
(note : belajar buat pov,kalau gagal,ku buat biasa saja.)
Pov Bayu.
Setelah selesai makan,ku memutuskan pulang.
Sempat ku berpikir tak bisa menjalankan amanah pak Sumarno,karena itu baru perdana aku melaksanakannya,yang biasanya aku yang di nikahkan. Malah aku yang menikahkan. Untung saja aku ingat ucapan pak kyai Mustafa saat beliau menikahkan aku. Sebelum ijab kabul,pak kyai memberi wejangan kepadaku. Lalu ku praktekkan kepada Budi. Sempat aku deg - deg kan saat melihat banyak orang,seperti halnya akan mau nikah saja. Tapi kan aku bukan menikah,tapi menikahkan.
Ku berdiri lalu melangkahkan kaki menuju pelaminan,tak lupa amplop yang sudah kupersiapkan dari rumah,sebab aku berencana akan ke Jakarta hari ini juga. Sebenarnya lebih cepat aku memakai ilmu menghilangku,tapi apa kata keluarga besarku nanti.Mana mobilmu?kapan sampainya kok aku gak lihat datang.
Huuuft... Ku menghela nafas.
Saat sudah berada di pelaminan orang yang pertama aku hampiri adalah pak Sumarno.
" Pak...Saya pamit pulang ya.." ucapku.
" Injih gus...Matur suwun.." ucap pak Sumarno lalu memelukku.
Lalu aku menangkupkan tangan ke istrinya. Lalu ku keluarkan amplop kemudian menjabat tangan ke Budi,pemuda yang kunikahkan tadi.
Budi hendak mencium tanganku,tapi ku tak bisa menariknya,sebab dia memegang telapak tangan.
" Asem...Aku uduk kyai..Woo..Weduus.." ucapku dalam hati melihat sikap Budi. Padahal umur Budi di atasku.
" Selamat yoo..Sak iki sampeyan wes resmi dadi suamine Sumarni.Semoga sakinah,mawadah dan warrohmah,due anak sholeh,berbakti kepada orang tua,yen arep nyucuk woco dungo disek. Ojo maen coblos wae" ucapku.
" Injih gus...matur suwun..." ucap Budi.
Ku tangkupkan ke dua telapak tangan ke Sumarni. Kemudian bersalaman ke ayahnya Budi
Ayahnya Budi memeluk.
" Matur suwun gus.." ucap pak Heru
" Sami - sami pak.." ucapku. Setelah ayahnya Budi melepaskan pelukannya,ku tangkupkan tangan ke istrinya.
Ku lihat Budi mendekatiku.
" Gus... Foto dulu.." ucap Budi.
Aku mengiyakan saja.
Setelah selesai berfoto,ku langsung pulang.
Skip hingga ku sampai di rumah,memasukkan baju yang akan ku bawa,yakni baju jas yang tadi aku pakai untuk ijab nanti.
Aku selesai shalat Dzuhur di Mushalla,kini ku mengecek lagi keadaan rumah. Apakah jendela dan peralatan alat elektronik sudah aman.
" Aman...semua...Jendela,pintu semua sudah aku kunci. " ucapku setelah selesai memeriksa,tak lupa ku memberi tanda sepotong lidi di pintu dan jendela ,untuk memberi tanda. Jika ada yang buka,maka lidi itu akan jatuh.
Perlengkapan yang ku bawa sudah ku masukkan dlam mobil .
Aku berjalan ke luar,lalu mengunci pintu,kemudian menyelipkan sebatang lidi di sela - sela pintu.
Ku lihat 2 pengawal duduk di teras lalu ku menghampirinya.
" Pak...Saya berangkat dulu.." ucapku.
Nampak dua pengawal duduk di teras. Bayu menghampiri setelah mengunci pintu.
Kedua pengawal itu berdiri.
" Iya pak..." ucap kedua pengawal.
" Kalau ada apa - apa,hubungi saya atau ibu saya.." ucap Bayu.
" Siap pak..." ucap kedua pengawal serempak.
" Assalam mu'alaikum.." ucap Bayu.
" Wa'alaikum salam.." ucap kedua pengawal.
