Deal, Kita Menikah!

Deal, Kita Menikah!
Part 72


"Tentu saja karena keduanya," ucap Cleo tanpa sadar, lalu menutup mulut dengan kedua tangannya. "Oh ya ampun, kenapa aku berkata seperti itu?" tanya Cleo dalam hati. Dia tidak mengerti kenapa bisa menjawab keduanya, di saat Cleo benar-benar marah karena kebebasan yang dijanjikan Kenan hanya kebohongan belaka.


"Keduanya?" Kenan menautkan kedua alisnya.


"Tidak, maksudku.. aku marah karena kau menyuruh banyak pengawal dan Kaylin mengikutiku. Bukan marah karena melihatmu dengan Thalia." Cleo meralat ucapannya.


"Benarkah?" Kenan menatap penuh selidik.


"Tentu saja, lagi pula untuk apa aku marah melihatmu dengan Thalia." Cleo tersenyum sinis untuk menutupi kegugupannya.


"Mungkin karena kau cemburu?"


"What? Aku cemburu?" Cleo tertawa terbahak-bahak. "Ya ampun Kenan Meyer, untuk apa aku cemburu pada kalian. Asal kau tahu," Cleo mengusap wajah tampan Kenan dengan perlahan. "Jangankan Thalia, bahkan seribu wanita cantik yang dekat denganmu. Tidak akan membuat aku cemburu," ucapnya dengan penuh percaya diri.


"Kenapa?" tanya Kenan dengan suara beratnya dan penuh penekanan.


"Kenapa apanya?"


"Kenapa kau tidak cemburu?"


"Karena aku tidak mencintaimu, begitu saja masa tidak mengerti." Cleo mendengus kesal, tanpa memperhatikan raut wajah Kenan yang kini berubah dingin.


"Kenapa tidak mencintaiku?" Kenan mengetatkan rahangnya. Entah mengapa mendengar Cleo mengatakan tidak mencintainya, membuat hatinya terasa terbakar oleh api amarah. Ada rasa tidak terima saat mengetahui Cleo tidak mencintainya, padahal jelas-jelas tadi dirinya mengatakan pada Bram tak peduli Cleo mencintainya atau tidak.


"Karena kau begitu dingin untuk aku yang suka kehangatan," jawab Cleo dengan tersenyum lepas, membayangkan para mantan kekasihnya yang selalu bersikap hangat. Tidak seperti Kenan yang dingin, irit bicara, irit berekspresi, semuanya serba irit.


"Bukankah setiap malam aku selalu menghangatkan mu?" Kenan menarik wajah Cleo mendekat ke wajahnya.


Kenan tidak menggubris perkataan Cleo, ia melu-mat bibir wanitanya dengan kasar karena sudah lancang berkata tidak mencintainya.


"Kau harus mencintaiku!" ucap Kenan dengan tegas, setelah melepaskan tautan bibir mereka.


"Untuk apa?" Cleo yang kesal karena dicium dengan kasar, mendorong Kenan dengan penuh tenaga. "Untuk apa aku mencintaimu? Sedangkan kau sendiri tidak mencintaiku?"


Kenan diam tidak bisa menjawab pertanyaan Cleo.


"Lihat! Kau tidak bisa menjawab pertanyaanku bukan?" Cleo tersenyum sinis. "Kau itu manusia egois, yang ingin dicintai tapi tidak mau mencintai." Cleo yang kesal hendak berdiri dari tempat tersebut, namun tangannya ditarik hingga membuatnya jatuh ke pangkuan Kenan.


"Aku memang tidak bisa mencintaimu, tapi kau harus mencintaiku. Dan ya, aku manusia yang egois." Kenan kembali melu-mat bibir wanitanya dengan sangat menuntut dan penuh gairah, tangannya tidak tinggal diam mulai masuk ke dalam pakaian wanitanya.


Karena merasa kesulitan untuk mengusap tubuh Cleo, dengan tidak sabaran Kenan menarik paksa pakaian wanitanya hingga membuatnya sedikit robek, lalu melempar asal pakaian tersebut entah kemana.


"Tunggu Ken!" Cleo menahan wajah Kenan yang hendak menyentuh tubuh bagian atasnya. "Kenapa kau tidak bisa mencintaiku?"


"Kau sudah tahu jawabannya."


"Tidak, perkataan cinta hanyalah sebuah omong kosong bukan sebuah jawaban." Cleo benar-benar ingin tahu kenapa Kenan begitu keras mengatakan tidak bisa mencintai.


"Karena perasaan cinta hanya akan membuat seseorang terluka."


"Tapi —" Cleo terkejut saat tiba-tiba tubuhnya diangkat. "Ken kita mau kemana?"


Kenan tidak menjawab pertanyaan Cleo, dia membawa masuk wanitanya ke dalam ruang rahasia, yang letaknya masih dalam satu ruangan yang sama dengan ruang kerjanya.