
"Kenan aku tidak mau pulang ke mansionmu!" Cleo terus memukul pria itu sampai mereka berada di dalam mobil. "Kau mau apa?" dirinya terkejut saat ditarik untuk duduk dipangkuan Kenan, membuat keduanya kini tak berjarak dengan wajah yang saling menatap.
"Tiga hari kau melarikan diri, itu artinya tiga hari kau harus membayarnya!" Dengan cepat Kenan menarik tengkuk Cleo, melu-mat bibir wanitanya itu dengan sangat menuntut.
Mendapatkan serangan yang mendadak, tentu saja membuat Cleo terkejut. Namun itu hanya sesaat, karena di detik berikutnya dia ikut membalas ciuman tersebut yang ternyata sangat dirindukannya. Ciuman yang entah mengapa terasa berbeda, dengan ciuman yang pernah dilakukannya bersama para kekasihnya dulu.
Bibir keduanya kini saling bertautan dengan begitu panas, meluapkan apa yang tengah mereka rasakan tanpa mempedulikan situasi di dalam mobil, di mana ada Bram yang duduk di kursi depan.
"Nasib seorang bawahan," gumam Bram sembari mengusap sudut bibirnya yang terluka, karena perbuatan Alex yang merasa tersinggung saat ditertawakan olehnya. Tidak cukup bibirnya yang terluka, kini matanya pun ikut terluka saat melihat pasangan suami istri itu bertautan bibir dengan begitu panas.
"Ken..." Cleo mende-sah saat tangan pria itu masuk kedalam pakaian dan menyentuh ke dua da-danya. "Hentikan!" dengan sekuat tenaga Cleo menahan gairahnya yang juga menginginkan pria itu untuk berbuat lebih. Namun entah setan apa yang merasukinya, bukannya terus berusaha untuk menghentikan perbuatan Kenan, dia justru semakin terbuai oleh sentuhan pria itu hingga tanpa sadar terus mende-sah dengan keras.
"Turun!" ucap Kenan setelah ciuman panas mereka berakhir.
"Turun?" tanya Cleo dengan napas yang berlarian, karena ciuman yang baru saja mereka lakukan.
"Turun dari pangkuanku!" Kenan mengangkat tubuh Cleo untuk duduk di sampingnya, lalu segera mengalihkan pandangan matanya dari wajah cantik tersebut. Karena jika dia terus menatap wajah Cleo, Kenan takut tidak akan bisa menahan gairahnya untuk menyentuh lebih dalam lagi.
"Ish, dia itu kenapa? Tadi begitu panas menciumku, lalu tiba-tiba menurunkan aku begitu saja. Padahal otakku ini sudah bertraveling kemana-mana," gumam Cleo dalam hati, dan memilih mengalihkan tatapan matanya pada jendela mobil. "Loh, kita mau kemana?" tanya Cleo dengan wajah yang terkejut, karena jalanan yang mereka lewati bukan menuju mansion Meyer.
"Kita akan ketempat dimana aku bebas menghukummu."
Gleg
Dengan susah payah Cleo menelan salivanya, membayangkan hukuman apa yang akan diberikan oleh pria itu.
"Tapi Kenan, —" Cleo tidak melanjutkan perkataannya saat melihat tatapan tajam pria itu, hingga akhirnya memilih untuk diam dan pasrah saja akan dibawa kemana oleh suaminya itu.
*
*
"Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Cleo dengan bingung, karena dia tidak punya persiapan sama sekali untuk pergi jauh. Bahkan untuk pakaian ganti saja Cleo tidak membawanya.
Kenan hanya diam tidak menjawab pertanyaan wanitanya, karena sedang berbicara dengan Bram.
"Semuanya ada sini Tuan," Bram memberikan tas berisi surat penting termasuk password milik tuannya dan nona Cleopatra.
"Baiklah," Kenan membuka dan memeriksa isi tas tersebut. "Selama aku pergi kau yang handel semuanya termasuk Kaylin!"
"Baik Tuan," Bram pun pamit untuk keluar dari pesawat.
"Loh, kenapa Bram keluar?" tanya Cleo saat melihat asisten pribadi Kenan pergi begitu saja.
"Kalau dia ikut hanya akan menganggu," jawab Kenan dengan datar.
"Ck, sebenarnya kita itu akan pergi kemana?" tanya Cleo untuk yang ketiga kalinya.
"Sudah kau jangan banyak bertanya!"
"Bukan banyak bertanya, masalahnya aku tidak membawa pakaian," Cleo berdecak kesal.
"Di sana kau tidak akan memerlukan pakaian," Kenan menatap intens wajah Cleopatra yang terlihat bingung. "Karena kau lebih indah dan sexy jika tanpa pakaian."
"What?" pekik Cleo dengan wajah yang terkejut.