Deal, Kita Menikah!

Deal, Kita Menikah!
Part 138


Kaylin yang begitu cemas melihat Cleopatra jatuh pingsan, segera memanggil para pelayan untuk membantunya mengangkat ke dalam kamar. Setelah membaringkan Cleo ke atas tempat tidur, ia mencoba menyadarkan wanita itu dengan berbagai cara, namun Cleopatra tidak juga sadarkan diri.


"Bagaimana ini?" gumamnya dengan panik.


"Lebih baik Nona menghubungi Tuan Kenan," ucap salah satu pelayan.


"Ya, kau benar," Kaylin mengambil ponselnya untuk menghubungi Kenan. Namun niat tersebut diurungkan saat mengingat pesan sang kakak yang memintanya untuk menjaga Cleopatra. "Tunggu dulu! Kalau kakak tahu Cleopatra pingsan, habislah aku," gumamnya dalam hati sembari menutup ponselnya kembali.


Dia takut terkena amukan Kenan, karena sudah membuat istri tercintanya pingsan dengan perdebatan konyol mereka tadi. Kaylin yang bingung harus melakukan apa, akhirnya memutuskan memangil dokter pribadi yang biasa menangani keluarga Meyer.


"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Kaylin setelah melihat dokter Reyhan selesai memeriksa Cleopatra, yang saat ini sudah sadar.


"Tekanan darahnya rendah," jawab Reyhan tanpa mengalihkan tatapan matanya pada sang pasien. "Apa yang Anda rasakan?"


"Kepalaku pusing," jawab Cleo sembari memijat keningnya.


"Apa akhir-akhir ini Anda merasa lelah? Mual?" tanya Reyhan untuk memastikannya diagnosanya.


"Ya, tapi aku merasa mual hanya saat mencium bau-bau tertentu."


Dokter Reyhan menganggukkan kepalanya, sementara Kaylin hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka.


"Kapan terakhir kali Anda menstruasi?"


"Dokter Reyhan!" bentak Kaylin dengan emosi. Bagaimana tidak emosi saat pria itu menanyakan sesuatu yang sensitif bagi seorang wanita. "Bisa-bisanya dokter bersikap tidak sopan? Aku tidak menyangka Anda ternyata seorang dokter yang cabul."


"Key...!"


"Cleopatra dia itu sudah tidak sopan padamu," tunjuknya tepat di depan wajah dokter Reyhan, sampai membuat pria itu menghela napasnya dengan panjang.


"Maaf Nona Kaylin, bukan maksudku untuk berlaku tidak sopan. Hanya saja aku harus memastikan sesuatu terlebih dahulu sebelum—"


"Ck.. alasan!"


Reyhan menghela napasnya kembali, karena untuk kesekian kalinya kesabarannya di uji. Beginilah resiko menjadi seorang dokter pribadi keluarga Meyer, jika bukan tuan Kenan yang memarahinya pasti Kaylin yang mengumpat.


"Kay diamlah! Suaramu membuat aku pusing," sela Cleo dengan ketus. Karena entah mengapa melihat wajah Kaylin membuatnya emosi.


"Tapi—"


"Jadi aku kenapa dok?" potong Cleo tanpa mempedulikan kemarahan Kaylin.


Reyhan berdeham dengan keras sebelum menjawab pertanyaan, agar tidak kelepasan tertawa setelah melihat pemandangan yang menurutnya langka. Dimana seorang nona muda Kaylin yang begitu manja, dimarahi oleh kakak iparnya.


"Kemungkinan besar Anda sedang hamil."


'Hamil?" tanya Cleo dan Kaylin bersamaan.


Dokter Reyhan menganggukkan kepalanya.


"Itu tidak mungkin dok? Mana mungkin aku hamil?" Cleo tersenyum kaku, sembari menatap Kaylin yang terlihat masih shock.


"Kapan terakhir kali Anda menstruasi?" tanya Reyhan kembali. Dan kali ini Kaylin tidak membentaknya, mungkin karena wanita itu masih terkejut mendengar kabar kehamilan kakak iparnya.


"Untuk lebih memastikannya, aku akan menulis surat rujukan bagi Anda ke dokter kandungan," ucap Reyhan saat melihat istri Kenan Meyer diam saja.


