
Pagi hari.
Ku berada di halaman samping,menggerakan seluruh tubuh untuk berlatih bela diri setelah berlari keliling rumahku.
Satu hal dalam larangan dalam keluarga Han,yakni mengekspos foto keluarga di media sosial. Jangan mereka,para wartawan aja gak boleh meliput. Jika meliput tentang keluarga Han tanpa Izin,maka keluarga Han akan menutup tempat usaha mereka selamanya.
Ku lihat Sulis berjalan bersama Melisa datang menghampiriku.
" Mas..." ucap Sulis.
Kutarik nafas lalu menghembuskannya sambil menggerakkan kedua tanganku dari dada ke bawah.
" Iya..." ucapku.
" Aku ikut ya nanti ke kuburannya Putri.." ucap Sulis.
" Iya sayang..." ucapku.
Ku teringat akan prajurit Kumala Sari yang hingga kini belum menemuiku. Padahal Sebastian sudah di temukan.
" Apa jangan - jangan terjadi sesuatu..?" ucapku dalam hati.
Ku putuskan untuk memanggil Kumala Sari,Karena aku sangat mencemaskannya. Meskipun mereka bukanlah manusia. Tapi aku sebagai raja mereka,di dunia ini tak hanya mereka saja. Bisa jadi ada penguasa lain yang sedang berkeliaran lalu menemukan mereka,terus di tangkap. Kan bisa berabe.
" Kumala Sari...Cantik...Datanglah..." ucapku.
" Kenapa mas manggil dia..?" ucap Sulis.
" Aku ada perlu sayang..."
" Kumala Sari..." ucapku.
Tiba - tiba muncul Kumala Sari di dekatku.
" Assalam mu'alaikum sayang...Ada apa sayang memanggilku.." ucap Kumala Sari.
" Wa'alaikum salam warahmatullah..Maaf cantik.."
" Orang yang ku cari sudah di temukan..Aku khawatir jika prajurit kenapa - kenapa.." ucapku.
Ku lihat Kumala Sari menggerakkan bibirnya,seperti membaca mantra.
" Kak...Apakah dia sudah datang..?" ucap Melisa.
" Sudah Mel.." ucapku.
" Apakah tadi itu dia mengucapkan salam seperti kita mas?" ucap Sulis.
" Dia sudah masuk islam..." ucapku.
Muncul semua prajurit Kumala Sari beserta Laura. Lalu mereka memberi hormat kemudian berdiri.
" Serius mas..." ucap Sulis.
" Iya...Aku serius.."
" Maaf semua...Terima kasih telah membantuku..Orang yang aku cari sudah di temukan..." ucapku.
" Yaaaa....Gue gak dapat uang neh bang..." ucap Laura.
" Aku akan memberi orang tuamu uang Laura.Jadi,kamu gak usah kecewa ya." ucapku.
" Laura ada di sini kak?" ucap Melisa.
" Iya mel..." ucapku.
" Terima kasih bang...."ucap Laura.
Para prajurit menghilang.
" Siapa yang menemukannya sayang?" ucap Kumala Sari.
" Polisi cantik...Sebab sebelumnya.sudah ku pancing,salah satu dari mereka sudah ku temukan,lalu aku mencari yang lainnya.." ucapku.
" Apakah aku boleh ikut bersamamu..?" ucap Kumala Sari.
" Ikut kemana?" ucapku.
" Kemana saja..." ucap Kumala Sari.
" Boleh..Tapi jangan ikuti aku saat aku mandi dan buang hajat "ucapku.
Jika Kumala Sari ikut pas aku lagi BAB atai BAK yang ada aku gak jadi boker atau pipis. Masa iya boker di lihatin sama cewek,meskipun dia bukan manusia,tapi aku malu lah.
" Baiklah.." ucap Kumala Sari.
" Aku mau mandi dulu..." ucapku.
30 menit kemudian.
Aku sudah siap menuju makam tempat Putri di kuburkan. Saat ini lu duduk di kursi sofa ruang tamu menunggu istri - istriku yang akan ikut bersamaku.
Kumala Sari duduk di sampingku.
" Oh iya...Bagaimana caranya agar aku bisa merasakan panas dan dingin cantik?" ucapku.
" Gampang,tapi itu sangat berisiko jika sayang yak memakai pelindung.." ucap Kumala Sari.
" Aku akan mengambil ilmu yang aku berikan kepadamu suamiku.." ucap Kumala Sari.