"Bismillah..Semoga selamat sampai tujuan..." ucapku dalam hati sambil berjalan ke mobil Rubiku. Lalu menjalankan mobil tersebut menuju ke Jakarta.
"Jika polisi dalam seminggu ini belum menemukan pelakunya..."
" Aku akan mencari,bagaimanapun caranya.."
" Aku punya anak buah preman.."
" Mereka bisa aku andalkan..."
" Tapi..."
" Jika dia keluar dari persembunyian memakai masker atau merubah penampilan,juga susah.."
Bayu melewati jalan yang seharusnya ia lalui,sebab dirinya memikirkan pelaku pembunuhan Putri.
" Sial...."
" Masa aku harus memakai pasukan tak kasat mata ( prajurit di istana Kumala Sari)"
Tiba -tiba ku mendapatkan ide setelah berkata tadi.
" Oh iya...."
Bayu teringat saat Kumala Sari mencari jam tangan untuknya,berbekal gambar. Kumala Sari berhasil menemukan jam tangan. Tak tanggung - tanggung,jam tangan yang harganya mahal di ambil 1 etalase. Meskipun pengetahuan akan teknologi yang di gunakan manusia sangat rendah,namun bisa mencarinya berbekal gambar.
" Aku perintahkan saja mereka untuk mencarinya.."
"Jadi mereka tak akan bisa kabur dariku.."
" Nanti lah aku akan ke sana,sekalian aku menemani Kumala Sari.."ucapku.
Lalu dirinya berzikir sambil menyetir.
1Jam kemudian.
Bayu merasa bingung dengan jalanan yang ia lalui karena dirinya tak hapal jalan.
" Juancok..."
" Ya Allah...Aku ada di mana ini.." ucapku bingung.
Lantas ku memiliki ide,yaitu ke kantor polisi. Untuk minta bantuan mengawal ke jalan Tol.
" Mana neh polisinya..."
Ku celingukan mencari kantor polisi sambil menyetir.
Sudah 1 jam lebih Bayu mencari,Namun juga menemukan kantor polisi.
" Jiangkreek.."
" Polisinya ngumpet di mana seh.."
" Masa aku harus melanggar peraturan lalu lintas baru mereka muncul,terus ngasih aku surat tilang.." ucap Bayu.
Terdengar suara adzan.
" Shalat dulu lah.." ucap Bayu memutuskan untuk shalat,ia mencari sumber suara adzan.
Bayu melihat sebuah mesjid di pinggir jalan yang sedang mengeluarkan suara adzan,lalu ia membelokkan mobilnya.
Di saat Bayu berdiri shalat Ashar,ada seorang pria berjalan lalu berhenti di samping Bayu,pria itu memakai pakaian tentara ,di lengannya bertulis KAMTIBMAS(Babinsa).
Saat ku menoleh salam ke kanan,rupanya di sebelahku itu seorang tentara,ku pikir pakaian ormas.
" Aseeek...Ada pak TNI bisa neh aku minta tolong.." ucapku dalam hati setelah selesai shalat.
Ku memutuskan untuk segera keluar mesjid,tak membaca wirid dan berdoa. Jika aku wirid dan berdo'a,takutnya pak tentara itu tak bisa menolongku.
Sambil menunggu,aku keluarkan uang dalam dompet sebanyak 500rb sebagai ucapan rasa terima kasihku jika pak tentara itu mau mengantarku hingga gerbang tol. Kalau hanya ucapan saja takut nyasar lagi.
Akhirnya yang ku tunggu - tunggu keluar dari mesjid,aku langsung menghampiri. Nampak tulisan di dadanya bernama Wardoyo.
"Assalam mua'alaikum pak.." ucapku sopan.
" Wa'alaikum salam.." ucap Wardoyo.
" Maaf pak saya menganggu anda... Nama saya Bayu. Saya tidak tahu arah jalan TOL,saya minta tolong antarkan saya ke gerbang jalan TOL,apakah bapak bisa?" ucapku
" Ini pak Bayu dari mana mau kemana?" ucap Wardoyo
" Saya dari Sragen pak,cuman pas ke sana di antarin oleh saudara saya,ini saya mau balik ke Jakarta..Tolong ya pak,saya gak hapal jalan daerah sini. waktu itu sempat saya nyasar hingga Trenggalek pak..." ucapku
" Ooo...Begitu...."
