SANG PENERUS.

SANG PENERUS.
MENJALA IKAN


China.


Di saat Bayu terkena serangan roket dari pihak milter,ada sebuah cahaya bewarna hijau melindungi tubuh Bayu. Cahaya itu pemberian Kumala Sari,agar Bayu tetap hidup meskipun di serang memakai senjata apapun,termasuk racun dan juga mampu bernafas di dalam air.


Nampak Bayu hanyut di sungai yang begitu deras mengalir dalam keadaan tak sadarkan diri. Tubuhnya terseret hingga sangat jauh dari lokasi kejadian.


Setelah terseret sangat jauh,tubuh Bayu ke pinggir sungai dan nyangkut di batang pohon.


Pagi hari.


Di suatu desa yang dekat dengan sungai. Ada sebuah rumah yang sederhana. Rumah itu di huni sepasang suami istri yang belum memiliki keturunan. Usia wanita itu 51 tahun.Sementara sang pria sudah 54 tahun.


Mereka mengandalkan sungai sebagai mata pencaharian hidup. Setiap hari,mereka pergi ke sungai untuk menangkap ikan.


Nampak pria itu mengambil jala yang di letakkan di samping rumah. Tak lupa mengambil topi terbuat dari anyaman bambu,untuk melindungi panasnya terik matahari.


Pria itu bernama Anming.


" Aku berangkat dulu.." ucap Anming pada istri tercintanya yang bernama Xoulang.


" Iya...Berhati - hatilah...Sebab kemarin hujan lebat.." ucap Xoulang.


Lalu Anming pergi menuju sungai berjalan kaki. Jarak rumahnya dengan sungai itu 600 meter.


Setelah menempuh perjalanan,akhirnya Anming sampai di tepi sungai. Lalu Ia menggulung jalanya,kemudian melempar ke sungai.


Byuurr....


Anming menarik secara perlahan jalanya.


Nampak 1 ekor ikan terjebak di jalanya. Anming mengambil ikan tersebut,lalu memasukkan ke dalam wadah ikan yang sudah di siapkan.


Lalu Anming mencoba lagi melempar jala,berharap mendapat ikan lagi.


Namun,tak ada ikan yang terperangkap di jalanya.


Anming lantas berpindah tempat,mencari tempat yang lain.


1 jam kemudian.


Anming beristirahat sebentar,karena lelah melempar Jalanya. Ikan yang di tangkap baru 2 ekor. Ia mengambil botol air minum,lalu meminum air tersebut untuk menghilangkan rasa dahaganya.


Kemudian,setelah selesai beristirahat,Anming melanjutkan lagi menjalanya. Ia berpindah tempat,mencari ikan yang berkumpul.


Baru saja akan melempar,ia melihat sosok tubuh manusia tersangkut di batang pohon yang tumbang.


Anming menaruh jalanya,lalu mendekati sosok tersebut.


Begitu Anming sangat dekat,ia pun terkejut melihat seorang pemuda tersangkut.


Lantas Anming meraih pemuda itu,lalu membawanya ke daratan.


Pemuda itu adalah Bayu,yang terbawa arus sungai.


Anming memeriksa pemuda itu karena melihat tubuhnya masih hangat dan wajah pemuda itu tidak pucat. Ia meletakkan jari telunjuknya ke hidung. Ia merasakan nafas Bayu.


Anming merasa heran dengan pemuda yang ia temukan itu,ia pikir,pemuda itu telah tewas. Namun ternyata tidak.


Kemudian,Anming memutuskan membawa pemuda yang ia temukan itu,ia mencari kayu dan tali untuk membawa pulang pemuda itu.


Setelah selesai merakit,lantas Bayu di letakkan tandu,kemudian di ikat,lalu menyeret tandu tersebut. Ia meninggalkan jalanya di tepi sungai,ia tak khawatir Jalanya hilang di curi orang. Sebab hanya dirinya dan istrinya yang tinggal di dekat sungai itu.


