Malaikat Kecilku

Malaikat Kecilku
kanker darah (suara hati Nandini)


Setelah melihat ku sadar ibu memanggil dokter. Dokter memeriksa ku.


“Untuk saat ini dia baik-baik saja” Kata dokter.


Seorang Suster masuk membawa sebuah kertas dan diberikan kepada dokter. Setelah beberapa detik hening, dokter memecahkan keheningan itu


“Pak, putri anda mengidap penyakit leukimia stadium c. Penyakit ini sudah lama, tapi kenapa baru ini dibawa kerumah sakit? “ kata dokter itu dengan tenang.


Mendengar penjelasan itu ibu terduduk dan menangis, setelah kejadian 3 tahun lalu kembali lagi ibu menangis. Ayah hanya diam menatap ku sedih, begitu juga dengan David hanya memandangi ku dengan tatapan sedih.


Dokter kembali membuka suara


“Kita harus melakukan pencangkokan sumsum tulang belakang, antara bapak dan ibu akan kita lakukan tes siapa yang lebih cocok untuk putri anda. Selanjutnya kita akan melakukan kemoterapi “


“Tapi putri saya pasti sembuh kan dok? Dia pasti sehat kan dok? “ ayah bertanya dengan penuh harapan.


“kami akan berusaha semampu kami pak” setelah mengatakan itu dokter meninggalkan ruangan.


Ibu memelukku dengan menangis sejadi-jadinya, begitu hangat dan tenang. Entah sudah berapa lama aku tidak merasakan pelukan Ibu ku.


Ayah menggenggam tanganku


“kamu pasti sembuh nak” ayah meyakinkan ku dengan berurai air mata.


“Kenapa kamu tidak memberi tau ibu kalo kamu sakit? Kenapa kamu tidak cerita ke ibu nak? “tanya ibu sambil menangis.


Aku bahkan tidak tau kalo aku mengidap penyakit ini, selama ini aku merasa sakit tidak ke rumah sakit. Aku justru melawan sakit badan ntuk tetap beraktivitas. Aku tidak tau akan begini jadinya.


Aku memandangi David hanya berdiri diam dibelakang ibu, ini pertama kalinya aku melihatnya menangis.


“kamu jangan menangis David, kamu amat jelek tau? “ Gumam ku sambil tersenyum. Aku tidak menangis setelah mengetahui hal ini. Aku sedikit tenang setelah dipeluk oleh ibu.


***


Hanya ada aku dan David dalam ruangan itu. Dia menggenggam tanganku dengan erat.


“jangan pedulikan aku, kamu harus lupain aku. Aku tau kamu sangat mencintai ku. Tapi aku tidak pantas buat kamu. Bahkan dengan keadaan aku sekarang aku tidak akan cantik lagi nanti” dengan nada sedih ku menatapnya.


“kamu tau sebesar apa cinta ku? Aku menunggu mu bukan hanya setahun. Aku mencintaimu mulai dulu, dulu diwaktu kamu menolong ku didepan halte. Aku tau tak pernah sedikit pun kamu memberikan cinta untuk ku. Tapi ketahuilah cinta ini tulus untuk mu. Aku tidak akan meninggalkan mu dalam keadaan seperti ini. Maka dari itu kamu harus sembuh”Gumam David dengan air mata yang terus mengalir.


Mendengar hal itu aku hanya diam mencoba mengingat kejadian dulu dihalte. Yahhh aku dulu pernah menolongnya ketika mau menyebrang dia hampir ditabrak mobil. Saat itu aku masih kelas 3 SMP, dan David sedang berlibur dimedan. Aku tidak menyangka ternyata dia mencintaiku sudah selama itu.


Setelah beberapa menit menatap ku dalam ruang doa, dia kembali membawa ku keruangan ku.


Diruangan ku aku dan David memilih untuk menonton youtube lewat ponselnya, setelah beberapa hari ini akhirnya hari ini aku dan David tertawa lagi karena adegan lucu dari film yang kami tonton.


“ehemmm... Apa ibu dan ayah mengganggu? “ Tiba-tiba orang tua ku muncul dari balik pintu kamar.


Sambil tersenyum ibu mendekati David “ nak pulang lah, ini sudah siang. Nanti nenek mu cemas”


“baiklah tante aku pulang dulu. Nanti aku datang lagi.


Ohhh yahhh aku sudah ijin kekampus untuk tidak hadir jadi aku bisa menjaga nandini untuk seminggu ini” sahut David.


“baiklah nak, Hati-hati di jalan “ Jawab ibu.


“Nan aku pulang dulu yahh nanti aku datang lagi”sambil tersenyum mengangkat badannya untuk siap-siap pulang.


Aku hanya tersenyum melihatnya.


***