Deal, Kita Menikah!

Deal, Kita Menikah!
Part 91


Sementara itu di tempat lainnya, di sebuah kamar utama yang ada di mansion Meyer. Cleo tengah berbaring di atas tempat tidur sembari menatap langit-langit kamar. Dia tidak bisa tidur meski sudah berusaha untuk menutup kedua matanya.


Namun tidak berhasil, karena selalu teringat cerita Edgar tentang Kenan saat di cafe siang tadi. Ditambah seharian ini ia dikurung di dalam kamar tanpa adanya kegiatan, membuat Cleo semakin pusing dan merenungi semua yang terjadi di dalam hidupnya.


Di mulai pada saat dirinya yang di paksa tinggal di Jakarta, terkena kasus penggerebekan narkoba, hingga berujung dengan terjadinya kesepakatan pernikahan bersama Kenan Meyer. Bersama pria yang memiliki sifat tertutup, dingin, dan tak tersentuh oleh cinta. Sangat berlawanan dengan dirinya yang begitu terbuka, hangat, ceria, dan memiliki banyak cinta.


"Apa mungkin Tuhan sengaja mengikatku dengan Kenan, untuk memberikan pria itu cinta dari aku yang penuh cinta?" gumam Cleo dengan tertawa geli, saat membayangkan dirinya memberikan jari jempol dan telunjuk yang membentuk sebuah hati kepada Kenan. "Ya ampun Cleo, kau itu bicara apa? Bisa-bisanya kau berpikiran memberi cinta pada si dingin itu," makinya pada diri sendiri sambil menatap jam yang ada di atas nakas. "Kenapa dia belum juga pulang?"


Cleo yang kesal karena Kenan belum juga pulang, padahal waktu sudah menunjukkan tengah malam. Memutuskan untuk tidur lebih dulu. Namun entah mengapa matanya itu begitu sulit untuk terpejam, bahkan kini bayangan wajah Kenan seperti menari-nari di benaknya.


"Kenan Meyer!" teriak Cleo dengan frustasi. "Tidak di dunia nyata, tidak di pikiranku, kenapa selalu membuatku kesal!" Cleo kembali berteriak sambil melempar bantal yang dipegangnya kearah pintu.


Namun bukannya merasa lega karena sudah melempar bantal tersebut, sebagai bentuk pelampiasan rasa kekesalannya. Cleo justru di buat terkejut saat bantal yang di lemparnya itu, jatuh tepat mengenai wajah Kenan yang tengah membuka pintu.


Pakaian pria itu tidak rapih seperti biasanya, rambut Kenan pun terlihat acak-acakan. Bahkan ada luka di pelipis pria itu yang terlihat sudah mengering.


"Wajahmu kenapa?" Cleo berinisiatif menghampiri Kenan untuk menyentuh luka di wajah pria itu. Namun belum sempat menyentuh luka tersebut, tangannya sudah lebih dulu di cengkram dengan kuat dan dihempaskan begitu saja. "Tunggu Kenan Meyer!" dengan berani Cleo menarik tangan Kenan yang hendak berlalu dari hadapannya. "Aku tahu kau marah. Tapi aku mohon jangan seperti ini! Lebih baik kau memakiku, dari pada mendiamkan ku!" pintanya sambil menatap wajah Kenan dengan intens.


"Ck, memangnya kenapa? Bukankah kau senang jika aku diam dan tidak menghukum mu?"


Cleo menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku lebih senang kau hukum di atas ranjang, dari pada mendiamkan aku."


Kenan tersenyum sembari menarik pinggang Cleo, membawa wanita itu ke dalam pelukannya. "Benarkah?"


Cleo menganggukkan kepala. Tangannya ia lingkarkan di leher Kenan lalu mengecup sekilas bibir sensual milik pria itu. Dia tidak peduli jika Kenan menganggapnya murahan. Karena bagi Cleo, tidak ada salahnya jika seorang istri merayu suaminya yang sedang marah.