
❤️ Happy Reading ❤️
''Rindu...hahaha...kemana saja kamu selama ini...setelah sekian lama kamu bilang rindu ke dia.''cemooh Kevin.''Bertahun-tahun kamu meninggalkan dia...baru sekarang kamu mencarinya dan bilang rindu...''katanya lagi.
''Aku menyesal...sungguh menyesal.''sesalnya.
''Taukah kamu bagai mana perasan kami...taukah kamu seberapa besar luka yang sudah kamu torehkan di hati kami...pernahkah terbersit olehmu rasa sakit yang kami rasakan...hah.''kata Kevin yang meninggikan suaranya.''Dimana kamu saat dia membutuhkan sosok seorang ibu...dimana kamu saat dia masih sangat membutuhkan asi darimu...dimana?''teriak Kevin.''Lalu sekarang dengan mudah dan seenaknya kamu datang dengan kata menyesal dan mengucapkan maaf.''kata Kevin lagi.
''Mas...''lirih Sifa sambil mengelus lengan Kevin...dengan maksud untuk meredam amarah sang suami dan benar saja perlahan namun pasti deru nafas Kevin yang memburu karena emosi beringsut stabil.
Tapi Sifa juga tak menyalahkan Kevin yang emosinya langsung meledak saat melihat dan mendengar kata-kata dari mantan istrinya.
Tidak munafik jika kita pernah sakit hati karena seseorang dengan luka yang di torehkannya terlalu dalam maka tidak bisa di pungkiri hanya dengan melihat wajahnya saja pasti emosi kita akan langsung membuncah dan Sifa memaklumi sikap Kevin tersebut.
Sedangkan di sisi lain ada Nana yang juga menangis sesenggukan dalam pelukan laki-laki yang ada di sampingnya...tidak dia pungkiri semua yang dikatakan oleh Kevin benar adanya.
Dalam beberapa saat tak ada yang berbicara di ruangan tersebut...hanya terdengar isak tangis dari Nana dan beberapa helaan nafas panjang dari Kevin untuk menghilangkan sedikit gemuruh di dalam hatinya.
''Bolehkah aku ikut bicara?''tanya Sifa memecahkan keheningan.
Kevin serta Nana dan laki-laki yang di sampingnya refleks menoleh kearah Sifa.
''Bicaralah sayang.''kata Kevin.
''Tapi...''kata Nana.
''Kenapa?apa kamu keberatan?''tanya Kevin dengan tatapan mengintimidasinya.
''Kevin dia...''kata Nana lagi.
''Dia kenapa?''tanya Kevin.''Orang luar maksud kamu?''tebaknya dan tepat sasaran karena Nana menjawabnya dengan anggukan kepala.
''Hahaha...asal kamu tau...dia bukan orang luar...dia adalah istriku.''kata Kevin setelah tawanya.''Dia memang dulu adalah orang luar dan bukan siapa-siapa tapi dia yang bukan siapa-siapa ini malah dialah yang sudah ikut andil membesarkan serta memberikan kasih sayang yang berlimpah untuk Kendra.''terang Kevin.''Jadi untuk masalah Kendra dia berhak untuk ikut bicara karena dia adalah mommynya.''sambung Kevin lagi.
''Baiklah silahkan bicara.''putus Nana akhirnya.
''Apakah aku boleh memanggilmu dengan sebutan kakak?''tanya Sifa.''Karena sepertinya umur kita berselisih.''kata Sifa lagi.
''Aku disini mencoba memahami perasaan kakak sebagai sesama wanita dan terlebih lagi sebagai sesama seorang ibu dan aku juga tak ingi memihak serta menyalahkan siapapun.''kata awal dari Sifa.''Kalau niat kakak baik...kami pun akan berusaha menyambutnya dengan baik.''sambungnya lagi.
''Aku sungguh-sungguh menyesal dan minta maaf...aku tak ada niat apapun...aku hanya rindu dan ingin bertemu dengan Kendra tanpa ada maksud apapun.''kata Nana dengan tulus.
''Bagaimana mas...apakah kakak Nana boleh bertemu dengan Kendra?''tanya Sifa namun Kevin hanya diam...karena hatinya masih bimbang.
''Kami bisa saja menemukan kakak dengan Kendra.''kata Sifa.
''Sungguh...''kata Nana memastikan.
''Iya tapi dengan syarat.''kata Sifa lagi.
''Syarat...syarat apa?''tanya Nana.''Apapun syaratnya akan aku lakuin demi bisa bertemu Kendra walau hanya sekali saja.''sambungnya lagi.
Bukan Sifa ingin melangkahi Kevin namun mereka semalam sudah berdiskusi tentang hal ini lebih lanjut dan karena Kevin belum bisa mengontrol emosinya jadi mau tak mau Sifalah yang angkat bicara agar masalah ini cepat selesai.
''Kak Nana harus benar-benar berjanji pada kami.''kata Sifa lagi memastikan.
''Iya aku berjanji.''kata Nana.
''Kami mengijinkan kakak untuk bertemu dengan Kendra tapi kakak tidak boleh mengatakan kalau kakak adalah ibunya Kendra.''kata Sifa.
''Hah...kok begitu.''sahut Nana yang sebenarnya tidak terima.
''Mau tak mau kakak harus mau...karena semua ini untuk kebaikan Kendra.''tegas Sifa.
''Kebaikan apa maksudmu?''tanya Nana.''Atau jangan-jangan ini hanya akal-akalan kamu agar posisi kamu sebagai ibunya Kendra tidak tergeser...atau karena kalian takut kalau Kendra akan lebih memilih ikut aku yang notabene ibu kandungnya dari pada kalian.''tuduhnya dengan nada sinis.
''Hahaha...apa kakak yakin Kendra akan memilih kakak daripada kami?''tanya Sifa.''Bisa jadi Kendra malah tak mau bertemu dengan kakak setelah dia tau kalau kakak itu ibu kandungnya...karena rasa sakit hati dan kecewa yang dia rasakan.''sambungnya lagi.
Setelah Nana pikir-pikir sejenak...memang benar yang di katakan oleh Sifa.
''Baiklah aku setuju tapi apa alasan kalian tidak memberi tahu Kendra tentang aku yang sebenarnya?''tanya Nana penasaran.
''Karena kami memikirkan tentang psikis Kendra.''sahut Sifa.''Sebuah kenyataan yang mendadak seperti ini tentu saja akan mempengaruhi pikirannya.''sambungnya lagi.''Dan kami tidak ingin itu terjadi.''imbuhnya.