" Mari ikut saya.." ucap pria itu.
"Bapak naik motor apa mobil?" ucapku.
" Saya naik motor" ucap Wardoyo.
Ku mengeluarkan uang yang tadi ku siapkan,lalu memberikan ke pak Wardoyo.
" Ini pak buat bensin sisanya terserah bapak.." ucapku.
" Tidak usah..Saya ikhlas bantu sampeyan.." ucap pria itu.
" Rezeki jangan di tolak pak..Ini duit halal. Buat keluarga bapak" ucapku.
Pak Wardoyo menerima uang pemberianku.
" Terima kasih.." ucap Wardoyo.
" Sama - sama pak.." ucapku lalu masuk ke mobil Rubiki.
Ku melihat pak Wardoyo sudah di Jalan,segera aku mengikutinya.
Ternyata jalan yang di lalui adalah jalan yang aku lalui tadi.
" Juangkrek...Ternyata aku salah jalan,untung aku bertemu sama pak Babinsa.." ucapku sambil mengikuti pak Wardoyo.
Setelah berjalan mengikuti pak Wardojo,akhirnya Aku menemukan gerbang jalan Tol yang ada plang petunjuk Jalan.
Pak Wardoyo berhenti di pinggir Jalan,ku menekan tombol di pintu untuk membuka kaca jendela.
" Matur suwun pak..." ucapku nyaring agar pak Wardoyo mendengar suaraku.
" Yooo..." ucap pak Wardoyo.
"Assalam mu'alaikum.." ucapku nyaring.
"Wa'alaikum salam..." ucap pak Wardoyo.
Ku menjalankan lagi mobillu menuju arah gerbang TOL ,tak lupa menutup lagi kaca jendelanya.
" Alhamdulilah...Akhirnya ketemu juga jalan TOL..." ucapku kesenangan ketika melihat gerbang TOL.
Setelah melewati gerbang TOL,aku segera menambahkan kecepatan mobilku.
Aku teringat tentang amalan yang di berikan oleh ibu. Maka aku lakukan saja,sebab untuk menghemat waktuku. Seandainya amalan ini banyak di ketahui orang -orang,maka Pertamina akan rugi besar. Lha wong setiap tahun aja rugi,padahal kelas BUMN,apa lagi jika semua orang memakai amalan ini. Dari Jogja ke Jakarta tak sampai 15 menit. Tapi ada persyaratannya memamakai amalan ini,tak sembarangan orang bisa.
Langsung saja ku pakai amalan yang di berikan ibuku.
Mobil Rubicon melesat melaju di jalan TOL.
Bahkan ada mobil yang kecepatannya 130km/ Jam di salip oleh Bayu.
Namun nahas,saat melaju di kecepatan 160km/jam ada kendaraan mengambil jalurnya karena ada mobil mogok di jalan tol.
CIIIIIIIT......Pria itu mengerem. Karena mobilnya terlalu laju,mobil itu hilang kendali lalu menabrak mobil di depannya.
BRAAAAAK....... Tabrakan keras terdengar.
Seketika mobil itu hancur bagian depan lalu terpental ke jalur sebelahnya.Ada sebuah mobil truk tronton lewat,lalu menabrak mobil itu.
BRAAAAK......
Pria itu tewas seketika,karena kepala tertusuk besi ,mobilnya penyok dan hancur tak berbentuk.
----***----
Jakarta.
Bayu tiba di jakarta sebelum magrib,ia membelokkan mobilnya ke perumahan Golden Hilss.Lalu berhenti,karena pengawal akan memeriksa setiap kendaraan yang akan masuk. Jika keluar,hanya kendaraan orang luar saja yang di periksa.
Ku membuka kaca mobil,lalu membuka kaca matanya.
" Pak Bayu..!!! Ucap salah satu pengawal terkejut.
Aku tersenyum
" Iya pak...Saya sendirian aja.." ucapku.
" Silahkan pak.." ucap pengawal itu lagi.
" Terima kasih..." ucapku.
