
Di tengah panasnya pasangan yang sedang bergulat di atas ranjang, di tempat yang berbeda masih di kota yang sama, Edgar yang sedang bersama Kaylin tengah menatap adik sepupunya itu dengan tajam. Sedangkan yang di tatap, justru balik menatap Edgar lebih tajam lagi.
"Ed kau benar-benar keterlaluan!" umpat Kaylin dengan kesal, karena sudah dijebak oleh kakak sepupunya itu untuk datang ke Bali. Dia pikir Edgar kenapa-kenapa sampai menyuruhnya datang ke Bali secepat mungkin, tapi ternyata sepupunya itu menyuruh datang karena tidak ingin di tangkap sendirian oleh Bram, dan anak buah Kenan yang lainnya.
Edgar yang semula kesal pada Kaylin karena sudah membuatnya ditahan semalam dengan tangan terikat, kini tertawa terbahak-bahak saat melihat kemarahan di wajah adik sepupunya itu.
"Aku tidak mau sendirian menerima kemarahan kakakmu."
"Ck..." Kaylin berdecak dengan kesal, lalu menatap pada asisten kakaknya. "Bram lepaskan aku! Yang membuat kesalahpahaman dan memfitnah itu dia bukan aku," ucapnya dengan memohon.
"Memang aku yang melakukannya, tapi semua itu ide mu!" sahut Edgar sambil menghela napasnya dengan kasar, merasa menyesal sudah membantu adik sepupunya itu. Karena ujung-ujungnya Kaylin selalu lepas tangan saat terjadi masalah, sama persis dengan kejadian yang sudah-sudah.
"Ed jangan menuduh sembarangan!" Kaylin mengedipkan matanya, memohon agar kakak sepupunya itu menarik ucapannya karena tidak ingin terkena amarah Kenan, karena sepertinya rencana Kaylin yang ingin membuat Cleo cemburu dan pulang ke Jakarta tidak berhasil. Terlihat dengan Bram yang turun langsung menangkap Edgar, yang menandakan hubungan kakaknya dan Cleo semakin memburuk.
"Kay matamu kenapa?" Edgar sengaja menggoda adik sepupunya.
"Edgar!" ketus Kaylin semakin kesal.
"Apa?" sahut Edgar berpura-pura tak mengerti.
"Tuan, Nona, kita pergi sekarang!" Bram memotong pembicaraan keduanya, memerintahkan para pengawal membawa tuan Edgar dan nona Kaylin masuk ke dalam mobil. Menjalankan tugas yang diberikan tuan Kenan untuk membawa Edgar ke hotel, berserta kaki tangannya yang ternyata adik tuan Kenan sendiri.
"Ed, kau tega sekali padaku," gerutu Kaylin setelah masuk ke dalam mobil yang entah akan membawanya kemana.
"Sebenarnya aku tidak tega, tapi untuk kali ini kau harus ikut bertanggung jawab," ucap Edgar dengan datar. Bukan karena dia takut menerima amarah dari Kenan seorang diri, tapi Edgar ingin Kaylin bertanggung jawab dengan apa yang diperbuatnya. "Dulu kau yang menyuruhku mendekati Silviana dan menidurinya, karena tidak menyukai calon kakak ipar mu itu. Dan aku melakukannya, bahkan menerima amukan Kenan tanpa memberitahu, kalau adik tersayangnya ikut andil dalam kejadian itu," bisik Edgar.
Membuat tubuh Kaylin seketika itu juga menegang, merasakan ketakutan yang selalu menghantuinya selama ini. Dia takut Kenan mengetahui kebenarannya, bahwa dirinya lah yang sudah menyuruh Edgar meniduri Silviana.
Bukan tanpa alasan Kaylin melakukan hal tersebut, tapi karena dia tidak menyukai Silviana yang merebut semua perhatian kakaknya. Kaylin cemburu, dan dia akui sudah salah melakukan hal tersebut, memisahkan kakaknya dengan wanita yang dicintanya. Itu sebabnya Kaylin berusaha menutup rapat masa lalu tersebut.
"Kau jangan takut, aku tidak akan pernah membuka rahasia kita," bisik Edgar kembali. "Tapi kau harus berhati-hati, karena beberapa hari yang lalu aku melihat Silviana. Sepertinya dia sudah puas menghabiskan waktu kebebasannya dan akan kembali mendekati kakakmu, tidak menutup kemungkinan juga kakakmu akan kembali bersama wanita itu setelah tahu apa yang terjadi sebenarnya."
Deg.
Kaylin mengepalkan kedua tangannya, dia tahu Edgar tidak sedang berbohong. Karena waktu itu pun dirinya sempat melihat Silviana, saat sedang berbelanja bersama Cleo.
"Dulu aku memang salah sudah membuat mereka berpisah, tapi semua itu bukan sepenuhnya salahku. Wanita itu yang tidak bisa setia, dan berakhir di pelukan Edgar. Jadi aku tidak akan tinggal diam jika Silviana mengacaukan kebahagiaan kakakku," gumamnya dalam hati.