
"Kau kerjakan..."
"Aku tidak mau, lebih baik aku pergi dan tinggal di mansion ku sendiri dari pada menjadi seorang pelayan!" potong Cleo dengan cepat.
Membuat Kenan menghela napasnya dengan kasar. Kini ia tahu hobi dari seorang Cleopatra Mateo adalah memotong pembicaraan orang lain. Jika saja masalah ini tidak berdampak pada dirinya sendiri, maka sudah sejak awal Kenan memutus sambungan telepon tersebut, dari pada harus pusing mendengar ocehan wanita itu.
"Sudah selesai?" tanya Kenan untuk yang ke-dua kalinya.
Cleo lagi-lagi menganggukkan kepalanya.
"Aku tidak mendengar jawabanmu!" ucap Kenan sambil menyandarkan punggungnya di kursi kerja.
"Iya aku sudah selesai," sahut Cleo dengan ketus.
"Kau kerjakan saja semua tugas itu, dan —"
"Aku bilang aku tidak mau, sekarang lebih baik aku berkemas untuk pergi—"
Brak.
Cleo terdiam saat mendengar suara gebrakan meja yang begitu keras, yang ia yakini berasal dari tempat Kenan.
"Dengar baik-baik! Kalau kau mau pergi silahkan! Tapi kau harus ingat untuk mengganti uang tunjangan sepuluh kali lipat." Ucap Kenan dengan kesal karena sudah dua kali Cleo memotong pembicaraannya.
"Kau pasti tidak membaca berkas itu sampai selesai?" Kenan lagi-lagi menghela napasnya. Tenyata menghadapi Cleopatra yang cantik, sexy, dan pemberani dengan segudang kekurangannya itu sangat melelahkan, dari pada menghadapi tingkah manja Kaylin.
"Aku..." Cleo terdiam sambil berpikir dengan keras. "Memangnya ada lagi ya?" Cleo balik bertanya dengan bingung, karena sejujurnya dia tidak membaca sampai selesai. Karena sudah lebih dulu tersulut emosi, saat membaca bagian menjadi ibu rumah tangga pada umumnya.
"Dengar Cleopatra, di surat itu tertulis jika kau pindah tempat tinggal tanpa diriku. Kau harus mengganti uang tunjangan sebesar sepuluh kali lipat dari jumlah yang kuberikan."
"What?" pekik Cleo dengan wajah yang terkejut.
"Jadi sekarang kerjakan tugasnya! Gunakan otakmu itu untuk berpikir, jangan hanya bisa digunakan untuk merayu seorang pria!" ucap Kenan dengan dingin, dan langsung menutup ponselnya.
"Ta-tapi.. halo...?" Cleo menatap layar ponselnya yang ternyata sudah dimatikan secara sepihak oleh suaminya. "Oh God, aku benar-benar akan membunuhmu Kenan Meyer!" teriak Cleo dengan sangat emosi, dan hampir saja melempar ponselnya jika saja ponsel itu tidak berdering. "Kenan? Dia pasti ingin menarik ucapannya kembali," Cleo segera mengangkat ponselnya dengan tersenyum.
"Ingat! Jangan pernah menghubungi aku lagi jika itu tidak penting!"
Tut.. Tut.
Cleo yang belum sempat mengatakan apa pun, hanya bisa terdiam saat panggilan tersebut kembali diputus secara sepihak.
"Kenan Meyer!" kali ini Cleo benar-benar melempar ponselnya. Dia begitu marah karena diperlakukan dengan semena-mena oleh Kenan dan juga Kaylin. Terlebih lagi saat mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar, dan yang melakukannya tidak lain dan tidak bukan adik iparnya yang tengah berteriak memintanya untuk menyiapkan sarapan. "Sial!" umpat Cleo sembari berpikir, dan entah mengapa perkataan Kenan yang menyuruhnya untuk menggunakan otak kembali melintas dibenaknya. "Ah, kenapa tidak kepikiran dari tadi." Cleo segera mengambil ponsel yang tadi dilemparnya, lalu menghubungi kakak iparnya yang tidak lain dan tidak bukan Baby Arbeto.