
Setelah menyelesaikan tautan bibirnya dengan sang suami, Cleo berjalan dengan sangat elegan kearah wanita yang sudah berani menyentuh Kenan. Dengan tatapan tajam mengintimidasi, dan aura dingin yang keluar dari seorang Cleopatra, sanggup membuat Silviana ketakutan hingga berjalan mundur.
"Berani sekali kau menyentuh pria ku?" ucap Cleo dengan berbisik tepat di telinga Silviana.
"Aku..." Silviana yang terdesak bahkan hampir terjatuh saat tubuh bagian belakangnya mengenai ujung meja.
"Dengar Bic*th! Aku tahu betul apa yang ada di kepala mu itu!" Cleo menekan jarinya pada kening Silviana. "Kalau kau masih ingin hidup tenang, jangan pernah menyentuh Kenan ku! Paham!" ancam Cleo dengan tersenyum tipis penuh arti.
"Aku tidak takut padamu," Silviana memberanikan diri melawan.
"Really?" lagi-lagi Cleo tersenyum tipis.
"Tentu saja," Silviana membusungkan dada sambil mengibaskan rambutnya. "Kenan masih mencintaiku, terbukti dengan ciuman kami tadi," ia tersenyum licik, berharap Cleo mempercayai kebohongannya.
"What? Yang tadi itu kau bilang ciuman?" pekik Cleo dengan wajah yang terkejut, lalu menatap pada Kenan. "Ken dia bilang kalian berciuman? Padahal yang aku lihat hanyalah seorang ****** yang sedang mencuri sesuatu."
"Kau..." Silviana mengepalkan kedua tangannya, menahan amarah yang siap meledak karena dua kali dikatai wanita murahan.
"Aku apa?" tantang Cleo. Melemparkan kembali tatapan yang tajam, mengintimidasi hingga membuat nyali Silviana kembali ciut. "Sayang apa kau masih punya urusan dengan wanita jadi-jadian ini?" Cleo menghampiri suaminya.
Baik Kenan maupun Silviana mengerutkan keningnya dengan raut wajah yang berbeda. Jika Kenan menahan tawa, sementara Silviana menahan emosi.
"Sudah tidak ada."
"Kau dengar? Suamiku bilang sudah tidak ada, jadi pergilah!"
Kenan hanya diam tidak menjawab perkataan Silviana. Karena tidak mau pusing menghadapi mantan kekasihnya itu, terlebih ada ada Cleopatra di sisinya. Ia pun segera menghubungi Bram, dan meminta asisten pribadinya itu membawa petugas keamanan ke ruangannya.
"Ken kau mengusirku?" tanya Silviana dengan wajah tak percaya, saat mendengar Kenan memanggil petugas keamanan. "Tega sekali kau, sampai memperlakukan aku seperti ini..."
"Ck.. dia drama lagi," cibir Cleo sembari menghela napasnya.
Sementara Kenan masih tetap diam, tak menggubris sedikit pun perkataan Silviana. Bukan karena dia tidak peduli atau pun tidak berempati sedikitpun, tapi bagi seorang Kenan Meyer sebuah perselingkuhan atau pengkhianatan tidak akan bisa dimaafkan.
"Kenan jangan seperti ini! Aku mohon berikan kesempatan satu kali saja, untuk kita memperbaiki semuanya," Silviana memberanikan diri mendekat pada mantan kekasihnya. Namun saat ingin menyentuh Kenan, tangannya justru ditepis oleh Cleopatra.
"Sudah aku katakan jangan sentuh suamiku!"
Namun Silviana yang sudah menggila karena tidak terima dikalahkan bahkan sebelum bertanding, terus berusaha membuat pria itu luluh. Namun sayangnya Kenan tak tersentuh sedikitpun dengan semua bujuk rayunya. Bahkan menatap dirinya saja Kenan terlihat enggan.
"Bawa dia keluar!" ucap Kenan saat melihat Bram masuk bersama dengan dua orang keamanan.
"Tidak.. aku tidak mau! Lepaskan aku!" Silviana meronta saat dibawa paska oleh dua orang berbadan besar dan tegap. "Kenan aku mohon setidaknya beri aku pekerjaan," Silviana masih berusaha walaupun di detik-detik terakhir.
"Kau ingin pekerjaan?"
Bukan Kenan yang menjawab, tapi Cleo. Wanita itu memerintahkan petugas keamanan untuk melepaskan Silviana.