli.
Ku biarkan selama kurang lebih 5 menit,
Bimo datang menghampiriku.
" Arep nangdi kowe Bay?" ucap Bimo.( Mau kemana kamu Bay)
" Arep ngendangi wong tuane Laura Bim..." ucapku.( Mau menjenguk orang tuanya Laura Bim).
" Lapo gak sesuk wae.." ucap Bimo.( Kenapa gak besok saja)
Ku naik sepeda motor RX King bewarna merah tersebut.
" Besok aku ada perlu Bim..Takut gak sempat"
" Assalam mu'alaikum... ucapku lalu ku jalankan motor itu.
" Wa'alaikum salam...Ati - ati.." ucap Bimo.
" Yoo..." ucapku.
Suaranya berisik juga,terus aku gas poll saat keluar dari pagar rumah. Ban depan terangkat saat ku tarik gas. Ku seimbangkan motor itu agar gak jatuh. Kalau jatuh kan sayang motornya lecet,kalau aku seh gak masalah,gak bakalan lecet,paling pakaianku robek. Kemudian aku jalankan motor itu secata normal.
Di dalam perjalanan,ku lihat matahari mulai istirahat setelah seharian bekerja menyinari bumi. Ku putuskan mencari mesjid.
Kulihat ada menara mesjid,ku putuskan untuk ke mesjid itu saja. Istriku tentunya akan berjamaah,teman - temanku akan menjadi imam. Sehingga aku gak perlu khawatir. Toh mereka juga sudah terbiasa menjadi imam,gimana gak terbiasa,setiap saat selalu mereka ku jadikan imam agar mereka nanti terbiasa saat sudah berumah tangga.
Ku parkirkan si King di tempat khusus sepeda motor,lalu ku pasang kunci pengamanan tambahan berupa gembok,agar tidak di hilang. Setelah itu ku berjalan ke mesjid dan mencari tempat wudhu. Setelah sampai ku lepas masker dan jaketku,lalu ku berwudhu.
Selesai wudhu ku berjalan masuk ke dalam mesjid sambil memakai masker lalu memamakai jaket,tak lupa tudung jaketku ku pakai.
Sesampai di dalam mesjid,ku pilih barisan paling depan. Kata gus Syaifudin seh bila shalat berada barisan paling depan,maka pahalanya akan lebih banyak daripada barisan belakang. Benar enggaknya aku gak tahu.
Seseorang berdiri di depan mic,awalnya aku mau shalat tahiyatul mesjid gak jadi shalat,jadi ku putuskan berdiri saja menunggu adzan di kumandangkan.
Adzan magrib pun berkumandang.
Seseorang berdiri di sampingku,lalu ku menoleh ke samping.
" Eh....!!???Aku terkejut melihat pria yang di sampingku. Rupanya pria itu adalah ayah kandungku, lalu ku melihat ke depan. Untung saja ku pakai masker dan tudung jaket,sehingga ayahku tak menyadari bahwa ini aku. Sebenarnya aku juga kengen ingin bertemu. Tapi karena dia meninggalkan ibuku,jadi aku enggan untuk bertemu.
" Kok dia di sini ya..Apa dia mengikutiku. ." ucaplu dalam hati.
Selesai adzan berkumandang,ku melakukan shalat sunnah. Sementara ayahku.Ayahku duduk sembari menunggu iqomat.
Selesai shalat magrib,seperti biasa,aku bersalaman ke orang di sampingku.
Saat ku bersalaman dengan ayahku,ku mencium punggung tangan tangannya.
Selesai ku wirid dan berdo'a, ku segera berdiri lalu berjalan keluar.
" Tunggu pak..." ucap ayahku.
Ku menghentikan langkahku,lalu menoleh ke ayahku, ayahku berdiri di depanku
Ku berpikir apakah dia mengenaliku,tapi kok manggil bapak.
" Apakah kita pernah bertemu.." ucap ayahku.
Syukurlah dia tak mengenaliku,jadi aku aman.
Sebenarnya aku tak ingin bicara,namun aku mengingat ada sebuah hadits yang menyebutkan tidak boleh mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari. Mau gak mau aku bersuara,namun ku rubah suaralu agar ayahku tak memgenaliku,jika memakai suara asli. Maka ayahku bisa saja mengenali aku.
