
Aku membuka mata, aku perlahan-lahan aku mempertikan orang-orang disekelilingku. hanya ada ibu, ayah, dokter dan beberapa suster, ternyata aku masih dirumah sakit.
“ Tapi dimana David? Kenapa dia tidak ada diruang ini? “ gumamku dalam hati.
“Putri anda berhasil melewati masa kritis selama seminggu ini pak!, untuk beberapa hari dia masih tetap rawat inap untuk melakukan kemoterapi. Dan kalau sudah sanggup berada diluar rumah sakit baru boleh pulang. Dan kita akan melakukan kemoterapi dua kali seminggu nanti sampai dia pulih total” kata dokter dengan tenang.
ayah dan ibu hanya terdiam mendengar penjelasan dokter, tersirat sebuah kebahagiaan diwajah mereka.
"putri Anda sangat kuat pak, hanya 5% orang mampu melewati masa kritis untuk penyakit ini. ini sebuah mujizat pak" sambung dokter dengan semangat.
Ternyata aku tidak sadar sudah seminggu, lalu dimana David? Apa dia menjaga ku seminggu ini? Aku terus memikirkannya.
Setelah dokter meninggalkan ruangan itu aku langsung bertanya kepada ibu
” ma... David dimana? Apa dia tidak datang? “,
Ibu hanya terdiam
Dan ayah yang menjawab ku
“Nak David sudah kembali ke Amerika nak, semalam dia berangkat. Selama kamu tidak sadar David tidak pernah meninggalkan rumah sakit. Namun semalam keluarganya menelfon dari Amerika. Ayahnya sedang tidak sehat, jadi dia diminta kembali ke Amerika.
Aku hanya diam mendengar penjelasan ayah, entah kenapa aku sangat merindukannya. Aku mulai menatap langit-langit ruangan tersebut, hanya ada lampu yang tergantung. Tanpa sadar air mataku mulai mengalir. Terasa begitu hangat saat membasahi pipiku.
Aku hanya diam dan tidak menoleh kearah ibu, aku menyesali perkataanku sebelum operasi kepadanya. Hanya dia tempat aku mengadu saat orang tuaku tidak ada yang mengerti aku. Selama ini hanya dia yang selalu ada untuk ku, yang selalu melakukan hal-hal yang seharusnya orang tuaku lakukan untuk ku. Entah kenapa sekarang aku merasa kehilangan sosok seperti David.
***
Sudah 2 minggu semenjak aku sadar dari masa kritis David belum juga datang menjengukku. Tiap hari aku melakukan pengobatan. setiap saat suster keluar masuk dari ruanganku memastikan keadaanku dalam keadaan baik. mereka juga membawa beberapa jenis obat dan bahkan menyuntik lenganku. jarum suntik sudah tidak terhitung berapa banyak menembus lengan ku. aku juga melakukan kemoterapi.
Ayah dan ibu hari ini tidak menemani ku dirumah sakit. Karna sudah sebulan mereka ijin tidak masuk kerja.
Aku sudah mulai kuat untuk berjalan, kebetulan ruangan ku adalah VIP jadi semua tersedia. Aku melangkah menuju toilet. Dan saat membuka pintu aku sangat terkejut. Aku melihat hantu di cermin tepat dihadapan ku.
“Hantu...... Tidak itu bukan hantu itu adalah aku” gumamku dalam hati.
Melihat hal itu aku kembali menangis. Tidak kuat dengan keadaan itu aku berlari keluar rumah sakit.
Aku merasa bahwa aku berlari dengan cepat. Karna setelah sampai di taman rumah sakit aku sangat lelah.
Aku duduk dikursi taman dan menatap langit yang cerah.
Terdengar beberapa ledekan dari orang-orang yang lewat didepan ku, ada juga yang menatap ku dengan Tatapan kasihan. Walaupun begitu aku tetap melemparkan senyum kepada mereka walaupun hati ini sangat amat sakit. Tanpa sadar air mata mengalir dipipiku. Tenggorokan ku mulai kering, aku butuh minum. Aku mencoba berdiri tapi tubuh ku sangat gemetaran, kepala ku mulai pusing. Aku sangat lelah. Belum beberapa langkah aku terjatuh pinsan.
***