Setelah sampai di rumah.


" Istriku....Istriku...Kemarilah..." ucap Anming.


Xoulang yang mendengar suara suaminya memanggil lantas keluar rumah.


" Ada apa suamiku?"


Xoulang melihat seorang pemuda terikat di tandu.


" Siapa dia suamiku?" ucap Xoulang.


" Aku menemukannya di sungai,aku pikir dia telah tewas,begitu aku periksa,ternyata dia masih hidup.." ucap Anming sambil melepas ikatan yang mengikat tubuh Bayu.


Xoulang memperhatikan wajah Bayu.


Nampak wajah Bayu berseri meskipun dalam keadaan tak sadarkan diri.


" Tolong bantu aku,membawa dia masuk ke dalam.." ucap Anming.


Xoulang lantas membantu suaminya mengangkat tubuh Bayu.


Mereka meletakkan Bayu di ranjang yang terbuat dari anyaman bambu.


" Sepertinya... Dia berasal dari keluarga kaya.." ucap Xoulang.


" Entahlah..."


" Bawakan pakaian untuknya..." ucap Anming.


Xoulang lantas menuruti perintah suaminya. Ia memberikan pakaian milik suaminya.


Lalu Anming membuka pakaian Bayu yang basah kuyup.


Di saat Anming melepas celana Bayu,Xoulang begitu kaget melihat burung Bayu yang begitu besar.


" Besar sakali..." ucap Xoulang tanpa sadar.


" Namanya juga remaja...Pasti besarlah.." ucap Anming.


Anming mengelap tubuh Bayu dengan kain basah,agar tubuh Bayu bersih dari lumpur.


Setelah bersih. Anming memakaikan pakaian ke Bayu,di bantu istrinya.


" Setelah ini,aku akan melapor ke polisi.." ucap Anming.


" Jangan suamiku...." ucap Xoulang.


" Kenapa jangan istriku.." ucap Anming.


" Kita telah lama mendambakan seorang bayi.."


" Lalu dewa memberikan seorang pemuda ini.." ucap Xoulang.


" Tapi istriku.." ucap Anming.


" Jika kamu melaporkan dia ke polisi,maka berikan aku keturunan sebagai pengganti dia.." ucap Xoulang.


" Baiklah...Aku tidak akan melaporkan ini ke polisi ." ucap Anming.


Xoulang pergi ke dapur untuk mengambil bumbu masak,setelah dapat,ia meletakkan bumbu itu di hidung Bayu.


Perlahan mata Bayu terbuka. Ia melihat 2 orang asing di dekatnya. Lalu terbangun,Bayu celingukan mengamati ruangan,lalu melihat 2 orang tersebut.


" Jenengan sinten?".( Anda siapa)


" Lapo kulo nang kene?" ucap Bayu. ( Kenapa aku ada di sini)


???? Anming dan Xoulang.


Anming dan Xoulang tak paham ucapan Bayu barusan.


"Siapa namamu " ucap Xoulang.


" Heeeeh...!!! Bayu terkejut. Ia tak ucapan wanita asing itu.


" Kok ngomongnya aneh gini ya.."


Bayu memegang kepala bagian belakang yang terkena batu.


" Kok kepalaku sakit gini ya..Mana 2 mbah - mbah di depanku ngomongnya gak jelas lagi" ucap Bayu dalam hati.


" Namaku Xoulang...


" Xoulang..." ucap Xoulang.


" Solang?" ucap Bayu.


" Aku Anming.... Anming.." ucap Anming sambil menunjuk dirinya.


" Anming..?" ucap Bayu.


" Iya...Siapa namamu.." ucap Anming sambil menyentuh dada Bayu.


" Ooo...Kalian takon jenengku to..."


" Asmane kulooo..."


Bayu mengingat - ingat nama dirinya.


" Aku gak eling mbah..." ucap Bayu lalu memperagakan tangannya memberi tahu bahwa dirinya tidak ingat apa - apa.