" Pernah pak.." ucapku.
" Di mana?" ucap ayahku.
" Di jalan pak.."
Tiba - tiba hapeku bergetar panjang. Ku membiarkan saja,Ku berniat nanti akan menelpon balik jika ayahku sudah pergi.
" Saya duluan ya pak.." ucapku tak ingin berlama - lama mengobrol. Jika kelamaan mengobrol bisa kemalaman pulangnya
" Tunggu sebentat.. Saya minta 5 menit saja pak.." ucap ayahku.
" Baiklah...Ada apa pak..?" ucapku
" Mengapa tadi anda mencium tanganku?" ucap ayahku.
Hapeku sudah tidak bergetar lagi.
"Sudah kebiasaan saya pak,mencium tangan orang yang sudah tua.." ucapku.
Hapeku kembali bergetar panjang. Aku takut itu penting.
Ayahku mengamati wajahku.
" Ooo...Begitu.."
" Baiklah...Terima kasih atas waktunya pak.." ucap ayahku.
" Sama - sama pak.." ucapku
Nampak nama ibuku muncul. Ku segera menerima panggilan tersebut agar tak mati.
" Assalam mu'alaikum...Sayang ada di mana?" suara ibuku.
" Wa'alaikum salam bu...Bayu lagi di mesjid bu.." ucapku memakai suara asliku.
" Bayuuuu..." suara ayahku..
Aku membalikkan badan,ku melihat ayahku berada 2 meter dariku.
Ku berpikir dia lewat pintu lain,sebab banyak pintu keluar.
Ayahku segera mendekatiku lalu memelukku.
" Nanti pulangnya tolong belikan pembalut ya sayang.." suara ibuku.
" Iya bu.." ucapku.
" Assalam mu'alaikum.." suara ibuku.
Ayahku melepas pelukannnya. Nampak airmatanya keluar membasahi pipinya.
" Wa'alaikum salam bu.." ucapku.
Ku tekan tombol mematikan panggilan,lalu mengantongi hapeku.
" Kenapa kamu menghindari ayah nak..?"
" Ayah tahu,ayah salah... Apakah kamu belum juga memaafkan ayah?"
" Mengapa nomormu gak bisa ayah hubungi.." ucap ayahku.
" Maafkan Bayu ayah..Bukannya Bayu menghindari ayah.."
" Bayu mendapat musibah dan banyak masalah,sampai - sampai nomor Bayu hangus.." ucapku.
" Masalah apa nak? Coba kamu ceritakan,siapa tahu ayah bisa membantumu" ucap ayahku.
" Bayu sempat hilang ingatan ayah..Dan .." ucapku.
" Hilang ingatan..??" ucap ayahku.
" Iya...Bayu hilang ingatan,setahun lebih Bayu hilang ingatan,lalu bulan yang lalu,ingatan Bayu kembali..."
Ayahku memelukku. Ku balas pelukannya.
" Maafkan Bayu ayah..." ucapku.
" Iya nak...Ayah memaafkanmu. Tolong maafin ayah ya nak.." ucap ayahku.
" Bayu sudah maafin kesalahan ayah." ucapku lalu melepas pelukan,begitu juga dengan ayahku.
Ayahku duduk di lantai,aku pun ikut duduk sebelum ayahku memintanya. Masa iya orang tua duduk,lantas anaknya berdiri di depan orang tua,ya gak sopan.
" Kenapa kamu bisa hilang ingatan nak?" ucap ayahku.
" Kecelakaan ayah..." ucapku.
Aku gak mau memberi tahu secara detail memgenai musibah yang aku alami.
" Kamu keluar bersama siapa?" ucap ayahku.
" Sendirian aja ayah..Soalnya Bayu ada perlu. Setelah itu pulang.." ucapku.
" Apakah kamu masih tinggal di Golden Hills nak?" ucap ayahku.
" Sementara masih yaaah..."
" Mungkin beberapa bulan lagi pindah.." ucapku.
" Pindah? Kenapa pindah nak? Apakah mereka mengusirmu? Jika iya,tinggallah bersama ayah.." ucap ayahku.
" Mereka tidak mengusir Bayu ayaaaah.."
" Hanya saja,Bayu ingin hidup sederhana. Agar kelak anak - anak Bayu tumbuh secara mandiri dan tak terlena oleh harta dunia." ucapku.
