
"Jadwal periksa selanjutnya tidak perlu ke dokter Alana, aku akan mencari dokter kandungan yang lebih berkompeten," ucap Kenan setelah masuk ke dalam mobil. Ia begitu kesal karena selama satu jam lamanya mendengar perbincangan tidak penting antara Cleopatra dan Alana.
"Apa aku tidak salah dengar? Kau ingin mengganti Alana dengan dokter yang lebih berkompeten? Kau lupa Alana itu dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi terbaik," sahut Cleo dengan sedikit emosi karena suaminya mempertanyakan kemampuan sepupunya.
"Terbaik bagaimana? Alana itu seharusnya membahas tentang kandungan mu, tentang Baby kita. Bukannya membicarakan hal yang tidak penting, apalagi pembicaraan itu tentang dia yang tidur dengan —"
"Ken..." Cleo menutup mulut Kenan dengan wajah yang kesal. Meskipun mereka saat ini berada di dalam mobil, dan hanya ada supir yang duduk didepan. Tapi tidak seharusnya Kenan membicarakan hal pribadi sepupunya. "Kenapa kau berubah jadi banyak bicara seperti ini?"
"Aku emosi Cleopatra Meyer! Aku datang kemari karena ingin mengetahui lebih banyak tentang Baby kita, tapi—" Kenan terdiam saat Cleo menyerahkan sebuah foto yang mirip dengan apa yang di lihatnya di dalam layar monitor milik Alana.
"Itu hasil foto USG baby kita."
Kenan hanya diam tidak menggubris sama sekali perkataan Cleo, kedua matanya berbinar menatap foto hasil USG tersebut, namun tetap memperlihatkan raut wajah yang datar.
"Tadi kau keluar lebih dulu, jadi tidak tahu saat Alana memberikannya," ucap Cleo sembari menatap wajah suaminya. "Kenapa kau diam saja? Kau tidak senang?" tanyanya dengan bingung saat melihat wajah Kenan yang terlihat datar tanpa ekspresi apa pun. Tadinya ia pikir Kenan akan bahagia, mengingat betapa bersemangatnya pria itu saat melakukan pemeriksaan pada kandungannya.
"Tentu saja senang," jawab Kenan dengan datar, masih menatap dengan takjub pada hasil foto USG tersebut. Ia bangga dan tak menyangka bibit unggul yang ia tanam setiap malam, sudah menampakkan hasilnya meskipun masih belum berbentuk. "Aku yakin anak kita kelak akan tampan sepertiku," ucapnya dengan tersenyum sembari memasukkan hasil USG tersebut kedalam dompetnya.
"Dan jika perempuan akan cantik sepertiku," sahut Cleo dengan penuh percaya diri.
Kenan ikut mengamini perkataan istrinya sembari mengusap perut Cleo dengan perlahan.
"Karena aku sudah mengandung anakmu, apa boleh aku meminta sesuatu?"
"Tentu saja, kau boleh meminta apa pun. Tas, perhiasan, bahkan jika kau meminta pulau akan aku berikan."
Cleo meng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak menginginkan itu semua."
"Lalu apa yang kau inginkan?" tanya Kenan dengan mengerutkan keningnya. Bukankah semua yang ditawarkannya tadi adalah kesukaan istrinya, tapi Cleo justru menolaknya.
"Oke, aku berjanji akan mengabulkan apa pun yang kau inginkan."
"Apa pun?" tanya Cleo untuk memastikan kembali.
Kenan menganggukkan kepalanya tanpa ada keraguan sedikitpun, karena dia yakin bisa membeli apa pun yang Cleo inginkan dengan uangnya.
"Ah.. terima kasih sayang," Cleo ingin mengecup pipi suaminya, namun Kenan menolehkan kepalanya hingga kecupan itu mendarat pada bibir pria itu.
"Katakan apa yang kau inginkan?" Kenan menyusuri wajah cantik Cleo dengan kecupan.
"Aku ingin melakukan pemotretan, karena kebetulan ada sponsor yang ingin menggunakan aku sebagai modelnya dengan —"
"Tidak boleh!" potong Kenan dengan cepat dan tegas.
"Kenan kau sudah berjanji akan mengabulkan keinginanku," protes Cleo dengan wajah yang ditekuk.
"Ya, tapi tidak untuk yang satu itu."
"Tapi aku menginginkannya, aku ingin merasakan kembali kebahagiaan saat seluruh lensa kamera menyorot dan memotret wajah cantikku ini."
"Kalau hanya itu yang kau inginkan, aku akan membeli seratus kamera dan menyuruh semua pelayan untuk memotretmu tanpa harus kembali ke dunia modeling."
"Ish.. kau itu. Aku ini sedang tidak bercanda," gerutu Cleo dengan kesal.
"Aku pun tidak sedang bercanda Cleopatra Meyer." Kenan memperlihatkan raut wajah nya yang serius.
"Ck kau itu menyebalkan!" Cleo mengalihkan tatapannya pada jendela mobil dari pada melihat wajah Kenan yang membuatnya kesal.