
Di goda oleh wanita secantik Cleo, tentu saja membuat dada Kenan naik turun. "Di saat seperti ini, masih berani menggodaku!" Kenan menyentuh kedua sisi wajah Cleo, membuat wajah cantik itu mendongak ke atas menatap dirinya. "Kau tidak takut, jika kubuat tidak bisa berjalan?"
"Tidak," tantang Cleo sambil menyentuh dada bidang suaminya dengan perlahan, lalu membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan pria itu. "Apa kau tahu, obat mujarab untuk meredakan amarah adalah dengan bercinta?" ucapnya sembari mengecup dada kekar dan berotot yang terpampang di hadapannya.
Kenan mengerang menahan gejolak gairah yang mulai bangkit, saat dengan lihainya Cleo mengecup dan menyusuri dadanya. Tidak diragukan lagi kemampuan seorang Cleopatra dalam memancing hasrat seorang pria, karena wanita itu memang dikenal sebagai sang penakluk.
Dan begitu beruntungnya Kenan menjadi yang pertama bagi Cleo, menjadi satu-satunya pria yang menyentuh wanita itu. Itulah mengapa dia tidak akan pernah melepaskan wanitanya, atau membiarkan pria lain mendekatinya. Karena bagi Kenan, Cleopatra hanya miliknya seorang.
"****!" dengan cepat Kenan merengkuh tubuh ramping Cleo, menarik tengkuk wanita itu lalu melu-mat bibir yang sejak tadi menggodanya dengan penuh gairah dan kemarahan, "Kau yang memintanya, jadi jangan salahkan aku!' Kenan kembali ******* bibir Cleopatra. Namun kali ini lebih kasar dan menuntut, dengan mengigit bibir bawah wanita itu agar lidahnya bisa masuk menyusuri dalamnya bibir manis tersebut.
Kedua orang yang tengah terbakar gairah, kini saling melepaskan apa yang dikenakan lawannya sambil terus berciuman. Ciuman itu bahkan bertambah intim saat tidak ada satu benangpun yang menempel ditubuh keduanya. Mereka saling mencumbu dengan begitu panas, hingga terdengar suara des*ahan dan lenguhan di seluruh penjuru kamar.
"Ken..." Cleo terkejut saat tiba-tiba Kenan melepaskan tautan bibir mereka, dan tangan pria itu yang berhenti menjamah tubuhnya "Kenapa?" tanya Cleo dengan bingung, karena pria itu berhenti di saat sedang panas-panasnya.
"Jadi.. mau diteruskan atau tidak?" tanyanya dengan menggoda, melingkarkan kedua tangannya pada leher Kenan, dan meminta pria itu untuk menggendongnya.
"Tentu saja," Kenan mengangkat tubuh Cleo, membawa wanita itu naik ke atas tempat tidur lalu merebahkan tubuh polos tersebut dengan perlahan. Dia kembali menautkan bibir mereka, melu*matnya dengan sangat menuntut. Tangannya pun tidak tinggal diam, menyentuh dan meremas di tempat favoritnya yang begitu kenyal di genggaman.
Dengan perlahan namun pasti ciuman itu turun ke bawah, meninggalkan jejak kemerahan di setiap lekuk tubuh indah itu. Membuat sang wanita mengeluarkan des*ahan, yang begitu seksi terdengar di telinganya.
"Kenan..." Cleo bergerak gelisah saat pria itu menyentuh bagian di bawah sana, memporak-porandakan hingga bagian terdalam dengan benda tak bertulang yang membasahi miliknya. Membuat Cleo tak berdaya dengan permainan yang begitu menyiksa namun begitu nikmat. "Cukup Ken!" ia menarik rambut Kenan, agar pria itu menghentikan apa yang dilakukannya dan segera melakukan penyatuan mereka.
Namun Kenan tidak mau menghentikan permainan itu, dia sengaja melakukannya untuk membuat Cleo tidak berdaya. Sebagai bentuk hukuman karena wanita itu berani melarikan diri bersama Edgar. Meskipun apa yang dilakukannya itu, tentu saja membuat Kenan ikut tersiksa karena menahan diri untuk melakukan penyatuan mereka.
"Kenan..." teriak Cleo dengan frustasi saat pria itu terus mempermainkannya, tanpa mau memberikan apa yang diinginkannya. Kenan justru semakin menjadi, dengan terus menyesap dibawah sana, lalu berhenti begitu saja saat dirinya hampir sampai. "Why Kenan?" protes Cleo, saat pria itu justru bangkit dari atas tubuhnya tanpa menyelesaikan apa yang mereka mulai.