" Dia tidak ingat apa - apa" ucap Anming mengetahui bahasa isarat Bayu.


" Ooo...Begitu...Lantas,dia berasal dari mana?" ucap Xoulang.


" Entahlah..." ucap Anming.


Kruucuk....Kruuucuk....Kruuucuuk suara perut Bayu.


" Kamu lapar?" ucap Anming sambil memperagakan tangannya.


" Injih mbah.." ucap Bayu sambil menganggukkan kepala.


" Masaklah ikan yang tadi aku tangkap..." ucap Anming.


" Iya suamiku.." ucap Xoulang.


Xoulang lantas keluar rumah mengambil ikan hasil tangkapan suaminya.


Anming lantas memberikan potongan kuku,3 buah choki - choki yang ia temukan di celana Bayu.


" Ini milikmu.."


Bayu menerima pemberian Anming.


" Bagaimana jika aku menamaimu Jiang ( Sungai)"


" Jiang.." ucap Anming sambil menyentuh dada Bayu.


" Jiyang?" ucap Bayu.


" Bukan..."


" Ji....ang..." ucap Anming.


" Oooh...Jiang...."


" Saya Jiang gitu mbah..."ucap Bayu sambil memperagakan tangannya.


" Iya...Namamu Jiang.." ucap Anming.


" Aku sebenarnya di mana seh ini?"


" Kok mereka bahasanya aneh gitu.Mereka juga menamaiku jelek lagi...Masa namaku Jiang.. Kalau di lanjutin bisa jadi Jiangkreek....Wasssuuu..." ucap Bayu dalam hati.


30 menit kemudian.


Xoulang muncul sambil membawa nasi dan ikan goreng,lalu memberikan ke Bayu.


" Ini...Makanlah..." ucap Xoulang.


" Matur suwun..."


" Allahumma bariklana fima razaktana waqina adzabannar.."ucap Bayu.


Bayu memakan nasi dan ikan tersebut. Karena Bayu terbiasa berdo'a sebelum makan,ia mengucapkan do'a itu secara spontan.


Bayu melihat 2 orang di depannya sambil makan.


" Kalian tidak makan?" ucap Bayu sambil menggerakkan tangannya.


" Tidak..Makanlah..." ucap Anming.


Bayu menghabiskan makanan tersebut.


" Alhamdulilah...Kenyang.." ucap Bayu.


Xoulang mengambil piring bekas Bayu makan,lalu pergi ke dapur.


" Apakah Jiang mau ikut.." ucap Anming.


" Jalan kemana?" ucap Bayu.


Anming mengulurkan tangannya,Bayu menyambut.


Mereka keluar rumah.


" Kita pergi ke sana mencari ikan.." ucap Anming menunjuk arah sungai.


" Ooo...Jalan ke sana.."


" Ayoo mbah Anming.." ucap Bayu.


" Istriku...".


" Aku berangkat dulu ke sungai bersama Jiang.." ucap Anming.


Xoulang keluar dari rumah.


" Apakah tidak apa - apa dia di bawa ke sungai?" ucap Xoulang.


" Tidak apa - apa...Kita pergi dulu.." ucap Anming.


Anming mengambil tempat ikan dan juga topinya. Lalu berjalan kaki bersama Bayu menuju sungai.


Bayu mengikuti Anming dari belakang tanpa alas kaki.


Setelah sampai di sungai tempat di mana Anming menaruh jalanya.


Anming segera mengambil jalanya lalu melempar ke sungai.


Bayu diam memperhatikan yang di lakukan Anming.


Tak lama kemudian.


Tiba - tiba Bayu mendengar suara adzan. Ia pun celingukan mencari sumber suara tersebut.


Lalu tubuhnya bergerak sediri,ia berjalan ke tepi sungai,lalu mencuci kedua tangan,lalu kumur - kumur meskipun air sungai itu agak keruh. Hingga Bayu membasuh ke dua kakinya.


