
"Jangan marah seperti itu! Lagi pula kita sudah melakukannya berulang kali, aku yakin keturunan Meyer sudah berada di sini," Kenan mengusap perut ramping istrinya.
"Ck.. kau itu bicara apa? Mana mungkin langsung jadi, kau pikir membuat anak semudah membalik telapak tangan." Cleo tertawa namun dalam hati merasa cemas, jika sampai yang dikatakan suaminya itu terjadi. Sungguh dia belum siap untuk hamil, membayangkan tubuhnya yang menjadi gemuk sudah membuat Cleo bergidik ngeri.
"Kalau begitu kita buat lagi," Kenan menarik Cleo duduk di pangkuannya, membuat wanita itu menjerit karena terkejut dengan apa yang dilakukannya.
"Oh my God, hentikan Ken!" Cleo menahan keinginan suaminya itu. Karena jika tidak dihentikan, kegiatan yang seharusnya selesai setengah jam maka akan berjam-jam. "Aku sudah katakan perutku lapar."
Kenan menghentikan kegiatannya yang tengah mengecup leher jenjang putih milik Cleopatra, mengurungkan niatnya untuk kembali menyatu karena merasa kasihan pada wanitanya yang kelaparan. Yang mereka lakukan selanjutnya benar-benar hanya membersihkan tubuh, setelah selesai langsung makan bersama sembari membahas kembali kesepakatan mereka, karena Cleo ingin merubahnya terutama pada bagian memberikan keturunan pada Kenan.
Cleo ingin menunda progam kehamilannya sampai dua tahun, dengan alasan ingin menikmati kebersamaan mereka terlebih dahulu tanpa harus direpotkan dengan kehadiran anak diantara mereka. Tapi sayangnya Kenan tidak menggubris keinginannya itu, meskipun Cleo mengatakan tidak jadi kembali ke dunia modeling. Pria itu tetap bersikeras menginginkan anak tanpa bisa di ganggu gugat.
*
*
"Bagaimana, apa semuanya sudah siap?" tanya Kenan pada Bram, karena saat ini mereka akan kembali ke Jakarta.
"Semua sudah siap Tuan," jawab Bram setelah memeriksa semua barang milik tuan dan nona nya.
Kenan menganggukkan kepalanya, bersiap masuk ke dalam mobil namun tidak jadi saat teringat sesuatu. "Di mana Kaylin?"
"Nona.. dia.." Bram menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena bingung harus menjawab apa. Karena sampai detik ini dia, dan para pengawal lainnya tidak bisa melacak keberadaan Kaylin maupun Edgar. Bram sudah mendatangi hotel tempat Edgar menginap, namun tidak menemukan mereka. Kedua orang tersebut seperti hilang ditelan bumi.
"Bram di mana adikku?" Kenan mengulangi pertanyaannya.
"Edgar?" Kenan mengerutkan keningnya, karena baru teringat pada sepupunya itu. "Kau sudah menjalankan perintahku?"
"Belum Tuan, karena Tuan Edgar sudah melarikan diri terlebih dahulu bersama Nona Kaylin."
"Ck, kau itu tidak pernah bekerja dengan benar!" Kenan menghela napasnya dengan kasar. Jika saja Bram bukan teman baiknya, sudah lama dia memecat pria itu.
"Maaf Tuan," Bram semakin menundukkan kepalanya.
Kenan hanya diam lalu masuk ke dalam mobil, duduk di samping istrinya tanpa memerintah Bram untuk mencari Kaylin. Karena dia yakin adiknya itu aman bersama Edgar, karena sejak dulu Kaylin dan sepupunya itu selalu bersama. Bahkan adiknya sering menginap di tempat Edgar di Singapore, jadi tidak aneh jika saat ini adiknya itu bersama Edgar.
Melihat tuannya masuk ke dalam mobil Bram menghela napasnya dengan lega, karena tidak diberi tugas untuk mencari keberadaan Kaylin ataupun Edgar. Bisa pusing kepalanya jika di perintahkan mencari dua orang tersebut.
*
*
Setelah sampai di Jakarta, mobil yang ditumpangi Kenan bersama Cleo langsung menuju Mansion Meyer. Karena Cleo harus beristirahat terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Alana. Pasangan suami-istri itu masuk ke dalam mansion mewah tersebut, tanpa menyadari ada seseorang yang sejak kemarin menunggu kedatangan mereka.
"Akhirnya kau pulang Ken..."
Baik Cleo maupun Kenan menghentikan langkahnya, mereka terkejut melihat sosok yang berdiri dihadapan keduanya.