SANG PENERUS.

SANG PENERUS.
PESTA?


Setelah aku dari luar,kini aku berada di ruang keluarga,tempat di mana ku membaca Al Qur'an sambil mengoreksi hapalanku. Terbesit dalam pikiranku mengenai sosok bayangan hitam yang membantuku.


"Masa seh tadi ibu...?


"Apa pasukan khusus keluarga Hatake..??


"Telpon saja lah...


Ku mengambil hape Nokiaku untuk menghubungi ibuku menanyakan perihal sosok bayangan hitam.


Baru saja membuka kunci hp,aku tersadar jika tak ada jaringan provider sinyal hape yang ku pakai.


" DIAAAMPUUUTTT...


"Lali aku cook...


"Nang kene gak ono sinyal Indosat...


"Waassssuuuu.....


ku menyesal Kenapa aku gak kepikiran beli kartu perdana di saat aku membeli batre di mall waktu itu.


" Kalau begini kan susah buat nelpon...


" Asem... Asem...


Ku ambil gelas berisi teh hijau tawar tanpa gula. Dalam hatiku membaca mantra tapak geni agar teh yang mau ku minum agar hangat kembali.


Tak sampai 5 menit,aku menyudahinya. Lalu ku minum teh tersebut.


"Bismillah....


Glek....Gleeek...Glek....


Awalnya aku meminum teh tawar terasa getir di lidah. Lalu ku biasakan agar aku bisa menikmati teh hijau tersebut. Kini lidahku sudah terbiasa dengan rasa teh hijau itu.


" Hem.... Bukan ibuku...


Ku berpikir sosok bayangan hitam itu adalah pasukan khusus keluarga Hatake,sehingga ku buang jauh pikiranku.


"Eh... Jam berapa ya sekarang..


Ku lihat jam yang ku pakai di tangan kiriku.


" Sial... Cepat banget jam 3...


"Tidur nanggung... Mau kelon juga gak bisa...


"Aseemmm.....


Akhir ku putuskan untuk shalat malam saja. Ku ambil gelas dan Al Qur'an. Kemudian berjalan ke arah kamar tidurku yang berada di lantai 2 sambil memikirkan sosok bayangan hitam yang membunuh pasukan ninja putih itu lagi.


Baru saja hendak menaiki anak tangga pertama tiba - tiba.


"#Bayu....." suara ayah mertua memanggilku.


Ku menoleh ke sumber suara.


Nampak ayah mertuaku berjalan bersama penjaganya.


"# Iya ayah... Ada apa?" ucapku.


"# Bayangan hitam itu menghabisi sisa musuh..


"#Apakah kamu ada menghubungi seseorang untuk membantu?" ucap ayah mertuaku sambil menatapku,ingin mencari jawaban yang pasti.


"Eh...!!!??? "Ku terkejut. Ku berpikir itu adalah pasukan khusus keluarga Hatake.Ternyata bukan.


Aku keluarkan hape Nokiaku yang tak memiliki sinyal kemudian menunjukkan ke ayahku.


"Bagaimana Bayu bisa menghubungi seseorang jika sinyal hape saja tidak ada..


"# Memangnya ada apa yah?" ucapku


"Bayangan hitam itu lenyap ketika di cari oleh anak buah ayah.." ucap ayah mertuaku..


"Ibu...." ucapku lirih spontan,karena hanya ibuku yang bisa melakukannya. Akan tetapi aku tepis lagi.


"Eh...Masa seh ibuku..." ucapku dalam hati.Karena sosok bayangan hitam itu tinggi badannya tak sama dengan ibuku. Ibuku lebih tinggi,sedangkan sosok bayangan hitam itu agak pendek. Seperti Melisa atau gak Hinata.


"# Apakah polisi mencariku yah?" ucapku mengalihkan pembicaraan.


" Tidak... " ucap Kakashi.


"# Oke... Bayu masuk ke dalam kamar dulu..