Setelah itu Bayu tertegun.


" Apa yang aku lakukan tadi itu ya..."


Bayu melihat batu besar yang permukaan rata. Lalu ia berjalan ke batu itu.


Setelah sampai,ia mengangkat kedua tangannya.


" Allah...Huakbar"


Hingga Bayu menyelsaikan shalatnya.


" Assalam mu'alaikum warah matullah.." ucap Bayu lalu menoleh ke kiri.


" Apa yang barusan aku lakukan ya..."ucap Bayu dalam hati.


Ia heran dengan tubuhnya sendiri. Padahal dirinya tak ingin melakukan itu. Namun,setelah melakukan gerakan itu,hatinya merasa tenang.


1 jam kemudian.


Anming merasa letih,lalu dia istirahat. Tak ada seekor ikan yang ia dapat.


Bayu yang melihat Jala itu di letakkan di tanah,lantas mengambilnya. Ia mempraktekkan apa yang ia lihat saat Anming melempar Jala.


Anming diam memperhatikan Jiang(Bayu).


Jala sukes mekar saat Bayu melempar.


Byuuur....


Bayu mendiamkan sebentar,lalu menarik perlahan.


" Kok berat gini ya..."


Bayu merasakan Jala yang ia tarik sangat berat.


Begitu Jala berhasil di keluarkan di dakam sungai. Nampak jala itu penuh ikan.


" Biyuuh...Pantesan aja banyak..." ucap Bayu melihat jala berisikan ikan.


Anming yang melihat jala berisi ikan yang sangat banyak terkejut bukan main,lalu menghampiri Bayu.


" Waaaah...Kamu sangat beruntung Jiang'er..." ucap Anming.


Anming mengambil ikan itu,lalu di masukkan ke tempat penampungan ikan. Bayu ikut membantu.


Setelah jala itu bersih dari ikan,Bayu kembali melempar jala itu ke sungai.


Byuuurr.....


Bayu menarik perlahan jala itu. Ia merasakan berat saaat menarik.


" Banyak lagi neh ikannya.." ucap Bayu dalam hati.


Dan benar saja,saat jala itu berhasil di angkat. Nampak puluhan ikan terjaring di jala tersebut.


Anming merasa sangat senang dan bahagia sekali mendapat hasil tangkapan ikan yang sangat banyak.


Mereka melepas ikan itu lalu di masukkan ke dalam wadah penyimpanan.


" Ayo kita pulang" ucap Anming sambil menggerakkan tangannya.


" Jalan lagi?" ucap Bayu.


" Bawalah ikan ini,aku tak sanggup membawanya.." ucap Anming menyerahkan tempat wadah ikan.


Bayu mengangkat tempat ikan itu,lalu berjalan mengikuti Anming.


Sesampai di rumah.


" Istriku...Istriku...Cepatlah kemari.." ucap Anming.


Bayu meletakkan wadah tempat ikan.


Xoulang keluar dari rumah.


" Lihatlah ini..." ucap Anming sambil menunjuk tempat wadah ikan.


" Waaah... Banyak sekali suamiku.." ucap Xoulang.


" Iya...Jiang yang melempar jalanya,lalu mendapatkan ikan ini.." ucap Anming.


Xoulang menatap Bayu. Lalu memeluknya.


" Terima kasih Jiang'er..." ucap Xoulang lalu melepas pelukannya.


" Aku akan pergi ke pasar untuk menjual ikan - ikan ini.." ucap Anming.


" Iya suamiku.." ucap Xoulang.


Anming mengeluarkan beberapa ikan untuk lauk di rumahnya,sisanya di jual ke pasar.


" Ayo Jiang'er...Kita pergi ke pesar.." ucap Anming sambil memberi isarat.


" Ayo...Jalan kemana mbah?" ucap Bayu hanya mengerti sebagian bahasa isarat Anming.


" Ini kamu bawa..Ayo kita jalan,selagi ikannya masih segar" ucap Anming.


