Deal, Kita Menikah!

Deal, Kita Menikah!
Part 66


"Bagaimana Mom? Apa kita diijinkan tinggal di sini?" tanya Thalia saat melihat kedatangan ibu tirinya.


Sofia tidak menjawab pertanyaan Thalia, dia membawa anak tirinya itu masuk ke dalam kamar yang sudah tiga hari ini ditempati oleh Sofia. Sedangkan Thalia di kamar tamu yang ada di sebelah kamarnya.


"Bagaimana Mom?" Thalia mengulangi pertanyaannya.


"Tentu saja sayang, kita diijinkan untuk tinggal disini." Ucap Sofia dengan tersenyum. "Dan mulai saat ini kau harus bisa menarik perhatian putraku."


"Tapi Mom aku tidak yakin bisa menarik perhatian Kenan, dia begitu dingin dan tak tersentuh. Bahkan menerima uluran tanganku saja dia tidak mau, belum lagi istri nya yang begitu cantik dan sempurna."


"Ck, kau jangan putus asa seperti itu. Kenan bersikap begitu karena belum mengenalmu. Dan untuk urusan istrinya biar Mom yang menanganinya." Ucap Sofia dengan tersenyum licik.


Thalia hanya menganggukkan kepalanya, dan berharap semua rencana ibu tirinya itu berjalan dengan lancar. Karena Thalia sudah tertarik dan jatuh cinta pada sosok Kenan, saat pertama kali Mom Sofia memperlihatkan foto pria itu.


*


*


Beberapa hari kemudian.


"Oh ya ampun, lama-lama aku bisa jadi mayat hidup jika terus dikurung seperti ini," Cleo berjalan mondar-mandir di dekat kolam renang. "Ayo Cleopatra berpikirlah dengan keras! Gunakan otak pintarmu! Cari cara agar Kenan mau bercerai, dan kau bisa terbebas darinya," Cleo terus berpikir sampai tidak sadar ada seseorang yang sejak tadi berdiri dibelakangnya, dan mendengar semua yang dikatakannya.


"Percuma kau berpikir keras, karena sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu!"


Deg.


Cleo yang terkejut langsung menengok kebelakang. "Ke-Kenan, aku tadi..."reflek kakinya melangkah mundur saat melihat pria itu berjalan mendekatinya.


"Jangan pernah berpikir kau bisa terbebas dari ku Cleopatra Meyer," bisik Kenan sembari menarik pinggang wanitanya, membuat Cleo kini berada di dalam pelukannya.


"Hentikan Ken!" Cleo memalingkan wajahnya saat pria itu hendak menciumnya.


"Ya, aku menolaknya." Jawab Cleo dengan memberanikan diri.


"Kau..." Kenan berusaha menahan emosi, saat harga dirinya terasa di injak oleh penolakan Cleopatra. "Kenapa kau selalu berpikir untuk bebas dariku? Bukankah aku sudah memberikan semua fasilitas yang kau butuhkan?"


"Ck, kau masih bertanya kenapa?" Cleo menggelengkan kepalanya. Memang benar Kenan memberikan semua fasilitas terbaik untuknya, sampai-sampai semua yang dia butuhkan di datangkan langsung ke mansion mereka. Bahkan mansion Meyer seperti pusat perbelanjaan dadakan saat Cleo menginginkan sesuatu. "Aku ini suka dengan kebebasan, aku ingin keluar jalan-jalan, aku ingin bertemu dengan teman-teman ku. Tapi kau malah menahan aku disini layaknya seorang tahan. Itu yang membuat aku ingin terbebas darimu! Dan satu lagi, bukankah kita tidak saling mencintai? Jadi untuk apa kau memaksa hubungan ini selamanya?"


Kenan terdiam mendengar semua perkataan Cleopatra. "Jadi kau ingin kebebasan?"


Cleo yang yang ditanya langsung menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, mulai hari ini kau diijinkan pergi keluar!"


"Benarkah?" tanya Cleo tak percaya.


"Ya."


"Ah.. akhirnya aku bisa keluar. Terima kasih Ken," Cleo reflek memeluk Kenan. "Lalu kapan kita bercerai?"


"Tidak akan pernah!" Kenan mendorong kening wanitanya.


"Ck, aku kira kau akan berubah pikiran juga tentang perceraian kita." Cleo mengusap keningnya dengan bibir yang mengerucut tajam. "Eh tunggu dulu! Kau tidak sedang berbohong kan, mengijinkan aku pergi keluar?" tanyanya penuh selidik.


"Untuk apa aku berbohong?" Kenan berjalan masuk ke dalam mansion dengan senyum tipis dibibirnya.


"Ish, kenapa aku merasa dia sedang merencanakan sesuatu?" gumam Cleo dengan penuh rasa curiga. "Kenan tunggu aku!" Cleopatra hendak mengejar pria itu, namun langkah kakinya terhenti saat melihat Thalia yang berjalan disisi Kenan. "Dia lagi..." tidak satu kali dua kali Cleo melihat Thalia yang berusaha mendekati Kenan, dan interaksi mereka berdua semakin dekat saat Thalia ikut bekerja di perusahaan Meyer.


"Sepertinya Thalia menyukai Kenan," gumamnya dalam hati, sambil terus menatap punggung Thalia dan Kenan yang kini menghilang di balik dinding.