"# Mau beribadah yah..." ucapku lalu menaiki anak tangga. Takut jika ayah mertuaku bertanya lagi tentang sosok bayangan hitam yang membantuku dan juga menghabisi semua musuh yang tersisa.Sebab aku belum tahu pasti siapa sosok tersebut,sehingga ku putuskan untuk menghindarinya .


Di saat ku menaiki anak tangga ,ku masih penasaran dengan sosok baju hitam tersebut.


"Sopo yo... Ibu..


"bukan...


"Masa seh Melisa...


"Hemm....


"Tapi gak mungkin deh..


" Melisa sebelas dua belas dengan Hinata.. Sifatnya hampir sama. Tapi ...


"Jika itu Hinata...


Sesampai di kamar,aku melepas semua pakaian yang ku pakai,lalu ku mengambil sarung .


" Apakah ibu mengajari gerakan cepat?


Setelah memakai sarung,ku berjalan ke kamar mandi untuk wudhu.


" Nanti sajalah ku tanyain...


40 menit kemudian.


Aku selesai berdzikir dan berdo'a. Memohon ampunan karena telah membunuh ciptaannya. Dan ku berdo'a agar keluargaku terhindar dari segala kejahatan, dan umur panjang. Aku gak tahu letak arah kiblat yang pas mengarah kiblat. Yang jadi patokanku adalah matahari terbenam. Di mana matahari terbenam,di situlah arah kiblat.


Tiba - tiba muncul ke inginan untuk pulang ke rumah memakai ajianku.Karena aku kangen dengan teman - teman dan keluargaku.


Ku pejamkan mataku,lalu ku ucapkan mantra Ajian rogoh Sukmo.


Tak lama kemudian nampak sukma Bayu keluar dari raganya.


Lalu Bayu ingin melesat ke arah rumahnya,tapi sayang tak bisa.


"Aneh...


"Seharusnya kan bisa....


Ku mengulangi lagi seperti biasanya.


Namun tetap tak bisa.


"Bangkek...


"Apa karena jauh terus di pisahkan sama lautan ya..


"Hemm....


Ku mencoba berpikir,mengapa aku tak bisa melakukannya.


Namun sayang,aku tak dapat menemukan jawabannya.


"Sudahlah... Nanti ku tanya sama pakde saja. Mending aku shalat subuh...


Ku menunggu waktu subuh sambil berzikir.


Kruucuuk.... Kruuucuuk... Kruuucukk....( suara perut).


"Diampuuut.....


"Kok wes luwe wetengku....


Ku tahan rasa laparku sambil berzikir.


Setelah tiba waktu shalat subuh,aku pun bangkit lalu shalat.


---***----


Jakarta.


Rumah Bayu.


Nampak Paijo bersiap - siap pergi ke Cafe. Paijo memakai pakai kemejanya,setelah itu menyisir rambut.


"Hemm.... Besok Natal...


"Libur 2 hari...


" Pulang kampung ahh..


Paijo mengambil hapenya lalu mencari kontak Rahman,setelah ketemu,Paijo menelpon.


Tuuut....Tuuuut....Tuuuut....


Tuuut...


"Assalam mu'alaikum..." suara Rahman.


"Wa'alaikum salam...


"Kang...." ucap Paijo.


"Yoo... Ono opo Jo?" suara Rahman.


"Iseh nang Kediri ta?" ucap Paijo.(Masih di kediri kah?)


"Masih...4 hari lagi pulang.." suara Rahman.


"Hem... Insya allah Nanti sore aku berangkat ke kediri...." ucap Paijo.


"Terus Cafemu?" suara Rahman.


"Libur..." ucap Paijo.


"Laah....


"Tante Intan piyee?" suara Rahman.


"Oh iyoo... Lali aku.." ucap Paijo.


"Takonnono disek kono Jo....


"Biasane tante Intan kan melu awakmu yen ape dolan nang omahku" suara Rahman.( Tanyakan dulu sana Jo.. Biasanya tante intan kan ikut denganmu)


"Yo kang...Assalam mua'laikum.." ucap Paijo.


