
Dan disinilah mereka bertiga berada, duduk di ruang kerja yang ada di mansion Meyer, dengan Kenan yang berada di kursi kebesarannya.
"Kak aku tidak bermaksud untuk..."
"Kau lupa dengan apa yang kukatakan?" potong Kenan dengan penuh penekanan di setiap katanya.
"Aku ingat, tapi aku tidak terima." Kaylin menatap kakaknya dengan penuh makna. "Kak, aku memintamu menikah dengannya untuk membalaskan sakit hatiku, bukan untuk kau tiduri!" ucap Kaylin dengan memberanikan diri.
"Hei, mulutmu itu—"
"Diam Cleo!" Kenan kini menatap tajam pada istrinya.
"Ck," Cleo berdecak dengan kesal. Dia merasa emosi berada di tengah-tengah kakak adik yang selalu menghinanya. "Untung saja ibu mertuaku tidak tinggal bersama, kalau tidak aku bisa mati berdiri berada di keluarga gila ini," gumam Cleo dalam hati.
"Kak aku tarik kembali permintaanku, dan kau bisa bercerai dengannya!" ucap Kaylin sambil menatap sinis pada Cleopatra. "Aku tidak ingin kau hidup selamanya dengan wanita murahan, yang hobinya berganti-ganti pasangan."
"Kau...!"
"Tidak bisa! Kau tahu jelas apa yang sudah ku sentuh, maka akan menjadi milikku selamanya." Ucap Kenan dengan mata yang menatap pada Cleopatra.
Gleg.
Cleo menelan salivanya dengan susah payah. "Apa maksudnya?" tanya Cleo dalam hati dengan jantung yang berdebar dengan kencang. "Interupsi!" seru nya dengan memberanikan diri.
"Bukan waktunya kau berbicara."
"Tapi—" Cleo langsung terdiam saat melihat tatapan tajam dari pria yang semalam menyentuhnya tanpa henti itu, membuatnya tidak bisa berkutik dan lebih memilih diam.
"Dengar Kay, perdebatan ini aku harap menjadi yang terakhir!"
"Tapi aku tetap tidak bisa terima, dia tidak pantas menjadi pendamping mu, Kak. Dia hanya wanita murahan yang sudah merebut Orion, dan sekarang dia ingin merebutmu dariku," Kaylin tidak bisa lagi menahan kesedihannya, air mata itu turun di kedua pipinya saat merasakan perasaan bersalah. Karena perbuatannya yang ingin membalas Cleopatra, justru membuat kakak satu-satunya itu terjebak selamanya bersama wanita ja-lang.
"Kaylin Meyer!" sentak Kenan dengan keras, sampai menggebrak meja kerjanya.
Membuat Kaylin terkejut dan begitu sedih, karena ini pertama kalinya kak Kenan menyentaknya dengan keras di depan orang lain.
Begitupun Cleopatra yang sama terkejutnya, melihat sikap tegas dari seorang Kenan Meyer pada adiknya.
Suasana di ruang kerja itu kini terasa mencekam, sepeninggal Kaylin yang pergi dengan menutup pintu ruangan dengan keras. Cleo yang melihat Kenan terdiam dengan tangan yang memijat pangkal hidungnya, memilih untuk beranjak dari tempat tersebut.
"Mau kemana kau?" Kenan menatap Cleo dengan tajam.
Cleo menghentikan langkahnya, lalu tersenyum kaku. "Aku.. aku..."
"Kemarilah!" Kenan memberi isyarat agar wanita itu mendekat.
Cleo yang tidak ingin terkena masalah, karena masih ingin merasakan hidup. Memilih berjalan mendekati suaminya.
"Kemari!" Kenan menepuk ke-dua pahanya.
Cleo terdiam sesaat sambil menautkan kedua alisnya.
"Kau tidak dengar?"
Dengan memberanikan diri Cleo duduk di pangkuan Kenan, meskipun rasa takut berkecamuk dihatinya. Mengingat pria itu tengah marah, dan yang membuat pria itu marah karena dirinya yang bertengkar dengan adik tersayangnya.
"Apa masih sakit?" Kenan melingkarkan tangannya di pinggang Cleopatra.
"Ini.. ini hanya luka kecil," Cleo mengusap pipinya yang terluka karena cakaran Kaylin, dengan jantung yang berdetak dengan cepat saat tangan kekar Kenan memeluknya dari belakang.
"Bukan itu, tapi ini!" tangannya turun menyentuh tempat yang semalam memberikannya kepuasan.
"Eh..." Cleo yang terkejut reflek hendak berdiri, namun tangan Kenan menariknya dengan cepat hingga membuatnya kembali duduk.
"Apa masih sakit?" Kenan mengulangi pertanyaannya tepat di telinga wanitanya.
Cleo meng-gelengkan kepala, dengan menahan rasa geli saat napas Kenan menyapu tengkuknya.
"Bagus, karena kau harus ku hukum karena bertengkar dengan Kaylin."
"Tapi bukan aku yang, ..." Cleo yang hendak protes, bibirnya terlebih dulu dibungkam oleh bibir Kenan saat pria itu menarik tengkuknya kebelakang.