
"Kenan...!" teriak Cleo dengan histeris. Terbangun dari tidurnya dengan napas yang tersengal-sengal. Dia begitu ketakutan setelah bermimpi buruk, mimpi yang membuatnya begitu sesak saat melihat Kenan berlumuran darah karena mobil yang dikendarai pria itu mengalami kecelakaan.
Cleo yang masih ketakutan dengan mimpinya buruknya, menatap kesamping tempat tidur mencari sosok Kenan. Namun yang dicari tidak ada, menandakan kalau semalam pria itu tidak kembali ke kamar mereka.
"Kenapa perasaanku tidak enak?" Cleo yang tengah melamun, sedikit terkejut saat pintu kamar dibuka dari luar.
"Maaf Nona, kami ingin menyiapkan air hangat untuk Anda. Dan menyiapkan sarapan," dua orang pelayan masuk ke dalam kamar. Yang satu menata piring makan ke atas meja yang ada di ruangan tersebut, dan yang satunya lagi menuju bathroom untuk menyiapkan air hangat.
"Dimana Kenan? Apa semalam dia keluar?" tanya Cleo. Dia ingin memastikan pria itu baik-baik saja agar hatinya tenang.
"Tuan sudah berangkat kerja, dan tadi malam beliau tidak keluar sama sekali."
Cleo terkejut mendengar penjelasan pelayan tersebut, itu artinya tadi malam Kenan hanya keluar kamar dan tidur di kamar tamu.
"Ya ampun Cleopatra, kau lupa semalam Kenan hanya mengenakan celana? Jadi mana mungkin dia pergi. Kau itu terlalu berlebihan!" gumamnya sambil tertawa. Menertawakan sikapnya yang terbawa mimpi buruk, hingga mencemaskan keadaan Kenan.
"Nona Anda baik-baik saja?" tanya pelayan yang telah selesai menata makanan di atas meja. Dia merasa bingung melihat Nona Cleo yang tertawa, padahal tidak ada yang lucu di ruangan tersebut.
"Aku?" tunjuknya pada diri sendiri. "Tentu saja aku baik-baik saja," ia menarik selimut lalu melilitkan pada tubuhnya. Berjalan menuju meja untuk sarapan.
"Anda tidak ingin mandi dulu?" tanya pelayan saat melihat Nona nya memakan sandwich begitu lahap.
"Nanti saja, aku sangat lapar." Bagaimana tidak lapar jika tadi malam tenaganya terkuras habis karena perbuatan Kenan. Belum lagi dirinya yang tidak menyentuh sama sekali, makan malam yang dibawa oleh pelayan ke dalam kamar.
Dan jangan tanyakan kenapa dirinya tidak melarikan diri, di saat pelayan membawa makanan untuknya. Karena jawabannya tentu saja ada dua orang pengawal yang berjaga di depan pintu kamar.
"Tidak ada, kalian boleh keluar!"
"Baik Nona."
Dua orang pelayan itu berjalan keluar dari kamar, setelah permisi kepada Nona mereka.
"Tunggu dulu!" Cleo berteriak saat teringat sesuatu. "Apa para pengawal masih berjaga di depan pintu?"
"Masih Nona."
Cleo menghela napasnya dengan kasar. "Apa pintunya akan di kunci dari luar?"
"Kau tenang saja! Pintu kamarnya tidak akan di kunci," bukan dua orang pelayan yang menjawab, melainkan Kaylin. Dia berjalan mendekati Cleo yang tengah duduk menikmati sarapan.
"Kay..." Cleo sampai tersedak saat melihat adik iparnya yang tiba-tiba ada di kamarnya. "Hari ini sepertinya aku sial sekali," gumamnya dalam hati, saat dengan penuh percaya diri Kaylin duduk dihadapannya.
"Ada yang ingin aku bicarakan," Kaylin menatap Cleo lalu meng-gelengkan kepala. "Tapi sebelum itu lebih baik kau mandi! Aku geli melihat tanda bekas percintaan kalian."
Cleo reflek menatap tubuhnya yang tak tertutup selimut. "Oh my God," terlihat dengan jelas kiss mark yang dibuat Kenan memenuhi bagian atas dadanya.
Cleo yang begitu malu bergegas masuk ke dalam bathroom, sambil merutuki kecerobohan yang diperbuatnya. Karena selain Kaylin yang melihat, dua pelayan yang masuk ke dalam kamarnya tadi pasti melihatnya juga.