Deal, Kita Menikah!

Deal, Kita Menikah!
Part 134


Mendengar sebuah tawaran pekerjaan, dari wanita yang menjadi pesaingnya tentu saja membuat Silviana terkejut.


"Pekerjaan apa?" tanya nya dengan curiga.


"Menjadi pelayan pribadiku."


"Apa?" pekik Silviana dengan terkejut. "Aku tidak mau," jawabannya dengan penuh amarah.


"Kenapa tidak mau? Bukankah dengan menjadi pelayan pribadi ku, kau bisa dekat dengan Kenan?" ucap Cleo dengan berpura-pura tidak melihat tatapan tajam yang diberikan Kenan.


"Ck.. masih banyak cara untuk bisa berada di dekat Kenan. Tanpa harus menjadi pelayan mu!" sahut Silviana dengan ketus. Dia tidak mau harga dirinya diinjak-injak seperti itu, dengan menjadi pelayan seorang Cleopatra.


"Kalau tidak mau ya sudah," Cleo mengibaskan tangannya.


Petugas keamanan yang mengerti pun, kembali menyeret wanita itu keluar dari ruangan tersebut. Bram pun tidak tinggal diam, ia mengikuti petugas keamanan hanya untuk memastikan mantan kekasih tuan Kenan keluar dari perusahaan Meyer.


"Lepaskan aku! Lepas!"


Teriakan Silviana masih terdengar di dalam ruang kerja, yang kini hanya ada Kenan dan Cleo di dalamnya.


"Aku senang, kau tidak terhasut dengan apa yang tadi kau lihat," Kenan merangkul pinggang Cleo dari belakang.


"Kau senang, ya?" Cleo membalik badan, menatap Kenan sambil melingkarkan tangannya di leher pria itu.


"Tentu saja," Kenan hendak mengecup bibir wanitanya. Namun sesuatu yang keras dan cepat menghajar miliknya, hingga membuat Kenan meringis ngilu kesakitan. "Damn! My di**ck," umpatnya sambil memegang miliknya.


"Itu hadiah, karena kau diam saja saat di cium wanita jadi-jadian tadi!" ucap Cleo setelah menendang milik Kenan dengan lututnya. "Dan ini—"


Bug.


"Hadiah karena kau sudah pergi pagi-pagi sekali tanpa ikut sarapan, hanya untuk bertemu reog itu!" setelah mengungkapkan semua kekesalannya. Cleo pun pergi dari ruang kerja Kenan, tanpa mau membantu pria nya yang terlihat kesakitan di bagian yang selalu membuatnya panas dingin di atas ranjang. "Mudah-mudahan senjatanya itu tidak apa-apa," gumamnya dengan bergidik ngeri, saat teringat betapa kerasnya ia menghajar milk Kenan.


"Cleo sayang, tunggu...!" Kenan berusaha berdiri tegak, lalu berjalan cepat untuk menyusul wanitanya meskipun miliknya masih terasa mulas. " Oh my God, dia benar-benar seorang Mateo!" umpat Kenan saat melihat wanitanya yang sudah masuk kedalam lift.


*


*


Hari-hari selanjutnya yang dilalui Cleo dan Kenan setelah kejadian tersebut, justru semakin mesra tak terpisahkan. Bagaimana tak terpisahkan, kalau setiap harinya Cleopatra akan ikut Kenan ketempat kerja pria itu.


Karena Silviana masih saja terus datang ke kantor Kenan, meskipun sudah di larang untuk masuk. Tapi tetap saja Silviana menggunakan berbagai cara, agar bisa bertemu mantan kekasihnya.


Seperti saat ini. Kenan, Cleo, Silviana berada di satu meja yang sama, di sebuah restoran saat jam makan siang.


"Kau itu seperti hantu, ada dimana-mana dan tak terlihat," sindir Cleo dengan jengah. Bahkan nafsu makannya hilang begitu saja, saat Silviana dengan tanpa rasa malu ikut duduk di meja mereka.


"Aku terlihat, jika tidak kau tidak akan menyindirku," sahut Silviana dengan santai, hendak menikmati makan siangnya yang baru diletakkan oleh pelayan di atas meja.


"Tapi bagiku kau tidak terlihat, hanya tercium bau—" Cleo menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Hai! Kau itu sudah keterlaluan! Aku baru akan makan," Silviana kesal karena Cleopatra mengatainya bau, dengan mimik wajah yang hendak muntah. Padahal dia baru saja ingin menikmati makan siangnya. Namun melihat ekspresi mual Cleo membuat nafsu makannya menghilang.


"Aku tidak.." Cleo menarik napas dan mengeluarkan dengan perlahan. "Hanya saja aku memang ingin muntah," Cleo kembali menutup mulut dengan tangannya.


Membuat Kenan cemas, saat melihat wajah Cleo yang terlihat menahan sesuatu sambil menutup mulut.