"Wa'alaikum salam..." suara Rahman.


Paijo mematikan panggilan,kemudian berjalan keluar kamar menuju kamar ibu Intan.


Di saat Paijo hendak menuruni tangga,ia melihat Dewi mendorong doubel bucket berisi peralatan untuk membersihkan ruangan sedang berjalan kearahnya.


"Mbak Dewi..." ucap Paijo.


"Ya kang..." ucap Dewi.


"Hemm.... Aku minta tolong...


"Aku kan tadi malam jemur baju..


"Nanti kalau hujan tolong angkatin ya.." ucap Paijo.


"Okee..." ucap Dewi.


"Suwun mbak Dewi..." ucap Paijo.


Paijo melanjutkan lagi jalannya menuju kamar ibunya Putri.


Sesampainya di depan pintu kamar,Paijo mengetuk pintu kamar.


Tok....Tok...Tok...


"Ma....." ucap Paijo.


"Iya Jo..." suara bu Intan.


Tak lama kemudian pintu terbuka.


"Ada apa Jo...?" ucap bu Intan.


"Hem... Nganu..


"Nanti sore aku mau pulang ke rumah.." ucap Paijo.


"Mama sendirian dong..." ucap bu Intan.


" Kan ada pengawal dan yang lainnya Ma..." ucap Paijo.


"Berapa lama Jo?" ucap bu Intan.


" 2 hari aja Ma..." ucap Paijo.


" Mama ikut ya Jo..


"Mama pengen tahu kota Kediri..." ucap bu Intan.


" Iya ma...." ucap Paijo.


"Yuk kita sarapan Jo..." ucap bu Intan.


Paijo dan bu Intan berjalan menuju meja.


Setelah sampai,mereka duduk di kursi.


Paijo dan bu Intan sarapan roti yang di beri selai,dan segelas susu.


"Bayu ada hubungi gak Jo?" ucap bu Intan sambil mengolesi roti dengan selai.


"Belum ada ma..." ucap Paijo.


"Mama punya firasat yang gak enak Jo..." ucap bu Intan.


"Ya kita do'akan saja,agar mereka baik - baik saja bu.." ucap Paijo.


30 menit kemudian.


Paijo dan bu Intan sampai di Cafe Mantan.


Paijo lebih dulu sampai di Cafe karena mengendarai sepeda motor,sedangkan bu Intan naik mobil bersama para pengawal.


Saat ini Paijo berada di dalam ruangannya.Paijo duduk di Sofa.


"Hemmm... Nanti siang lah aku beli lagi tiketnya,semoga aja ada...


Paijo mengambil hape Sony ericsonnya untuk menghubungi Rahman.


Tuuuut.. Tuuut... Tuuut.....


"Assalam mu'alaikum...." suara Cintya.


"Asem...Yang angkat Cintya lagi.." ucap Paijo dalam hati.


"Wa'alaikum salam cantik..." ucap Paijo.


"Kenapa kamu gak ada menghubungiku Jo?" suara Cintya.


"Masa seh....


"Tadi aku dah sms kamu kok Cint..." ucap Paijo.


"Mana... Gak ada sms masuk..." suara Cintya.


"Mungkin nyangkut di pohon Cint...


"Oh iya..." ucap Paijo.


"Nah...Baru masuk..." suara Cintya.


"Bener kan..Aku tadi sms...ku tungguin gak ada balasan,yo weess...


"Oh iya...Kamu lagi apa neh?" ucap Paijo.


"Hemm... Mau pergi.." suara Cintya.


"Pergi kemana?" ucap Paijo.


"SRI RATU Jo....Lama aku gak kesana.." suara Cintya.


*SRI RATU adalah Mall terbesar di Kediri saat itu.


"Kang Rahman mana Cint...?" ucap Paijo.


"Kenapa nyariin kakakku? Apa kamu bosen ngobrol denganku?" suara Cintya.


"Enggak...Enggak....Bukan begitu Cintya sayang...Aku ada perlu dengan kakakmu." ucap Paijo.


