Malaikat Kecilku

Malaikat Kecilku
mimpi buruk (suara hati Nandini)


Dalam sebuah ruangan mendapati ada banyak orang yang sedang menangis. Tapi kenapa mereka menangis?


“Ah aku hampiri saja” Gumam ku dalam hati. Dan betapa terkejutnya aku mendapati tubuh ku dalam sebuah peti, keluarga ku sedang menangisi ku. “Tidakkkk... Aku tidak mungkin.... Tidak aku masih Hidup... Tidaakkkkk”. Aku menjerik Sekuat-kuatnya. Dan


Aku terbangun dari tidur ku,


“ahhh hanya mimpi”.gumamku.


“ Kamu kenapa nan??? “ Tanya David.


“Gapapa kok, aku hanya mimpi buruk saja. Kenapa kamu disini? Mana ibu dan ayah? “ Timpal ku.


“Tante dan om sudah pulang, aku sangat khawatir dengan keadaan mu. Tidur ku tidak nyenyak karena memikirkan mu. Istirahatlah... Aku akan menjaga mu” Jawab David.


Aku hanya tersenyum dan memejamkan mata. Sebenarnya aku belum tidur, aku sedang berfikir kenapa akhir-akhir ini aku sering mimpi buruk. Aku membuka kembali mataku. Aku memandang sosok David yang sedang tidur diatas sofa yg tak jauh dari tempat tidur ku.


“Bahkan sedang tidur pun dia amat tampan” Gumam ku dalam hati.


Sudah pagi ibu dan ayah sudah datang membawa makanan, mereka sudah memakai baju dinas mereka. Sudah tentu mereka tidak akan menjaga ku hari ini.


“Nak David, kamu sarapan dulu. Ini tante bawa makanan” Sahut mama.


“Ya tante, makasih. Tapi aku akan suapin Nandini dulu. Baru nanti aku makan” Sambil tersenyum David mengambil makanannya.


“Nak David, terimakasih sudah repot-repot menjaga Nandini, orang tua mu pasti sangat bangga memiliki anak seperti mu” Puji ayah.


Seorang dokter masuk. Melihat ekspresi dokter tersebut dapat ditebak akan terjadi sesuatu.


“Maaf Pak, kita akan mencoba melakukan pemeriksaan pada sumsum tulang belakang putri anda. Sepertinya putri anda mengidap suatu penyakit. Namun untuk memastikannya kota akan melakukan pemeriksaan” Kata dokter tersebut dengan tegas.


Mendengar keterangan dokter tersebut semua hening. Dan ibu melihat ku dengan tatapan cemas.


Beberapa Suster masuk keruangan memindahkan tubuh ku ke emergency bed. Mendorong dengan cepat menuju ruangan baru. Aku memandangi ke-dua orang tua ku dan juga David. Ini pertama kalinya aku benar-benar membuat orang tua ku cemas.


Aku begitu lemas dan tidak sanggup untuk berbuat apa-apa.bahkan untuk bicara pun aku sudah tidak sanggup, makanan yang ibu bawakan tidak jadi aku makan. Ahhh kenapa fikiran ku malah ke makanan. Yahhh mungkin karena selama ini ibu tidak pernah memperhatikan ku, ibu hanya menyiapkan roti ntuk sarapan dan selalu memesan makanan siap saji di waktu sore. Karena kesibukan ibu akan pekerjaan dan bisnis membuatnya tidak ada waktu mengurus rumah. Bukan tidak mau memiliki pembantu dirumah. Namun ibu sangat trauma menyaksikan perselingkuhan ayah dan bu aminah 3 tahun yang lalu. Semenjak saat itu, rumah sangat berantakan. Sebenarnya aku ingin mengingat kursus memasak, namun karena terlalu banyak kursus yang aku ikuti membuat ku tidak ada waktu untuk itu.


***


Sudah sampai sebuah ruangan. Suster kembali menyuntik lengan ku, sangat pusing. Kembali gelap, aku seperti berada di mimpi ku sebelumnya menyaksikan pemakaman tubuh. Aku tidak sanggup melihat kejadian itu. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku memanggil ayah ibu dan juga David tapi tidak ada yang mendengar ku. Hatiku mulai tak karuan. Ditengah kesedihan ku


Aku melihat kakek ku memandangi ku, kakek yang sudah meninggal 3 tahun yang lalu karna syok mendengar ayah selingkuh.


“Cucu ku jangan menangis, cobaan akan melanda mu. Kamu harus tegar. Kamu pasti bisa melaluinya. Kamu harus bertahan” Suara kakek begitu tenang.


Aku membuka mata, ternyata aku masih hidup dan itu hanya mimpi Aku melihat ayah, ibu dan DaviD dan disamping ku. "mereka pasti sangat sedih dengan keadaan ku sekarang" gumamku dalam hati.


***