" Oh iya...Kamu kecelakaan apa nak,sehingga membuatmu lupa ingatan?" ucap ayahku.
" Sebentar yaah..."
Ku ingat lagi saat peristiwa pembantaian hingga aku di temukan oleh orang tua bernama Anming.
" Kepala Bayu terbentur sesuatu..Terus pandangan Bayu gelap.." ucapku.
Meskipun aku kebal senjata,tapi jika mengenai titik yang vital aku bisa mati saat itu,terbukti saat ledakan,ada benda mengenai kepala bagian belakang,di mana ada banyak titif saraf di situ.
" Terus,apakah kamu lupa semuanya atau hanya lupa sebagian saja.?" ucap ayahku.
" Lupa semuanya ayah,baik itu ibu,teman - teman,keluarga,mata pelajaran..."
" Yang Bayu ingat ya bahasa jawa,bahasa indonesia terus sama umpatan..." ucapku.
" Pantas saja keluargamu menutupi tentangmu nak.."
"Oh iya... Bagaiamana kabar ibumu..?" ucap ayahku.
" Alhamdulilah sehat ayah.." ucapku.
" Apakah ibumu telah menikah lagi?" ucap ayahku.
" Sepertinya ayahku ingin kembali kepada ibuku," ucapku dalam hati.
" Belum yah...Masih sendiri seperti dulu.." ucapku.
" Kamu mau gak menemani ayah makan malam?"
" Ayah belum ada makan..." ucap ayahku.
" Asem...Bisa lama neh. Tapi..."
" Jika gak ku turuti nanti dia sedih.." ucapku dalam hati.
" Bayu naik motor yah.." ucapku.
" Kamu naik mobil aja bersama ayah,biar motormu di bawa sama pengawalku.." ucap ayahku.
" Bentar yah...Bayu telpon ibu dulu,takutnya Bayu di tungguin.." ucapku.
" Iya..." ucap ayahku.
Ku ambil hapeku lalu menghubungi ibuku.
Tuuuut....Tuuuut....Tuuuut....Tuuut...
Tuuuut....Tuuuut....Tuuuut....Tuuut...
Ku matikan panggilan,lalu menelpon lagi.
Tuuuut....Tuuuut....Tuuuut....Tuuut...
Tuuuut....Tuuuut....Tuuuut....Tuuut...
" Sepertinya ibuku meninggalkan hapenya di kamar.." ucapku dalam hati sambil mematikan panggilan.
Ku cari kontak Sulis.
Tuuuut....Tuuuut....Tuuuut....Tuuut...
Tuuuut....Tuuuut....Tuuuut....Tuuut...
Ku matikan panggilan.Lalu menghubungi lagi.
Tuuuut....Tuuuut....Tuuuut....Tuuut...
" Aseeem...Kok gak diangkat seh.." ucapku dalam hati.
Tuuuut....Tuuuut....Tuuuut....Tuuut...
Ku matikan panggilan,lalu menghubungi Bimo.
Tuuuut....Tuuuut....Tuuuut....Tuuut...
" Hallloo...." suara Bimo.
" Assalam mu'alaikum Bim,ini aku Bayu.." ucapku.
" Wa'alaikum salam ..Ono opo Bay..?" suara Bimo.
" Awakmu nangdi sak iki?" ucapku. ( Dirimu sekarang ada di mana).
" Ndek kamar aku.." suara Bimo.
" Tolong beri tahu ibuku sama istri - istriku"
" Aku pulangnya mungkin agak telat,soalnya ayahku ngajakin makan malam.." ucapku.
" Iyooo..."
" Eh...Ayahhe sopo Bay?" suara Bimo.
" Ayahku Bimo...Seng disek ora tak anggep kuwi loh.." ucapku.( Yang dulu tidak ku anggap itu loh..)
" Oalah....Iyo yoo.." suara Bimo.
" Yo wes...Assalam mu'alaikum.." ucapku.
" Wa'alaikum salam..." suara Bimo.
Ku matikan panggilan,lalu mengantongi hapeku di kantong jaket.
" Ayoo..." ucap ayahku lalu berdiri.
Aku berdiri,lalu kami berjalan keluar.
Sesampai di luar,kulihat 2 pria ada di dekat mobil.
" Berikan kunci motormu pada dia.."