"KAAAAK... Ndang cepat too...


"Oh iya Jo.. Kamu masih merokok gak?" suara Cintya.


"Hemm... Tadi malam merokok 1 batang aja Cint... Terus sampe sekarang belom ada..." ucap Paijo.


"Beneran gak ada merokok?" suara Cintya.


"Beneran Cintya...


"Aku mulai belajar berhenti merokok Cint" ucap Paijo.


"Oke...Aku percaya... Tapi...


"Jika aku tanya ke Tante Intan kamuasih merokok,maka kita putus..." suara Cintya.


"Jancook... Bener dugaanku...Pasti dia nanya ke bu Intan.." ucap Paijo dalam hati.


"Jo....." suara Rahman.


"Iya kang..." ucap Paijo.


Tok....Tok....Tok.... ( suara pintu ruangan Paijo di ketuk).


"Ada apa?" suara Rahman.


"Masuk aja ...Gak aku kunci...


"Nganu kang... Bu Intan melu nang Kediri.." ucap Paijo.


Pintu ruangan Paijo terbuka.Nampak Fitri memakai kemeja lengan pendek kotak - kotak,celana panjang muncul di balik pintu,


"Assalam mu'alaikum...." ucap Fitri lalu berjalan.


"Bener kan....


"Yo wes kalau gitu... Hati - hati ya Jo..." suara Rahman.


"Iya kang...Assalam mu'alaikum..." ucap Paijo.


"Wa'alaikum salam...." suara Rahman.


Paijo mematikan hapenya.


"Wa'alaikum salam Fit... Maaf tadi aku lagi nelpon." ucap Paijo.


"Ya gakpapa pak..." ucap Fitri.


Fitri berjalan ke arah meja komputer.


Tiba - tiba Paijo memiliki ide,yaitu meminta tolong ke anak buah Bayu yang notabene Preman.Lalu Paijo menghubungi salah satu preman tersebut yang bernama Ciko.


Tuuuut....Tuuuut.....Tuuuut....


"Ya Hallo...." suara Ciko.


"Assalam mu'alaikum bang Ciko..." ucap Paijo.


"Maaf ganggu bang...


"Begini... Aku minta tolong ke bang Ciko.." ucap Paijo.


"Minta tolong apa Jo?" suara Ciko.


"Tolong belikan tiket kereta api untuk sore ini,yang kelas bisnis... Untuk ibu mertuanya Bayu...Apakah bang Ciko bisa?" ucap Paijo.


"Oooo.... Untuk ibu mertuanya Bos.. Bisa...Bisaa...


"Tujuannya kemana?" suara Ciko.


"Kediri bang...." ucap Paijo.


"Okee...Nanti setelah sarapan aku meluncur untuk beli tiketnya..." suara Ciko.


"Terima kasih bang Ciko...Assalam mua'alaikum..." ucap Paijo.


"Wa'alaikum salam..." suara Ciko.


Paijo mematikan panggilan telponnya,lalu meletakkan hapenya di meja.


"Beres... Terus tinggal apa ya...


"Hemmm...


Nampak Paijo berpikir.


"Oh iya... Kasih tahu ke pengawal...Lali aku..


Paijo kemudian berdiri,lalu berjalan untuk menemui pengawal yang selalu mengawal bu Intan.


Setelah berjalan,akhirnya Paijo menemui salah satu pengawal.Pengawal itu berdiri sambil menenteng senjata laras panjang sambil waspada.


" Permisi pak...." ucap Paijo.


"Iya..." ucap pengawal.


"Begini pak...


"Bu Intan ingin ikut bersamaku sore ini ke Kediri..Aku sudah pesankan tiket kereta api..." ucap Paijo.


" Ooo...Begitu...Tunggu dulu..." ucap Pengawal.


Pengawal itu mengambil hapenya,lalu menghubungi seseorang.Setelah selesai,pengawal itu memasukkan kembali hapenya.