" Oalah...Begitu..Aku pikir - pikir dulu deh.." ucapku.
Jika di ambil,otomatis kemungkinan aku gak bisa bernafas dalam air lagi. Tapi aku ingin merasakan hawa panas dan dingin seperti manusia normal.
Ku lihat jam tanganku.
Buset... Istriku lama banget dandannya. Padahal gak dandan aja cantik gitu.
Muncul Melisa bersama Sulis dan Aisyah. Lalu Ayu dan Diana.
" Gak ada yang ketinggalan kan?" ucapku memastikan.
" Gak ada bi.." ucap Diana.
" Gak ada kak..." ucap Melisa.
Ku berdiri lalu berjalan ke luar sambil memakai masker,tak lupa kacamata. Ku naikkan tudung jaket,agar penampilanku gak di kenal oleh orang lain.
****
Tempat Pemakaman Umum
Kami tiba di TPU,lalu keluar dari mobil. Karena aku gak tahu lokasinya,jadi aku mengikuti Ayu dan Diana yang hapal tempatnya. Kumala Sari juga ikut bersama kami.
Saat berjalan ku ucapkan salam" Assalâmu‘alaikum dâra qaumin mu’minîn wa atâkum mâ tû‘adûn ghadan mu’ajjalûn, wa innâ insyâ-Allâhu bikum lâhiqûn"
Yang artinya Artinya: Assalamu’alaikum, hai tempat bersemayam kaum mukmin. Telah datang kepada kalian janji Tuhan yang sempat ditangguhkan besok, dan kami insyaallah akan menyusul kalian).
Ku berjalan sambil melihat sekeliling.
Tiba - tiba hapeku berdering,ku ambil hapeku dan mengeceknya. Rupanya pengawal yang menjaga rumah ibumu di Sragen menelponku.
" Assalam mu'alaikum... " ucapku.
" Wa'alaikum salam...Maaf ganggu pak.." suara pria.
" Ada apa pak?" ucapku.
" Itu pak Yudi pak..Dia ingin bapak hadir dalam acara rapat.." suara pria.
" Kapan rapatnya?" ucapku.
" Besok malam pak" suara pria.
" Ya kasih tahu aja pak..Aku masih ada perlu di Jakarta.." ucapku.
" Sudah pak...Tapi dia ingin anda datang pak.." suara pria.
" Begini saja...Sampeyan aja yang datang sebagai wakilku..." ucap.
" Baik pak...Sama satu lagi.."
" Kemarin ada ibu - ibu datang mencari anda pak..Terus saya sudah beritahu bahwa anda tidak di rumah. Ibu itu sudah 2 kali datang pak.." suara pria.
Ku sampai di tempat,di mana Putri di makamkan.
" Insya Allah 2 Minggu paling lambat saya pulang pak..Sudah dulu ya pak..Assalam mu'alaikum..." ucapku.
" Wa'alaikum salam..." suara Pria.
Ku matikan panggilan lalu mengantongi hapeku.
Ku tatap batu nisan,terukir nama lengkap Putri,lengkap tanggal lahir dan tanggal kematian. Tal terasa air mataku keluar. Orang yang selama ini aku cintai setelah ibuku pergi meninggalkan diriku.
Ku duduk jongkok,lalu memegang batu nisan tersebut. Lalu menaburkan bunga yang di berikan oleh pengawal.
Terbayang akan wajah dan senyum Putri ketika saat aku masih bersamanya.Hingga air mataku keluar. Bagaimana tidak keluar air mataku,wanita yang aku cintai pergi untuk selama - lamanya. Gadis yang dulu bertemu saat MOS,hingga Putri sering tidur di rumahku jika hari hari libur. Nyesek rasanya di dadaku.Ingin sekali aku memarahi sang maha pencipta,mengapa kekasih hatiku di ambil. Memgapa tidak aku saja. Tapi apalah dayaku,aku hanya seorang hamba.
" Assalam mu'alaikum dek.."
" Maafkan mas baru bisa datang..."
" Mas malu jika pelakunya belum tertangkap.."
" Mereka kini sudah tertangkap semuanya..."
" Mas akan membalas perbuatan mereka padamu dek.."
" Mas memaafkanmu atas dosa yang kamu perbuat padaku.."
" Semoga Allah mempertemukan kita di surga ya sayang..." ucapku.
Kemudian ku membacakan do'a untuk Putri.
Selesai berdo'a,ku berdiri.
Diana menaburkan bunga ke pusara Putri.