Ku ambil kunci motorku,lalu kuberikan pada pria tersebut.
" Kamu bawa motor anakku,lalu ikuti kami.." ucap ayahku.
" Siap pak..."
" Motornya motor apa mas...?" ucap pria itu.
" RX King pak.."
" Itu ada kunci gemboknya,jadi buka dulu gemboknya.." ucapku.
" Okee...." ucap pria itu lalu berjalan.
Pintu di bukakan oleh pria satunya.
" Masuklah dulu.." ucap ayahku.
Aku pun masuk ke dalam mobil. Lalu pria itu menutup pintu.Ku lihat ayahku berjalan ke sisi sebelahnya,lalu membuka pintu,kemudian masuk tak lupa menutup pintu kembali.
" Kamu suka motor jadul Bay..?" ucap ayahku.
" Heeemmm...Pengen aja seh yah.."
" Soalnya mau naik mobil nanti kena macet gak bisa gerak bebas..Lalu Bayu lihat ada motor RX King ya Bayu pakai saja,sekalian pengen ngerasain tarikannya gimana.." ucapku.
Mobil pun berjalan perlahan.
" Kok kamu keluar sendirian?" ucap ayahku.
" Bayu ada perlu yah..Mau menjalankan amanah.."
Hapeku bergetar panjang lalu ku ambil,nampak Sulis yang menelpon,
" Maaf yah...Bayu terima telpon duku.." ucapku.
" Iya.." ucap ayahku.
ku tekan tombol terima.
" Assalam mu'alaikum sayang.." ucapku.
" Wa'alaikum salam masku sayang..Maaf tadi aku ke kamar mandi. Ada apa mas?" suara Sulis.
" Begini...Aku bertemu dengan ayahku,mungkin agak malam pulangnya.." ucapku.
" Ayah...Ã’m Agus kah mas.." suara Sulis.
" Iya...Beri tahu ibu juga ya sayang.." ucapku.
" Iya mas..." suara Sulis.
" Assalam mu'alaikum..." ucapku.
" Wa'alaikum salam..." suara Sulis.
Ku tekan tombol matikan panggilan.
Suasana hening,tak ada obrolan. Hingga sampai di warung makan Padang. Ayahku memesan makanan.
Aku duduk menghadap ayahku.
" Minum apa nak?" ucap ayahku.
" Teh hangat yah.." ucapku.
Tak lama kemudian.
" Bagaimana kabar Putri?" ucap Agus.
" Berarti ayahku gak tahu kematian Putri.Atau dia sudah tahu.." ucapku dalam hati.
" Putri telah tiada ayah.." ucapku.
" Innalilahi..."
" Kapan meninggalnya?" ucap ayahku.
" Heemm.... setahun lebih yah.." ucapku.
" Ayah barusan dari rumah pamanmu..Johan."
" Lalu mampir ke mesjid karena sebentar lagi mau magrib.." ucap ayahku.
" Oalah...Kirain dia mengikutiku.." ucapku dalam hati.
" Ayah bingung.." ucap ayahku.
" Bingung kenapa ayah.." ucapku.
(Note: Author lupa nama ibunya Alvin. Mau cari di cerita sebelumnya gak ketemu - ketemu. Anggap saja nama ibunya Alvin itu bernama Lesti).
" Itu istrinya pamanmu..Bibi Lesti.."
" Dia menghilang secara misterius.." ucap ayahku.
" Baguslah kalau dia menghilang yah...Orang seperti dia gak pantas ada di dunia ini.." ucapku.
Huuuuft... Ayahku menghela nafas.
" Ayah tahu.. Bibi Lesti telah menyakiti perasaanmu juga ibumu..."
" Ayah bingung... Mau cari kemana.."
" Dia menghilang dari rumah tanpa di ketahui,bahkan rekaman CCTV gak memperlihatkan bahwa dia keluar rumah.." ucap ayahku.
" Bayu gak mau bahas dia ayah..
" Mau dia menghilang kek,mati gantung diri kek, Selingkuh kek.....Bayu gak ngurus dan gak peduli..."ucapku.
" Ya sudah...Kita bahas yang lain.."
" Bagaimana kuliahmu nak..?" ucap ayahku.
" Bayu berhenti kuliah yah..." ucapku.
.
.
.
BERSAMBUNG.