Deal, Kita Menikah!

Deal, Kita Menikah!
Part 97



"Tentu saja, kau tidak perlu mengajariku!" Sofia menutup panggilan teleponnya.


Sementara Thalia yang berada di ruangannya, merasa kesal sendiri saat Mom Sofia memutuskan begitu saja panggilan teleponnya.


"Kalau saja wanita tua itu bukan calon mertuaku, sudah aku lempar ke jalanan!" gerutunya dengan kesal.


Ya, Thalia tidak sebodoh dugaan Sofia. Karena wanita itu lebih pintar dari tampilan luarnya. Dia tahu betul rencana Sofia menikahkan dirinya dengan Kenan, karena ingin menguasai harta warisannya.


Kalau saja Thalia tidak mencintai Kenan dan ingin memiliki pria itu, mungkin sudah sejak dulu Sofia di buang ke jalanan. Meskipun wanita tua itu sudah merawatnya sejak kecil, tapi Thalia tahu wanita itu melakukannya demi uang, bukan karena benar-benar tulus menyayanginya.


"Rencana ini harus berhasil! Aku sudah tidak sabar menjadi istri seorang Kenan Meyer," gumam Thalia dengan tersenyum licik. Ia sudah membayangkan hidupnya akan bahagia bersama pria tampan, dan kaya seperti Kenan. "Cleopatra bersiaplah! Sebentar lagi kau akan menyaksikan bagaimana suamimu menjadi milikku. Dan Mom Sofia, dengan perlahan aku akan membuangmu," Thalia tertawa puas dengan semua rencana yang sudah disusunnya.


*


*


Setengah jam kemudian.


Kenan membuka pesan singkat yang dikirimkan oleh Bram, di dalamnya terdapat rekaman CCTV yang ada di dalam apartemen. Yang memperlihatkan dengan jelas seorang dokter tengah memeriksa Mom Sofia.


"Jadi benar dia sedang sakit," gumamnya pada diri sendiri. Saat tengah termenung, ponselnya berbunyi menampilkan sebuah nama asisten pribadinya. "Bagaimana Bram?"


"Cukup! Kau boleh kembali!"


"Baik Tu—"


"Tunggu dulu!" potong Kenan dengan cepat saat teringat sesuatu. "Pergi ke rumah sakit internasional! Temui dokter Alana Ricardo, minta pada dia obat penyubur kandungan."


"What? Ta-tapi Tuan..." Bram menghela napasnya dengan kasar, saat ponselnya sudah dimatikan secara sepihak oleh tuan Kenan. "Obat penyubur kandungan?" Bram mengerutkan keningnya dengan bingung. "Kenapa tidak obat penyubur rambut? Atau obat penyubur kesabaran?" gerutunya sambil masuk ke dalam mobil. Karena mau tidak mau Bram harus mengerjakan perintah tuannya, meskipun perintah itu di luar dari apa yang menjadi pekerjaannya.


Terkadang Bram berpikir, dia lebih cocok menjadi pengawal pribadi tuan Kenan, dari pada menjadi seorang asisten pribadi pria itu. Karena apa yang dikerjakannya selalu berurusan dengan keamanan dan ketentraman keluarga Meyer.


"Dokter Alana Ricardo," Bram mengingat-ingat nama tersebut agar tidak lupa. Karena jika sampai lupa, dan bertanya kembali pada Tuan Kenan. Yang ada pria itu akan memberikan tugas yang lainnya, dan semakin bertambah pula pekerjaannya. "Alana..." Bram terus menyebut nama itu. Nama yang menurutnya sangat indah, tapi tidak tahu apakah orangnya akan seindah namanya.


Sementara itu di ruang kerja milik Kenan Meyer, dia sedang menghubungi pengawalnya yang bertugas menjaga Cleopatra. Karena ingin menanyakan keadaan wanitanya yang ia tinggalkan saat masih tertidur lelap.


"Jadi mereka ada di taman belakang?" tanya Kenan, setelah mendengar keterangan dari pengawalnya.


"Iya Tuan."


Kenan pun menutup ponselnya, setelah memberi perintah untuk mengawasi kedua wanitanya. Karena dia takut Kaylin dan Cleo akan kembali bertengkar seperti yang sudah-sudah.