SANG PENERUS.

SANG PENERUS.
PECEL AYAM PAK


2 buah mobil berhenti dengan cat khusus yang berbeda dengan mobil lainnya. Mobil itu hanya di miliki oleh pihak militer.


" Siapa lagi yang datang...Apakah si kakap merah?" ucap Fei Long dalam hati.


Pintu terbuka,lalu beberapa pria keluar memakai pakaian militer.


" Jancoook...." ucap Fei Long kesal saat melihat orang - orang berseragam militer berjalan ke arahnya.Ada pria yang tak memakai seragam Militer,dia adalah Thou Ling Feng.


Fei Long mengenal 2 orang yakni Sang Jendral bernama Han Lie Xing dan Thou Ling Feng sisanya tidak ia kenal.


Fei Long melihat ke arah anak buahnya.


" Matikan kompor,dan keluarlah...Nanti aku telpon " ucap Fei Long.


" Kenapa bos?" ucap anak buahnya.


" Cepat..Tidak usah banyak bicara atau gajimu aku potong.." ucap Fei Long.


Anak buahnya langsung mematikan kompor dan keluar.


Setelah anak buah Fei Long keluar,pintu roling dor di tutup seorang pria berseragam militer.


Sang Jendral dan Detektif Feng berjalan ke arah Fei Long.


Fei Long mematikan rokok dan berdiri tegap kemudian memberi hormat.


Sang Jendral duduk,di ikuti Detektif Feng.


" Duduklah.."


Fei Long duduk.


" Aku harus memanggil nama aslimu atau samaranmu?" ucap Jendral Han Lie Xing.


" Siap...Nama samaran saja...." ucap Fei Long.


" Baiklah..Fei Long.."


" Kata detektif Feng..Jiang pernah tinggal denganmu.."


" Apakah itu benar?" ucap Jendral Han Lie Xing.


" Siap itu benar pak..." ucap Fei Long.


Sang Jendral melepas topi dan meletakkan di meja. Kedua tangannya juga di meja.


" Bersikap biasa saja...Jangan formal.."


" Ceritakan mengenai Jiang..Dari awal kamu bertemu hingga dia pergi dari rumahmu..." ucap Jendral Han Lie Xing.


Fei Long menceritakan awal mula ia bertemu Jiang.


Jendral Han Lie Xing diam menyimak,sesekali melontarkan pertanyaan.


"Buku kamus bahasa Indonesia?" ucap Jendral Han Lie Xing.


" Iya...Dan buku kamus bahasa inggris.."


" Dia juga patuh apa yang kita katakan..."


" Dan dia tidak pandai berhitung,sehingga kami mengajarinya.." ucap Fei Long.


" Pemuda yang misterius... "


" Pihak militer memeriksa identitas Jiang,hasilnya tak menemukan bahwa Jiang penduduk sini.." ucap Jendral Han Lie Xing.


" Mungkin dia belum mendaftar kependudukan,sebab tak hanya Jiang saja,dulu aku sering menemukan warga yang tak punya identitas.." ucap Fei Long.


" Oh iya...Apakah kamu ingat,berapa nomor telpon saat Jiang menghubungimu?" ucap Jenderal Han Lie Xing.


" Iya ingat..+62813******" ucap Fei Long.


" Plus enam dua delapan....Heeemm."


" Bukannya itu kode nomor telpon negara Indonesia?" ucap jendral Han Lie Xing.


" Benar.... Kira - kira 2 bulan yang lalu,istriku terakhir mencoba menelpon Jiang,tapi tidak aktif.." ucap Fei Long.


" 2 bulan yang lalu...??. "


" Tunggu sebentar..."


"Itu setelah Jiang di nyatakan tewas menjalankan misi di timur tengah.." ucap Jendral Han Lie Xing.


" Maaf pak Jendral...Saat di nyatakan tewas,apakah jasadnya di kuburkan?" ucap Fei Long.


" Tidak...Kami menguburkan peti kosong yang berisi barang miliknya saja.."


