
Ku minta pengawal membelikan makanan ringan,minuman dan rokok untuk 4 tersangka,agar mereka tidak tegang sebelum mereka mendapat bogem mentah nanti. Rasa marah dslam.diriku aku tahan,sebab Sebastian belum tertangkap.
Mendengar dari pengakuan mereka,hanya Azis lah yang menaruh dendam kepadaku,karena bokapnya pernah ku bunuh. Sisanya membantu karena iming - imingan uang yang di tawarkan oleh Sebastian. Serta ada tersangka lainnya yang ikut serta dalam pembunuhan Putri,yakni seorang pria yang menghalang - halangi mobil pengawal,saat mengejar truk yang menyenggol mobil yang di tumpangi Putri.
Ku suruh Azis menelpon Sebastian,untuk mengatakan bahwa istriku mau liburan ke Bogor. Tak lupa juga ku beritahu ke kakek buyutku,bahwa Sebastian berada di Bandung dan juga supir truck yang menghalang - halangi dalam pengejaran. Kami di pisahkan oleh jeruji besi.
" Hallo bos..."
" Gue ada kabar bagus bos.."
" Codet mendapat info"
" Begini bos... Istri Bayu bersama teman - temannya akan liburan ke puncak.."
" Apakah kita lakukan lagi seperti waktu itu."
" Hemmm... Kata Codet seh 2 minggu lagi.."
" Selama seminggu mereka akan ke puncak.Jadi gimana bos."
" Untuk Bayu sendiri tidak kelihatan bos.."
" Yakin bos..."
"Ketemuan di mana bos"
" Oke.... Nanti gue hubungi yang lainnya..."
Azis meletakkan ponsel yang masih tercolok Charger.
" Dia bersama Erwin 2 hari lagi akan kemari dan kita di suruh ngumpul di tempat biasa." ucap Azis.
" Bagus..." ucapku,lalu mengambil ponsel milik Azis.
Dengan begini,mereka akan ku tangkap semuanya.
Tiba - tiba ponselku berdering nada panggil,ku rogoh kantong celana,lalu ku lihat nama Sambo yang menelpon,meskipun aku ganti nomor,kontak yang lama masih tersimpan di memori ponsel.
" Hallo.." ucapku.
" Halloo juga...Sombong amat lu..." suara Sambo.
" Sepurane kang...Aku asli sibuk.." ucapku.
" Alasan...Kemana aja lu? Gue tanya ke teman - teman lu semua jawabannya sama,gak tahu.." suara Sambo.
" Aku ada perlu kang...Dan itu bersifat rahasia.." ucapku.
" Besok...Adik gue ulang tahun...Gue mau lu datang kerumah gue.." suara Sambo.
" Insya Allah kang.." ucapku.
" Awas lu gak datang,gue akan ke rumah lu..." suara Sambo.
" Monggo..." ucapku.
" Lu sekarang kuliah di mana?" suara Sambo.
" Aku jadi pengacara kang.." ucapku.
" Serius? Kapan lu kuliah di bidang hukum?" suara Sambo.
" Pengangguran banyak acara kang..." ucapku.
" Anjeeeng...Kirain lu benar - benar jadi pengacara." suara Sambo.
" Ha....Ha...Ha...Ha...Ha...Ha..." ku tertawa.
" Ya sudah kalau gitu...Besok lu datang ya?" suara Sambo.
" Acaranya jam berapa?" ucapku.
" Oh iya,gua lupa.. Jam 2 acaranya..." suara Sambo.
"Ku pikir tengah malam acaranya kang" ucapku.
" Bajingan...Kalau tengah malam,siapa yang mau datang..." suara Sambo.
" Ya banyak kang,ada pocong,kuntil anak,Genderuwo.." ucapku.
" Bangkek lu...." suara Sambo.
" Tuyul..."
" Ha....Ha....Ha....Ha....Ha...Ha....Ha...."
" Insya Allah...Jika gak ada halangan,aku akan kesana.." ucapku.
" Oke...Gua tunggu.." suara Sambo.
Panggilan berakhir.