" Apakah kak Putri ada di sini kak?" ucap Melisa.
" Gak ada Mel..."
" Bila orang sudah mati,maka alamnya berbeda dengan kita..." ucapku.
" Tapi kenapa Laura masih ada di sini kak? Kan Laura sudah meninggal." ucap Melisa.
" Aku gak tahu Mel..." ucapku.
" Coba aja kak Putri seperti Laura..Pasti Mel bisa mengobrol dengan kak Putri.." ucap Melisa.
Aku juga berharap seperti itu tapi apalah daya. Aku nanya manusia biasa.
" Yuk kita pulang..." ucapku.
" Bi...Kita ke Cafe dulu ya..Lama aku gak kesana.." ucap Diana.
" Hemmm...Ayoo.." ucapku.
Kita berjalan meninggalkan kuburan Putri menuju Cafe Mantan.
Setelah menempuh perjalanan,akhirnya kami oun sampai di Cafe. Lalu kita berjalan ke arah Cafe di dampingi para pengawal.
Para pekerja yang melihat kami terkejut,lalu mereka memberi hormat dengan cara membungkukkan setengah badannya. Meskioun para istriku memakai cadar,mereka tahu itu kami karena di dampingi pengawal.
" Apakah Fitri sudah datang?" ucap Diana.
" Sudah bu..." ucap wanita yang merupakan karyawan Cafe.
Ku lihat sekeliling,hanya ada beberapa pengunjung yang datang. Wajar aja seh jika hanya sedikit yang datang,karena belum jamnya istirahat orang kantoran.
Diana menghampiriku.
" Bi...Jagain Bintang dulu ya.." ucap Diana.
Ku ambil Bintang lalu menggendongnya.
Melisa,Sulis dan Aisyah duduk di salah satu meja. Lalu ku ikut duduk. Sementara Ayu dan Diana naik ke lantai atas,tempat di mana Fitri berada.
" Kalian kalau mau makan,makan aja..." ucapku.
" Iya kak..." ucap Melisa.
Mereka pun memesan makanan.
Muncul pelanggan yang merupakan mahasiswa. Aku tahu mereka mahasiswa karena di lihat dari seragamnya.
" Habib albi gak pesan?" ucap Aisyah.
" Aku puasa ...Kalian saja yang makan.." ucapku.
" Aiiiissh...Gak seru....Kak Bayu jangan puasa dong,masa kita aja yang makan..." ucap Melisa.
" Nanti kalau kita jalan - jalan..Barulah aku gak puasa sayang..."
Ku teringat jika Kumala Sari bisa makan,tapi hanya menghirup sari pati saja,seperti Laura.
" Oh iya...Aku pesan 1 ayam bakar utuh,dan ikan bakar.."ucapku.
" Tadi katanya mas puasa.." ucap Sulis.
" Bukan buatku sayang..." ucapku.
" Buat siapa kak?" ucap Melisa.
" Biasa..." ucapku.
" Biasa itu siapa mas?" ucap Sulis.
" Yang tadi pagi ku panggil itu loh.." ucapku.
" Oooo...Mbak cantik.." ucap Sulis.
Ku perhatikan Aisyah diam saja tak bicara sepatah katapun.
" Ya amar kenapa diam saja...Apa yang sayang pikirkan?" ucapku.
" Tak ade habib albi.." ucap Aisyah.
" Mau jenguk mereka,lalu memberikan mereka pelajaran,agar di kenang sepanjang hidupnya.." ucapku.
" Ikut kak..." ucap Melisa.
" Jangan sayang ." ucapku.
" Yaaaa...kakak..Mel juga pengen ikutan nonjokin mereka.." ucap Melisa.
"Gak usah ya Mel yang cantik...Aku gak mau istriku ikut dalam pelajaran olahraga ini.." ucapku.
Ku lihat sekeliling,nampak hanya beberapa meja yang kosong,sisanya terisi.
" Maaf ya habib albi..Saye nak ingin bertanya.." ucap Aisyah.
Ku lihat ke arah Aisyah.
" Mau tanya apa sayang?" ucapku.
" Mengapa mereka tega membunuh Putri?" ucap Aisyah.
" Di rumah saja aku akan bercerita.." ucapku.
Tak lama kemudian pesanan kami pun datang.
" Mel...Tolong ayam dan ikan ini taruh di situ.." ucapku lalu menunjuk.
Di meja juga tersedia choki - choki makanan kesukaanku,berhubung aku puasa,aku gak bisa makan.
