Deal, Kita Menikah!

Deal, Kita Menikah!
Part 124


"Terima kasih, karena sudah—"


"Tidak perlu berterima kasih, aku hanya tidak ingin terlibat masalah yang bukan urusanku. Apalagi masalah itu berhubung dengan seorang wanita seperti..." Alex menatap wanita cantik yang usianya lebih muda di bawah Cleopatra. Dan jujur dia tidak ingin terlibat urusan dengan makhluk ciptaan tuhan yang bernama wanita.


"Seperti apa?" sahut Kaylin dengan ketus, saat melihat tatapan meremehkan pria itu. Ditambah perlakuannya yang tidak berperasaan menyeretnya keluar dari dalam mobil, membuat rasa terpana itu hilang begitu saja.


"Nona..." Bram menahan Kaylin yang hendak mendekat pada Alex, karena tidak ingin terjadi masalah apalagi masalah itu berkaitan dengan Alexander sang ketua tim Delta. "Sekali lagi terima kasih."


Alex tidak menjawab apa pun, dia segera masuk ke dalam mobil tanpa menoleh kembali.


"Oh my God, sombong sekali dia!" umpat Kaylin dengan wajah yang kesal. "Kau juga, untuk apa berterima kasih padanya? Apa kau tidak lihat dia sudah membuatku kesal? Apa kau mengenalnya? Siapa dia?" tanya nya dengan menggebu. "Tidak bisa seperti ini, aku tidak terima. Kak Kenan harus memberikan pelajaran pada pria angkuh itu, yang sudah membuatku terjebak kembali bersama kalian." Kaylin bergegas masuk ke dalam hotel.


Membuat Bram yang sejak tadi diam mendengar semua umpatan wanita itu, hanya bisa menghela napasnya saat melihat Kaylin masuk ke dalam hotel begitu saja tanpa paksaan sama sekali.


"Cepat jalan!" Bram memerintah anak buahnya mengawal nona Kaylin, agar wanita itu tidak melarikan diri lagi.


*


*


"Kenapa kembali?" tanya Edgar saat melihat Kaylin berjalan kearahnya dengan Bram dan pengawal yang ada di belakang wanita itu.


"Tentu saja menunggu kakak mu," jawab Edgar dengan kesal menunjuk pintu kamar presidential suite. Karena sejak tadi dirinya berdiri di depan pintu tersebut, namun sang penghuni kamar tidak juga membukanya.


"Minggir!' Kaylin yang tengah emosi mendorong Edgar lalu mengetuk pintu kamar hotel dengan kasar sambil berteriak. "Kak buka pintunya!" tidak mendapatkan respon sama sekali, Kaylin semakin bersemangat memukul pintu di depannya. "Kak buka pintunya, atau aku dobrak!"


Melihat Kaylin yang begitu emosi membuat kelima pria yang ada di tempat tersebut bergidik ngeri. Edgar bahkan merasa bingung kenapa adik sepupunya itu begitu bersemangat menemui kakaknya, padahal beberapa menit yang lalu wanita itu melarikan diri.


"Kay, kau bersemangat sekali menghadapi kemarahan kakakmu?"


"Kemarahan apa? Aku itu—" Kaylin terdiam saat teringat sesuatu. "Oh ya ampun, aku lupa..." pekik Kaylin ketakutan.


Rasa takut itu semakin terasa saat pintu kamar yang sejak tadi dipukulnya, terbuka dengan lebar. Memperlihatkan seorang pria yang berdiri tegak, dengan kemeja yang tidak terkancing memperlihatkan bekas merah-merah di dada bidang tersebut.


Namun bukan itu yang menjadi pusat perhatian Kaylin dan semua orang yang ada di tempat tersebut, tapi ekspresi pria tersebut yang terlihat begitu marah dari mata yang menatap tajam, dan rahang yang mengeras, serta urat-urat di lehernya yang terlihat menonjol.


"Siapa yang sudah mengetuk pintu?" bentak Kenan dengan suara beratnya, dan penuh penekanan.


Serentak semua orang yang ada di tempat tersebut menunjuk pada Kaylin, membuat wanita itu tidak bisa berkutik sedikitpun bahkan hanya sekedar untuk menelan salivanya.