" Kita tidak bisa mengambil jasad tersebut karena letaknya sangat jauh,dan wilayah itu di kuasai pemberontak.."ucap Jendral Han Lie Xing.


" Saat itu Jiang menelponku tapi hanya sebentqr saja..Lalu ketika ku coba menelpon ,tak di angkat kemudian tidak aktif hingga sekarang ." ucap Fei Long.


" Berarti dia masih hidup...Dan tentara yang melihat orang yang mirip dengan Jiang itu adalah Jiang.." ucap jendral Han Lie Xing.


" Bisa jadi pak Jendral...Tapi,bagaimana dia bisa sampai di sana?" ucap Fei Long.


" Entahlah...Jika itu Jiang,harusnya dia kembali . Tapi...Jika bukan,kenapa dia tidak kembali.." ucap jendral Han Lie Xing.


" Hilang ingatan..." ucap Fei Long spontan.


" Hilang ingatan..?"


Jendral Han Lie Xing memegang dagunya.


" Jika hilang ingatan...Bagaimana dia bisa sampai di Indonesia dan selamat dari kecelakaan helikopter itu..Dan juga menelponmu" ucap Jendral Han Lie Xing.


" Maaf Jendral...Kemungkinan Jiang melompat..Sehingga selamat,lalu kepalanya terbentur,dan untuk menelpon aku tidak bisa memastikan..." ucap Fei Long.


" Bisa jadi...Lalu.."


" Siapa yang membawanya ke Indonesia?" ucap Jendral Han Lie Xing.


" Apakah pihak dari negara Indonesia juga menyelamatkan warganya?" ucap Fei Long.


" Iya...Warganya juga di sana dan terjebak.." ucap Jendral Han Lie Xing.


" Kemungkinan Jiang ikut bersama rombongan warga Indonesia.." ucap Fei Long.


Mereka terdiam,dan saling berpikir.


"Gak mungkin dia hilang ingatan,jika hilang ingatan,Jiang tidak akan menghubungimu.."


" Apakah ada hal lain selain itu?" ucap Jendral Han Lie Xing.


" Heemmm....Ada seorang wanita "


" Seperti wanita timur tengah yang menutupi wajahnya.."


" Dia pesan makanan ,lalu menanyakan resep makanan yang ku jual..."


" Dia bertanya,apakah makanan ini buatan Jiang.."


" Aku terkejut dan mengelak,tapi wanita itu memohon kepada kami agar memberitahukannya.." ucap Fei Long.


" Teruskan..." ucap Jendral Han Lie Xing.


" Jadi kami memberitahukannya.."


" Wanita itu mengaku ibunya.." ucap Fei Long.


" Ibunyaa...?"


" Kata Jiang ibunya telah meninggal,dan kamu berkata Jiang mencari ibunya... Mana yang benar?" ucap Jendral Han Lie Xing.


" Entahlah pak...Aku juga bingung.."


" Wanita itu bilang bahwa Jiang hilang saat pergi liburan..."


" Sewaktu mereka bertemu,Jiang tak mengenali wanita itu.." ucap Fei Long.


Ling Ling turun dari tangga bersama anaknya,ia melihat Fei Long bersama orang militer cuek saja,ia berjalan ke arah dapur.


Jendral Han Lie Xing melihat ke arah Ling Ling lalu ke arah Fei Long.


" Apakah kamu tahu alamat rumah wanita itu?" ucap Jendral Han Lie Xing.


" Dia tidak memberi tahu,nomor telpon yang di berikan kepada kami,kode wilayahnya berada di wilayah Beijing.." ucap Fei Long.


Ling Ling membawa minuman dan meletakkan di meja.Kemudian kembali naik ke lantai 2.


" Heemm....."


" Semakin rumit..."


" Jiang memakai nomor Indonesia,sedangkan wanita yang mengaku sebagai ibunya memakai nomor Beijing..."