Kulihat jam di tanganku. Sejam lagi akan magrib.
Ku putuskan untuk pulang saja.
Sesampai di rumah, ku mandi di kamar Aisyah,sebab hari ini aku tidur bersama dia.
Ribet juga kalau punya banyak istri,haris pintar -pintar membagi waktu dan juga adil. Bila kuberi hadiah atau makanan ke Aisyah,yang lain harus ku belikan juga,agar tak ada kecemburuan sosial. Selesai ku mandi,ku pakai celana pendek,sarung kaos dalam dan baju muslim,tak lupa memakai songkok,ku lihat Aisyah masuk dalam kamar lalu menghampiriku sambil membawa teh Kotak untuk ku berbuka puasa dan botol mineral. Setslah itu ia meletakkan di meja dan menghampiriku,Aisyah mengancingkan baju muslim yang belum selesai ku kancing.
" Cantiknya istriku..." ucapku.
" Suamiku juga sangat tampan.." ucap Aisyah.
" Aku dah wudhu loh ya..." ucapku. Ku gak mau wudhu lagi,sebab sebentar lagi mau magrib.
Beruntungnya,madzab Aisyah sama denganku,yaitu imam Syafi'i.
" Iya...Saye tahu,habib albi nak makan apa?" ucap Aisyah.
" Yang biasa saja,yang penting ada sambalnya.." ucapku.
" Saye boleh cakap.." ucap Aisyah.
" Monggo..Arep ngomong opo.." ucapku.
" Saye tak paham bahasa jawa.." ucap Aisyah.
" Silahkan,mau ngomong bicara apa.." ucapku.
" Saye nak ingin refresing,penat bila di rumah terus..Jika tak boleh,tak ape..." ucap Aisyah.
" Tunggu seminggu lagi,kita akan jalan - jalan.."
" Hemm...Besok aku mau kerumah temanku,sambil menunggu tersangka utamanya datang.." ucapku.
" Siape yang datang?" ucap Aisyah.
" Sebastian...Dia pelaku utamanya..."
Ku lihat jam di tangan.
" 5 menit lagi magrib..."ucapku.
" Iyee.." ucap Aisyah.
Ku berjalan mengambil ke meja untuk teh Kotak dan botol Setelah itu berjalan ke ruang shalat. Sementara Aisyah masuk ke dalam kamar mandi untuk wudhu.
Sesampainya di ruang shalat,ku lihat kakek Naruto serta istrinya dan mbah buyutku ada di ruang shalat. Juga sudah ada teman - temanku.
Ku bersalaman tak lupa cium tangan,kecuali ke istri kakek Naruto.
" Bagaimana tadi Bayu,apakah semua sudah di tangkap?" ucap mbah buyutku.
" Belum mbah...Sisa Sebastian dan Ronal saja..2 Hari mereka akan ada di Depok.." ucapku.
" Depok? Depok mana?" ucap mbah buyut.
Aku pun memberi tahu alamatnya,sesuai ucapan Azis.
Lukman berdiri lalu Adzan.
" Alhamdulillah..."
Aku duduk,lalu membuka tutup botol.
" Bismillah..." ucapku,lalu meneguk air minum.
Gleek...Gleek...Gleek...
Kemudian meminum teh Kotak.
Selesai shalat Magrib,aku mengumpulkan istri - istriku di kamar Ayu.
" Setelah Sebastian tertangkap,kita akan jalan - jalan..?" ucapku.
" Kemana kak?" ucap Melisa.
" Enaknya ke mana?" ucapku.
" Ke pantai aja bi.." ucap Diana.
" Kebun binatang aja.." ucap Sulis.
" Mall aja kak..." ucap Melisa.
" Kalau ke Mall pasti mau di habisin lagi hadiahnya.." ucapku dalam hati.
" Aisyah..." ucapku.
" Saye ikut saje" ucap Aisyah.
" Yomesan?" ucapku.
" Ke Jepang.." ucap Ayu.
" Hemm..."
" Ini musim panas ya..." ucapku.
" Iya shujin..." ucap Ayu.
" Gimana kalau ke Jepangnya manti saja ya yomesan.."
