Deal, Kita Menikah!

Deal, Kita Menikah!
Part 85


"Tunggu!" Cleo yang sejak tadi duduk dan melihat ke-dua pria tampan itu berbicara, berjalan menghampiri Kenan dan Edgar. "Aku boleh ikut? Em.. maksudku menumpang ke mansion Meyer?"


"Tidak!"


Bukan Edgar yang menjawab melainkan Kenan, pria itu berkata dengan sangat tegas.


"Ken, lebih baik aku pulang. Di sini aku akan melakukan apa? Tidak ada yang bisa aku kerjakan," Cleo menatap Kenan dengan penuh harap.


"Aku bilang tidak, ya tidak! Lagi pula banyak yang bisa kau kerjakan disini, termasuk membuat Kenan junior di ruang istirahat ku," ucap Kenan dengan penuh penekanan saat mengucapkan Kenan junior.


Blus.


Pipi Cleo mendadak terasa panas, dia tidak menyangka Kenan yang nota bene pria dingin dan acuh bisa berkata-kata mesum seperti itu.


Sementara Edgar hanya tersenyum tipis, dia tahu betul Kenan berbicara seperti itu untuk menunjukkan kepemilikannya pada Cleopatra. "Apa pernikahan tanpa cinta itu sudah berubah menjadi pernikahan penuh cinta?" gumamnya dalam hati sambil menatap ke-dua orang yang ada dihadapannya.


"Tunggu Apalagi?" Kenan menatap pada Edgar yang masih berdiri di hadapannya.


Edgar tersenyum kaku lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut, tanpa menghiraukan perdebatan yang terjadi pada Kenan dan Cleo.


Dia terus berjalan menuju pintu lift sambil melamun, dan terkejut saat seseorang menabraknya dan langsung masuk begitu saja ke dalam pintu lift yang terbuka.


"Ayo cepat!" Cleo yang berhasil melarikan diri dari Kenan, segera menekan pintu lift agar tertutup.


Edgar yang tampak bingung, segera masuk kedalam pintu lift yang akan tertutup, setelah melihat Kenan berlari kearah mereka.


*


*


Sementara itu di sebuah apartemen mewah yang terletak di tengah kota, Sofia mengucapkan terima kasih pada Bram setelah diantara oleh asisten pribadi putranya itu ke tempat tinggal baru mereka.


"Mom, apa maksud Mommy mengatakan akan lebih mudah menjalankan rencana jika kita tinggal di tempat ini?" tanya Thalia setelah menutup pintu apartemen. Kini hanya ada mereka berdua di ruangan tersebut, setelah Bram tadi pamit undur diri.


"Kenapa kau masih tidak mengerti juga? Jika di sini, kita akan lebih mudah menjebak Kenan untuk tidur denganmu! Karena di sini tidak ada istrinya yang menyebalkan itu, dan tidak ada Kaylin yang akan menghalangi rencana kita."


Thalia yang sempat bingung kini tersenyum lebar. "Oh iya, kenapa aku tidak pernah berpikir sampai kesana?"


"Karena kau bodoh," sahut Sofia dengan jujur. Karena kalau tidak bodoh, mana mungkin Thalia selalu mengikuti apa yang diperintahkan olehnya.


"Tapi Mom bagaimana caranya?" Thalia mengerutkan keningnya.


"Ck," Sofia berdecak dengan kesal. "Biar Mom yang urus, kita tinggal tunggu waktu yang tepat untuk meminta Kenan datang kemari. Sekarang kau bereskan semua barang-barangnya! Mom ingin melihat seluruh ruang apartemen ini."


"Baik Mom," Thalia pun mulai membereskan semua barang miliknya, dan juga barang milik mom Sofia.


Sementara Sofia berjalan mengelilingi ruangan apartemen itu, yang terbilang sangat mewah karena terdiri dari dua lantai.


"Tenyata di tangan Kenan perusahaan Meyer begitu maju, hingga apartemen mahal dan mewah ini bisa di miliki putraku." Ada rasa bangga melihat keberhasilan yang diraih putranya, namun ada rasa penyesalan karena dirinya bukan menjadi bagian dari keberhasilan tersebut. "Setelah semua harta Thalia menjadi milikku, aku berjanji akan menjadi ibu yang baik untuk kalian," ucap Sofia dalam hati sambil menatap kearah foto Kenan dan Kaylin yang ada di atas meja di ruangan tersebut.