" Saya sudah menghubungi komandan..Nanti kamu akan di hubunginya.." ucap pengawal.


"Siap pak...Matur suwun..." ucap Paijo.


Paijo berjalan menuju anak buahnya,untuk mengecek persiapan.


Nampak anak buah Bayu yang dulunya seorang preman sedang sibuk dengan rutinitasnya.


10 menit kemudian.


Hape Sony Ericson Paijo berdering nada panggil. Paijo mengambil hapenya.


Nampak di layar muncul nomor baru.


"Siapa ya....?


"Angkat sajalah...


"Hallooo...." ucap Paijo.


"Paijo... Ini saya Zhang Yong Han..." suara Zhang.


"Asem...Mbah buyutnya Bayu yang nelpon,kirain komandan pengawal." ucap Paijo dalam hati.


"Iya pak..." ucap Paijo.


"Berapa hari kamu di Kedirinya?" suara Zhang.


"Insya Allah 2 atau 3 hari pak..." ucap Paijo.


"Jam berapa berangkatnya? " suara Zhang.


"Hem... Jam 4 pak..." ucap Paijo.


"Oke.... Nanti saya akan hubungi lagi,para pengawal juga akan ikut bersamamu... Itu saja yang mau saya sampaikan.." suara Zhang.


Panggilan terputus.


"Kalau pengawal ikut..


"Bisa geger desaku.. " ucap Paijo dalam hati.


Paijo membayangkan rumahnya terdapat puluhan orang membawa senjata laras panjang. Kemudian tetangganya pada heboh melihatnya.


"Jiangkreeek....." ucap Paijo.


Pukul 12.32.


Setelah shalat Dzuhur,Paijo makan siang bersama Fitri di ruang kerja.


"Fit..." ucap Paijo.


"Iya pak..." ucap Fitri.


"Cafe akan tutup 2 hari...


"Jadi...


"Besok gak usah turun ya.." ucap Paijo.


"Iya pak..." ucap Fitri.


" Kalau libur,kamu kemana Fit...?" ucap Paijo.


"Di rumah aja pak..." ucap Fitri.


"Kok di rumah aja...Gak jalan - jalan gitu sama pacar..?" ucap Paijo.


"Saya belum punya pacar pak..." ucap Fitri.


"Masa seh... Kamu cantik gitu gak punya pacar?" ucap Paijo tak percaya.


"Kalau bapak gak percaya ya terserah bapak..Kalau bapak sendiri.. Sudah punya pacar apa belum."ucap Fitri.


"Sudah... Cumaaan...." ucap Paijo.


"Cuman apa pak?" ucap Fitri.


"Gimana ya...


Paijo meletakkan sendok di piring.


" Aku harus jadi orang sukses dulu baru dia mau jadi pacar,belum lagi dia ngajukan syarat..Kalau gak di lakukan maka putus.." ucap Paijo.


"Syarat? Syarat yang bagaimana pak?" ucap Fitri.


" Harus berhenti merokok...


"Kamu tahu sendiri kan... Aku itu perokok..


"Ini aja kecut banget mulutku..Rasanya pengen merokok..Tapi ku tahan..." ucap Paijo.


"Berarti dia perhatian sama bapak...


"Gak bagus juga pak buat kesehatan...


" Oh iya.. Bapak kan sudah sukes..." ucap Fitri.


"Belum Fit...


"Aku belum lulus...


"Aku harus lulus dengan nilai yang memuaskan..." ucap Paijo.


"Hem.... Bapak ambil jurusan apa?" ucap Fitri.


"Hukum Fit..." ucap Paijo.


" Ooo...Hukum... " ucap Fitri.


Tiba - tiba hape Paijo berdering.


Paijo mengecek siapa yang menelpon.


Nampak di layar muncul nama pak Zhang.


Paijo menerima panggilan tersebut.


"Halloo...." ucap Paijo.


"Jo...." suara Zhang.


"Iya pak..." ucap Paijo.


"Apakah kamu masih di Cafe ?" suara Zhang.


