Deal, Kita Menikah!

Deal, Kita Menikah!
Part 121


"Tadi kau bilang apa?" tanya Cleo dengan wajah tak percaya dengan apa yang didengarnya. Pria yang selama ini bersikap dingin, semaunya, posesif, dan pemaksa itu mengatakan cinta padanya.


"Tidak ada pengulangan," Kenan menarik pinggang ramping wanitanya, lalu membawa ke dalam pelukan. "Mulai detik ini kau tidak akan bisa lagi pergi dariku."


"Lepas Kenan!" Cleo mendorong dada bidang suaminya dengan wajah penuh kekecewaan, karena ternyata ungkapan cinta Kenan tidak sungguh-sungguh, terbukti dari cara pria itu yang tidak mau mengulangi perkataannya. "Kau lupa alasan aku pergi, karena ingin berpikir tetang hubungan kita kedepannya. Itu artinya hubungan kita belum membaik, jadi kau tidak bisa melarang ku ini dan itu!" ketusnya.


"Tentu saja aku bisa, karena aku suamimu? Dan satu lagi, Agam Mateo dan Dad David sudah mengetahui kebenarannya. Mereka percaya dan kembali memberikan tanggung jawab dirimu kepadaku."


"What?" Cleo membelalakkan kedua matanya dengan wajah yang terkejut. Patas saja saat ini dirinya ada bersama dengan Kenan, padahal seingat Cleo tadi malam dia berada di dalam Bar dan tentunya ada Alex, dan beberapa pengawal yang menjaga. Jadi tidak mungkin Kenan bisa dengan mudah membawanya jika tanpa persetujuan Agam. "A awas kau!" umpatnya dalam hati. Karena kakaknya itu sudah berani melanggar janjinya.


"Jadi sepenuhnya kau milikku!" dengan cepat Kenan menarik tengkuk wanitanya, ******* bibir yang sejak tadi berteriak terkejut. ******* yang awalnya lembut kini berubah sangat menuntut, saat Cleo terus berupaya melepaskan tautan bibir mereka.


"Ken..." napas Cleo terengah-engah setelah tautan bibir mereka terlepas, menatap wajah Kenan dengan intens saat kedua kening mereka bersentuhan. "Kenapa kau selalu seperti ini? Memaksa dan terus memaksa tanpa peduli apa yang aku rasakan," lirihnya.


"Aku tahu apa yang kau rasakan," Kenan membingkai wajah cantik istrinya. "Kau mencintaiku."


"Aku mencintaimu?" Cleo tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan pernah mencintai pria manapun, apalagi pria brengsek sepertimu."


Kenan tidak mempedulikan perkataan Cleo, dia hanya tersenyum tipis sambil terus menatap wanitanya.


Kenan mengangkat kedua bahunya. "Tadi malam saat kau mabuk, jelas-jelas mengatakan mencintaiku."


"Apa? Aku mengatakan mencintaimu? Kau pasti berbohong?" ucap Cleo sambil mengingat-ingat kembali kejadian semalam, dan perlahan kepingan-kepingan kejadian itu berputar di benaknya.


"Untuk apa aku berbohong? Dan seandainya pun kau tidak mencintaiku, aku tidak peduli. Cukup kau berada di sisiku, dan biarkan aku yang mencintaimu."


"Kenan..." Cleo tidak bisa berkata-kata karena terlalu bahagia saat mendengar kembali ungkapan cinta dari seorang Kenan Meyer. Karena ungkapan cinta itu lah yang dinantinya selama ini, yang akan membuatnya yakin untuk menjalani pernikahan mereka. "Tapi Silviana? Bukankah kau dan dia —"


"Kau percaya aku akan kembali dengan seorang pengkhianat?" Kenan balik bertanya.


Cleo meng-gelengkan kepala sebagai jawaban.


"Bagus kau tahu jawabannya, sekarang sudah cukup bicaranya!" dengan tidak sabaran Kenan mencium bibir wanitanya, meluapkan apa yang ditahannya sejak semalam. Tangannya meraba punggung mulus itu, melepas sisa yang ada di tubuh Cleo tanpa melepaskan tautan bibir mereka.


Dan yang terjadi selanjutnya adalah pergulatan panas diantara keduanya, membuat suasana kamar menjadi ikut panas saat kedua orang yang ada di dalamnya menyatu tanpa celah sedikitpun, saling mengejar sebuah kenikmatan tanpa rasa lelah sama sekali meskipun keringat mulai menetes di tubuh ke-duanya. Bahkan suara erangan dan ******* membuat pria yang kini berada di atas tubuh wanitanya semakin bersemangat melebur menjadi satu atas nama cinta.