Bayu memgangkat tempat ikan tersebut lalu mengikuti Anming.


Mereka berjalan mengikuti jalan setapak.


40 menit kemudian.


Mereka berjalan di jalan yang lumayan lebar.bisa muat mobil truk. Jalan itu berupa bebatuan dan tanah.Belum tersentuh aspal.


Bayu mengamati sambil berjalan.


" Sak jane aku neng endi to.." ucap Bayu dalam hati.( Sebenarnya aku di mana seh).


1 jam kemudian.


Bayu melihat ada bangunan rumah.Mereka melewati jalan beraspal.


30 menit kemudian.


Mereka tiba di pasar.


" Taruh di sini ikannya Jiang'er.." ucap Anming.


Bayu tak melihat Anming,ia melihat sekeliling pasar sambil memanggul tempat ikan.


Anming lantas menepuk pundak Bayu,lalu memberi isarat untuk meletakkan ikannya.


Bayu menuruti isarat Anming.


Anming mengeluarkan sebagian ikan,lalu di letakkan di alas plastik yangbia bawa dari rumah.


" Ikan....."


" Ikannya tuan...Masih segar barusan di tangkap dari sungai.." ucap Anming menawarkan ikannya ke orang yang lewat.


Bayu diam saja memperhatikan pria tua itu.


Seorang ibu - ibu tak sengaja melihat Bayu,lalu datang menghampiri.


" Siapa dia..?" ucap ibu itu.


Anming melihat ke arah Bayu yang sedang duduk di lantai.


" Aku akan memberi tahumu asal kamu membeli ikanku.." ucap Anming.


" Baiklah..." ucap ibu itu.


Akhirnya ibu itu membeli ikan Anming.


" Dia adalah putraku..." ucap Anming.


" Benarkah?" ucap ibu itu tak percaya.


" Kalau tidak percaya ya sudah.." ucap Anming.


" Tampan sekali...." ucap ibu itu.


Tak lama kemudian datang lagi seorang ibu - ibu. Ia juga sama seperti wanita sebelumnya. Penasaran terhadap Bayu.


Tak sampai 1 jam ikan yang di bawa Anming ludes terjual.


" Kamu memang membawa keberuntungan Jiang'er." ucap Anming dalam hati merasa senang. Hari ini ia mendapat uang sangat banyak.


Anming membereskan daganganya.


" Ayo kita pulang Jiang'er.." ucap Anming.


Bayu berdiri,lalu menepuk pantatnya,karena kotor. Setelah itu mengikuti Anming dari belakang .


Anming berbelok ke arah toko tempat biasa ia membeli bahan pokok.


" Bayar dulu hutangmu...Baru kamu boleh memgambil barang di sini..." ucap pria yang usianya sama seperti Anming.


" Tentu saja..Aku membayar hutangku..."


" Ini...Ambillah.."


Anming menyerahkan uangnya.


" Aku juga ingin membeli beras " ucap Anming.


Bayu tak ikut masuk ke dalam,ia menunggu di luar.


Tak lama kemudian,Anming keluar dengan membawa kantong kresek.


" Ayo pulang Jiang'er..." ucap Anming lalu berjalan.


Bayu mengikuti Anming dari belakang.


Setelah menempuh perjalanan,akhirnya mereka sampai di rumah.


Bayu kembali mendengar suara Adzan. Ia pun segera mencari tempat,lalu melakukan gerakan shalat.


" Jiang' er..." ucap Xoulang mencari keberadaan Bayu.


Xoulang melihat Bayu bersujud di tanah,lalu datang menghampiri.


" Jiang'er...Apa yang kamu lakukan.."


Bayu diam tak menjawab,ia terus melakukan gerakan shalat.


Xoulang berdiri di depan Bayu.


" Jiang'er...Kata ayahmu..Kamu menarik perhatian ibu - ibu di pasar ya..?"


Bayu tetap diam,begitu hendak ruku'. Bayu menggeser kakinya lalu ruku'.


