
❤️ Happy Reading ❤️
''Ya bukan gitu maksud aku mas,kalau itu aku juga sudah tau.''kata Sifa.
''Terus kamu mau tahu apa lagi hem?''tanya Kevin.''Aku pengusaha...kak Arman bahkan sudah tau itu.''lanjutnya.''Iya kak?''tanya Kevin
''Iya...''jawab Arman.''Pengusaha muda berbakat yang mempunyai cabang perusahaan dimana-mana dan dalam berbagai bidang.''lanjutnya.
''Masih belum puas jawabannya?''tanya Kevin.''Ya sudah besok biar aku jemput kamu untuk pergi ke kantorku...gimana?''tawarnya.''Biar kamu tau kerjaan aku setiap harinya itu kayak apa.
''Eh enggak...besok aku harus kerja ya....''kilah Sifa.
''Gampang...nanti aku ijinin sama Vito.''ujar Kevin.
''Vito siapa Fa?''tanya ayah Sifa.
''Itu yah dokter kepala di rumah sakit tempat Sifa kerja.''jawab Sifa.
''Loh nak Kevin kenal?''tanya ibu Dewi.
''Kenal bu,kebetulan dia adalah sahabat saya.''jawab Kevin.''Gimana mau gak?''tanya Kevin lagi pada Sifa.
''Enggaklah besok masih ada banyak pasien yang harus aku tangani.''jawab Sifa...yang sebenarnya dia merasa tidak enak nanti dikiranya dia mau menyelidiki harta kekayaan kekasihnya itu lagi.
''Vin,kakak mau nanya apa keluarga kamu gak keberatan kalau kamu menjalin hubungan dengan sifa?''tanya kak Arman.''Ya kamu tau sendirilah kalau keluarga kami dan keluarga kamu itu jauh berbeda...''lanjutnya.
''Berbeda apanya kak...kita itu sama saja derajatnya...dan keluarga aku gak pernah memandang derajat seseorang hanya dari harta dan strata kedudukannya saja.''jawab Kevin bijak.''Kalau keluarga aku gitu gak mungkin mama serta adik-adik aku sedekat ini sama Sifa kak.''tuturnya.
''Kakak hanya sedikit khawatir.''kata Arman lagi.
''Aku ngerti kok kekhawatiran kakak karna aku juga seorang kakak yang mempunyai adik perempuan dan itu adalah hal yang lumrah...tapi aku bisa pastikan kalau keluarga aku sangat menerima Sifa masuk dalam keluarga kami dan gak mungkin aku seserius ini menjalin hubungan dengan adik kakak.''kata Kevin lagi.
''Alhamdulillah jika keluarga kamu menerima Sifa.''ucap ibu Dewi lega begitu pula Nia,Arman dan tentunya ayah Harun.
''Kami cuma tidak ingin jika putri keluarga kami tersakiti lagi...''lanjut ibu.
''Iya bu saya mengerti dan saya juga sudah tau dengan kisah percintaan Sifa yang lalu.''kata Kevin.''Mungkin saya tidak bisa berjanji pada kalian semua tapi saya akan berusaha semampu saya untuk terus membahagiakan Sifa.''kata Kevin lagi.''Karena saya juga pernah merasakan bagaimana rasanya disakiti...bagaimana rasanya di campakkan...bagaimana rasanya di khianati...jadi saya sangat tau bagaimana rasanya.''lanjutnya sambil menggenggam sebelah tangan Sifa dengan tangannya.
''Mas tau dari mana?''tanya Sifa.
''Apanya?''tanya Kevin balik.
''Kisah masa lalu aku...''jawab Sifa.
''Dari mama.''jawab Kevin singkat.
''Kapan mama ceritanya?kok aku gak tahu.''cecarnya.
''Tadi waktu kamu ke kamar Kania buat ganti baju sama ngobatin luka kamu.''jawab Kevin jujur yang membuat Sifa langsung memelototkan matanya ke Kevin.
''Apa?''tanya Kevin.
''Kamu terluka Fa?kok bisa?''tanya ibu.''Mana coba lihat...''kata ibu lagi.
''Apaan sih bu...orang cuma ruam merah aja kok gak luka.''jawab Sifa.
''Mana sini kakak mau lihat.''kata Arman.
''Ya jangan dong kak...''sahut Sifa cepat.
''Kenapa?''tanya Arman lagi.''Jangan-jangan parah ya dan kamu mau sembunyiin dari kita gitu.''lanjutnya.
''Bukan kak tapi ada di area dada aku...masa iya kakak mau lihat...malulah.''jawab Sifa.
''Kena apa?''kali ini Nia yang bertanya.
''Ketumpahan kopi anget.''jawab Sifa.
''Gimana ceritanya?''tanya ayah.''Coba cerita ayah mau dengar.''kata ayah lagi.
Terpaksa dan mau tak mau Sifa menceritakan segalanya.
''Dasar wanita itu...''geram Nia setelah mendengar cerita Sifa.