"Jadi apa benar aku sedang hamil dok?" tanya Cleo dengan wajah yang panik saat menyadari dirinya yang terlambat datang bulan.


"Sepertinya begitu, tapi —" belum sempat Reyhan meneruskan perkataannya, ia dibuat terkejut saat melihat istri Kenan Meyer yang kembali tidak sadarkan diri. "Nona.. Nona..." Reyhan pun menatap pada Kaylin, namun yang ditatap hanya diam berdiri seperti patung.


*


*


Beberapa saat kemudian.


"Aku hamil?" Cleo terus mengulangi kata-kata tersebut untuk kesekian kalinya, setelah dokter Reyhan pulang. Dia masih sangat shock mendapatkan kabar kalau kemungkinan besar dirinya tengah mengandung.


"Sepertinya..." sahut Kaylin entah untuk keberapa kalinya. Karena kakak iparnya itu terus menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali.


"Kay apa kau sudah memberitahu Kenan?" tanya Cleo saat teringat pada suaminya.


"Belum, lagi pula kakak pasti sudah di dalam pesawat." Kaylin mengambil test pack yang tadi diberikan pelayan. Sebuah test pack yang diminta Cleo untuk memastikan apa benar wanita itu hamil, sebelum pergi ke dokter kandungan. "Cepat kau gunakan!" Ia menyerahkan test pack tersebut pada kakak iparnya.


Cleo menatap test pack ditangan Kaylin, lalu mengambilnya dengan terburu-buru karena ingin tahu apakah benar dirinya sedang mengandung atau tidak.


"Tunggu aku ikut!"


"Ikut? Kau bercanda ya?"


"Aku serius, dua rius bahkan sepuluh rius! Dari pada kau pingsan untuk ketiga kalinya, jadi lebih baik aku ikut untuk melihat hasilnya lebih dulu."


"Ta-tapi..."


Cleo pun mau tidak mau masuk ke dalam bathroom bersama dengan adik iparnya itu, meskipun merasa sedikit risih. Setelah selesai, ia memberikan testpack tersebut pada Kaylin untuk dilihat hasilnya.


"Bagaimana?" tanya Cleo dengan harap-harap cemas.


"Belum terlihat," jawab Kaylin sembari keluar dari bathroom.


"Kay bagaimana?" Cleopatra yang penasaran dengan hasilnya, mengikuti Kaylin sembari berusaha merebut test pack tersebut dari tangan adik iparnya.


Kaylin menatap test pack ditangannya dengan kening yang berkerut, saat melihat satu garis berwarna merah dan satu garis yang tidak begitu jelas. "Hasilnya negatif," ucap Kaylin sembari melempar test pack tersebut.


"Benarkah?" tanya Cleopatra dengan perasaan lega namun juga sedikit kecewa. "Syukurlah kalau begitu." Cleo mengambil test pack yang dibuang Kaylin.


"Kenapa bersyukur? Seharusnya kau itu bersedih?"


"Bukan aku tidak bersedih, hanya saja—" ucapannya terhenti saat melihat hasil test pack yang dipegangnya. "Kay kau bilang hasilnya negatif?" tanya nya dengan tangan yang bergetar hebat dan tatapan tak percaya.


"Memang negatif, tadi aku lihat..." wajah Kaylin terkejut saat melihat garis yang tadinya tidak jelas, kini terlihat dua garis. "Oh my God, jadi benar kau hamil?" teriaknya dengan tersenyum. "Walaupun aku tidak terlalu suka padamu, tapi aku bahagia akan menjadi seorang Aunty. Oh ya, aku harus memberitahu Kakak berita bahagia ini."


Kaylin mengambil ponselnya lalu keluar dari dalam kamar, meninggalkan Cleopatra yang masih mematung ditempatnya.


"Aku benar-benar hamil?" ia mengusap perutnya yang masih datar dengan perasaan campur aduk. Ada rasa bahagia karena apa yang diinginkan suaminya selama ini terwujud, tapi ada perasaan takut saat membayangkan tubuhnya yang akan berubah menjadi gemuk. "Kenan Meyer kau harus bertanggung jawab!" teriaknya.