Deal, Kita Menikah!

Deal, Kita Menikah!
Part 130


Setelah melihat kepergian Silviana, Kenan memanggil wanitanya untuk keluar dari tempat persembunyian. Ya, Kenan memang tidak mengetahui Cleo mengumpat. Tapi dia mengetahui wanitanya itu bersembunyi di balik dinding, membuat rasa kecewa yang sempat ada dihatinya hilang dalam sekejap.


"Cleopatra Meyer, keluar!" Kenan kembali memanggil dengan sedikit berteriak, karena wanitanya tidak juga mau keluar.


"Sial!" umpat Cleo. Terpaksa keluar dari tempat persembunyiannya, berjalan mendekat pada pria yang sudah membuatnya kesal. "Dari mana kau tahu aku bersembunyi?" tanya nya dengan wajah yang ditekuk.


"Aku bisa merasakan dan mencium keberadaanmu." Kenan menarik pinggang istrinya, menghilangkan jarak diantara mereka.


"Oh ya?" Cleo tersenyum sinis, karena masih kesal dengan keputusan Kenan yang menerima Silviana bekerja di Perusahaan Meyer.


"Kau kenapa sayang?" Kenan berpura-pura tidak tahu apa yang menyebabkan wanitanya kesal.


"Kau masih bertanya kenapa? Kau tahu aku bersembunyi, jadi kau pasti tahu aku kenapa?"


Kenan mengangkat kedua bahunya dengan ekspresi yang datar.


"Oh ya ampun Kenan, aku kesal karena kau memberikan pekerjaan pada mantan kekasih mu itu! Kau lupa wanita itu pernah mengkhianatimu?" ucap Cleo dengan penuh penekanan, terutama saat menyebut kata mantan kekasih.


Namun bukannya membujuk Cleo yang sedang marah, Kenan justru tertawa dengan keras hingga menggema diseluruh ruangan.


"Aku suka melihatmu cemburu seperti ini," Kenan mengecup bibir wanitanya.


"Ck.. kau itu menyebalkan!" Cleo memukul dada bidang suaminya, menumpahkan segala kekesalan yang sejak tadi ditahannya.


"Jangan berpikir macam-macam! Cukup percaya padaku!" Kenan kembali mengecupnya bibir manis istrinya.


"Aku percaya padamu, tapi tidak dengan reog itu!"


Kenan kembali tertawa, karena teringat sebutan ulat bulu yang dilontarkan Cleo tepat di depan Silviana, dan sekarang istrinya itu menyebut Silviana sebagai reog. Entah sebutan apalagi yang akan diberikan Cleo jika bertemu dengan Silviana, membayangkannya saja membuatnya geli.


"Jangan tertawa! Tidak ada lucu tahu!" Cleo semakin kesal.


*


*


Keesokan harinya.


"Bagaimana Bram? Apa sudah kau siapkan?" tanya Kenan melalui sambungan ponselnya.


"Sudah Tuan."


"Bagus," setelah mendapatkan jawaban apa yang dimintanya tadi malam. Kenan memutuskan sambungan ponselnya.


"Apa yang sudah disiapkan?" tanya Cleo dari atas tempat tidur, menatap Kenan yang sudah bersiap dengan pakaian kerja.


Kenan hanya menjawab dengan tersenyum tipis. "Jangan lupa vitaminnya diminum!" ingatnya, agar Cleo meminum vitamin yang pernah dibeli oleh Bram. Karena kemarin setelah bertemu dengan Alana, dan melakukan pemeriksaan. Hasil yang didapat baik miliknya dan Cleo semua bagus. Alana menyarankan agar mereka menjalani gaya hidup sehat, dan meminum vitamin.


Cleo menganggukkan kepala, meski sedikit kecewa karena Kenan tidak menjawab pertanyaannya. Ia pun semakin kecewa saat Kenan melewatkan sarapan pagi, karena terburu-buru berangkat kerja.


"Ck.. sepertinya ada yang sudah tidak sabar bertemu dengan mantan," umpat Cleo sambil menatap mobil yang dinaiki Kenan. "Oh come on, kau harus ingat. Kau itu seorang Cleopatra! Dan Silviana bukan level mu, jadi lupakan rasa cemburu itu!" lagi-lagi ia mengumpat dalam hati.


Rasa percaya diri Cleopatra memang tinggi, namun rasa penasarannya pun tinggi. Membuat Cleo memutuskan untuk pergi ke perusahaan Meyer.


Sementara itu Kenan yang sudah sampai di tempat kerjanya, langsung berhadapan dengan Silviana yang ternyata sudah menunggu di ruangannya sejak pukul sembilan kurang.


"Baca baik-baik sebelum di tanda tangani!" Kenan menyerahkan surat kontrak kerja pada Silviana.


Silviana pun membaca berkas yang ada ditangannya, namun beberapa menit kemudian wajahnya memerah menahan amarah, dengan kening yang berkerut karena tak percaya dengan isi yang tertulis di dalam berkas tersebut.