
"Aku tidak pernah meminta apa pun padamu, jadi untuk kali ini hormati keputusanku!" ucap Kenan setelah melihat adiknya berhenti menangis. "Terima Cleopatra sebagai kakak iparmu!"
Kaylin sontak menatap kakaknya, menatap pria yang selama ini bekerja keras demi hidupnya. Pria yang tidak pernah mengeluh lelah, dan pria yang dengan sabar menghadapinya. Kakak satu-satunya yang dimilikinya yang selama ini lebih banyak diam, kini berkata panjang lebar hanya agar dirinya mau menerima sosok Cleopatra Mateo menjadi bagian dari keluarga Meyer.
"Tunggu kak!" Kaylin langsung memeluk kakaknya yang hendak pergi dari tempat tersebut. "Aku janji akan menerima Cleopatra sebagai kakak iparku, tapi aku tidak bisa berjanji memperlakukan dia dengan baik." Ucap Kaylin dengan jujur, karena dia masih tidak menyukai sosok Cleopatra meskipun tuduhannya selama ini sudah terbukti tidak benar.
"Kay lepas!" Kenan yang tidak suka dipeluk oleh orang lain meskipun adiknya sendiri, segera melepaskan pelukan Kaylin lalu berjalan keluar dari area tempat pemakaman tersebut dengan wajah datarnya.
"Ish, dia kembali menjadi seorang Kenan Meyer yang dingin dan kejam," gerutu Kaylin sambil berjalan mengikuti kakaknya dari belakang. Menatap punggung tegak itu dengan sebuah janji yang tadi diucapkannya, yaitu akan menerima Cleopatra sebagai kakak iparnya. Tapi untuk bersikap baik, dia tidak bisa menjanjikan apapun terlebih hatinya masih membenci wanita itu.
*
*
Mansion Meyer.
Mobil yang ditumpangi oleh Kenan dan Kaylin akhirnya sampai di kediaman mereka. Keduanya masuk ke dalam mansion dengan tujuan yang sama, yaitu ingin menemui Cleopatra. Terutama Kenan yang hendak mendamaikan istri dan adiknya sebelum berangkat kerja.
Namun saat sampai di dalam ruang tengah, Kenan kembali dibuat pusing dengan kabar yang didengarnya.
"Sejak kapan dia pergi?" tanya Kenan pada pelayan yang menyampaikan kabar, bahwa wanitanya tidak ada di dalam mansion.
"Bagaimana bisa? Bukankah sudah aku katakan, untuk tidak memperbolehkan wanita itu keluar!" bentaknya dengan penuh amarah.
"Maaf Tuan, tapi tadi Nona mengatakan sudah ijin pada Anda."
"Dan kalian percaya?"
Para pelayan itu tidak berani menjawab, bahkan untuk menatap tuannya mereka pun tidak berani.
"Kak sudah jangan memarahi mereka. Mereka itu hanya korban dari istrimu yang pandai berbohong," Kaylin tersenyum sambil berjalan menuju kamarnya. Jauh di dalam lubuk hatinya dia berharap Cleopatra pergi jauh, dan tidak akan pernah kembali agar kehidupannya kembali tenang dan damai.
"****!" Kenan mengusap wajahnya dengan kasar. Bisa-bisa kepalanya pecah dengan semua yang terjadi hari ini, dimana adiknya tadi melarikan diri dan sekarang istirnya yang pergi entah kemana.
"Tuan, kami minta maaf. Tolong jangan pecat kami." ucap pelayan tersebut dengan sangat ketakutan.
Kenan tidak memperdulikan para pelayan tersebut, dia segera berjalan keluar dari mansion sambil menghubungi Bram. Memerintahkan asisten pribadinya itu untuk menghandle pekerjaan di kantor, dan juga untuk mencari keberadaan istrinya yang kabur entah kemana.
"Cleopatra Mateo, awas kau!" geram Kenan saat memasuki mobil mewahnya.
Sementara itu Cleopatra yang tengah berada di mansion utama, justru tengah tertawa mendengarkan cerita Alana yang kebetulan juga berada di mansion tersebut. Ya, mereka berdua kebetulan bertemu di mansion utama karena satu tujuan yang sama, yaitu tengah bersembunyi dari pria-pria yang mencari keberadaan mereka. Dan mansion utama adalah tempat paling aman, karena tidak sembarang orang bisa memasuki mansion tersebut, yang dijaga ketat oleh para pengawal hebat dan berkompeten.