" Jiang'er...Kenapa kamu diam saja..."


" Apa yang kamu lakukan...?"


Bayi sujud di tanah.


" Jiang'er...Nanti pakaianmu kotor..." ucap Xoulang.


Xoulang berusaha menarik Bayu agar Bayu berdiri dari tanah. Namun Ia tak berhasil.


Bayu menolehkan muka ke kanan dan ke kiri,setelah itu melihat ke Xoulang.


" Maaf mbah... Ada apa?" ucap Bayu.


" Apa yang kamu lakukan?" ucap Xoulang.


" Embooh...Kalau gak pakai bahasa isarat,mana aku paham mbah.." ucap Bayu lalu berjalan ke rumah.


Xoulang memberitahukan kejadian itu pada suaminya.


" Tadi pas di sungai,aku juga melihat Jiang'er melakukan itu di atas batu.." ucap Anming setelah istrinya bercerita.


Kemudian Xoulang memberikan selembar kain kepada Bayu.


" Ini pakailah...Gunakan kamu sujud..Jika tidak,wajah dan pakaianmu kotor.." ucap Xoulang.


Anming memberi tanda isarat ke Bayu.


" Ooo...Begitu...Suwun mbah Solang.." ucap Bayu.


Mereka memberi tahu letak sumur jika Bayu ingin mandi,dan juga ****** jika mau buang air besar.


Di saat waktu masuk Magrib. Bayu kembali mendengar suara adzan.


" Mbah Anming...Apakah mbah mendengar suara?" ucap Bayu sambil memberi isarat.


" Suara apa?" ucap Anming.


" Dia gak dengar lagi.Masa aku aja yang dengar...Aneh.." ucap Bayu dalam hati.


Bayu segera mengambil kain pemberian Xoulang,lalu ia berdiri di dekat Anming. Kemdian Bayu shalat.


Anming memperhatikan Bayu shalat.


" Apa yang sebenarnya kamu lakukan itu Jiang'er.." ucap Anming heran.


Xoulang muncul lalu duduk di samping Anming.


" Mengapa dia melakukan gerakan itu lagi.." ucap Xoulang heran.


" Entahlah...Aku tidak tahu.


Mereka diam memperhatikan Bayu sedang shalat.


Selesai Bayu Shalat.


" Jiang'er...."


Bayu melihat ke arah Anming.


" Apa yang barusan kamu lakukan tadi itu" ucap Anming sambil memberi tanda isarat.


" Enggak tahu mbah..." ucap Bayu.


Tak terasa masuk waktu Isya'.


Bayu kembali melakukan shalat.


Xoulang dan Anming yang melihat Bayu melakukan gerakan aneh membiarkan saja,tak mengganggu Bayu sedang shalat.


Rumah itu hanya di terangi memakai lampu yang menggunakan bahan bakar fosil,yang di gantung. Tak ada listrik di rumah Anming.


Ketika akan tidur,lampu itu di matikan.


Bayu tidur di ranjang bambu.Ia belum bisa memejamkan matanya. Karena memikirkan kejadian hari ini yang menimpa dirinya.


" Kenapa aku bisa lupa namaku...Bahkan aku tak ingat kejadian kemarin.."


" Siapa sebenarnya aku ini..."


" Lalu..."


" Mengapa aku selalu mendengar suara yang tak di dengar oleh kedua orang tua itu"


" Apa yang aku lakukan "ucap Bayu dalam hati.


Tak lama kemudian,Bayu tertidur.


Di dalam mimpinya.


Bayu bertemu dengan seseorang memakai pakaian serba putih,wajahnya bercahaya,di kepalanya ada kain yang menutupi rambut.


" Assalam mu'alaikum..." ucap sosok itu yang suaranya pria.


" Wa'alaikum salam warah matullah..."


" Jenengan sinten?" ( Anda siapa)


" Nopo kulo kenal kaleh jenengan?" ucap Bayu.( apa saya kenal dengan anda).