" Sakit kepalaku jika kasus ini tidak terselesaikan..Sementara pak Presiden selalu menanyakan tentang kasus ini kepadaku.." ucap Jendral Han Lie Xing.


" Silahkan di minum Jendral..." ucap Fei Long.


Anak buah sang Jendral memeriksa minuman tersebut,lalu kembali ketempatnya.


Fei Long mengambil minuman tersebut lalu meminumnya.


Sang Jendral juga ikut minum.


" Apakah kamu bisa bahasa indonesia?" ucap Jendral Han Lie Xing.


" Tidak bisa Jendral..." ucap Fei Long.


Jendral Han Lie Xing menghela nafas.


" 8 orang tewas secara misterius...Aku tak yakin mereka bunuh diri,meskipun hasil investigasi menunjukkan hasilnya bahwa mereka bunuh diri.."


" Jiang juga sangat misterius..."


" Dia memiliki nilai akademik yang sangat bagus,dalam hal lapangan juga sangat bagus..."


" Jika kamu bertanding dengan Jiang,kamu akan kalah dalam hal menembak,dan juga bertahan di cuaca yang sangat dingin.."


" Di tambah...Dia bisa menahan nafas hingga 40 menit..Dia melebihi manusia normal.." ucap Jendral Han Lie Xing.


" Gilaa...Aku saja hanya mampu bertahan 7 menit.." ucap Fei Long dalam hati.


" Menurutmu...Apakah Jiang itu seorang Dewa ?" ucap Jendral Han Lie Xing.


" Heeemmm... Aku tidak yakin pak,tapi bisa jadi dia seorang dewa..." ucap Fei Long.


" Dia berhasil menyelesaikan tugas saat lomba,dan dia paling menonjol diantara peserta dari negara lainnya..."


" Heemmm...Apakah pihak militer Indonesia menawarkan Jiang untuk bergabung menjadi anggotanya ya..?" ucap Jendral Han Lie Xing.


" Bisa jadi Jendral.. Di lihat dari kemampuan Jiang,mereka melirik Jiang untuk di rekrut.." ucap Fei Long.


" Jika dia bergabung dengan militer Indonesia,maka dia menjadi penghianat.."


" Karena kamu mengenal Jiang,aku memberimu tugas khusus.."


Fei Long berdiri tegap.


" Temukan Jiang dan bawa pulang.."ucap Jendral Han Lie Xing.


" Siap Jendral..." ucap Fei Long.


" Jangan kembali jika belum menemukan Jiang..Hidup atau mati.." ucap Jendral Han Lie Xing.


" Siap Jendral..." ucap Fei Long.


Jendral Han Lie Xing berdiri sambil memakai topinya.


" Nanti aku akan mengirim orang - orang ke sini sebagai Timmu..Kamu menjadi ketua tim.." ucap Jendral Han Lie Xing.


" Siap Jendral..." ucap Fei Long.


Jendral Han Lie Xing berjalan ke arah pintu,anak buahnya membuka pintu roling door.


Setelah Jendral Han Lie Xing pergi.


" Jancook... Padahal aku mau santai..Malah mendapat tugas lagi.." ucap Fei Long.


Fei Long mengambil ponselnya untuk menghubungi anak buahnya.


---0.0.0---


INDONESIA.


Balikpapan.


Setelah Ida pulang dari sekolah. Ida tak melihat Bayu di rumahnya. Ia merasakan sedih karena harus berpisah dengan Bayu. Lalu ia mengambil amplop coklat pemberian istri Bayu. Setelah itu keluar kamar untuk memyerahkan amplop tersebut.


Ida melihat ibunya sedang menjahit sarung bantal.


Ida duduk di depan ibunya,jika ia di samping,takut terkena jarum jahit.


" Mak...Ini ada titipan dari istrinya kak Bayu.." ucap Ida sambil menyerahkan amplop.


Ibunya Ida melihat ke arah Ida lalu ke arah amplop yang di pegang Ida.


" Apa itu Da.?" ucap ibunya.


" Buka aja mak.." ucap Ida.