"Iya pak,saya masih di Cafe.. Jam 1 saya pulang..." ucap Paijo.


Fitri merapikan meja,lalu keluar ruangan sambil membawa nampan berisi piring,mangkok dan gelas.


"Kalian naik pesawat saja..Kalau kereta api akan lama sampainya..


"Saya sudah pesankan tiketnya.. Jam setengah 4 kalian berangkat..Itu aja yang ingin ku sampaikan. Hati - hati.. Jangan sampai bu Intan celaka. Jika celaka maka kamu akan ku siksa..." suara Zhang.


"Diampuuut...." ucap Paijo dalam hati.


"Iya pak...Saya akan menjaga bu Intan..." ucap Paijo.


Panggilan berakhir.


"Jiangkreek... Kalau seperti ini aku yang was - was...


"Waasssuuuu......." ucap Paijo dalam hati.


Tak lama kemudian Fitri kembali.


"Fit..." ucap Paijo.


"Iya pak..." ucap Fitri.


Tok....Tok....Tok....


"Masuk...." ucap Paijo.


Ceklek..... Kriiieeeet....


Seorang pria muncul di balik pintu. Pria itu adalah Ciko.


Ciko berjalan ke arah Paijo


"Asem..... Aku lupa nelpon Ciko.." ucap Paijo dalam hati. Paijo lupa menghubungi Ciko untuk membatalkan tiket kereta api.


Paijo berdiri menyambut Ciko.


"Silahkan duduk bang...


Ciko duduk di sofa. Lalu mengeluarkan kertas dari kantong jaket,kemudian menyerahkan ke Paijo.


Paijo mengeluarkan dompetnya untuk mengganti uang tiket.


"Gak usah di ganti...


" Gue ikhlas belikan itu tiket..." ucap Ciko.


" Suwun yo kang...


"Dah makan apa belum?" ucap Paijo.


"Belum....Jo....Dia siapa" ucap Ciko sambil menunjuk Fitri yang sedang duduk di kursi komputer.


" Calon asistenku bang....


"Pesan aja makanan bang..." ucap Paijo.


"Iyee...


"Kirain pacar lu...Ya udah kalau gitu,gue ke depan dulu ye... Lapeerrr...." ucap Ciko.


"Iya bang....." ucap Paijo.


Ciko berdiri lalu keluar ruangan Paijo.


Paijo mengambil tiket kereta api yang di beli Ciko.


"Angus dong ini tiketnya...


Paijo melihat ke arah Fitri.


"Fit....." ucap Paijo.


"Iya pak..." ucap Fitri.


"Aku pulang duluan ya....." ucap Paijo.


" Ini belum selesai pak..." ucap Fitri.


"Nanti ada yang mengunci ruangan ini.." ucap Paijo.


"Ooo.. Begitu ya pak..." ucap Fitri.


Paijo berdiri lalu berjalan keluar.


"Assalam mu'alaikum..." ucap Paijo sambil berjalan keluar ruangan.


"Wa'alaikum salam...." ucap Fitri.


****


Paijo dan bu Intan pulang kerumah.


Mereka mempersiapkan apa saja yang perlu di bawa. Setelah selesai,mereka berangkat menuju bandara Soekarno Hatta.


Setibanya di bandara Soekarno Hatta.


"Ooo... Begini ta bandara itu..." ucap Paijo dalam hati melihat pemandangan di dalam bandara.


Paijo baru kali ini akan naik pesawat terbang. Biasanya ia hanya naik kereta api untuk pulang kerumah.


Setelah sekian lama menunggu,akhirnya Paijo berjalan menuju pesawat yang akan di tumpanginya bersama bu Intan dan para pengawal.


Para pengawal berjalan sambil menenteng senjata laras panjang. Pihak bandara mengizinkan para pengawal membawa senjata api karena memiliki izin.


Ketika akan lepas landas,Paijo melihat ke arah kaca pesawat. Nampak pemandangan pesawat yang berjejer,lalu pesawat bergerak.