" Takutnya Imam sama bintang kenapa - kenapa,tunggu umur mereka 5 tahun lah.." ucapku.
" Baiklah.." ucap Ayu.
" Namti kita ke pantai,lalu ke kebun binatang,setelah itu le Mall.."
" Selesai liburan,aku mau survei tempat yang akan di bangun rumah kita nanti.."
" Oh iya... Besok aku mau ke rumah temanku ucapku.
" Ke tempat siapa bi?" ucap Diana.
" Sambo.." ucapku.
" Abi mau ngapain di rumah Sambo?" ucap Diana.
" Tadi sore dia nelpon,terus ngundang aku di acara ultah adiknya.." ucapku.
" Kalau gak salah adiknya cewek ya bi?" ucap Diana.
" Iya..."
" Jika aku gak datang..Maka dia akan datang ke sini.." ucapku.
***
Pukul 20. 10.
Ku berjalan ke arah Balkon yang ada di lantai 2,tempat dimana biasa teman - temanku mengobrol sambil membawa segelas kopi susu.
Sesampai di Balkon,ku lihat hanya ada Bimo saja.
Ku duduk di samping Bimo.
" Endi rokokmu Bo..." ucapku. Karena aku ingin merokok.
Bimo mengeluarkan rokoknya. Ku ambil rokok Bimo lalu membakarnya.
Huuuuffftt....Asap keluar dari mulutku.
" Piye hubunganmu karo Clara..?" ucapku.
" Masih gitu - gitu aja Bay..Lom ada perubahan,malah papanya ngancam bila akhir bulan ini gak bisa,maka Clara akan di jodohkan sama pria lain.." ucap Bimo.
" Kenapa gak bilang ke aku " ucapku.
" Awakmu sibuk ngono...Piye arep ngomong.." ucap Bimo.
" Tahu rumah orang tuanya Clara?" ucapku.
" Ya tahulah.." ucap Bimo.
" Ya sudah,besok sore kita kerumah orang tua Clara.
" Heeeh....!!!..
" Mau ngapain Bay?" ucap Bimo.
" Mau bantuin awakmu lah,piye tooh..Gelem opo ora.." ucapku.
" Gak usah Bay..." ucap Bimo.
" Lapo gak usah..Kowe sudah gak suka lagi sama Clara..?" ucapku.
" Aku seneng banget sama Clara Bay...Nanging aku sadar..Aku iki sopo.."
" Aku uduk wong sugih..."
" Tur...Aku memakai ilmu semar mesem ke Clara.." ucap Bimo.
" Clara dah masuk islam loh.."
" Masa awakmu nyerah," ucapku.
" Papanya itu pengen banget kerja sama dengan perusahaan keluargamu.."
" Jarene ayah Ana,.."
" Dia gak ada minat untuk kerja sama." ucap Bimo.
Kasihan juga temanku ini. Aku akan menolongnya,dengan cara menghipnotisnya. Agar orang tuanya setuju.
Muncul Daniel bersama Lukman lalu duduk.
" Awakmu tenang wae...Besok kita kesana,setelah aku dari rumah Sambo.." ucapku.
" Gimana tadi Bay,wes mbok cekel kabeh pelakune?" ucap Lukman.
" Durung kabeh Man...Sisa Sebastian sama Ronal.,oha iya Niel.."
" Jadi kamu usaha alat pancing?" ucapku.
" Jadi lah Bay...Aku bangun 3 tingkat,2 untuk Toko,sisanya gudang dan tempat tidur.."
" Bapaknya Ayu juga mendukung..Dia akan memasok peralatan pancing." ucap Daniel.
" Baguslah..."
" Jangan mahal - mahal jualnya.." ucapku.
" Enggak lah... Aku akan memakai strategimu berdagang.."
Lukman melihat ke bawah.
" Koyok mobilnya kang Rahman.." ucap Lukman.
Ku berdiri lalu berjalan ke pagar.
Nampak sebuah mobil Terios warna hitam,lalu pak Arif dan istrinya keluar, di susul Rahman,Cintya,dan Annisa. Di belakangnya ada mobil pak H. Ridwan. Lalu pak H. Ridwan keluar dari mobil bersama istrinya.