Ibunya Ida meletakkan jarum jahit,lalu menerima amplop pemberian Ida dan membukanya.


" Eh.....!!!!??? Ibunya Ida terkejut melihat isi di dalam amplop coklat tersebut


" Kenapa kamu baru memberikan ini kepada emak?" ucap ibunya Ida.


" Maaf mak...Ulun di suruh kak Bayu untuk menyerahkan itu di saat kak Bayu sudah pergi mak.Itu 2 amplop untuk emak, 1 amplop buat bapak..." ucap Ida.


" Jawab yang jujur..Bayu itu orang kaya?" ucap ibunya Ida.


" Enggeh mak...Kak Bayu di kasih uang dari temannya,terus di bagikan ke istri - istrinya mak.."


"Istri - istrinya memberikan uangnya ke ulun mak..." ucap Ida.


Ibunya Ida menyingkirkan kain sarung bantal yang ia jahit,lalu berjalan ke kamarnya untuk mengambil ponsel menghubungi Bayu.


---0.0.0---


JAKARTA.


Nampak Bayu duduk di kursi yang di depannya ada sebuah komputer. Bayu memeriksa catatan yang di buat oleh Fitri.Ia memeriksa apakah Fitri bisa melakukan pekerjaan itu dengan benar,dan tak ada indikasi korupsi.


Sementara Fitri berada di luar.


Ponsel yang Bayu letakkan di meja bergetar,Bayu meletakkan kertas catatan tersebut dan mengambil ponselnya.


Nampak di layar nama ibunya Ida.


" Assalam mu'alaikum bu..." ucap Bayu.


" Wa'alaikum salam..Maaf jika ulun ganggu piyan.." suara ibunya Ida.


" Gak ganggu kok bu...Maaf..Apakah ibu ingin menanyakan uang yang ibu pegang itu?" ucap Bayu.


" Iya...Eh...!!! Piyan kok tahu..?" suara ibunya Ida.


" Maaf ya bu...Aku tahu jam berapa Ida pulang,dan aku juga berpesan kepada Ida,untuk memberikan amplop itu kepada ibu jikan aku sudah pergi...Maaf ya bu.." ucap Bayu.


" Kenapa piyan memberi ulun uang sebanyak ini.." suara ibunya Ida.


" Itu istriku yang memberi bu...Mohon di terima ya bu,Rejeki gak boleh di tolak." ucap Bayu.


Bayu mendengar suara tangis,ia tahu bahwa suara itu tangisan dari ibunya Ida.


" Terima kasih nak Bayu...Hiks..Hiks..." suara ibunya Ida.


" Sama - sama bu...Saranku,uangnya di tabung di bank ya bu..agar tidak hilang.." ucap Bayu.


" Hiks...Hiks...Enggeh nak Bayu terima kasih.." suara ibunya Ida.


" Sama - sama bu..."


Bayu tak mendengar suara ibunya Ida,lalu melihat ke layar,panggilan masih tersambung.


" Buu...Hallooo...." ucap Bayu.


Tak ada jawaban. Bayu mematikan panggilan.


---0.0.0---


2 Minggu kemudian.


Balikpapan.


Fei Long telah berada di kota Balikpapan bersama timnya. Ia pun menjalankan rencananya yang ia susun sebelum berangkat untuk menemukan Jiang/Bayu. Ia belajar dari tim sebelumnya. Karena tak ingin bernasib sama dengan tim sebelumnya,Fei Long memakai ponsel dan menjaga jarak.


Fei Long di temani seorang wanita yang juga salah satu agen khusus. Wanita itu bisa bahasa Indonesia dengan lancar. Wanita itu bernama Hua Yan Chen.


Sementara rekan Fei Long yang lainnya berada di tempat penginapan tak sama dengan Fei Long. Mereka mencari informasi keberadaan Jiang.


Fei Long menginap di salah satu hotel. Saat ini ia berada di dalam kamar,lalu melihat jam tangannya yang sudah ia atur sama dengan waktu di kota Balikpapan.