" Iya...Anda mengenalku,setiap kali anda menghadap Allah.Selalu menyebut namaku.." ucap pria itu.


" Siapa ya...?"


" Oh iya...Siapa namaku?" ucap Bayu.


" Tetaplah menjalankan shalat...Allah akan membimbingmu." ucap pria itu.


" Shalat itu apa?" ucap Bayu.


" Yang kamu lakukan saat mendengar seruan adzan..." ucap pria itu.


Bayu terbangun dari mimpinya.


" Asem....Cuman mimpi.."


" Tapi...Kok dia tahu ya apa yang aku lakukan?"


" Hemm..."


" Sudahlah.." ucap Bayu dalam hati.


Tiba - tiba ia mendengar suara adzan kembali.


Bayu berdiri meraba - raba untuk keluar rumah.


Duuk...


Bayu menabrak sesuatu.


" Jiang'er..." ucap Xoulang.


" Iyaa...Gelap mbah Solang" ucap Bayu.


Xoulang membangunkan suaminya,setelah Anming bangun.


" Ada apa istriku...?" ucap Anming.


" Jiang sepertinya mau keluar rumah.." ucap Xoulang.


Anming lantas meraih korek api yang di letakkan di dekatnya,lalu menyalakan lampu.


Rumah yang semula gelap,kini agak terang.


" Nah...Terang..." ucap Bayu.


" Kamu mau kemana Jiang'er?"


" Di luar masih gelap.." ucap Anming seperti biasa berbicara sambil menggerakkan tangannya ke Bayu.


" Jiang mau shalat mbah..." ucap Bayu juga memberi isarat seperti orang shalat.


Bayu berjalan ke pintu,lalu membuka pintu.


Anming lantas memberikan lampu satunya yang sudah ia nyalakan,lalu memberikan ke Bayu.


" Bawalah ini...Di luar masih gelap.." ucap Anming.


Bayu menerima lampu itu,lalu berjalan ke sumur untuk wudhu.


Selesai wudhu,Bayu kembali ke rumah.


Bayu menaruh kain di lantai yang masih terbuat tanah.


Anming dan Xoulang diam saja memperhatikan Bayu.


" Sebenarnya...Apa yang di lakukan Jiang'er suamiku..?"


" Mengapa dia sering melakukan gerakan itu..?" ucap Xoulang.


" Entahlah...Aku tidak tahu..." ucap Anming.


Selesai shalat,Bayu tak kembali tidur. Ia hanya duduk diam sambil memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Mengapa dia lupa akan jati dirinya.


Hingga matahari mulai menampakkan diri.


Bayu berdiri lalu berjalan keluar.


" Kemana ya..."


" Hemm...."


" Cari ikan sajalah..."


" Daripada bengong di rumah." ucap Bayu.


Bayu mengambil jala dan tempat ikan,lalu berjalan ke arah sungai.


30 menit setelah Bayu pergi. Xoulang keluar rumah mencari Bayu.


" Jiang'er...."


Tak ada jawaban. Lalu mencari keberadaan Bayu.


Anming keluar rumah.


" Jiang'er tak ada suamiku..." ucap Xoulang .


" Mungkin dia pergi ke sungai.." ucap Anming.


" Cepat susul dia suamiku.." ucap Xoulang khawatir.


" Baiklah..."


Anming hendak mengambil Jalanya sekalian mencari Bayu,namun ia tak menemukan jalanya.


" Dia pergi ke sungai istriku." ucap Anming.


" Cepat susul dia suamiku..." ucap Xoulang.


Baru 3 langkah berjalan,Bayu muncul sambil membawa tangkapan ikan yang sangat banyak.


" Ini mbah ikannya.." ucap Bayu sambil menaruh tempat ikan,lalu mengantung jala.


Anming dan Xoulang menjatuhkan rahangnya kebawah. Sebab tangkapan Bayu lebih banyak dari kemarin.