" Assalam mua'alaikum..." suara pak Arif terdengar sampai di tempatku.
" Wa'alaikum salam..." ucapku di susul teman - temanku.
Aku duduk lalu membakar rokok lagi,karena rokok yang ku bakar habis begitu saja.
" Tumben nambah lagi rokokmu Bay.." ucap Daniel.
" He eh...Tadi cuman satu isepan aja..." ucapku.
Lalu meminum kopi susu.
" Kamu jadi tinggal di Pacitan Bay." ucap Lukman.
" Aku lom bisa mastikan,soalnya aku belum survei tempatnya."
" Jika cocok,aku pindah ke sana.."
" Tapi kalau gak cocok ya aku cari tempat yang lain.." ucapku.
Ku bakar ujung rokok sambil ku hisap,lalu ke hembuskan asap rokok.
Huuuufft... Asap keluar dari mulut dan hidung.
" Sebastian sudah di tangkap apa belum Bay..?" ucap Lukman.
" Belum...Tunggu 2 hari lagi..." ucapku.
Muncul Rahman bersama Paijo.
" Assalam mu'alaikum.." ucap Rahman.
" Wa'alaikum salam" ucapku.
Lalu ku bersalaman ke Rahman.
Selesai Rahman bersalaman,dia duduk di sampingku.
" Kamu kemana aja Bay..Setahun lebih menghilang.." ucap Rahman.
" Gak kemana kang..."
" Cuman aku ada misi rahasia.." ucapku.
" Koyok pasukan khusus wae pakai misi rahasia.." ucap Rahman.
" Ya begitulah..."
" Tumben gak nelpon kalau mau ke sini?ucapku.
Rahman mengeluarkan ponselnya.
" Nomormu piro?" ucap Rahman.
" Oh iyoo...Aku wes ganti nomor telpon yoo.." ucapku.
" Mangkane iku,aku maeng nelpon ibumu.."
" Oh iya,aku mau tanya..."
" Kang Ahmad meninggal kenapa Bay? Lalu kuburannya di mana?"ucap Rahman.
" Annisa gak kasih tahu?" ucapku.
" Dia aja gak tahu kok..Makanya aku nanyak kamu..."
" Katanya Annisa,kamu pergi ke China nyusul Sulis..." ucap Rahman.
" Pelan - pelan aja kang.." ucapku.
" Emange ono opo toh?" ucap Rahman pelan.
" Kang Ahmad meninggal di China,kuburannya di sana..Aku gak tahu persis.." ucapku pelan
" Kok iso..." ucap Rahman.
" Aku gak bisa kasih tahu Bay,keluargamu melarang kita memberi tahu. Jika ada yang tanya tentangmu,kita jawab gak tahu..." ucap Paijo.
" Tuh dengar tuh..." ucap Rahman.
" Ini semua berawal pas lebaran waktu itu di rumah pakdeku.."
" Aku dan Sulis di bawa ke alam ghaib tempatnya penguasa air terjun Kedung Pedut."
" Aku di sana mengira Sulis itu Putri,lalu ku berhungan badan hingga berulang kali."
" Setelah kejadian itu,Sulis nikah dengan kang Ahmad.."
" Sulis hamil,terus lahir Ayub"
" Sampeyan pernah dengar mengenai Ayub?" ucapku.
" Iya,bahkan aku menjenguk ke rumah sakit saat Sulis selesai melahirkan.." ucap Rahman.
" Ada yang berbuat jahat pada Sulis,lalu di bawa ke China,lalu aku bersama Daniel dan keluargaku menyelamatkan Sulis..."
" Kita berhasil menemukan Sulis dan kang Ahmad,cuman..."
" Kita gak bisa menemukan Ayub.." ucapku.
" Ooo....Begitu ta ceritanya..."
" Pantesan awakmu gak ono" ucap Rahman.
Untung dia gak tahu masalah mata Ayub,dan identitas Ayub. Berarti pihak keluarga pak H. Ridwan merahasiakan itu dari keluarga pak Arif.
