
Setelah puas menyalurkan gairahnya yang tidak akan pernah padam meski berkali-kali menyentuh wanitanya, Kenan pun memutuskan untuk menghentikan kegiatan panas mereka. Dia merasa kasihan saat melihat Cleo yang sudah tidak berdaya, dan juga kelaparan. Karena tadi di tengah percintaan mereka, perut wanitanya itu berbunyi dengan sangat nyaring.
"Ken kau mau apa?" Cleo terkejut saat tubuhnya digendong, ketika dirinya hendak turun dari atas tempat tidur.
"Aku akan membantumu," karena Kenan yakin wanitanya itu tidak akan sanggup untuk berjalan, setelah apa yang dilakukannya tadi malam dan pagi ini.
Cleo yang digendong menatap wajah Kenan yang terlihat datar saat mengucapkan kata membantu, membuatnya sedikit kesal karena raut wajah pria itu hanya terlihat hangat di saat mereka sedang bercinta dan disaat pria itu tertidur.
"Kenan boleh aku bertanya sesuatu?" Cleo memberanikan diri untuk bertanya mengenai perkataan pria itu kemarin malam.
Kenan hanya menjawab dengan anggukan kepala, sembari mendudukkan Cleo di atas closet. Karena dia hendak mengisi air hangat terlebih dahulu ke dalam bathtub, agar Cleopatra bisa membersihkan tubuhnya lebih nyaman.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" Kenan bertanya saat melihat Cleo hanya terdiam.
"Em.. tadi malam kau mengatakan cinta hanyalah omong kosong? Itu artinya kau tidak percaya pada cinta?"
"Cinta?" Kenan tersenyum sinis sambil menatap tajam wanitanya, membuat suasana di dalam bathroom tersebut menjadi kaku dan dingin. "Cinta bagiku bukan sesuatu yang penting, dan aku tidak memerlukan pertimbangan darimu apalagi cinta hanya untuk membuat kau tetap di sisiku."
Deg.
"Kau.. kau tadi mendengar perkataanku?" tanya Cleo dengan wajah yang terkejut.
Kenan tidak menjawab pertanyaan Cleo, dia menggendong kembali tubuh wanitanya ke dalam bathtub yang sudah terisi penuh.
"Cepat bersihkan tubuhmu, aku akan menyuruh pelayan untuk membawa makanan ke kamar."
"Tunggu dulu Ken! Kenapa di kamar? Aku ingin makan di ruang makan saja." tolak Cleo, karena ia ingin keluar dari kamar dan menikmati pemandangan yang ada di pulau ini.
"Tidak bisa! Bukankah sudah aku katakan, tiga hari kau pergi maka tiga hari kau akan mendapatkan hukuman. Itu artinya selama tiga hari kau dilarang keluar dari kamar!"
Dan benar saja apa yang dikatakan oleh Kenan, selama tiga hari berada di pulau pribadi suaminya itu. Cleo di sekap di dalam kamar tidak bisa melakukan apa pun, selain kegiatan panas diatas ranjang dan beristirahat.
Dan kini mereka berdua sudah kembali ke Jakarta dengan raut wajah yang berbeda. Jika Kenan terlihat sangat segar, Cleo justru terlihat kusut dengan wajah yang ditekuk.
"Tersenyumlah!" Kenan menatap wanitanya yang sejak tadi diam.
Cleo tidak menggubris perkataan Kenan, ia lebih memilih mengalihkan tatapan matanya pada jendela mobil.
"Apa hukuman yang kemarin belum cukup?" bisik Kenan dengan seringai tipis dibibirnya.
Sontak membuat Cleo menatap suaminya dengan penuh kekesalan. "Lihat, aku tersenyum bukan?" Cleo memperlihatkan senyum kaku dibibirnya.
"Lebih lebar lagi!"
Cleo berdecak kesal sambil memperlihatkan senyum lebarnya.
"Good," Kenan mengusap rambut wanitanya.
Membuat Cleo terkejut dan jantungnya berdegup dengan kencang, karena ini pertama kalinya Kenan mengusap rambutnya dengan penuh kelembutan. "Oh my God, andai saja sikap mu selalu hangat seperti ini. Maka dengan sukarela aku membuka kakiku lebar-lebar." gumamnya dalam hati.
"Mulai hari ini kau harus mematuhi setiap yang kukatakan!"
"Emm..." sahut Cleo dengan singkat karena malas untuk berdebat. "Ok, fix aku cabut kembali ucapanku yang akan membuka kakiku lebar-lebar."
"Dan malam ini gunakan lingerie merah!"
"What?" pekik Cleo dengan wajah yang terkejut, saat menyadari suaminya itu ternyata belum puas sudah menyekapnya selama tiga hari ini. "Ya Tuhan, bolehkah aku berharap dia menghilang dari muka bumi ini! Bila perlu lempar pria ini ke planet Mars sekalian."