
Ditanya Mom Sofia tentang kehamilannya, Cleo pun berjalan mendekati ibu mertuanya.
"Ya, aku sedang hamil."
"Oh My God..." Sofia memberanikan diri mengusap perut menantunya, dia tidak menyangka akan memiliki seorang cucu. "Terima kasih Cleopatra," ia memeluk menantunya sebagai ucapan terima kasih, karena sudah mengandung penerus keluarga Meyer.
Kenan yang melihat bagaimana Mom Sofia menyentuh perut, dan memeluk istrinya. Merasakan sesuatu yang hangat menjalar dihatinya, perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
"Sudah cukup, ayo kita pergi Mom!" Kaylin menarik tangan Mom Sofia. Secepatnya ia harus pergi, sebelum kakak iparnya itu menyuruh untuk tetap tinggal di mansion Meyer. Karena ia tidak ingin menjadi pesuruh seorang Cleopatra, seperti beberapa hari yang lalu dengan alasan keponakannya yang meminta.
"Tidak Kay, kau tidak boleh ikut dengan Mom! Kau tidak kasihan pada kakak ipar mu?"
"Mom dia itu hanya ingin mengerjaiku dan menjadikan aku pelayannya."
"Ish.. siapa juga yang ingin menjadikanmu pelayan. Keponakanmu ini yang menginginkan sesuatu yang dibeli oleh Aunty nya. Kau masih ingat Ken, aku tidak tidur semalaman karena Kaylin tidak membawakan ice cream keinginanku?"
Kenan yang ditanya bingung harus menjawab apa, karena seingatnya Cleo tidak bisa tidur karena menunggu kedatangannya juga karena marah Kaylin yang pergi begitu saja tanpa membelikan ice cream yang diinginkan Cleopatra.
"Tapi aku tidak mau!" Kaylin bersikeras pergi dari ruangan tersebut.
"Kay dengar Mommy, kau harus tetap disini! Kasihan Cleopatra tidak ada yang menemani jika Kenan berangkat kerja." Karena putranya itu pasti sangat sibuk dan selalu pulang pergi ke luar negeri mau pun luar kota.
Kaylin terdiam sesaat, menatap Mom Sofia dan Kenan bergantian. "Aku akan tetap tinggal, jika Mom diijinkan juga tinggal disini."
"Tidak bisa!" sahut Kenan dengan cepat.
"Kalau begitu aku pergi!"
"Dia yang melarang ku!" Kaylin menunjuk pada kakak iparnya.
"Cleo tidak akan—"
"Cukup!" Cleo menatap tajam Kaylin juga Kenan. Ia tidak ingin ada keributan di mansion Meyer, karena hanya dirinyalah yang berhak membuat keributan dengan adik iparnya itu. "Kay tetaplah tinggal di sini."
"Aku tidak..." Kaylin yang ingin protes langsung terdiam, saat kakak iparnya itu kembali menatapnya dengan tajam.
"Dan Nyonya Sofia akan tinggal di Apartemen ku."
"Sayang..." kini Kenan yang protes.
"Apartemen ku Kenan, jadi aku berhak memutuskan siapa yang boleh tinggal di sana." Cleo menekankan kata Apartemen miliknya agar Kenan berhenti protes.
"Tidak perlu, Mom bisa tinggal di tempat lain." Sofia menolak karena putranya itu keberatan dengan ide menantunya.
"Mom Sofia harus mau, agar Kaylin tetap tinggal di Mansion bersama kami," ucap Cleo dengan membujuk. "Aku boleh memanggilmu Mom lagi?"
"Tentu saja boleh," Sofia tersenyum pada menantunya, lalu menatap pada Kaylin. "Baiklah Mom setuju."
"Ck..." Kenan berlalu pergi dari ruangan tersebut, karena tidak bisa melarang istrinya yang mengijinkan Mom Sofia tinggal di apartemen. Karena seperti yang diucapkan Cleo, apartemen itu bukan miliknya.
Di satu sisi Kenan merasa kesal karena kalah dengan perdebatan mereka, namun di satu sisi lainnya ia merasa bersyukur Mom Sofia mempunyai tempat tinggal. Meskipun Kenan membenci wanita yang melahirkannya itu, namun ia tetaplah seorang anak yang tidak akan tega membiarkan Ibu nya tinggal di jalanan. Karena sejatinya Kenan akan membantu Mom Sofia mendapatkan tempat tinggal, namun bukan di mansion Meyer.