
" Dia adalah Bayu.." ucap bu Intan.
" Ooo...Bayu...." ucap ibunya Clara.
" Maaf.... "
" Ini mengenai hal pribadi..."
" Apa keyakinan nak Bimo ini?" ucap ayahnya Clara.Sebab tadi Bimo dan ibu angkatnya menjawab salam secara islam.
" Saya islam om..." ucap Bimo.
" Islam...!!! " ucap ibunya Clara terkejut.
" Iya saya islma tante....Saya menyukai anak tante.."
" Dan Clara pun menyukai saya.." ucap Bimo.
" Maaf...Saya pikir kita sama keyakinannya..."
" Putri saya tidak saya izinkan untuk menikah dengan pria yang berbeda keyakinannya.." ucap ayahnya Clara.
" Pa.....Clara sangat mencintai Bimo pa..."
" Clara rela berpindah keyakinan mengikuti keyakinan Bimo pa..." ucap Clara.
" Tidak...Papa tidak setuju..." ucap ayahnya Clara tegas.
Tiba - tiba Zhang Yong Han muncul bersama Tian Fei dan Jien Li.
" Assalam mu'alaikum.." ucap Zhang saat melewati pintu.
Mereka terdiam saat Zhang Yong Han mengucapkan salam.
" Wa'alaikum salam.." ucap bu Intan dan Bimo.
" Ooo..Ada tamu rupanya...Maaf.."
Kedua orang tua Clara melihat 3 pria memakai stelan jas dan sepatu berdiri di dekatnya sempat tertegun.
" Apakah Bayu ada?" ucap kakek Zhang.
" Ada kakek.." ucap bu Intan. Ia memanggil Zhang dengan sebutan kakek,karena Hana memanggil kakek Zhang dengan sebutan kakek.
" Baiklah...Kami tinggal dulu.." ucap kakek Zhang lalu pergi meninggalkan ruang tamu mencari keberadaan Bayu.
" Bayu...." suara kakek Zhang.
" Bayu di belakang mbah..." suara Bayu.
Kedua orang tua Clara bingung mengenai Bayu,pemuda berpakaian biasa tapi di cari oleh 3 orang berpakaian jas.
Namun ayahnya Clara pernah melihat Jien Li Han dalam sebuah acara di perusahaan.
" Kalau gak salah itu pak Jien Li,kok ada di sini ya.." ucap ayahnya Clara dalam hati. Lalu ia pun menanyakan itu pada bu Intan.
Muncul bu Hana dari pintu.
" Assalam mu'alaikum..." bu Hana.
" Wa'alaikum salam..." ucap Bimo dan bu Intan.
Kedua orang tua Clara meluhat ke arah bu Hana.
Bu Hana terus berjalan masuk ke dalam,ia tak memperdulikan ada tamu yang berkunjung.
" Maaf... Apakah tadi itu pak Jien Li bu?" ucap ayahnya Clara untuk menyakinkan.
" Iya benar... Anda tahu dari mana?" ucap bu Intan penasaran.
" Saya pernah melihatnya di sebuah acara " ucap ayahnya Clara.
" Ooo... Begitu..."
" Jadi bagaimana ini pak tentang hubungan anak saya dan putri bapak?" ucap bu Intan.
Nampak ayahnya Clara berpikir.
" Jika aku menolak,otomatis hilang kesempatanku untuk bergabung di bisnisnya pak Jien Li.." ucap ayahnya Clara dalam hati.
" Hemm...."
" Baiklah..."
" Aku akan merestui kalian..." ucap ayahnya Clara.
" Eh...!!! Bimo terkejut. Sebab awalnya ayahnya Clara menolak keras,kini malah menerima.
" Serius pa...?" ucap Clara tak percaya.
" Iya...papa serius..." ucap ayahnya Clara.
Ingin rasanya Clara memeluk Bimo. Tapi ia tahan. Karena malu di depan bu Intan yang merupakan ibu mertua Bayu.
" Alhamdulillah...Terima kasih ya Allah..." ucap Bimo dalam hati merasa senang sekali.
Tak lama kemudian muncul rombongan keluarga Naruto.
" Assalam mu'alaikum..." ucap kakek Naruto.
" Wa'alaikum salam.." ucap Bimo dan bu Intan.Lalu mereka berdiri dan berjalan untuk menyambut keluarga Naruto.
Kedua orang tua Clara dan Clara melihat keluarga Naruto.
" Di mana Bayu - chan?" ucap kakek Naruto.
" Bentar mbah...Saya panggillkan Bayu." ucap Bimo. Meskipun ia tak paham bahasa jepang,namun saat nama Bayu di sebut,ia sedikit paham.
Bu Intan membawa mereka ke ruang keluarga.
***
Di sisi Bayu.