" Tak pikir arep ngajakin mancing.." ucap Bimo.
" Bulan depan aja Bim..."
" Aku sibuk bulan ini" ucap Ranman lalu membakar rokoknya.
" Zahra kok gak ikut?" ucapku.
" Dia gak mau ikut.." ucap Rahman.
" Tumben..."
" Teris dia sama siapa di rumah..?" ucapku.
" Dia jaga toko..." ucap Rahman.
Lalu ku teringat ucapan mbah buyut,bahwa ia menempatkan seorang pengawal untuk menjaga keluarga pak H. Ridwan.
" Sebentar...Jangan ganggu aku.." ucapku lalu ku duduk bersila,dalam hati merapalkan ajian Rogoh Sukmo.
---***--
Rumah pak H. Ridwan.
Aku muncul di toko pak H. Ridwan. Ku melihat toko sudah tutup.
" Lah...Tutup,katanya jaga toko."
Kemana Zahra ya,kok nak ada. ku melesat ke ruang tamu.
Ku lihat ruang tamu gak ada,lalu lu dengar suara Pria di ruang keluarga.
Ku hampiri asal suara tersebut.
Setelah sampai,ku lihat Zahra tak memakai pakaian sama sekali,di hadapannya ada pria yang juga tak memakai pakaian. Dan pria itu menindih Zahra,batang milik pria itu di gesek - gesek di lubang Zahra.
" Jangan di masukin ya.." ucap Zahra.
" Enggak beb...Aku cuman gesek - gesek aja" pria itu
" Bajingaan...Siapa pria ini..." ucapku penasaran.
Ku tampar saja pantat pria itu agar pria itu berhenti.
Plaaak...
Pria itu terkejut,lalu menoleh ke belakang.
Ku pegang tangan pria itu lalu pria itu jatuh ke lantai.
" Kenapa beb..." ucap Zahra kebingungan.
Pria itu ketakutan.Lalu mengambil pakaiannya kemudian pergi.
Zahra nampak melongo saja.
" Beres..." ucapku.
Zahra mengejar pria itu. Namun tak menemukannya.
" Kenapa kamu begituan Zahra..."
" Kamu itu anaknya pak haji...Bila bapakmu tahu..Bisa di pukulin kamu nanti.." ucapku.
Zahra kembali,lalu memakai pakaiannya kembali.
Ku putuskan kembali saja ke ragaku.
---***---
Rumah Bayu.
Ku buka mataku,lalu melihat ke arah Rahman.
" Kang...Ikut aku sebentar.." ucapku.
" Kemana Bay?" ucap Rahman.
Aku berdiri lalu berjalan,ku lihat Rahman mengikuti.
Setelah agak menjauh dari teman - teman.
" Apakah Zahra sudah menikah?" ucapku lirih.
" Belum..Kenapa Bay?" ucap Rahman.
" Sial...Berarti tadi itu pacarnya.." ucapku dalam hati.
" Sampeyan kenal pacarnya Zahra?" ucapku pelan.
" Enggak,aku aja gak tahu,emang ada apa seh.." ucap Rahman.
" Aku lihat dia ngentu di ruang keluarga bersama pria.." ucapku pelan.
"Apaaaaa....!!!!"
" Serius Bay........" ucap Rahman.
" Pelan - pelan cook.." ucapku pelan.
" Kok kamu bisa tahu?"ucap Rahman pelan.
" Aku memakai ilmuku..."
" Tolong jaga adiknya Annisa..Dia masih polos.." ucapku.
" Iya Bay..." ucap Rahman.
" Dah itu saja yang ingin ku bicarakan ke sampeyan.." ucapku.
Aku berjalan ke lantai bawah menemui tamu yang datang. Sesampai di ruang tamu,aku bersalaman ke pak Arif tak lupa cium tangan,juga ke pak H. Ridawan. Sisanya ku tangkupkan kedua telapak tanganku. Lalu duduk di samping ibuku
" Lama gak kelihatan kemana saja Bay?" ucap pak Arif.
" Aku ada perlu pak..." ucapku.