Palang portal di buka oleh salah satu pengawal,lalu ku jalankan lagi Rubiku.
Skip hingga ku melewati pos penjaga rumahku.
Ku melihat keadaan rumahku sedikit ramai,mobilnya maksudku,jika pengawal tentu saja seperti biasanya.
" Alhamdulilah..Sampai.."
Lalu ku turun dari mobil tak lupa mengambil tasku. Lalu berjalan ke pintu,pengawal masuk ke dalam Rubiku untuk di cuci sebelum masuk dalam garasi.
" Assalam mu'alaikum..." ucapku nyaring saat melewati pintu. Sengaja ku berkata nyaring agar orang - orang yang tinggal di rumahku mendengar suaraku. Aku yang punya rumah ini datang.
" Wa'laikum salam..." suara penghuni rumah.
Muncul keluargaku,di antara keluargaku,ada 2 orang yang bukan keluargaku,aku mengenal mereka,yaitu Ayah dan ibu Aisyah. Gadis malaysa yang akan menjadi istri ke lima setelah Sulis.
Ku bersalaman ke kakek Naruto tak lupa cium tangan, Lalu ke keluargaku yang pria,sedangkan wanita,aku hanya menangkupkan kedua tangganku saja..
Saat aku hendak bersalaman ke pak Ihsan,pak Ihsan memelukku.
" Saye tak menyangka bisa bertemu lagi.." ucap pak Ihsan lalu melepas pelukannya.
Lalu ku menangkupkan tangan ke ibunya Aisyah.
Muncul Aisyah bersama Ayu.
" Bayuuuu..." seru Aisyah.
Ku melihat ke arah Aisyah,gadis malaysa yang akan aku nikahi nanti. Dan ku melihay Ayu menahan Aisyah
" Jangan peluk Bayu...Kamu belum sah menjadi istrinya." ucap Ayu.
" Galak bener Ayu...Tapi gakpapa seh... Dia kan istriku,jadi wajar saja bersikap seperti itu" ucapku dalam hati.
" Iyaa.." ucap Aisyah.
Ayu menghampiriku,lalu memeluk,padahal semalam sudah berpelukan,bahkan tak memakai pakaian.
Lalu Aku bersalaman ke yang lainnya.
Setelah selesai bersalaman,ku lihat jam tangan 20 menit lagi akan Magrib.
" 20 menit lagi magrib.Maaf.. Saya naik ke atas dulu ..." ucapku.
10 menit kemudian.
Aku sudah berada di ruang shalat,tapi ada yang terasa mengganjal dalam hatiku,aku tak melihat ke empat sahabatku dari tadi,kemana ya mereka.
Satu persatu berdatangan ke ruang shalat.
Ku lihat kakek buyutku datang memakai sarung dan baju muslim,tak lupa songkok di kepalanya. Aku yang pertama kali melihat kakek buyutku memakai pakaian seperti itu heran. Namun aku segera sadar,karena ibuku bercerita bahwa kakek masuk islam. Aku yang mendengar berita itu merasa bersyukur.
Ku ulurkan tangan ke kakek Zhang,kakek Zhang menyambut,lalu ku cium punggung tangannya.
" Kok mbah tahu kalau Bayu sampai.." ucapku.
"Ya tahulah.." ucap kakek Zhang.
" Mbah jadi imam ya..." ucapku.
" Kakek belum bisa jadi imam Bayu - chan.." ucap kakek Zhang.
Kakek buyutku mengikuti gaya bicara kakek Naruto saat memanggilku,bagiku tak masalah. Sebab ku sendiri memanggil mbah buyut hanya mbah saja,tak ada kata buyut.
Ku lihat jam tangan sudah masuk magrib,segera saja aku mengumandangkan adzan.Suaraku terdengar hingga dapur,sebab mbak Dewi pernah bilang kalau aku adza,suaraku sampai di dapur bahkan teras rumah. Gimana gak sampai keluar,lha wong kalau aku adzan nyaring kok,kalau pelan berarti bisik - bisik tetangga .
Satu persatu berdatangan untuk shalat Magrib berjamaah. Termasuk aisyah dan keluarganya.