Nampak Bayu membantu ke tiga istrinya di dapur. Mereka membuat masakan untuk keluarga Naruto jika mereka sudah datang kerumah di bantu 2 pembantunya serta keluarga Bayu yang rata - rata wanita.
Lalu kakek Zhang muncul bersama Tian Fei dan Jien Li.
" Bayu..." ucap kakek Zhang.
Bayu menghentikan aktifitasnya.
" Iya mbah...Ada apa?" ucap Bayu.
" Ikut kita ke atas...Ada hal yang penting yang ingin di bicarakan.." ucap kakek Zhang.
" Sulis? atau masalah lain?" ucap Bayu.
" Tentang Sulis..." ucap kakek Zhang.
" Dek...Mas tinggal dulu ya...." ucap Bayu.
" Iya mas..." ucap Putri.
Bayu mencuci tangan,lalu menghampiri Ayu.
" Ayo ikut aku yomesan.." ucap Bayu.
Ayu mencuci tangan lalu berjalan bersama menghampiri kakek Zhang.
" Kenapa dia ikut Bayu..?" ucap kakek Zhang heran.
" Ada sesuatu yang ingin Bayu beritahu pada mbah" ucap Bayu.
Mereka berjalan menuju lantai 3.
Bu Hana muncul,lalu mengikuti mereka.
Sesampainya di ruang musik yang kedap suara,mereka pun duduk.
" Begini Bayu..."
" Menurut mata - mata yang di kirim oleh keluarg kakek yang berada di cina."
" Ada sebuah tempat,yang menjadi salah satu markas mereka. "
" Mereka melihat di langit itu tiba - tiba mendung gelap,lalu muncul petir"
" Kejadian itu hanya 10 menit saja..."
" Setelah itu mendung di langit hilang.."
" Tak ada hujan..." ucap kakek Zhang.
" Menurut buku kuno yang ayah baca..."
" Biasanya itu ada yang mengadakan ritual kegelapan.." ucap Jien Li.
Deg......
Bayu teringat akan mimpi yang ia alami tadi malam.
" Jangan....Jangan...."
" Ayuub..." ucap Bayu lalu meneteskan air matanya.
Hatinya terasa sakit,meskipun ia tak melihat langsung tentang kematian Ayub.
" Jika kakek melarangmu pergi ke cina...Ayah mengizinkan kamu pergi ke Cina..."
Jien Li Han dapat kabar itu dari Hana,sebab Hana mendatangi Jien Li Han dan Tian Fei Han untuk membujuk kakeknya.
" Aku pun begitu Bayu..Paman akan membantumu...Meskipun kakekmu melarang keras.." ucap Tian Fei.
Zhang Yong Han tak bisa berkutik dengan kedua putranya. Bila mereka pergi dari rumah. Maka dirinya akan terasa sangat kesepian serta takut arwah istrinya datang lalu memarahinya.
" Keluarga Hatake juga siap membantu shujin.." ucap Ayu.
" Terima kasih telah membantu Bayu.."
Bayu mengusap air matanya.
" Kemungkinan besok Bayu akan ke cina.."
" Jika tidak... Keluarga Han,keluarga Jati dan Hatake akan terancam..."
" Keluarga Hatake sama dengan kita.."ucap Bayu.
" Sama...?"
" Sama dalam hal apa Bayu?" ucap Jien Li penasaran.
" Sama - sama memiliki kekuatan seperti kita ayah..."
" Keluarga Jati memiliki mata warna merah dan Hitam.."
" Keluarga Hatake memiliki warna emas.." ucap Bayu.
" Seriuss..!!!?" ucap kakek Zhang dan Jien Lie serempak.
" Iya...Bayu serius..."
" Shujin...Coba tunjukkan pada mereka.." ucap Bayu.
Ayu menunjukkan warna mata kekuatannya.Mata Ayu menjadi warna emas.
Kakek Zhang,Jien Li dan Tian Fei yang melihat mata Ayu terkejut. Sebab mereka baru pertama kali melihatnya.
Ayu kembali menormalkan matanya.
" Jika kakek Zhang tak mengizinkan Bayu,Bayu berencana meminta bantuan pada keluarga Hatake..."
Tok...Took...Took...( suara pintu di ketuk)
" Bayuuu..." suara Bimo.
Bayu berdiri lalu berjalan ke pintu.Lalu membuka pintu.
" Opo Bim?" ucap Bayu.
" Mbah Naruto wes teko..." ucap Bimo.
" Oke...Nanti aku turun.."
Bayu menutup pintu lalu berjalan menghampiri Ayu.
" Yomesan..Tolong kakek Naruto bawa kemari,setelah itu temani keluarga kita..." ucap Bayu.