Melisa mengambil lalu meletakkan makanan tersebut.
" Gak mas makan?" ucap Sulis.
" Ada yang memakan nanti..."
Ku lihat ke arah Kumala Sari.
" Silahkan..." ucapku.
" Terima kasih suamiku.." ucap Kumala Sari lalu duduk.
Ku lihat Kumala Sari menghirup aroma makanan tersebut.
Lalu ku lihat dari kejauhan Ayu dan Diana berjalan.
Setelah Kumala Sari selesai menyerap sari pati makanan tersebut,ia segera menyingkir,lalu Diana duduk di tempat Kumala Sari tadi.
Saat Diana mengambil dan memakan iman yang telah di serap sari patinya oleh Kumala Sari nampak bingung.
" Ini makanan kok rasanya hambar.." ucap Diana.
" Itu sudah di makan tadi yank..." ucapku.
" Laura?"ucap Diana.
" Bukan.." ucapku.
" Kalau bukan Laura,lalu siapa yank?" ucap Diana.
" Ratu cantik.." ucapku.
Aisyah ku lihat juga mencomot daging ikan itu lalu memakannya.
" Pantesan....Kenapa abi gak bilang..." ucap Diana.
" Umi gak bilang kok..."
Ku lihat jam tangan,40 menit lagi shalat Dzuhur.
" 40 menit lagi Dzuhur..." ucapku.
15 menit kemudian,terdengar suara lamtunan ayat - ayat suci Al Qur'an.
" Aku pergi dulu suamiku...Assalam mua'alaikum.." ucap Kumala Sari.
" Wa' alaikum salam warah matullah.." ucapku.
Setelah selesai makan,ku antar Ayu dan Diana ke ruang istirahat. Sementara aku beraama Melisa,Sulis dan Aisyah shalat di Mushalla.
Selesai shalat,ku menjaga Bintang dan Imam di temanin Aisyah dan Sulis.
" Mengapa tadi kita tak membayar habib albi?" ucap Aisyah.
" Ini Cafe,ku bangun bersama teman - teman..." ucapku.
" Boleh saye gendong Bintang..?" ucap Aisyah.
" Boleh...Monggo..." ucapku.
Aisyah meraih Bintang lalu menggendongnya.
" Habis ini kita kemana mas?" ucap Sulis.
" Pulang..." ucapku.
" Kirain mau ke Mall..." ucap Melisa.
" Bahas itu di rumah aja ya sayang...Janban di luar rumah.." ucapku.
Aku takut kejadiannya sama seperti waktu Putri yang membicarakan rencana bepergiannya di tempat umum.
***
Malam hari.
Aku bersama teman - teman pergi menuju markas pengawal memakai mobil Ingin memberi pelajaran kepada Sebastian dan komplotannya.
" Kita apakan mereka Bay?" ucap Daniel.
" Sebastian dan Nino atau Azis,kita buat lumpuh,lalu yang lain kita patahkan tulangnya.." ucapku.
Setiba di markas,kami turun lalu berjalan masuk ke dalam.
" Jika dalam persidangan,mereka di tuntut maksimal hukuman mati dan penjara seumur hidup Bay.." ucap Paijo.
" He eh...Aku tahu kang...Mereka telah merencanakan aksi tersebut. "
" Maka di dakwa pembunuhan berencana.." ucapku.
Sesampai di depan sel penjara,ku lihat Sebastian sedang duduk menyender tembok bersama yang lain,lalu melihat ke arah kami.
Ku buka kacamata dan maskerku.
" Sepandai - pandainya tupai melompat,pasti akan jatuh.."
" Sepandai - pandainya kamu bersembunyi dan merahasiakanya..Pasti akan terbongkar.." ucapku.
" Ciiih.... "
" Bagaimana rasanya kehilangan orang yang lu cintai" ucap Sebastian.
" Buka pintunya pak.." ucapku.
Seorang pengawal membuka pintu,sedangkan sisanya mengarahkan senjata laras panjang ke dalam sel.
Ku berjalan menuju Sebastian. Sebastian berdiri bersama Ronal.
Bimo dan yang lain masuk ke dalam sel.
Sebastian melangkahkan kakinya.
Darah dalam diriku mendidih,melihat pelaku utama yang membunuh kekasihku.
Segera saja ku kepalkan tanganku dengan erat.
Sebastian mengarahkan pukulan ke dadaku. Lalu tangkap tangan Sebastiang memakai tangan kiriku,lalu ku pukul wajahnya memakai tangan kanan.
