Deal, Kita Menikah!

Deal, Kita Menikah!
Part 89


Dengan tidak sabaran Kaylin menunggu kabar dari Bram, dan saat ponselnya berdering ia pun segera mengangkatnya.


"Apa? Edgar?" pekik Kaylin dengan wajah yang terkejut, saat mendengar penjelasan dari Bram penyebab kemarahan kakaknya. Yaitu karena Cleo melarikan diri dengan dibantu oleh sepupunya itu. "Sejak kapan Edgar ada di Jakarta?" tanya Kaylin. Karena dia tidak mengetahui sama sekali, kalau sepupunya itu ada di Jakarta.


"Menurut informasi yang aku dapat, Tuan Edgar sampai di Jakarta dua hari yang lalu." jawab Bram sambil menatap rekaman CCTV yang ia dapat dari cafe, tempat di mana tuan Kenan menghampiri Tuan Edgar dan Nona Cleopatra. "Dan sepertinya tuan Kenan sudah memberikan hadiah selamat datang pada Tuan Edgar," kini tatapan matanya beralih pada foto-foto yang dikirimkan oleh para pengawal. Di mana terlihat dengan jelas luka-luka di wajah pria tampan itu.


Kaylin menghela napasnya dengan kasar, lalu menutup panggilan telepon tersebut setelah mengucapkan terima kasih atas info yang diberikan Bram.


"Ed kau itu benar-benar keterlaluan!" Kaylin yang kesal, memutuskan untuk menemui sepupunya itu. Dia ingin mengingatkan Edgar agar tidak berbuat macam-macam lagi, apalagi sampai mengulangi kejadian dua tahun yang lalu.


Kaylin tidak ingin melihat kakaknya kembali terpuruk, dan menjadi sosok yang tak tersentuh. Sudah cukup kakaknya itu melewati masa pahit, di mana dua orang yang dia kasihi berkhianat.


"Sepertinya aku juga harus berbicara dengan Cleo," gumamnya dalam hati. Dia ingin memberitahu semua tentang Kenan pada wanita itu, agar Cleo mau belajar menerima kakaknya. Karena selama ini yang Kaylin tahu, wanita itu masih belum menerima pernikahan tersebut.


Dan jika ada yang bertanya kenapa dirinya sekarang mendukung hubungan Kenan dengan Cleo? Tentu saja jawabannya karena dia sudah mengetahui semua faktanya, kalau yang brengsek itu Orion sejak kejadian kemarin. Lagi pula mau tidak mau Kaylin harus bisa menerima Cleo, karena kakaknya itu sudah sangat mencintai wanita itu, dan tidak akan melepaskannya.


*


*


"Wow.. rupanya kau sangat merindukan aku? sampai-sampai datang kemari,"" ucap Edgar setelah membuka pintu apartemennya. Dia menatap pada Kaylin yang tengah berdiri dengan berkacak pinggang. "Padahal aku berencana untuk datang ke mansion Meyer untuk menemui mu."


Kaylin menghela napasnya dengan kasar, lalu mendorong Edgar agar dia bisa masuk ke dalam Apartemen sepupunya itu.


"Masih berani kau datang ke Mansion Meyer, setelah wajah tampan mu ini tak berbentuk?" Kaylin menekan luka di wajah Edgar. Dia sengaja melakukan hal tersebut, untuk membuat pria itu kesakitan.


Edgar justru tertawa sambil menahan rasa perih di setiap bekas pukulan yang diterimanya dari anak buah Kenan. "Ini belum seberapa Kay, kau lupa aku hampir mati di tangannya dua tahun yang lalu?"


Lagi-lagi Kaylin menghela napasnya dengan kasar. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran sepupunya itu, yang hobi sekali bermain-main dengan nyawa.


"Untuk yang ini jangan Ed!" ucap Kaylin dengan sungguh-sungguh.


"Apa maksudmu?" Edgar berpura-pura tidak mengerti maksud perkataan Kaylin.


"Kau tahu betul apa maksudku!"


Edgar menarik satu sudut bibirnya. "Kenapa?" tanya nya sambil berjalan menuju ruang tengah, lalu duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. "Bukankah pernikahan mereka terjadi karena sebuah paksaan? Paksaan dari seorang wanita yang ingin membalas rasa sakit hatinya?" sindir Edgar. Menatap tajam pada Kaylin yang kini berdiri di hadapannya.