
"Kay...!" Kenan menatap tajam pada adiknya.
"Bu-bukan aku, tapi Edgar," gantian Kaylin menunjuk sepupunya. Dan semua orang termasuk Bram yang tidak ingin terkena amarah tuan Kenan, ikut menunjuk pada tuan Edgar.
"What? Aku tidak—"
"Kalian hajar dia! Setelah itu pergi dari sini!"
Blam.
Pintu kamar kembali tertutup dengan keras, membuat semua orang yang ada ditempat tersebut terkejut, dan saling menatap lalu sedetik kemudian menghela napasnya dengan lega.
"Kau...!" Edgar menarik telinga Kaylin. "Bisa-bisanya memfitnahku?"
"Aw.. aw.. sakit Ed!" Kaylin menggapai tangan Edgar agar melepaskan telinganya, namun karena sepupunya tidak mau melepaskan, ia pun menatap pada Bram. "Hei, kenapa kalian diam saja? Apa kalian lupa kakak memerintahkan apa?"
Bram yang teringat dengan perintah tuan Kenan, memerintah anak buahnya menghajar Edgar.
"Sial!" umpat Edgar yang terdesak keadaan. "Kalian jangan mendekat atau.." Edgar menatap sekitarnya dan berakhir pada Kaylin. "Atau aku akan menyakiti Nona kalian!" ancamnya sambil berjalan menuju pintu lift.
"Kalian jangan takut, mereka bersaudara jadi tidak mungkin Tuan Edgar berani menyakiti Nona Kaylin," sahut Bram pada anak buahnya.
"Siapa bilang aku tidak berani menyakitinya?" Edgar semakin kencang menarik telinga Kaylin, sampai membuat adik sepupunya itu menjerit. "Tuan mu saja berani memerintah kalian menghajarku, kenapa aku tidak berani?"
Bram terdiam sesaat lalu menyuruh anak buahnya untuk mundur, karena perkataan tuan Edgar ada benarnya juga. Sudah berkali-kali tuan Kenan memerintahkan mereka menghajar Edgar, padahal mereka bersaudara meskipun terbilang saudara jauh, jadi tidak menutup kemungkinan pria itu berani menyakiti Kaylin.
"Akhirnya berhasil juga," gumam Edgar dalam hati, dengan cepat masuk ke dalam lift bersama Kaylin.
Melihat pintu lift tertutup, Bram beserta anak buahnya segera mengejar kedua orang tersebut.
Sementara itu di dalam lift, Kaylin memaki habis-habisan kakak sepupunya itu karena sudah membuat dirinya sebagai tameng.
"Kau yang keterlaluan, menuduh tanpa berpikir! Kau tidak lihat Kenan sedang marah besar? Untung saja kakakmu itu sedang asik bersama Cleopatra, jika tidak habis aku ditangannya."
"Asik bersama Cleopatra? Maksudmu mereka—"
"Ya, mereka sedang asik bercinta. Kau tidak lihat tanda merah tadi?"
Kaylin menautkan kedua alisnya dengan wajah yang berpikir, di detik berikutnya ia berteriak dengan gembira.
"Jadi rencana kita berhasil?"
Edgar hanya menjawab dengan anggukan kepala, karena sedang berpikir bagaimana caranya lolos dari para pengawal Kenan. Kini dia menyesal selalu pergi tanpa membawa pengawal pribadi, padahal kedua orang tuanya selalu memfasilitasinya dengan keamanan yang terbaik. Namun Edgar selalu menolak, bahkan setelah berkali-kali dihajar Kenan Meyer sampai masuk ruang ICU.
"Ish.. tahu begitu, untuk apa aku melarikan diri sampai bersembunyi di mobil pria angkuh itu!" gerutu Kaylin sambil mengingat wajah tampan pria tersebut.
"Pria angkuh?" Edgar mengerutkan keningnya.
Kaylin pun menceritakan pada kakak sepupunya itu apa yang terjadi tadi, saat bertemu pria sombong itu sampai kembali tertangkap Bram. Dia terus bercerita, sampai mereka berdua sampai di lobi hotel.
"Sekarang kita mau kemana?" tanya Kaylin dengan bingung, karena semua barangnya tertinggal di hotel yang ditempati Edgar.
"Kita? Kau saja sendiri, aku ingin kembali ke hotel lalu pulang ke Singapore," Edgar berjalan cepat mencari taksi
"Ed kau tidak boleh meninggalkan aku. Kita sudah terlanjur ada di sini, jadi lebih baik bersenang-senang!" Kaylin mencium pipi Edgar sambil merangkul tangan kakak sepupunya.
"Kay berhentilah bersikap manja seperti tadi! Aku takut lama-lama kau bisa jatuh cinta padaku."
"Ck, mana mungkin aku jatuh cinta padamu. Kau itu sudah aku anggap seperti kakakku sendiri," ucap Kaylin sambil tersenyum, saat mengingat kembali pria tampan yang sudah membuatnya kesal tadi. "Aku akan mencari tahu siapa dia," gumamnya dalam hati.
Sementara Edgar menatap wajah cantik Kaylin dengan intens. "Kau memang tidak akan jatuh cinta padaku, tapi aku takut hati ini yang semakin jatuh."