" Begini ya naik pesawat itu..." ucap Paijo dalam hati.


Begitu pesawat yang di tumpangi Paijo di landasan pacu, pesawat itu menaikkan kecepatannya hingga akhirnya pesawat itu terbang.


" Kalau jatuh langsung almarhum neh..." ucap Paijo dalam hati ketika melihat ke arah jendela.


Dalam penerbangan itu,Paijo melihat awan seperti permen kapas.


"Astaga... Awan koyo ngono ta bentuknya..


----****----


Jepang.


24 Desember. Pukul 19.20


Nampak mobil berjalan beriringan di jalan raya. Salah satu mobil itu terdapat seorang pemuda ,berkulit putih kebangsaan indonesia. Pemuda itu adalah Bayu.


Bayu bertolak menuju rumah mertuanya bersama keluarga mertua dan juga para pengawal.


Setelah kejadian penyerangan,Bayu dan yang lainnya menunggu. Namun tak ada lagi musuh,hingga akhirnya Kakashi memutuskan untuk kembali ke rumahnya.


Hingga akhirnya,rombongan itu sampai di rumah Kakashi.


Bayu turun dari mobil,lalu berjalan ke rumah mertuanya sambil menggendong tas.


"Alhamdulillah sampe...


Ku merasakan udaranya tak sedingin di Fukushima.


Penjaga membukakan pintu untukku.


"Assalam mu'alaikum...." ucapku.


"Wa'alaikum salam...." suara pria.


"Sepertinya gak asing...Tapi masa seh dia di sini...??" ucapku.


Ku memgenali suara itu.


Begitu sampai di sumber suara yang menjawab salamku,alangkah terkejutnya aku.


Ku melihat 5 orang yang ku kenal duduk menikmati hidangan di meja. Ada juga beberapa pria yang belum aku kenal.


"Kang Malik......!!!!!???? " ucapku melihat Maulana Malik Ibrahim.


Malik melihat ke arahku.


"He eh... Mosok aku di tinggal..." ucap Malik.


"Waassssuuu...." ucapku.


Ku hampiri Malik,kemudian bersalaman,tak lupa ku bersalaman dengan yang lainnya.


Setelah itu ku duduk di samping Malik.


"Kapan tekone kang?" ucapku.


"Kemarin Bay...." ucap Malik.


"Apakah mbahku seng ngongkon rene kang?" ucapku.(apakah kakekku yang nyuruh ke sini bang")


"He eh..." ucap Malik.


"Aseem..." ucapku.


"Besok kita berangkat..." ucap Malik.


"Berangkat kemana kang?" ucapku bingung.


" Pesta...." ucap Malik.


"Pesta??...


Ku teringat besok adalah tanggal 25 Desember. Yang mana umat kristiani merayakan Natal.


" Daniel ngadakan pesta kah kang?" ucapku.


"Nanti kamu juga tahu Bay..." ucap Malik.


"Waasssuuu..." ucapku.


Sejam kemudian.


Para keluarga Hatake berkumpul di ruangan,ada Malik juga turut serta,dan akupun ikut berkumpul.


Ku melihat salah dan mendengar apa saja yang mereka bicarakan.


Mereka merencanakan untuk menyerang Hatake secara penuh. Malik ikut serta dalam penyerangan itu. Malik mendengarkan penerjemah,karena Malik dan teman - temannya tak bisa bahasa Jepang.


"Asem.... Ini to pesta yang di maksud..." ucapku dalam hati.


Aku penasaran,mengapa mbah buyut mengirim Malik ke Jepang,bagaimana dia tahu kalau aku dan keluarga mertuaku ingin berperang melawan clan Uchiha.


Tiba - tiba seseorang duduk di belakangku,lalu memelukku.


"Siapa ini maen peluk aja....Aseem" ucapku dalam hati.


" Besok sayang ikut?" suara wanita yang ku kenal. Wanita yang selalu menjagaku dari bayi hingga saat ini. Dia adalah ibuku.


"Insya allah ikut bu..." ucapku.