" Jam 7...Enaknya kemana ya..."


" Hemm...Lebih baik aku keluar saja.."


Fei Long melihat kartu perdana tergeletak di sampingnya. Kartu itu pemberian timnya. Fei Ling mengambil dan memperhatikan nomor yang tertera.


" Enam dua delapan satu tiga empat tujuh..."


" Nomornya Jiang enam dua delapan satu tiga dua tujuh..."


" Heemmmm..."


" Indonesia punya banyak pulau,pasti memiliki kode tersendiri untuk kode wilayahnya.."


" Lebih baik aku cari tahu dulu..Nomornya Jiang itu dari daerah mana" ucap Fei Long.


Fei Long pergi menemui Hua Yan Chen.


Setelah bertemu.


" Nona Hua...Temani aku untuk pergi ke tempat penjual kartu telpon seluler.." ucap Fei Long.


" Baik pak..." ucap Hua Yan Chen.


" Setelah ketemu..Nanti kamu tanyakan nomor ini.."


Fei Ljng memberikan kertas kecil berisi nomor telpon.


" Nomor ini berasal dari daerah apa".ucap Fei Long.


" Siap pak.."ucap Hua Yan Chen.


Mereka pun pergi keluar hotel menuju tempat konter pulsa.


Hingga mereka menemukan konter pulsa. Fei Long berdiri 5 meter dari Hua Yan Chen yang sedang mengobrol dengan penjaga konter. Setelah itu ia menemui Fei Long.


" Nomor ini berasal dari Jawa tengah pak.." ucap Hua Yan Chen.


" Jawa tengah itu di mana?" ucap Fei Long.


" Di luar pulau ini pak..." ucap Hua Yan Chen


" Heemm..Semakin membingungkan.."


" Jiang muncul di sini,tapi nomornya dari luar pulau ini..." ucap Fei Long dalam hati.


Fei Long merasakan perutnya lapar,ia baru teringat jika tadi siang belum makan.


" Ayo kita cari makan dulu..." ucap Fei Long.


Mereka pun jalan kaki menyusuri jalan.


Fei Long melihat sebuah tempat makan di pinggir jalan,yang di tutupi spanduk. Di dalamnya ada beberapa orang makan di tempat itu. Karena penasaran,Fei Long memutuskan ke tempat makan tersebut.


Saat berada di dalam,Fei Long melihat ke etalase kaca.


Ada ayam yang matang karena di rebus,dengan warna kekuningan,Tahu,tempe,Timun dan sayuran.


" Ini seperti yang aku jual..." ucap Fei Long dalam hati.


" Pesankan makanan ayam itu,kita makan di sini..." ucap Fei Long.


Hua Yan Chen lantas memesan makan tersebut.


" Minumnya Teh hangat,teh dingin,Jeruk hangat atau jeruk dingin pak..?" ucap Hua Yan Chen.


" Teh hangat saja.." ucap Fei Long.


Fei Long memperhatikan sekeliling.


" Apakah Jiang membuka usaha seperti ini.."ucap Fei Long dalam hati.


Sebab Fei Ling melihat orang - orang yqng makan,mirip dengan yang ia jual.


Setelah menunggu agak lama,akhirnya pesanannya jadi.


Fei Long memperhatikan dengan seksama,baik itu cara penyajiannya dan juga apa saja di dalam makanan tersebut.


Fei Long membelah ayam tersebut dengan sendok,lalu mengambil sedikit daging ayam dan mencocolkan ke sambal.


" Eh...!!!??? Fei Long terkejut.


Rasa ayam yang di makan sama seperti yang ia jual.


"Nona Hua.. Coba kamu tanyakan ke penjual.. Menu ini apa namanya.." ucap Fei Long.


Hua Yan Chen menanyakan nama menu tersebut,lalu memberi tahukan ke Fei Long.


" Pecel Ayam pak..." ucap Hua Yan Chen.


.


.


.


BERSAMBUNG