Sedangkan pak H. Ridwan tak bertanya,sebab ia sudah tahu bahwa aku pergi ke China menyelamatkan Ahmad dan Sulis.
Rahman datang lalu duduk.
1 Jam kemudian.
Keluarga pak Arif bersama pak. H Ridwan berpamitan pulang.
Setelah Rahman sampai di rumah pak H. Ridwan.
Rahman mendatangi kamar Zahra.
Tok...Tok...Tok...
" Zahra..." ucap Rahman.
Tok....Tok....Tok...
" Sebentar bang..." suara Zahra.
Pintu kamar terbuka,nampak Zahra memakai pakaian tidur tipis tanpa jilbab.
" Aku tahu kamu tadi habis begituan kan sama pacarmu.." ucap Rahman.
"Eh....!!! Zahra terkejut.
" Enggak bang..." ucap Zahra.
" Ya sudah,aku mau bilang ke babe.." ucap Rahman.Lalu hendak pergi.
Zahra memegang tangan Rahman.
"Jangan bang..."
Rahman menoleh ke Zahra.
" Plisss...Jangan kasih tahu ke babe.." ucap Zahra.
" Berarti benar yang di katakan Bayu.." ucap Rahman dalam hati.
" Oke...Aku gak akan bilang ke babe..Tapi ada syaratnya.." ucap Rahman.
" Apa syaratnya bang?" ucap Zahra.
" Nanti aku kasih tahu.." ucap Rahman.
---***----
Rumah Sambo.
Pov Bayu.
Ku pergi ke rumah Sambo memakai motor supra.
Sekarang,aku sudah ada di halaman depan,kulihat ada beberapa kendaraan terparkir,juga ada para pemuda dan gadis . Dugaanku mereka teman - teman adiknya Sambo.
Ku berjalan ke arah pintu.
Begitu lihat ke dalam,sudah ada banyak orang. Adiknya Sambo melihatku. Ku lepas kacamata.
" Kaaak....Kak Bayu datang.." ucap adiknya Sambo nyaring.
Ku hampiri adiknya Sambo,lalu ku berikan kado.
" Met ulang tahun ya.." ucapku.
" Terima kasih kak,kirain gal datang.." ucap adiknya Sambo.
Sambo muncul bersama kedua orang tuanya.
" Datanglah,kalau enggak nanti kakakmu Demo di depan rumahku lagi.." ucapku.
Ku bersalaman ke Sambo,lalu ayahnya tak lupa cium tangan,kemudian menangkupkan telapak tangan ke arah ibunya Sambo.
" Kemana aja lu.."ucap Sambo.
" Lah...Kan sudah ku kasih tahu kang.. Kalau aku lagi mencari kitab suci ke Barat.." ucapku.
" Bangkeek..." ucap Sambo.
"Mari Bayu..." ucap ayahnya Sambo.
Ku ikuti saja ajakan ayahnya Sambo.
---***----
Nampak mobil berhenti di pinggir jalan,lalu Zahra berjalan ke arah mobil itu lalu masuk.
Zahra tahu mobil itu milik siapa,yaitu milik Rahman.
Rahman menjalankan mobilnya.
"Kita kemana ?"ucap Zahra.
" Nanti kamu juga tahu..." ucap Rahman.
" Abang tahu dari siapa?" ucap Zahra.
" Ada deh..." ucap Rahman.
Mobil Rahman berhenti di sebuah penginapan.
"Ayo turun..." ucap Rahman.
Zahra menurut.
Mereka masuk ke penginapan itu.
Sesampai di dalam kamar.
" Bang...Kita mau ngapain?" ucap Zahra.
" Aku ingin apa yang kamu lakukan pada cowokmu,lakukan padaku.." ucapku.
" Tapi bang..." ucap Zahra.
" Mau gak? Kalau gak mau maka ku telpon babe.." ucap Rahman.
" Jangan bang..." ucap Zahra.
" Makanya...Cepetan ." ucap Rahman.
Akhirnya Zahra menuruti ucapan Rahman. Ia melepas celana Rahman,setelah itu melahap burungnya.