Selesai adzan,ku meminta pak Ihsan jadi imam.
" Pak...Jadi imam ya.." ucapku.
" Nak Bayu saja yang jadi imam.." ucap pak Ihsan.
"Asem....Kalau ada teman -temanku,kusuruh mereka. Dan mereka tak ada yang menolak."ucapku dalam hati.
Aku pun berdiri di depan. Kubaca niat shalat dalam hati.
"Allaaah huakbar..." ucapku sambil mengangkat kedua tangan,lalu bersedekap.
Selesai shalat,seperti biasa ku mengambil Al Qur'an yang ada di rak.
Mbah buyut mendekatiku,lalu berbisik" Apakah Bayu - chan bisa memgajarkan kakek mengaji"
Ku jawab" Bisa mbah.."
" Ajarkan kakek,tapi jangan di sini,kakek malu.." ucap mbah buyutku pelan.
" Ayoo.." ucapku.
Ku ambil buku IQRA lalu berjalan mengikuti mbah buyutku.
Rupanya mbah buyut mengajakku ke ruang musik yang kedap suara.
Lalu kita duduk di sofa.
"Mbah sudah sampai mana ngajinya?" ucapku.
"Baru IQRA 3 Bay..." ucap mbah buyutku.
" Mbah jarang ngaji ya...?" ucapku.
" Iya...Bayak kerjaan,dan kakek pusing.."
"Makanya...Kamu gantikan kakek saja ya ..Biar kakek bisa ngaji dengan lancar.." ucap mbah buyutku.
Ku lihat mbah buyutku kasihan juga,usia sudah 100 tahun lebih,yang seharusnya menikmati masa hari tua tetap mengurus pekerjaan kantor dan keluarga.
" Insya Allah tahun depan,Bayu akan membantu mbah..Tapi.."
" Bayu jangan langsung jadi presiden direktur ya mbah.." ucapku.
" Kenapa tidak langsung menjadi president Bayu - chan.." ucap mbah buyutku.
" Bayu mau belajar dari bawah dulu.."
" Jika langsung ke atas,takutnya ketika ada badai menerjang Bayu,Bayu tak punya pegangan maka Bayu langsung tumbang mbah..."
" Kalau mbah buyut gak mau ya udah..."
" Mbah harus menungguku 20 tahun lagi.." ucapku.
" Kelamaaan 20 tahun,.."
" Ya sudah..Kakek akan menempatkanmu di cabang perusahaan kakek yang ada di Pacitan.."
"Bagaimana?" ucap mbah buyutku.
"Oke...Ya sudah mbah..Ayo kita mulai.." ucapku
Mbah buyutku membaca huruf arab,ketika bacaannya salah. Aku benarin,lalu ku suruh mengulang lagi.
" Pekerjaan yang bisa menyuruh penguasa itu gak hanya tukang rambut ya,ternyata mengajari ngaji juga bisa menyuruh,nurut lagi.." ucapku dalam hati.
" Coba di suruh ngentu Bay..." suara Jalu.
" Jiangkreek...Muncul aja pakde ini..."
Ku teringat dengan wanita bernama Sekar.
" Pakde..." ucap Bayu dalam hati sambil menyimak ucapan mbah buyutku.
"Panggil aku pria tampan.." suara Jalu.
" Tsa mbah..Lidahnya di gigi atas depan.."
" Tsaa..Tsaa Ba kho..Khoo'"
" Tsa agak panjang,karena ada huruf alif."
" huruf Kho' di baca panjang apa pendek mbah?ucapku.
" Hemm..Panjang.." ucap mbah buyutku.
" Pinter...Terus kenapa di baca panjang..?" ucapku.
" Karena ada huruf alif.." ucap mbah buyutku.
" Kalau ba...Panjang apa pendek mbah?" ucapku.
" Panjang.." ucap mbah buyutku.
Emang benar kata pepatah. Belajar di usia muda bagaikan mengukir di batu,namun belajar di usia tua bagaikan mengukir di atas air.susah pooool.
" Pendek mbah...Ini gak ada huruf alif..." ucapku.
.
.
.
.
####
Maaf,update sedikit dulu. Banyak kerjaan. Matur suwun