
"Jangan pernah melarikan diri lagi! Apalagi lari bersama pria lain!" Kenan menjelaskan maksud perkataannya dengan penuh penekanan.
Deg.
Walaupun apa yang dikatakan Kenan begitu tegas, namun yang ia rasakan ada sebuah luka tersirat. Membuatnya merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya siang tadi.
"Kenan aku tidak bermaksud..."
"Aku tidak butuh penjelasan, tapi satu yang harus kau ingat! Jangan pernah mengulanginya!"
Cleo menganggukkan kepala dengan cepat, karena menyadari kesalahan yang diperbuatnya. Meskipun kesalahan itu tidak seratus persen miliknya. Jika saja Kenan memberikan sedikit ruang untuknya bergerak, Cleo pun tidak akan melarikan diri dari pria itu.
"Aku harap dia cepat hadir," Kenan mengusap perut datar istrinya. Dia sangat mengharapkan hadirnya seorang bayi di antara mereka, karena dengan begitu Cleo akan terikat selamanya. Dan pastinya akan membuat wanita itu berpikir seratus kali untuk lari darinya.
"Dia?" Cleo mengerutkan keningnya dengan bingung.
"Baby," bisik Kenan.
"Baby?" Cleo tertawa lepas. "Mana mungkin aku hamil, kalau setiap bulannya aku suntik KB," jelasnya tanpa sadar.
"Kau apa?" sentak Kenan dengan geram. Dia tidak menyangka kalau selama ini Cleo melakukan suntik KB.
"Aku..." Cleo yang tersadar dengan ucapannya, kini terdiam saat mendapatkan tatapan tajam dari Kenan.
"Kenapa? Kenapa kau lakukan itu?" Kenan menghimpit tubuh Cleo, mencengkram dagu wanitanya dengan tatapan mengintimidasi.
"Karena aku takut," jawab Cleo dengan jujur. "Aku takut hamil. Kau ingatkan pernikahan kita itu hanya satu tahun?"
"Tapi Kenan, tidak ada cinta diantara kita. Jadi untuk apa hubungan ini di pertahankan?"
"Persetan dengan cinta!" ia melu-mat bibir Cleo dengan kasar, menumpahkan semua amarahnya.
"Cukup Ken!" ucap Cleo setelah tautan bibir mereka terlepas. "Kau melukaiku," ia mengusap bibirnya yang digigit dengan kasar oleh Kenan.
Kenan yang tersadar, bangkit dari atas tubuh wanitanya. Dia turun dari tempat tidur lalu mengambil celananya yang ada diatas lantai, dan menggunakannya dengan cepat.
"Jangan gunakan lagi! Ini perintah!" ucapnya dengan tegas tanpa mau menatap Cleo.
Cleo ikut bangkit dari tidurnya. "Tapi Kenan.."
"Tidak ada negosiasi, ini sebuah perintah bukan permintaan!" Kenan membalik badannya menatap Cleopatra, sebelum berlalu dari kamar.
"Ck, kau itu menyebalkan!" Cleo berteriak menatap punggung Kenan yang terbuka, karena pria itu hanya mengenakan celana. "Walaupun perintah tapi jika aku tidak ingin hamil, kau bisa apa?"
Kenan menghentikan langkahnya. "Aku bisa memaksamu! Setiap hari aku akan melakukannya, sampai kau hamil."
"Oh my God," Cleo melempar bantal kearah Kenan, namun sialnya bantal itu hanya mengenai pintu yang tertutup. "Aku ingin sekali mencekik lehernya, bisa-bisanya dia pergi begitu saja setelah mengatakan akan membuatku hamil. Dia pikir hamil itu seperti membalik sebuah tangan?" gerutunya sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Tapi tunggu dulu! Dia ingin aku hamil, itu artinya dia memang menginginkan pernikahan ini selamanya?" entah mengapa ada perasaan hangat yang menjalar di relung hatinya, saat teringat Kenan yang begitu menginginkan dirinya hamil. "Apa ini saatnya aku menerima pernikahan ini? Tapi bagaimana dengan karir modeling ku?" Cleo yang pusing harus melakukan apa, memilih memejamkan kedua matanya. Hingga akhirnya dia tertidur karena kelelahan, tanpa sempat membersihkan tubuh apalagi mengenakan pakaian.
Cleo bahkan tidak terganggu atau terbangun dari tidurnya, saat Kenan kembali ke dalam kamar lalu berbaring di sampingnya.
"Cinta?" Kenan mengusap rambut panjang wanitanya dengan perlahan. "Kau lebih dari sekedar cinta, kau hidupku Cleopatra Meyer." Kenan menarik tubuh polos wanitanya, dan membawa kedalam pelukan.