Rahman merem melek saat burungnya di lahap oleh Zahra adik iparnya.
Ketika akan mau ke luar,Rahman mencabutnya.
" Buka pakaianmu.." ucap Rahman.
Zahra membuka pakaiannya,lalu berebah.
Rahman mencium Zahra sambil memainkan susunya.
Kemudian turun hingga lubang Zahra.
Rahman membuka kaki Zahra,lalu menikmati lubang Zahra.
Zahra mendhesis karena lubangnya di jilatin oleh Rahman hingga ia orghasme.
Setelah itu Rahman menempelkan kepala burungnya.
" Bang...Jangan di masukin..." ucap Zahra.
" Kenapa jangan Ra.." ucap Rahman.
" Aku belum pernah bang" ucap Zahra.
" Kepalanya aja ya.." ucap Rahman.
Lalu menggesek - gesekkan burunngnya,sesekali memasukkan kepalanya.lalu di gesek - gesek lagi.
Melihat ekpresi Zahra menikmati apa yang di lakukannya,Rahman mencoba memasukkan agak dalam lagi sambil maju mundur.
" Enak bang...Aaah..Terus bang masukin...Aaah ...Ahh...."
Rahman mendapat lampu hijau,lalu ia pun menekan lebih dalam,dan merobek selaput tipis.
" Sakiiiiiit..." ucap Zahra meringis kesakitan.
Rahman mendiamkan sebentar sambil menyusu,untuk mengurangi rasa sakit yang di rasakan Zahra,lalu menggerakkan perlahan pinggulnya.
" Pelan - pelan bang....Sakiit.."
Rahman tak menjawab,ia tetap menyusu sambil menggerakkan pinggulnya perlahan.
Hingga akhirnya.
" Aaah...Ooouhh..Enak bang...Aahh... Terus bang.." ucap Zahra sambil memegang kepala Rahman yang menyusu.
20 menit kemudian.
Rahman merasakan akan keluar,ia menggerakkan pinggulnya dengan cepat.
Plook...Plook...Plokkk...Plok... Suara kulit saling bertubrukan.
" Aah...Aaah...Hemm...Bang..Aaah..Aaaaaaaaaaaaaaah...." ucap Zahra lalu mengejan - ngejan.
Rahman mencabut burungnya,menumoahkan cairan di perut Zahra.
Nampak ada noda darah.
" Enak banget Ra punyamu..." ucap Rahman.
" Kenapa di masukin bang.." ucap Zahra.
" Kan kamu yang minta Ra.."
" Daripada cowokmu yang ambil..Mending gua.."ucap Rahman bangga. Sebab ia pikir awalnya Zahra lepas segel. Saat ia menjilati lubang Zahra,ia melihat masih segel.
" Kenapa kamu bisa melakukan itu Ra?" ucap Rahman.
" Cowok gue yang minta duluan untuk masukin burungnya ke mulut,kemudian dia minta susuku,lalu ingin menjilat lubangku bang.." ucap Zahra.
" Kamu menikmatinya?" ucap Rahman.
" Awalnya enggak bang..Jijik tahu.."
" Tapi lama - kelamaan gue menikmatinya.."ucap Zahra.
" Terus sekarang bagaiamana?" ucap Rahman.
" Gak tahu bang..." ucap Zahra.
" Mau di jilatin lagi gak?" ucap Rahman.
" Mau bang.." ucap Zahra.
" Di bersihin dulu..." ucap Rahman.
Zahra ke kamar mandi ,di susul Rahman.
Setelah itu,Zahra berebah di kasur,Rahman kembali menjilatin lubang Zahra.
Zahra merem melek menikmati permainan lidah Rahman di lubangnya.
" Heemm...Aahh..Ouuuh...Enak bang...Yaa...Yang itu bang...Ooouuh.."ucap Zahra.0pppp00000
--***---
Sore Hari.
Pov Bayu.
Saat ini aku bersama Bimo naik mobil Lamborghini menuju rumah orang tua Clara.
" Bay...Kalau bapaknya nolak gimana?" ucap Bimo.
"Tenang... Dia gak bakalan nolak.."ucapku.