" Iya shujin..." ucap Ayu lalu berdiri kemudian berjalan menuju pintu.
Bayu duduk di kursi sofa.
" Jika keluarga kita bersatu,maka mereka akan kalah.."
" Bayu berencana membawa kang Bejo ikut serta dalam peperangan ini.."
"Dia bisa mengetahui orang - orang di dalam gedung meskipun ia tak masuk gedung itu..."
" Gimana mbah...Apakah mbah siap melawan mereka?"
" Apakah mbah selamanya lari dan tak mau membalas dendam atas perlakuan keluarga kita? "ucap Bayu.
" Sebenarnya ...."
" Kakek ingin sekali membalas dendam"
" Tapi ..."
" Kakek khawatir dengan cucu - cucuku nanti Bayu..."
" Mereka akan berusaha untuk mendapatkan keluarga kita.." ucap kakek Zhang.
" Bayu tanya sekali lagi..."
" Mbah siap berperang melawan mereka?" ucap Bayu.
" Iya...Kakek siap..." ucap kakek Zhang.
" Baiklah..."
" Bayu akan menghubungi kang Bejo dulu.." ucap Bayu.
Bayu mengambil hapenya,lalu menghubungi Bejo.
Tuuuut....Tuuuut....Tuuut...
" Haloo adikku yang tampan..." suara Bejo.
" Halo juga kang Bejo seng guanteng... Sibuk gak kang?" ucap Bayu.
" Enggak... Ini lagi di sawah..."
Pintu terbuka,lalu kakek Naruto masuk ke dalam lalu duduk.
" Ada apa Bay?" suara Bejo.
" Aku minta tolong.. Ini masalah darurat..."
" Ada sekelompok orang membawa Sulis,Ayub dan Ahmad ke Cina..."
" Mereka berniat jahat..."
" Jumlah mereka sangat banyak..."
" Aku jaluk tulung bantuin aku..Apakah sampeyan bisa..?" ucap Bayu.
" Bisa....Kapan?" suara Bejo.
" Kalau bisa sekarang kang Bejo kerumahku di Jakarta.." ucap Bayu.
" Oke....Aku akan meluncur ke sana..." suara Bejo.
" Iya kang...Hati - hati.." ucap Bayu.
" Siap..." suara Bejo.
Panggilan terputus.
"# Kakek...Bayu minta bantuan ke kakek..." ucap Bayu.
" Bantuan apa itu Bayu - chan..?" ucap kakek Naruto.
"# Bantuan pasukan untuk membebaskan teman Bayu yang di culik.." ucap Bayu.
" Di culik..?" ucap kakek Naruto.
Bayu menceritakan kejadian yang sebenarnya pada kakek Naruto. Sebab kakek Naruto menyukai orang yang jujur.
Kakek Naruto sempat terkejut mengenai Ayub,yang rupanya anak dari Bayu.
"# Begitulah kakek..Jadi Bayu minta bantuan ke kakek.." ucap Bayu.
"Kenapa baru bilang sekarang Bayu - chan.."
" Kemungkinan mereka telah membunuh Ayub.." ucap kakek Naruto.
"# Maaf kakek..Bayu baru bisa bicara sekarang..." ucap Bayu.
" Kakek ingin melihat matamu.. Apa boleh?" ucap kakek Naruto penasaran.
Bayu kemudian menunjukkan pada kakek Naruto.
Mata Bayu yang semula hitam putih,lalu berubah warnanya menjadi hitam semua,lalu merah semua,kemudian bola hitamnya menjadi warna - warni.
" Baiklah....Kakek akan menghubungi orang - orang kakek untuk bersiap - siap.." ucap kakek Naruto.
Kakek Naruto lantas mengambil hapenya,lalu menghubungi Hiroshi sebagai ketua keluarga Hatake. Hiroshi saat ini berada di Jepang.
Setelah selesai menelpon,kakek Hiroshi melihat ke arah Bayu.
" Mereka sedang mempersiapkan keberangkatan.. Kemungkinan bisa berangkat 3 hari lagi." ucap kakek Naruto.
" 3 Hari... Itu kan sudah lebaran..." ucap Bayu dalam hati.
"# Berarti hari raya idul fitri ke 2 kita berangkat kakek.."ucap Bayu.
" Hemmm...."
" Kenapa tidak 3 hari itu saja?" ucap kakek Naruto.
" # Hari raya pertama itu sangat berat kakek,kita sebagai umat islam merayakan hari kemenangan karena berhasil puasa satu bulan penuh..." ucap Bayu.
" Sebenarnya kakek ingin sekali menikmati hari raya idul fitri di sini Bayu.." ucap kakek Naruto.
"# Kakek di sini saja..."
"# Biar kami yang masih muda melawan mereka..." ucap Bayu.,