Buuuggh... Buuuugh...
Kami melawan 1 orang,kecuali Bimo,ia menyerang 2 orang. Sebab kami hanya berlima saja.
Ku tendang Sebastian.
Buugh.....
Sebastian termundur hingga menabrak tembok.
Ku berjalan menghampiri Sebastian.Sebastian melayangkan tinju lagi .
Tap.... Pergelangan tangan ku tangkap,lalu dengan cepat ku pukul ketiaknya berulang kali.
Buughh....Buuggghhh...Buuughhh....
Lalu ku pukul sikutnya kuat - kuat.
Buuugggh....Kraaacck.....
"AAAAAKKKKHHHH......" teriak Sebastian.
Ku lepas tangan Sebastian,ku lihat Sebastian merintih kesakitan memegang tangan kanannya.
" Lemah..." ucapku.
Ku cengkram leher Sebastian memakai tangan kiri,lalu ku memukul perutnya.
Buuughhh....Buuughhh...Buuughh....Buuughh...
Buughhh...Buuughh...Buuughhh....Buugghhh...
Ku lepas cengkramanku.
Uhhuuuk....Uhhuuuk....Uuhuuuk....
Ku Lihat Sebastian batuk memgeluarkan darah.
" AAAAAAAAAAKKKKHH...."
" AAAAKKKKKHHH...."
Kulihat asal suara,ternyata Codet dan Tohir terkena ajaian tapak geni yang di lakukan oleh Lukman dan Daniel.
BRAAAAAKK...
Ku lihat Ronal membentur jeruji besi di hajar oleh Paijo.
Ku tatap Sebastian yang sedang merintih kesakitan sambil terduduk.
Ku injak lutut kaki kirinya kuat - kuat.
Buugghhh....Buugghh....Buuugghh.... Buugghhh...
Ku hentikan aksiku lalu duduk jongkok dan menatap Sebastian.
" Aku menyesal membiarkanmu hidup.."
" Aku akan memburu semua keluargamu,dan membunuh mereka semua.." ucapku.
Cuuiih..... Sebastian meludah kemukaku tapi ku halangi dengan telapak tanganku,sehingga ludahnya hanya mengenai telapak tangaku saja
" Bagaimana rasanya orang yang lu sayang di bunuh?"
" Lu marah kan?"
" Sama seperti yang gua rasakan...Lu telah membunuh ayah dan adik gue..." ucap Sebastian.
Perasaan aku gak ada bunuh bapak sama adiknya,kenapa dia bilang begitu ya.Yang ku ingat bahwa aku melukai ibunya Alvian,terus Vino burungnya di potong. Kok dia bilang aku bunuh bapak sama adiknya.
" Aku gak ada bunuh bapak sama adikmu.." ucapku.
" Ciiih...."
" Lu bego atau tolol seh..."
" Lu sudah melukai kakak Gua,bokap gua meninggal karena serangan jantung akibat perbuatan lu,dan adik gua mati bunuh diri karena kont***nya lu potong.." ucap Sebastian.
" Jancook.... Itu salah mereka sendiri."
" Jika kakakmu tidak menghina ibuku,aku gak akan melukainya.."
" Lalu bapakmu mati itu di bunuh oleh penyakitnya.."
" Dan untuk adikmu..Adikmu telah mengganggu keamanan keluarga Han..." ucapku.
" Lu sudah merampas kekayaan harta gua." ucap Sebastian.
Ku melihat sekeliling,komplotan Sebastian sudah terkapar di lantai merintih kesakitan di hajar teman - temanku. Mereka juga sangat marah terutama ke tiga sahabatku.
" Kita bunuh mereka yuk Bay..." ucap Daniel.
" Jangan dulu.."
Ku tatap Sebastian lagi.
" Apakah kakakmu ikut serta dalam rencanamu.." ucapku.
" Ha....Ha....Ha....Ha...Ha..."
" Meskipun lu bunuh gua... Maka keluarga lu akan tetap kita bunuh satu persatu.." ucap Sebastian.
Bajingan neh orang,sepertinya ibunya Alvian ikut dalam rencana ini. Ku putuskan untuk menghipnotis saja agar Sebastian mengakuinya.
Ku tatap matanya,lalu ku gunakan ilmu Hipnotisku.
Mata Sebastian sekilas bewarna hijau.
" Apakah ibumu Alvian juga ikut dalam rencanamu?" ucapku.
.
.
.
BERSAMBUNG