
Seorang pria tampan dengan sorot mata yang begitu tajam, tampak menatap pada wanita cantik yang usianya terpaut empat tahun darinya. Wanita yang paling dia sayangi dan wanita yang sudah dua bulan ini melarikan diri ke Singapura, tidak lain dan tidak bukan adalah Kaylin Meyer adik satu-satunya yang dimilikinya.
Adik yang selama ini Kenan jaga, dan selalu menuruti apa pun keinginan wanita itu. Hingga membuat Kaylin menjadi pribadi yang keras kepala, egois, dan sangat susah diatur.
"Apa sekarang kau puas?" Kenan bertanya dengan suara beratnya.
"Kak aku, ..." Kaylin tidak berani menatap Kenan saat kakaknya itu terlihat begitu marah. Dia pun memaklumi kemarahan pria itu, karena dirinya sudah memaksa Kenan untuk menikah dan terjebak bersama seorang wanita ******. Sedangkan Kaylin tahu betul kakaknya itu benci dengan sebuah ikatan, apalagi ikatan itu terjalin bersama dengan seorang wanita yang tidak setia.
"Bicaralah! Kenapa kau diam?" Kenan semakin tajam menatap adiknya yang kini terlihat gelisah. "Kemana Kaylin yang selama dua bulan ini begitu berani menentang ku?" ucap Kenan kembali dengan sangat dingin.
Kaylin menundukkan kepala dengan jari yang meremas satu dan lainnya. Sungguh di saat seperti ini ia berharap ada Edgar yang akan menyelamatkannya dari kemarahan Kenan.
"Kak jika kau marah seperti ini, lebih baik aku kembali ke—"
Brak.
Kaylin tidak meneruskan perkataannya saat mendengar suara keras yang memekakkan telinga. Suara keras itu berasal dari sebuah tendangan yang mengenai meja yang ada di ruangan tersebut yang dilakukan Kenan Meyer.
"Jangan kak," Kaylin berjalan menghampiri kakaknya dan memeluk pria itu sambil menangis. "Jangan sakiti Orion, aku sangat mencintainya."
Kenan menghela napasnya dengan kasar saat melihat adiknya menangis, ia tidak suka dan tidak bisa melihat adik kesayangannya menangis. Sehingga semarah apa pun Kenan pada Kaylin, pasti akan menghilang begitu saja saat melihat air mata yang turun di atas pipi adiknya.
"Sampai kapan kau akan jadi budak cinta dari baji*ngan seperti Orion?" Kenan mengurai pelukan adiknya. "Sadar Kay, dia bukan pria yang baik!" ucap Kenan dengan tegas.
"Orion bukan bajingan! Dia pria yang baik," Kaylin tidak terima saat pria yang sangat dicintainya di sebut sebagai bajingan.
"Ck, aku tidak menyangka kau sebodoh ini!" Kenan menggelengkan kepalanya. "Jika Orion pria baik, dia tidak mungkin menjalin kasih dengan wanita lain disaat kalian masih berhubungan."
"Kau salah Kak," sahut Kaylin dengan cepat sambil menghapus air mata yang menetes di pipinya. "Bukan Orion yang memulainya, tapi wanita ****** itu yang sudah menggoda Orion dengan tubuh kotornya. ****** itu sudah merebut kekasihku dan membuat hubungan kami kandas. Padahal sebentar lagi kami akan menikah, dan semua itu hancur karena wanita licik itu." Ucap Kaylin dengan tangan terkepal erat, dan napas yang menggebu-gebu menahan amarah.
Kenan terdiam. Kepalanya terasa pusing jika dihadapkan dengan Kaylin dan segala pemikiran bodoh dan naif nya. Bagaimana tidak bodoh, karena sudah jelas-jelas bajingan itu yang berkhianat tapi adiknya itu justru menyalahkan wanita lain.
Kadang ingin sekali Kenan melenyapkan bajingan itu, yang sudah berani menyakiti adiknya. Tapi jangankan untuk melenyapkan, membuat Orion kritis hingga masuk ruang ICU saja, sudah membuat adiknya marah dengan mogok makan berhari-hari hingga harus dirawat di rumah sakit. Apalagi Kenan membuat Orion lenyap, yang ada adiknya ikut menyusul ke alam baka.