
"Sekarang kau ingin aku berbuat apa?" tanya Agam saat melihat Cleo hanya diam saja.
"Kak aku ingin kau mendukungku untuk kali ini saja," Cleo menatap Agam dengan intens.
Deg.
Agam yang hapal betul dengan sifat Cleopatra, menelan salivanya dengan susah payah. Karena jika adiknya itu sampai memanggilnya kakak, pasti ada permintaan yang berat dan bertentangan dengan hatinya.
"Apa yang kau inginkan?"
Cleo menjawab dengan senyum penuh arti, ia berharap keputusannya kali adalah pilihan yang tepat.
*
*
Sementara itu ditempat yang lainnya, di kamar yang ada di sebuah apartemen mewah. Kenan yang baru tersadar dengan keadaan telanjang tanpa sehelai benangpun, bergegas mengenakan pakaiannya tanpa mempedulikan Thalia yang sedari tadi menangis, berbicara hal yang menurutnya penuh dengan kebohongan.
"Kak jangan pergi! Bagaimana denganku? Kau sudah—"
"Diam kau!" dengan kasar Kenan mencengkram leher Thalia lalu menghempaskan nya. "Atau kubuat tidak bisa bersuara lagi!" bentaknya dengan penuh amarah, setelah selesai mengenakan pakaian.
Meskipun kepalanya masih terasa pusing, dan belum terlalu jelas mengingat apa yang terjadi. Tapi dia bukanlah orang bodoh yang tidak tahu dengan situasi yang dihadapinya, terbangun diatas tempat tidur yang sama dengan Thalia dalam keadaan tanpa sehelai benangpun.
Dengan wajah yang dingin dan penuh amarah, Kenan berjalan keluar dari kamar untuk menemui seseorang yang pastinya menjadi dalang dari semua kejadian tersebut. Seseorang yang menghancurkan kembali kepercayaannya, hingga tak bersisa sedikitpun.
"Nyonya Sofia dimana Anda?" Kenan berteriak dengan keras, berjalan menuju kamar utama dimana terakhir kali dirinya berada.
"Kenan kau masih di sini? Bukankah sejak tadi kau sudah pulang?" tanya Sofia dengan terkejut, sambil berpura-pura baru terbangun dari tidurnya.
"Anda! Apa yang sudah Anda lakukan?" sekuat mungkin Kenan menahan rasa amarahnya, untuk tidak melukai wanita yang telah melahirkannya ke dunia.
"Anda bilang tidak mengerti!" Kenan meluapkan rasa amarahnya dengan membanting semua barang yang ada di kamar tersebut. "Anda pikir aku bodoh? Setelah apa yang—"
"Mom..." Thalia yang sudah berpakaian lengkap, masuk ke dalam kamar Mom Sofia hingga membuat ucapan Kenan terpotong.
"Ada apa Thalia? Kau kenapa?" tanya Sofia. Berpura-pura terkejut melihat keadaan anak tirinya yang berantakan.
"Kak Kenan, dia memperkosaku," ucap Thalia dengan terisak.
Plak.
Bukan Kenan yang menampar Thalia, tapi Sofia.
"Mom..." Thalia mengusap pipinya dengan wajah yang terkejut.
"Jangan menuduh sembarangan! Putraku tidak mungkin memperkosamu."
"Ta-tapi Mom..." Thalia benar-benar terkejut dengan apa yang dilakukan Mom Sofia, karena tidak ada dalam skenario yang sudah mereka buat.
"Pasti kau yang menggoda putraku?" tuduh Sofia.
"Aku menggoda? Tapi —"
"Diam kalian!" bentak Kenan dengan tegas. "Dengar baik-baik! Dalam waktu kurang dari setengah jam, aku akan tahu apa saja yang sudah kalian perbuat. Jika apa yang kupikirkan saat ini benar terbukti, siap-siap kalian akan mendapatkan balasan yang setimpal!" Kenan berlalu dari ruangan tersebut, namun langkahnya terhenti saat di dekat pintu. "Dan Anda Nyonya Sofia, untuk ke-dua kalinya berkhianat. Membuat aku bertanya-tanya apa benar Anda Ibu kandung yang melahirkan kami?" ucap Kenan dengan penuh penekanan di setiap katanya tanpa menoleh kebelakang.
Dengan langkah tegaknya Kenan berjalan keluar dari apartemen menuju pintu lift, sembari mengambil ponsel yang ada di saku jasnya.
"Sial! Ini pasti kerjaan mereka!" umpat Kenan saat mendapati ponsel miliknya dalam keadaan tidak aktif. Setelah mengaktifkannya kembali, ia melihat banyak sekali telepon tak terjawab dan pesan singkat dari Kaylin dan Bram. "Cleopatra," gumamnya dengan raut wajah mengeras menahan amarah. Saat membaca isi pesan singkat Kaylin yang memberitahu kalau Cleopatra dijemput oleh pengawal suruhan Agam Mateo. Berarti benar dugaannya, kalau apa yang dilakukan Nyonya Sofia dan Thalia berkaitan dengan Cleopatra.
"Damn!" umpatnya. Ingin sekali Kenan kembali menemui Nyonya Sofia dan Thalia, untuk memberikan pelajaran bagi mereka karena sudah berani mengusik kehidupan pribadinya. Tapi dia sadar ada hal yang jauh lebih penting yang harus dilakukannya saat ini, yaitu menemui Cleopatra di mansion Mateo. Biarlah para pengawalnya yang mengurus Nyonya Sofia dan Thalia.