Deal, Kita Menikah!

Deal, Kita Menikah!
Part 126


Di tengah perdebatan Kaylin yang bersikeras untuk ikut dengan sepupunya. Di tempat yang berbeda lebih tepatnya di sebuah kamar yang terlihat berantakan dengan selimut, dan pakaian yang berserakan di atas lantai, terdengar suara ******* dan lenguhan saat kedua insan yang sedang di mabuk cinta itu kembali bergulat diatas ranjang, setelah sempat terjeda karena pintu yang diketuk dari luar.


"Ken..." Cleo meremas rambut Kenan saat pria itu semakin cepat bergerak diatasnya, tubuhnya bergetar hebat saat pelepasan itu datang bersamaan dengan ambruk nya tubuh kekar tersebut. "Kenan perutku lapar," rajuk Cleo sambil mengusap wajah tampan yang berada di atasnya.


"Baiklah kita pesan makanan," Kenan mengecup bibir wanitanya, beranjak dari tubuh yang sudah memberikan kenikmatan padanya berulang-ulang kali.


"Tadi siapa yang datang?" tanya Cleo saat Kenan menyelimuti tubuh polosnya dengan selimut yang terjatuh di atas lantai.


"Kaylin dan Edgar," jawab Kenan sambil menghubungi room service.


"Ada apa mereka kemari? Eh tapi dari mana mereka tahu kita ada disini?"


Kenan tidak menjawab pertanyaan Cleo, karena sedang memesan makanan untuk mereka. Setelah selesai dan menutup sambungan telepon tersebut, ia menarik Cleo ke dalam pelukannya.


"Aku menyuruh Bram untuk membawa si brengsek itu kemari, karena sudah berani membuatmu menangis. Lagi pula aku juga ingin melihat foto-foto apa yang diperlihatkannya, sampai membuat wanitaku ini cemburu."


"Aku cemburu? Ya ampun Kenan mana mungkin aku—" ucapannya terhenti saat bibir Kenan ******* bibirnya, dan yang terjadi berikutnya mereka kembali bercinta sambil menunggu makanan datang.


"Kenan di mana pakaian ku?" tanya Cleo setelah mereka selesai bercinta entah yang keberapa kalinya. Dia ingin membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum menyantap makanan.


"Aku sudah membuangnya," jawab Kenan dengan santai, sambil melilitkan handuk di atas pinggang lalu menggendong Cleo masuk ke dalam bathroom.


"What? Lalu aku harus memakai apa?"


"Kenan..." Cleo menatap ke belakang dengan sengit, karena saat ini mereka berdua berada di dalam bathtub dengan dirinya yang bersandar di dada bidang Kenan.


"Seluruh pakaianmu sudah dipindahkan kemari."


"Oh..." Cleo memejamkan kedua matanya, menikmati air hangat yang merendam tubuhnya dengan tangan kekar Kenan yang memeluknya dari belakang.


"Secepatnya kita pulang ke Jakarta, menemui dokter Alana untuk berkonsultasi agar kau cepat hamil."


"What? Hamil? Ta-tapi..."


"Aku ingin memiliki anak dari mu," Kenan mengecup pundak polos wanitanya.


"Tapi kenan, kau kan tahu aku ingin meniti karir sebagai model kembali, jadi mana mungkin aku hamil dalam waktu dekat ini. Lagi pula kau sudah berjanji memberikan kebebasan padaku."


Ya, ditengah percintaan mereka pagi tadi. Kenan berjanji memberikannya kebebasan dan tidak akan mengekangnya lagi. Itu sebabnya Cleo memutuskan memberikan kesempatan untuk hubungan mereka.


"Tapi kau juga jangan lupa kesepakatan kita," Kenan menyeringai tipis, mengingat kembali kesepakatan yang terjadi diantara mereka tadi malam. Dia akan memberikan kebebasan yang diinginkan Cleo dengan tidak lagi mengekangnya, tapi wanita itu juga tidak boleh melarangnya, mengawasi, dan melakukan cara apa pun demi melindungi wanita itu. Dan satu syarat lagi yang paling utama, menyanggupi satu keinginannya jika Cleo ingin kembali menjadi seorang model. "Sekarang kau harus menjalankan kesepakatan kita!"


"Oh ya ampun, seharusnya aku tahu kenapa begitu mudah kau mengijinkanku kembali menjadi seorang model," gerutu Cleo sembari menghela napasnya dengan kasar. Karena percuma saja pria itu mengijinkannya kembali bekerja menjadi model, jika syaratnya harus mengandung terlebih dahulu.